Niall Ferguson menulis dalam Civilization The West and The Rest (2011) bahwa Islam menolak beberapa kunci kapitalisme, diantaranya sistem bunga perbankan dan korporasi independen yang tak bisa "disentuh" negara. Hal senada disampaikan pula oleh Bryan Turner, Rodney Stark, dan Profesor ekonomi-politik dari Duke University, Kuran.
Islam dan Kapitalisme dibangun dari fondasi moral dan nilai yang bertentangan. Kapitalisme mencirikan kebebasan pasar mutlak, akumulasi modal tanpa batas, dan akumulasi nilai materi sebagai ukuran utama.
Sementara Islam, meski memberikan kebebasan, namun bukan kebebasan absolut, melainkan kebebasan yang dibatasi oleh nilai keadilan sosial dan kebaikan (maslahat) bersama:
(1) melarang riba karena tidak fair,
(2) melarang monopoli,
(3) ada aturan halal-haram, dan
(4) ada kewajiban zakat pribadi atas kekayaan mengendap (pasif) sehingga bisa memaksa pemilik modal (kelas atas) untuk mengalokasikan kekayaannya pada sektor riil yang produktif. Bukan memungut pajak dari pendapatan aktif (PPH) dan konsumsi (PPN) yang memberatkan kelas ekonomi menengah dan bawah.
Pertentangan Islam vs kapitalisme tidak hanya pada ranah ideologis dan struktur ekonomi, namun juga berimplikasi langsung pada politik global
Islam yang mengancam kapitalisme diterjemahkan secara politik oleh Barat khususnya AS dan UK yang merupakan "markas besar" oligarki global ke dalam "politik anti Islam" sejak keruntuhan Uni Sovyet, negara adidaya pasca PD II yang menganut sosialisme, dalam berbagai agresi mulai dari Perang Teluk 1990 hingga Krisis Hormuz 2026 ini, dan manipulasi opini publik melalui media massa dan film dari banyak peristiwa seperti kasus WTC di AS yang dikaitkan dengan Osama bin Ladin dan Saddam Husein hingga teror Bom di berbagai dunia yang dikaitkan dengan organisasi-organisasi bernuansa Islam.
Motif penguasaan sumber-sumber energi terutama minyak bumi adalah keniscayaan dari kebutuhan ekspansi bisnis-bisnis kapitalisme: industri yang membesar membutuhkan pasokan energi yang makin besar pula. Sementara bagi negara, penguasaan kantong-kantong energi adalah syarat atas jaminan keamanan dan memenangi persaingan dalam berbagai bidang sebagai negara adidaya.
Penutup
Islam adalah ancaman paradigma bagi kapitalisme : akumulasi modal tanpa melupakan keadilan sosial dan pasar tetap efisien tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Sementara INDONESIA kita, satu kaki telah terjerembab ke dalam lubang kapitalisme. Satu kaki lagi masih menjejak di atas tanah Pancasila warisan para Kyai...
____________________
Hamdan A. Batarawangsa


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.