Dalam "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan ..." Harari (dalam buku Homo Deus : A Brief History of Tomorrow, 2015) memprediksi hilangnya kelas menengah, karena bersama kelas bawah membentuk kelas baru yang diistilahkan sebagai Olamha Lo Nakhuts yang artinya rakyat jelata tak berguna, atau kelompok yang tidak dibutuhkan, the useless class. Istilah Olamha Lo Nakhuts diambil dari bahasa Ibrani, diperkenalkan oleh Harari. Olamha Lo Nakhuts (kaum tak berguna) akan berhadapan dengan Homo Deus (Manusia Dewa, Superman, atau Ubermensch jika meminjam istilah Nietzsche).
Prediksi Harari tentang hal ini didukung oleh intelektual lain (paralel secara pemikiran) diantaranya Ray Kurzweil, Nick Bostrom, Max More, dan Michio Kaku. Terakhir Elon Musk pun ternyata menguatkan prediksi Homo Deus melalui visi neurolink.
Munculnya Homo Deus akan menciptakan jurang kesenjangan yang curam di masyarakat. Pertarungan antara Homo Deus vs Kaum Tak Berguna (KTB) diantaranya dalam akses biologis, perebutan otoritas, dan HAM. Pertarungan Homo Deus vs KTB bukan perang konvensional bersenjata, melainkan "perang asimetris" dimana pihak yang kuat menjadi "tidak peduli" sementara pihak yang lemah berupaya untuk tidak diabaikan dan diperlakukan selayaknya manusia.
Kelompok kaya dengan kekuatan finansial akan meng-upgrade dirinya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang revolusioner : membuang gen penyakit, mendapatkan jaminan suplay super food, dan meningkatkan taraf kognitif melalui teknologi nanobot atau neurolink yang menghubungkan otak dengan cloud. Mereka berusaha mewujudkan ambisi "hidup abadi". Sementara itu KTB dengan segala keterbatasan tidak mampu ikut menikmati berkah teknologi tersebut.
Kelompok kaya memiliki akses yang luas pada perangkat digital dan mengendalikan algoritma. Mereka akan menjadi pihak yang memegang otoritas "mengelola" bahkan memanipulasi keinginan orang lain. Adapun KTB menjadi objek algoritma yang menerima rekomendasi segala hal mulai dari makanan hingga politik, yang perlahan mematikan kehendak bebas.
Homo Deus dilayani oleh robot nyaris tidak membutuhkan manusia lain. Homo Deus hidup tertutup bersama se-kastanya dan akan memandang KTB seperti bukan manusia. Memandang pihak lain seperti bukan manusia padahal sama-sama hidup di bumi adalah inti dari penjajahan: diskriminasi dan pengabaian pada Hak Asasi Manusia.
Disinilah pentingnya negara. Sebelum Homo Deus semakin banyak dan kuat, negara dengan segala kekuatannya harus cepat membuat regulasi yang diperlukan. Negara harus punya kedaulatan dalam mengelola infrastruktur teknologi khususnya teknologi digital. Tapi nasalahnya, tidak ada yang bisa diharapkan dari negara yang korup. Butuh kepastian sekarang juga akan komitmen bangsa Indonesia dalam pemberantasan korupsi.
Bersamaan dengan itu sementara politik dan ekonomi cenderung kapitalis, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi esensial dan mendesak. Negara yang kita huni lagi-lagi harus dipastikan setia dengan bertujuannya mewujudkan keadilan sosial serta memilih cara gotong-royong dan demokrasi yang efektif dalam mewujudkannya.
Keadilan sosial dengan tidak menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama korporasi yang men-substitusi total SDM ke robot, melarang aplikasi teknologi AI mengikuti mekanisme pasar dimana orang kaya bisa mengakses dan mendapatkan semaunya atau negara menjadikan akses ke arah itu bersifat publik, tidak menjadikan data genetik (non upgrade) sebagai alasan penolakan perusahaan/ asuransi, diberlakukan pajak data atau royalti atas orang yang datanya dimanfaatkan perusahaan, juga pajak robot karena mengambil-alih kesempatan bekerja manusia, mepertahankan pendidikan berbasis humanisme, dll. Satu hal penting, semua upaya bangsa dalam mengatasi masalah tidak boleh lepas dari semangat gotong-royong, kesetiakawanan sosial nasional, karena itulah bahan bakar utama bangsa ini.
Perjuangan bangsa Indonesia dan umat manusia ke depan bukan lagi sekedar sandang pangan, tapi mempertahankan kemanusiaan yang adil dan beradab.
___________
Penulis
Hamdan A. Batarawangsa
