Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

03 Juni 2026

KEMUNDURAN PERADABAN: BERTUMBUH-KEMBANGNYA KEKERASAN


Kekerasan adalah warisan purba saat manusia memaksakan keinginannya. Idealnya kekerasan adalah upaya terakhir pembelaan diri (defensif)   bukan opsi untuk aksi (ofensif) apapun.


Kekerasan adalah output dari gagal atau matinya dialektika. Kebodohan mempersempit ruang dialektika dan memperlebar jalan kekerasan. Celakanya, banyak peneliti melaporkan  penurunan kecerdasan di berbagai negara maju.


Penurunan kecerdasan / kebodohan disebabkan oleh banyak hal, diantaranya : 


Michel Desmurget (2020) dalam Screen Damage : The Digital Cretin Factory melaporkan  bahwa baru kali ini dalam sejarah ditemukan populasi (di Perancis) dimana IQ anak lebih rendah dari orangtuanya.


Menurut Desmurget, rendahnya IQ anak  ini akibat dari intensitas menggunakan gadget yang berlebihan hingga  syaraf otak tidak berkembang optimum. Menggunakan gadget yang berlebihan merusak kualitas tidur dan mengurangi komunikasi verbal yang membentuk pondasi logika.


Alex Richardson dkk (2020) dalam They Are What You Feed Them menyatakan bahwa makanan pabrik masa kini menyebabkan neuroinflamasi (peradangan syaraf otak) yang mengganggu perkembangan kognitif pada masa pertumbuhan emas.


Selain makanan, penurunan kecerdasan juga bisa terjadi karena polusi neurotoksik seperti timbal, mikroplastik, dan merkuri (Grendjean dan Landrigan dalam Developmental Neurotoxicity of Industrial Chemicals, 2006. 


Secara sosiologis, kebodohan juga disebabkan oleh hoax. Hoax menghancurkan struktur berpikir logis, hoax juga melahirkan kebodohan berbasis keyakinan. 


Nicholas Carr (2020) dalam The Shallows : What the Internet is Doing to Our Brains menulis bahwa hoax memogram ulang otak manusia dan sifat skimming pada media sosial menurunkan kecerdasan emosional dan kognitif manusia. 


Sander Van der Linden (2023) dalam Foolproof: Why Misinformation Infects Our Minds and How to Build Immunity menyatakan bahwa hoax dirancang menggunakan algoritma media sosial untuk mengeksploitasi bias kognitif, menurunkan akurasi nalar analitis sehingga kesulitan membedakan fakta-fiksi, dan secara umum mendegradasi intelektual.


Kekerasan brutal terjadi pada Perang Dunia I dan II, dan yang paling brutal genosida di Gaza sejak 2025. Semua kekerasan besar tersebut pada hakekatnya disebabkan "kebodohan" elite dan pemimpin dunia (menyebabkan kerusakan fisik dan mental bukan hanya bagi pihak lawan namun juga pihak sendiri) serta  lemahnya diplomasi (dialektika). Kekerasan dijadikan opsi ofensif memaksakan kehendak.


Masifnya laporan penurunan kecerdasan masyarakat saat ini adalah signal semakin meningkatnya kekerasan di masa depan. 


Di masa sekarang, kekerasan tidak hanya berupa fisik namun juga verbal dan --setuju dengan teori Structural Violence-nya Johan Galtung-- tindakan mengisolasi manusia lain dari akses kehidupan dasar.


Pada era gelombang ke-6 Siklus Kondratief, yaitu era teknologi kecerdasan buatan, manusia harus berjuang bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup dasar, namun juga agar tetap menjadi "manusia". Ini lebih serius dari sekedar kehilangan arah peradaban.


Arah peradaban secara berkala diluruskan oleh para "nabi" yang sekaligus melarang kekerasan ofensif : Adam, Noah, Abraham, Loth, Moses,  Muhammad, bahkan oleh Budha dan Kong Fu Tsu.  Sebagai subjek, manusia dituntun untuk terus mengeksplorasi potensinya yang luar biasa namun dalam koridor etik dan spiritual yang membedakannya dengan binatang, menjadi manusia dengan kemanusiaannya. Namun hukum entropi seolah berlaku juga untuk peradaban: selalu menarik kembali ke arah kekacauan.


Ketika segala hal berjalan menuju kehancuran, manusia sesungguhnya ditantang untuk mengembalikan, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas ketertiban yang beradab, yang dalam siklus kehidupan berarti mengarahkan dan berusaha bertahan di area  puncak. 


Hal strategis apa  yang harus dilakukan untuk menekan kekerasan selain mendorong kehidupan dialektik di masyarakat? Pendidikan macam apa yang mendesak saat ini saat peran  masyarakat sebagai "sekolah informal" telah melemah ? Apa yang harus dilakukan setiap warga dunia yang sadar?  Apakah langkah pertama adalah mengajak warga dunia untuk mendesak penghapusan senjata pemusnah massal ? 

 

Para cendekiawan dunia sebagai pemegang estafet para "nabi" sudah tahu jawaban dan solusi untuk masalah global, yang mereka butuhkan hanya "bersatu" untuk mencetuskan sebuah hasil mufakat. Mereka adalah orang-orang paling cerdas di bumi dalam segala bidang ilmu, selayaknya menjadi "raja" dalam komunitas bumi tidak di bawah penguasa dan pemilik modal. Untuk itu sebetulnya mereka juga tahu caranya.


Upaya menekan kekerasan adalah kerja esensial karena tingkat kekerasan ofensif adalah indikator tinggi-rendahnya standar kemanusiaan dari tiap era peradaban.

________________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.