Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

24 Juni 2026

KHAWARIZME: ANTI DIALEKTIKA PERTAMA DALAM PERADABAN ISLAM


Sumber gambar : Wikipedia









Istilah "dialektika" lebih akrab di alam sosialis.  Di alam kapitalis, mereka menggunakan istilah "berpikir kritis" meski maknanya sama : keterbukaan untuk dialog dan kompromi, meski tidak melulu melahirkan kompromi berupa sintesis. Dalam tulisan ini selanjutnya saya menggunakan istilah "dialektika".


Tan Malaka (Madilog) dan John Dewey (How We Think) setuju bahwa dialektika sangat penting bagi sebuah bangsa. Tan Malaka menyatakan bahwa dialektika adalah cara melahirkan bangsa yang maju sekaligus mewujudkan tujuan negara.  Bagi Dewey, dialektika adalah cara hidup yang demokratis. 


Freire (1968) dalam Pendidikan Kaum Tertindas menyatakan bahwa dialektika adalah kebutuhan eksistensial masyarakat.


Sandel (2020) dalam The Tyranny of Merit : What's Become of the Common Good menyatakan bahwa dialektika adalah cara mendiskusikan masalah-masalah besar moral dan kebaikan bersama. Dialektika menghindarkan kita dari polarisasi pemikiran dan melatih kerendahan hati intelektual.


Anti dialektika adalah racun bagi lembaga pendidikan dan penyebab perpecahan di masyarakat (Sandel). Anti dialektika mematikan kreativitas dan daya kritis, sebagai tindakan nekrofilik yang melawan kehidupan (Freire).  Anti dialektika menyebabkan masyarakat mudah dimanipulasi oleh propaganda. Anti dialektika adalah musuh utama dari pertumbuhan intelektual manusia, sekaligus ibu dari otoritarianisme (Dewey).


Dalam peradaban Islam (sejak era berdirinya Kota Madinah abad ke-6 hingga runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani abad ke-20), fenomena anti dialektika pertama dilakukan oleh kaum Khawarij, sebuah komunitas yang kini lebih populer sebagai aliran pemikiran-sikap-perilaku yang anti dialektika, khawarizme. 


Khawarij artinya membelot. Pada awalnya Khawarij disematkan pada sekelompok (ribuan orang) yang membelot dari barisan pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib.


Hal yang membuat Khawarij ini berbahaya bukan soal pembelotannya, tapi struktur sikap dan perilakunya yang anti dialektika, meski secara moral dan intelektual mereka berada di kondisi  memprihatinkan yang butuh pencerahan.  Khawarij mengedepankan cara-cara kekerasan.


Pembunuhan Khalifah Utsman dan Khalifah Ali : Ikhwal Munculnya Khawarizme


Sejarah tentang era Utsman dan Ali berdasar pada sumber primer dari perawi Abu Mikhnaf, Sayf bin Umar, dan Al Waqidi pada abad ke-8, kemudian ditulis oleh Ibnu Shihab Al Zuhri (w. 124 H) dalam Al Maghazi atau Kitab Al Tarikh, dan penulis-penulis lain setelahnya. 

  

Pada jaman pemerintahan Khalifah Ali, kaum muslimin amat sering dihadapkan dengan intrik-intrik perebutan kekuasaan.  Ketika Khalifah Utsman bin Affan dibunuh dan segera digantikan Ali bin Abi Thalib, kesyahidan Utsman dijadikan alasan untuk menekan bahkan merongrong pemerintahan Ali, hingga muncul pemberontakan  dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan (masih kerabat Utsman).


Ibnu Saba tercatat sebagai orang pertama yang melakukan memprovokasi massa di awal sejarah peradaban Islam, yang mendapat sambutan tokoh Ghafiqi Al Harb dari Mesir dan Malik bin Al Harits dari Kufah,  hingga terjadi demonstrasi anarkis berujung pengepungan rumah Utsman beberapa kali hingga Utsman terbunuh.


Meski para sahabat terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib dan keluarganya, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan lain-lain berupaya meredam, namun Sudah bin Humran dan beberapa lainnya berhasil menyelinap dan membunuh Utsman. Situasi chaos berlangsung hingga beberapa hari setelah Utsman wafat.


Situasi chaos kemudian berganti tokoh, dari Ibnu Saba dkk menjadi Muawiyah bin Abu Sufyan (Gubernur dari Syam/Suriah). Situasi bukan lagi demo anarkis anti Utsman, namun telah berubah menjadi pemberontakan dengan dalih menuntut pertanggungjawaban khalifah baru, Ali bin Abi Thalib, atas kematian Utsman. 


Pemberontakan Muawiyah menimbulkan perang Siffin (Siffin berada di tepi sungai Eufrat, Suriah sekarang) yang hampir dimenangkan pihak Khalifah. Muawiyah tiba-tiba mengajukan tahkim (perundingan damai) yang kemudian diterima Ali.  


Inilah titik paling krusial kemunculan Khawarizme: tawaran tahkim yang diterima Ali dianggap oleh kaum Khawarij sebagai pelanggaran hukum agama. Khawarij berpendapat bahwa hukum bagi pemberontak hanyalah hukuman mati, tidak ada opsi lain. Ali kemudian dikafirkan, dianggap murtad, dan dibunuh di Kufah, Irak.


Beberapa bulan setelah Ali wafat, Hasan putra Ali yang telah di-baiat oleh penduduk Kufah menjadi  pengganti sah kekhalifahan Ali  berinisiatif menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah dalam sebuah musyawarah untuk mengakhiri perpecahan umat.  


Dalam musyawarah politik, Hasan bin Ali  menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Muawiyah dengan syarat memimpin sesuai moralitas Qur'an dan Sunah serta menjamin keamanan para pengikut Ali.


Penutup


Khawarij adalah kaum yang terkenal paling taat beribadah. Namun ketaatan mereka ternyata tidak membuahkan hikmah dan kearifan, malah memunculkan sifat merasa paling mulia, paling benar, paling pandai, dan satu-satunya yang lurus keislamannya. Mereka tak segan mengkafirkan sesama muslim. 


Khawarizme sebagai pola pikir dan pola tata laku masih hidup hingga saat ini. Khawarizme anti dialektika. Bahasa mereka bukan bahasa verbal,  bukan pula bahasa intelektual. Bahasa mereka adalah KEKERASAN.

_______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.