Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ekonomi. Tampilkan semua postingan

13 Juni 2026

MERAWAT KEDAULATAN DALAM PERANG SENYAP EKONOMI












Sejak Pemerintah melontarkan kata "hilirisasi", saya tahu akan makin hebat tekanan berbagai pihak kepada Presiden RI. Hilirisasi adalah kata lain dari "merdeka". Apa namanya jika Indonesia wajib mengirim bahan mentah murah yang harganya pun mereka yang tentukan, kemudian kita wajib membeli barang jadinya dengan harga mahal, kalau namanya bukan penjajahan ?

Bedanya penjajahan dulu dan sekarang, yang sekarang jauh lebih brutal, konyol, sistematis, dan senyap, karena sebenarnya bukan negara menjajah negara, tapi negara dijajah oleh Mafia  Global (tidak semua elite global itu mafia) dengan kapital sangat besar yang bisa menggerakkan negara sebesar AS dan Inggris mengagresi negara lain untuk kepentingannya.


Di tengah konfrontasi perang "senyap" tersebut, pada 2024, Presiden RI yang baru dilantik  melontarkan kembali  frasa yang tidak kurang kerasnya: maklumat perang kepada koruptor dan mafia ekspor-import. Maka bertambah lagi musuh-musuh Pemerintah.


Mega korupsi ribuan trilyun diungkap (kasus tata kelola minyak mentah, kasus tata kelola timah,  mark up harga BBM import, dll), mulai korupsi di BUMN, hingga korupsi di institusi pemerintah sipil dan militer.  


Dalam perdagangan komoditi strategis, rantai bisnis kotor diputus: menyusul pembubaran Petral pada periode sebelumnya, kini dibuat kebijakan eksport satu pintu menyusul temuan penipuan harga (under invoicing) dan penipuan tonase (under weighing) yang dilakukan anak perusahaan yang bertindak sebagai broker di pelabuhan Singapura. 


Semua kecurangan ini menyangkut uang ribuan trilyun yang dikeruk oleh segelintir orang. Under invoicing dan under weighing hanya sedikit dari banyak modus operandi mafia ekspor-import di negara ini.


Perang Pemerintah melawan tiga musuh berduit ribuan trilyun: mafia global, mafia lokal, dan koruptor, harus dipahami bahwa musuh negara tidak pasif, bahkan dengan dana yang besar, mereka mungkin jauh lebih agresif dari pemerintah.


Kita bisa menduga apa saja yang paling mungkin mereka lakukan : menyuap aparat, mengendalikan regulasi, menciptakan kegaduhan, pengalihan isyu, penyesatan informasi dan pembentukan persepsi publik, hingga mengganti rezim penguasa. 


Serangan pada Fluktuasi Rupiah dan IHSG


Musuh-musuh negara (mafia global, mafia lokal, dan koruptor) selalu memanfaatkan situasi untuk menciptakan momentum "mengalahkan" negara. Termasuk menggarap kondisi saat kurs rupiah dan IHSG melemah.


Pada Juni 2026, terjadi penurunan kurs rupiah yang kemudian disusul IHSG.  Sementara fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi sehat.


Penurunan kurs dan indeks saham adalah murni fenomena ekonomi : terjadi substitusi besar dalam waktu singkat dari rupiah ke dollar Singapura dan dollar AS bertepatan dengan jadual / musim pembayaran berbagai bisnis.


Dalam dunia investasi, korporasi Indonesia yang tercatat go public di Bursa Saham IDX banyak diperebutkan investor asing. Itulah sebab beberapa waktu lalu masalah kuota yang dijual (free float) menjadi bahasan panas. Peminat banyak tapi jumlah yang dijual terlampau sedikit.  


MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga pemeringkat saham dunia, dan beberapa lembaga sejenis lainnya seperti FTFE Russel, ikut menyoroti masalah free float ini. 


MSCI mengeluarkan beberapa emiten besar Indonesia dan beberapa lainnya terancam terdepak dari daftar saham-saham recommended dunia yang mereka susun. Hal ini tidak aneh, karena sasaran utama rekomendasi MSCI adalah para raksasa investasi yang biasa bertransaksi dengan nominal super besar, sehingga free float menjadi salahsatu syarat masuk dalam daftar mereka. 


Rilis MSCI yang tidak lagi mencantumkan saham-saham blue chip (saham bonafide)  Indonesia direspon terlalu berlebihan sehingga memunculkan sentimen negatif yang berdampak pada penurunan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Bursa Efek Indonesia (IDX) lebih dari 18% dalam tiga pekan. 


Sentimen negatif dari MSCI bukan satu-satunya variabel yang menekan IHSG. Jargon "sell Indonesia" yang dibuat oleh Boubouras (pejabat K2 Asset Management, sebuah lembaga pengelola investasi berkantor di Australia) pada Juni 2026 dan dipublikasi Bloomberg menekan IHSG sampai ke titik minimum sampai tiba-tiba memantul karena sentimen positif kolaborasi data real ekonomi sehat Indonesia, nasionalisme trader dalam negeri dan rilis terakhir analis ekonomi dunia yang disiarkan  Bloomberg dan Reuters. Jargon "sell Indonesia" berubah jadi "sell Singapura". Mengapa muncul "sell Singapura" akan dibahas pada artikel lain.


Media sosial menggambarkan kondisi tiga pekan terakhir seolah mirip krisis ekonomi 1998. Rencana demo dari sekelompok komunitas mulai dimatangkan, meski kemudian tema-tema berubah karena kondisi kurs dan IHSG yang rebound pada detik-detik terakhir...


Terkhusus para pemuda yang akan menjadi klaster dominan dan produktif pada  populasi Indonesia 2045, wajib memahami situasi dan kondisi bangsa - negara supaya tahu siapa kawan dan lawan : bahwa korupsi ada di segala lini, termasuk di dalam pemerintahan sendiri sehingga menghambat bahkan merusak program yang pemerintah sedang lakukan. Bisa jadi kita pun bagian dari sistem yang korup itu.


Tolak opsi demonstrasi yang selalu menjadi pintu masuk oknum-oknum perusuh yang membiaskan bahkan menumpulkan perjuanganmu. Cari jalan lain yang lebih cerdas !


Di era secanggih sekarang, apakah demonstrasi masih menarik sebagai instrumen, mengapa tidak bergeser ke digital activism, policy advocacy, atau civic technocracy?


Atas berkat rahmat Tuhan, saat ini "kekuatan baik" sedang dalam posisi dominasi, baik kekuatan dari bagian internal pemerintah sendiri, pers, cendekia, dan pihak-pihak swasta serta masyarakat.  Kekuatan baik itu harus didukung dan diperkuat jangan malah dirongrong. 


Seperti sering diucapkan Presiden, kritik itu baik dan perlu. Maka jadilah bagian dari kekuatan baik, gotong-royong membuat menjadi lebih baik, agar muncul "autokritik" sebagaimana nilai-nilai Pancasila kita.

____________________


Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 













05 Juni 2026

DUNIA DIKENDALIKAN PERSEPSI


Sekali lagi, kita ditunjukan betapa dahsyatnya  pengaruh persepsi. Persepsi mampu mengalahkan logika taktis : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IDX dan kurs rupiah terhadap dollar yang anjlok ditengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik. 


Bukan cuma Indonesia, India dan Korea Selatan juga mengalami hal serupa. Pertumbuhan ekonomi India, Korea Selatan, dan Indonesia adalah yang tertinggi di dunia pada 2025-2026 (5,6-7%). 


Jatuhnya IHSG dan kurs adalah akibat sentimen negatif pelaku pasar, ada arus kuat yang mengendalikan persepsi komunal mereka. Sentimen ini tidak selalu rasional, seringkali justru sangat tidak rasional. 


Kesadaran manusia tentang kekuatan persepsi dalam mengendalikan massa setidaknya dimulai sejak Paus Gregorius XV yang pada 1622 membentuk Conggregatio de Propaganda Fide, suatu komite khusus untuk membentuk persepsi massa dalam rangka membendung reformasi Protestan.


Maximilian Robespierre pada 1789 melalui pamflet, surat kabar, dan festival, merekayasa persepsi publik untuk menormalisasi eksekusi kepada musuh politik ( reign of terror) yang pada akhirnya melahirkan Revolusi Perancis. 


Pada 2016 terjadi Skandal Cambridge Analytica, yaitu pencurian data pribadi pengguna Facebook untuk memetakan psikologis pemilih pada pemilu AS. Cambridge Analytica membuat iklan propaganda yang langsung dikirim ke lini masa secara personal untuk mempengaruhi persepsi.


Belum lama (April 2026), Menteri Keuangan RI, Purbaya,  menyatakan bahwa Bank Dunia (World Bank) membuat "dosa besar" karena menyebarkan SENTIMEN NEGATIF tentang Indonesia melalui data yang ngawur. 


World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia (yang seharusnya 5,6%) menjadi hanya 4,7% dalam rilis Laporan East Asia and Pacifik Economic Update 2026, tak lama setelah lembaga indeks saham swasta bonafide, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan beberapa emiten besar saham Indonesia dari daftar mereka karena masalah free float (jatah saham yang dijual) yang dianggap terlalu sedikit. 


Purbaya menyebut yang dilakukan World Bank sebagai DOSA BESAR karena beliau memahami betul bahwa "sentimen pasar" (persepsi pelaku pasar) adalah sebuah variabel independen yang mampu mengalahkan variabel fundamental dalam perhitungan ekonomi makro.


Protes Menkeu Purbaya tentang rilis yang salah data dijawab oleh World Bank dengan permintaan maaf.  Namun di media sosial, laporan "ngawur" yang membakar sentimen negatif ternyata menjadi jauh lebih viral daripada permintaan maafnya (bullshit asymmetry principle = energi yang dibutuhkan untuk meluruskan/melawan kebohongan selalu lebih besar daripada energi untuk memproduksinya).  


Dosa besar Wold Bank  terlanjur "andil" dalam kejatuhan IHSG dan kurs rupiah saat ini (Juni 2026).  Tentu saja, ada variabel lain yang ikut bekerja seperti geopolitik dan kebijakan lembaga keuangan global yang tidak menguntungkan. Semua variabel itu seolah bekerjasama, datang bersamaan sebagai badai sempurna yang menjatuhkan (trigger) dan memperparah sentimen negatif.


Persepsi publik sebagai dua mata pisau yang tajam, mutlak harus dimanfaatkan negara untuk mematahkan sentimen negatif lalu  menumbuhkan sentimen positif sebesar-besarnya guna kepentingan pewujudan  tujuan bangsa-negara Indonesia. Bukan pembungkaman, namun lebih pada menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi positif, sewajarnya kehidupan yang demokratis.


Pengelolaan persepsi publik sebetulnya bukan hal aneh, Bradshaw dan Howard (2020) dalam Industrialized Disinformation: 2020 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation melaporkan bahwa ruang digital saat ini sangat disetir dan dikendalikan oleh kepentingan kelompok tertentu.


Indonesia sebagai negara Pancasila bagi bangsa yang religius, humanis, dan tepa-silira,  menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi persepsi positif adalah sebuah tuntutan moralitas.


Upaya membentuk persepsi positif adalah perjuangan luhur yang mendesak, yang harus segera dilakukan negara terutama melalui  instansi yang terkait dengan pertahanan negara, pendidikan masyarakat, komunikasi, dan digital, secara terpadu dengan mendalami psikologis massa disamping hanya menyampaikan fakta bukti struktural.   


Dunia dikendalikan persepsi adalah sebuah kenyataan.


________________


Penulis:

Hamdan A. Batarawangsa




11 Mei 2026

KRONOLOGI KERUNTUHAN RUPIAH, KOMBINASI BADAI YANG SEMPURNA

Agustus 1997, iklim di Indonesia sedang panas dan kering.  Kemarau panjang menampilkan antrian rutin di sumber-sumber air sejak pagi buta hingga tengah malam. Ba'da sholat shubuh, tempat wudhu dan toilet mushola-masjid banyak yang berubah jadi MCK  dan tempat cuci umum ibu-ibu sekampung. 


Pada Mei-Agustus 1997, George Soros, seorang spekulan valas internasional berkewarganegaraan ganda Hungaria-AS, melihat Bath Thailand sebagai mata uang yang rapuh dan mudah dimainkan. 


Bulan itu juga ia berhasil meminjam uang dalam BATH  tanpa jaminan  (unsecured credit lines) yang nilainya setara AS$ 10 Milyar dari bank-bank internasional di Singapura dan AS,  dan langsung menjualnya secara masif (short selling) melalui broker Singapura (laporan IMF September 1997, Kaufman dalam Soros : The Life and Times of a Messianic Billionaire, dan Wall Street Journal-Bloomberg, September 1997).   


Soros melepas  Bath dan menukarnya dengan dollar AS. Jual "dadakan" yang dilakukan Soros membuat nilai Bath turun signifikan hingga akhirnya ia membeli kembali bath di harga murah. Selisih nilai Bath itulah profit yang didapat Soros.


Apa yang terjadi di Thailand ternyata menular secara psikologis ke Indonesia (Contagion Effect). Rumor rupiah akan menjadi target Soros berikutnya memunculkan sentimen negatif di kalangan trader valas, para pengusaha lokal yang memiliki hutang dalam dollar AS, dan para konglomerat. Mereka semua melepas rupiah dalam jumlah besar dan menukarnya dengan dollar AS secara masif.


Banjirnya rupiah dalam jumlah besar dalam waktu singkat membuat guncangan hebat di pasar valuta asing, tiba-tiba nilai tukar rupiah melorot dari Rp.2400 menjadi Rp. 2600 per AS$,  turun 8% hanya dalam 24 jam.


Longsornya kurs rupiah secara tiba-tiba itu  memunculkan aksi "jual panik"  mata uang Indonesia lebih dalam. Pada 14 Agustus, rupiah menjadi Rp.2855 per dollar AS dan terus melemah hingga penutupan pasar, turun nyaris 20% dalam 14 hari.  


Untuk menahan nilai rupiah, Bank Indonesia (BI)  melakukan aksi "beli rupiah" menggunakan dollar AS sejak beberapa hari sebelumnya, namun gagal. Rupiah terus melorot sementara cadangan  dollar AS terkuras habis. 


Pada 14 Agustus itu, BI mengumumkan menghentikan intervensi dan membiarkan pasar bergerak bebas (free floating exchange rate system) yang ternyata menjadi awal malapetaka. Pada Juni 1998, nilai rupiah menyentuh Rp.17.000 per dollar AS, sebelum akhirnya melenting naik ke Rp.7000 menutup tahun 1998. 


Perubahan nilai rupiah terhadap US$ 2026 relatif moderat tidak sama dengan peristiwa 1997-98











Selain faktor sentimen negatif dan strategi BI yang salah, kejatuhan rupiah juga disebabkan fundamental keuangan yang buruk : cadangan devisa BI terlalu sedikit; besarnya hutang dollar jangka pendek pihak swasta sementara income mereka dalam rupiah tanpa hedging/asuransi nilai tukar untuk proyek jangka panjang; dan bank milik konglomerat terlalu banyak membiayai perusahaannya sendiri melebihi batas maksimum sehingga menyebabkan kredit macet.  


Longsornya rupiah pada 1997-1998 disebabkan  kombinasi sempurna 3 hal strategis yang menghancurkan di atas. Adapun saran IMF menutup 16 bank tanpa jaminan pada November 1997 menambah ruwet situasi dan kondisi, dimana  masyarakat  akhirnya ramai-ramai menarik dana dari semua bank di tanah air.


Hal-hal tidak realistis seperti sentimen pasar, terbukti menjadi pencetus krisis yang serius pada negara dengan fundamental dan struktur ekonomi yang keropos. 


Bahkan pada negara kuatpun, agenda nasional seperti pemberantasan korupsi, bisa sangat terganggu karena propaganda "sentimen negatif" media pada isyu-isyu ekonomi dengan penyebaran narasi ambigu atau "narasi sesat yang siap untuk dikoreksi" sambil mempermainkan emosi masyarakat (netizen) yang lugu untuk menciptakan suasana gaduh sehingga mempengaruhi psikologis pelaku pasar yang membenci pergolakan. Soros berkata bahwa persepsi massa-meski dibangun dari kekonyolan dan kebohongan-mampu mengendalikan trend pasar bebas di bursa saham dan valas.


Tahun 2026 ini nilai tukar rupiah kembali menyentuh Rp.17.000 namun dalam kondisi moneter yang berbeda.


Saat ini kita patut bersyukur atas pertumbuhan 5,6%; yang tertinggi di negara G20, dengan cadangan devisa hampir US$150 Milyar dan suku bunga moderat.


Jeffrey Sachs, ekonom papan atas dunia, yakin Indonesia cemerlang, hal ini didukung pula oleh siklus utama ekonomi Kuznets dan Kondratief, yang menjadikan Indonesia anomali dunia bersama India dan Vietnam.


Kurs Rp.17.000 per dollar AS disebut UNDERVALUE oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang berarti sedang dalam bidikan spekulan untuk dibeli, karena fundamental ekonomi Indonesia yang kuat akan membuatnya memantul naik dalam waktu dekat. Kondisi UNDERVALUE yang singkat ini semoga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menggenjot ekspor setinggi mungkin.

__________________


Hamdan A. Batarawangsa
Praktisi Pasar Modal


 



09 Mei 2026

PANDEMI BARU, LATE CAPITALISM DIAMBANG RESET


Bukan mimpi di siang bolong jika terbuka peluang  besar munculnya pandemi baru di tahun 2027 atau dalam waktu yang tidak terlalu jauh.  Belajar dari fakta, Klaus Schweb dan Malleret dalam The Great Reset (2020) menyatakan bahwa pandemi bisa berfungsi sebagai "reset" kondisi ekonomi suatu negara yang sedang di puncak keterpurukan untuk kembali ke titik start putaran baru siklus ekonomi. 


Amerika Serikat misalnya, pada 2019 berada dalam posisi "akhir musim gugur dan memasuki musim dingin" (downtrend) dalam siklus Kondratief : teknologi internet dan smartphone telah sampai di titik jenuh dan pertumbuhan ekonomi melambat. 


Sedangkan menurut siklus Kuznets AS dalam kondisi yang lebih parah, yaitu berada tepat di bagian terbawah siklus : ketimpangan ekonomi yang parah dimana separuh kekayaan bangsa berada di  1% populasi; infrastruktur yang tua dan rusak; banyak gedung, kantor, dan  apartemen yang ditinggal penyewa. Ekonomi dari sektor properti hancur lebur.


Tapi apa yang terjadi setelah pandemi covid (2020-2023)? 


Pasca pandemi covid, posisi AS berubah drastis dari "memasuki musim dingin" menjadi "musim semi awal" (uptrend) dalam siklus Kondratief: AS memimpin dalam teknologi baru kecerdasan buatan melalui NVIDIA, Microsoft, dan OpenAI yang  menyelamatkan ekonomi dari stagnasi. 


Berdasar siklus Kuznets, terjadi pula pergeseran posisi dari "musim dingin yang beku" menjadi "musim dingin yang bergolak". Pasca pandemi, upah pekerja di AS naik. Hanya saja kenaikan upah segera diikuti kenaikan harga-harga terutama properti. Pasca pandemi, kekayaan kelompok "atas" semakin meninggalkan kelas di bawahnya. 


Kini di tahun 2026, dalam siklus Kondratief, posisi  AS mulai memasuki puncak digjayanya.   Namun karena kesenjangan ekonomi yang luar biasa lebar, posisi dalam siklus Kuznets kembali ke titik terendah. Properti dan manufaktur mandek ditengah suku bunga yang tinggi sehingga terjadi inflasi yang sangat dalam, yang berefek pada munculnya gejolak sosial.


Perang AS-Iran dalam kacamata manufaktur adalah upaya pemaksaan berputarnya ekonomi melalui industri militer dan teknologi, karena putaran ekonomi UMKM - sipil dianggap terlalu lambat, membutuhkan waktu lebih lama. Terlebih saat ini para pemilik modal di AS cenderung menyimpan dananya dalam investasi emas daripada membuka usaha akibat geopolitik yang penuh ketidakpastian.


Gejolak sosial di AS jika semakin tajam sangat mungkin menjadi trigger munculnya pandemi baru. Bukan hanya persoalan dalam negeri, ambisi geopolitik turut menjadi motif  kemunculan pandemi.


Sebagaimana kita tahu, AS berupaya keras mempertahankan posisi adidaya dari Cina sejak 6-7 tahun lalu. Pasca pandemi, posisi Cina sangat kritis. Berbeda dengan AS yang berhasil mencapai puncak dalam siklus Kondratief (penguasaan teknologi AI), Cina sedang 2/3 jalan mengejar di belakang AS, dimana "tenaga" sedang dipacu sekuat-kuatnya.


Sedangkan berdasar siklus Kuznets (ekonomi berbasis properti dan manufaktur), Cina mulai mengakhiri masa puncaknya bersiap meluncur turun. Andai muncul pandemi baru, ambisi Cina menuju puncak Kondratief terancam stagnan, sementara posisi ekonomi berbasis properti dan manufaktur akan terjerembab dalam posisi downtrend yang nyata.


Dari semua negara yang dianalisa: AS, Cina, Rusia, dan Eropa, jika pandemi kembali terjadi dalam waktu dekat, Cina adalah yang paling terpukul, sementara AS menjadi negara yang paling diuntungkan, menurut pakar Geopolitik Peter Zeihan, Presiden Eurasia Group Ian Bremer, dan Roubini dalam Mega Threats (2022).


Bagaimanapun, saat ini Late Capitalism sedang mencari jalan keluar. Bagi kapitalisme yang sangat terintegrasi dan padat, terutama dalam perspektif Bill Gates, pandemi adalah konsekuensi dari over-urbanisasi, kerusakan ekosistem, dan kecepatan mobilitas modal. 


AS terjebak dalam struktur ekonomi lama: finansial dan properti, yang membutuhkan guncangan yang memecah kebuntuan. Dengan exorbitant privilege dollar, AS akan lebih tahan dibanding negara lain, meski pada akhirnya mungkin biaya sosial yang besar dari kemenangan geopolitik terasa hambar bagi rakyat AS, dan reset ekonomi tidak selalu mulus.


Indonesia bukan objek dari reset global tersebut, melainkan subjek yang pasti  merespon dengan cara yang paling cerdas dan strategis dari segala situasi geopolitik dan ekonomi, mulai dari hilirisasi seluas-luasnya, menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan, hingga kemandirian energi, tentu saja  dengan didukung  kekuatan utama kita : spirit gotong-royong, solidaritas nasional dari seluruh bangsa Indonesia. Sambil terus menggencarkan pemberantasan korupsi, karena koruptor adalah kanker bagi negara dan bangsa.


______________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

24 April 2026

PREDIKSI DUNIA 50 TAHUN KE DEPAN DARI PARA FUTUROLOG


Apa yang terjadi sekarang ternyata sudah "dibacakan" oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970) dan The Third Wave (1980). Sudah terbaca pula berdasar siklus utama ekonomi dunia seperti Kuznets dan Kondratief.


Merangkum lebih presisi tentang prediksi masa depan dari para futurolog mungkin akan sangat berguna.


Sejak puluhan tahun lalu saat orang masih menggunakan mesin tik manual yang berisik,  Toffler sudah memprediksi akan munculnya gaya hidup digital nomad, masyarakat akan mengalami kelelahan mental kolektif karena debit arus informasi yang terlalu kuat dan tercemar hoax,  adanya work from home (WFH), rapat dan kuliah virtual, munculnya ekonomi kreator (tiktoker, youtuber), masyarakat ter-fraksionalisasi dalam sub-sub kultur dan trend, bioteknologi teramat maju melampau hukum dan etika (cloning, daging sintetis, dsb), dan perubahan segala hal yang terlalu cepat (informasi, teknologi, geopolitik, trend, dll).


Pada 50 tahun ke depan kekuasaan dan struktur negara-bangsa akan melemah menjadi organisasi yang lebih kecil, manusia akan menjadi produsen selain menjadi konsumen untuk produk lain, kantor-kantor akan sepi karena korporasi menerapkan WFH atau manusia sibuk berbisnis dari rumah.


Peter Turchin dalam jurnal Nature (AS, 2010) menulis bahwa akan terjadi terlalu banyak orang berpendidikan tinggi memperebutkan terlalu sedikit posisi, dan sejak 2020 akan muncul ketidakpercayaan kolektif terhadap institusi yang memicu kerusuhan sipil.


Pada 50 tahun ke depan akan terbentuk tata dunia baru dimana struktur  negara bangsa runtuh atau lemah, menjadi semacam organisasi masyarakat yang lebih kecil.


Ray Kurzweil dalam Singularity is Near (2005) menyatakan akan terjadi kebangkitan kecerdasan buatan dan cloud yang pada 2020-an akan menjadi era transisi besar.


Pada 50 tahun ke depan manusia akan menyatu dengan AI dengan teknologi nanobot menghubungkan otak dengan claud (memori tak terbatas) menjadikan kehidupan digital yang abadi.


Prof. Shoshana Zuboff (Harvard), pada 2019 (dalam The Age of Surveillance Capitalizm)  menyatakan bahwa akan ada era dimana komoditi utama bukan lagi data, namun prediksi perilaku manusia, AI akan digunakan untuk memodifikasi perilaku manusia untuk suatu keuntungan.


Pada 50 tahun ke depan dunia menjadi penjara digital yang memangkas kehendak bebas dan kemudian manusia berupaya merebut kembali hak dan privasinya, dan data mereka dari institusi.


Parag Khanna dalam Connectography : Mapping the Future Global Civilization (2016), memprediksi akan munculnya pergeseran dari batas negara-bangsa ke jaringan infrastruktur-akses. Jalur distribusi kebutuhan akan lebih penting daripada kedaulatan politik.


Pada 50 tahun ke depan, karena perubahan iklim akan terjadi migrasi besar-besaran menuju daerah yang paling luas akses untuk hidup yang layak.


Harari dalam Homo Deus (2015) menulis bahwa krisis besar akan digunakan untuk melegitimasi pengawasan di dalam tubuh (suhu, detak jantung, dsb) melalui teknologi medik modern.


Pada 50 tahun ke depan tidak ada kelas menengah di masyarakat, yang ada adalah Homo Deus (orang-orang kaya yang meng-upgrade diri menjadi manusia super) dan kelas rakyat jelata, dimana  kelas menengah tergabung karena peran mereka digantikan oleh robot.  


Pada 50 tahun ke depan dunia akan mengalami de-fragmentasi negara bangsa yang digantikan oleh simpul-simpul konektivitas jalur suplai, di mana stabilitas sosial terancam oleh polarisasi ekstrem antara elit teknologi yang terakselerasi secara biologis dengan massa yang kehilangan relevansi ekonomi akibat otomasi AI.


Di tengah pergeseran kekuasaan dari pemerintah ke pemilik algoritma, manusia akan menghadapi krisis eksistensi yang memaksa kita memilih antara hidup dalam manipulasi perilaku total atau melakukan adaptasi radikal melalui penggabungan kognitif dengan mesin demi bertahan hidup di wilayah-wilayah baru yang layak huni akibat perubahan iklim.


________________

Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa





28 Maret 2026

MOTIF EKONOMI DALAM PERANG AS

Perang tidak melulu tentang ideologi dan keamanan. Terutama bagi AS, sulit untuk menafikan motif ekonomi. 

Berdasar siklus  Kuznets (20 tahunan), ekonomi AS dalam posisi downtrend menuju depresi  ditandai lesunya bisnis properti dan suku bunga tinggi, yang berdampak besar pada putaran ekonomi makro dalam negeri. 


Dalam posisi ekonomi yang buruk, AS sering menggunakan opsi militer (military keynesianism) untuk mempersingkat durasi tersebut.  Saat ekonomi mengalami  "depresi besar" tahun 1930, AS segera mempersiapkan diri terjun dalam Perang Dunia II.  Saat ekonomi mengalami kejenuhan investasi tahun 1960, AS menginvasi Vietnam.  Saat terjadi krisis properti tahun 1990-2000, AS menginvasi Irak.  Semua opsi militer ini dalam rangka merealisasikan "belanja besar" yang bisa menstimulus sektor-sektor lain dalam ekonomi AS. Opsi militer AS ini lebih jauh selalu menargetkan pula penguasaan minyak yang masih menjadi energi utama dalam industri. Dalam jangka pendek, perang akan sangat menekan fiskal namun nampaknya AS mengabaikan hal itu.


Opsi militer yang dilakukan AS dalam setiap krisis  ternyata mendapat dukungan dari kelompok investor raksasa dunia, karena perang akan membuat krisis menjadi semakin dalam yang menyebabkan harga-harga saham perusahaan besar dan strategis suatu negara menjadi turun.  Para investor raksasa ini bisa leluasa membeli korporasi besar dengan harga sangat murah. Krisis ekonomi menyusahkan masyarakat umum namun menjadi kabar gembira bagi investor raksasa. Bukan hanya membeli murah, sebagian malah bisa dikatakan "merampok".


Masyarakat akan mengira pasar modal kawasan Arab yang paling terguncang akibat perang AS-Israel vs Iran. Sangat menarik, ternyata pasar modal yang paling terdampak adalah Asia Timur (Nikkei, Shenzhen, Hangseng, dll), terutama untuk sektor manufaktur, logistik, dan teknologi. Taiwan dan Korea Selatan adalah produsen semi konduktor terbesar dunia, yaitu chip yang paling esensial dalam industri teknologi kecerdasan buatan (AI), mengalahkan Nvidia dan Intel (AS).


Pasca invasi Irak, Nort-South Oil Company (milik Irak) dikuasai Halliburton dan Exxon Mobile. Trade Bank of Irak (TBI, Irak) diambil alih JP Morgan Chase.


Pasca invasi Libya, National Oil Corporation (BUMN minyak Libya) dikuasai Conoco Philips, Hess, dan Ocidental. LAFB (bank terbesar Libya) diambil alih oleh Bank Sentral AS. LIA (semacam Danantara milik Libya) diambil alih oleh JPMorgan Chase.


Celakanya, bukan hanya AS yang dalam posisi downtrend dalam siklus ekonomi Kuznets. Sebagian besar Eropa juga dalam posisi sama. Bahkan Cina pun hampir memasuki fase tersebut. Jika semua negara memilih opsi militer untuk mengatasi masalah ekonomi makro, dunia benar-benar dalam ambang Perang Dunia III.


Indonesia bersama Vietnam dan India adalah anomali. Ketiga negara ini bertahan dalam fase ekspansi (uptrend) dalam siklus ekonomi 20 tahunan. 


Ada kecemasan namun ada pula harapan, semoga arah nasib umat manusia ke depan akan lebih baik.

____________

Hamdan A. Batarawangsa