Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

14 Mei 2026

ATEIS ESKAPIS


Ketika ada kitab suci berkali-kali menyuruh pembacanya berpikir, dan banyak firman Tuhan yang terkonfirmasi secara sains, maka  intelektualitas bukan lagi jadi alasan logis manusia untuk ateis.


Hal-hal emosional : kemarahan atau ketidaksukaan atas  perilaku sebagian penganut agama yang menampilkan radikalisme dan kemunafikan, hasrat kebebasan dari batasan moral agama, serta kekecewaan pada kehidupan dimana Tuhan seolah tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, mungkin lebih relevan menjadi alasan logis kecenderungan menjadi ateis (alasan lainnya, namun tidak berguna dibahas, adalah karena ketidakpedulian).

















Bukan Tuhan tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, namun memang Tuhan menjadikan penderitaan sebagai cara untuk memuliakan manusia. Tedeschi dan Calhoun dalam Posttraumatic Growth: Conceptual Foundations and Empirical Evidence (Jurnal: Psychological Inquiry, 2004) menyatakan bahwa penderitaan akan meningkatkan kekuatan personal dan apresiasi hidup yang lebih tinggi.  Hal serupa didukung  oleh Dabrowski dalam Positive Disintegration (1964), Southwick dan Charney dalam The Science of Mastering Life's Greatest Challenges, dan Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946).


Penderitaan adalah stresor evolusioner yang membuat sistem psikologi manusia menjadi dinamis. Penderitaan menghancurkan struktur mental yang kaku dan memaksa untuk beradaptasi, menciptakan individu yang lebih kompleks secara kognitif, lebih tangguh secara emosional, bahkan bisa jadi semakin kuat secara badani.


Bahkan Friedrich Nietzsche, filsuf ateis yang baru mencapai "separuh syahadat" ,  dalam "Sabda Zarathustra" menolak nihilisme, baginya hidup adalah adaptasi tanpa henti untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. Moralitasnya adalah menjalani hidup dengan suka-cita, "penderitaan" adalah latihan untuk memperkuat diri. 


Jangan jadikan penderitaan sebagai alasan untuk menolak Tuhan. Menjadi ateis karena kemarahan atas nasib buruk  hanyalah sebuah bentuk pelarian (eskapisme) dan kerapuhan eksistensial.


Kehadiran Tuhan tidak ditemukan dalam ketiadaan penderitaan, melainkan dalam ketangguhan jiwa yang mampu bangkit dari reruntuhan ego untuk menjadi pribadi yang lebih utuh dan mulia.


_____________



Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 












13 Mei 2026

ZARATHUSTRA SANG NABI KESEPIAN

Sebelumnya ia mengatakan bahwa tuhan sedang sekarat, kemudian  berteriak bahwa tuhan telah mati. Friedrich Nietzsche berkesimpulan bahwa masyarakat pada jamannyanya bukan menyembah Tuhan, tapi menyembah berhala. Tapi tidak seperti Ibrahim yang mencari Tuhan sejati, Nietzsche yang terpenjara dalam eksistensialisme-voluntaristik hanya sampai di separuh syahadat : laailaha ... (tak ada tuhan...).

Namun ia mencintai kemanusiaannya, tidak terima bahwa eksistensinya adalah kesia-siaan, ia menolak nihilisme. Manusia harus punya moralitas original yang bukan ajaran berhala. Bagi Nietzsche manusia harus menjadi subjek, bukan objek dari takdir, meski ia mengakui tidak mampu sepenuhnya mengendalikan hidup.


Maka ia menulis buku berjudul "Sabda Zarathustra" yang melukiskan mahaguru Zarathustra sebagai matahari sore di pantai, yang harus terbenam di ufuk barat, untuk menerangi di kedalaman sisi gelap wilayah lain...


Zarathustra berkata bahwa manusia adalah kondisi dalam  perjalanan antara binatang dan Ubermensch (manusia paripurna).


Moralitas-moralifas Zarathustra:

(1) Baik dan buruk tidak ditentukan ajaran dan norma manapun selain pertimbangan subjektif pribadi; hal ini membutuhkan kreativitas, kekuatan, dan keberanian atas kedaulatan diri; membuang mental kawanan,

(2) memuliakan kehidupan fisik : kesehatan, keindahan, kekuatan,

(3) mencintai kehidupan dan suka-cita atas pengulangan momen kehidupan berkali-kali.


Ubermensch dalam Zarathustra adalah kondisi ideal yang tidak pernah dicapai, karena hidup dipandang sebagai proyek pengembangan diri yang tak pernah selesai untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. 


Pemikiran Nietzsche dalam Zarathustra tidak realistis dalam kehidupan sosial. Ia sukses dengan bombastis menghancurkan dogma-dogma etik yang dominan di Eropa pada jamannya, namun kurang brilyan dalam memberikan solusi yang membumi, bukan karena kegagalan intelektual namun penolakan prinsip atas segala kolektivitas yang menyeragamkan manusia. 


Zarathustra ala Nietzsche seperti nabi yang kesepian, ia menolak jadi pemimpin bagi pengikut, tapi ia ingin menjadi kompas bagi pengembara yang siap tersesat.

______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

11 Mei 2026

KRONOLOGI KERUNTUHAN RUPIAH, KOMBINASI BADAI YANG SEMPURNA

Agustus 1997, iklim di Indonesia sedang panas dan kering.  Kemarau panjang menampilkan antrian rutin di sumber-sumber air sejak pagi buta hingga tengah malam. Ba'da sholat shubuh, tempat wudhu dan toilet mushola-masjid banyak yang berubah jadi MCK  dan tempat cuci umum ibu-ibu sekampung. 


Pada Mei-Agustus 1997, George Soros, seorang spekulan valas internasional berkewarganegaraan ganda Hungaria-AS, melihat Bath Thailand sebagai mata uang yang rapuh dan mudah dimainkan. 


Bulan itu juga ia berhasil meminjam uang dalam BATH  tanpa jaminan  (unsecured credit lines) yang nilainya setara AS$ 10 Milyar dari bank-bank internasional di Singapura dan AS,  dan langsung menjualnya secara masif (short selling) melalui broker Singapura (laporan IMF September 1997, Kaufman dalam Soros : The Life and Times of a Messianic Billionaire, dan Wall Street Journal-Bloomberg, September 1997).   


Soros melepas  Bath dan menukarnya dengan dollar AS. Jual "dadakan" yang dilakukan Soros membuat nilai Bath turun signifikan hingga akhirnya ia membeli kembali bath di harga murah. Selisih nilai Bath itulah profit yang didapat Soros.


Apa yang terjadi di Thailand ternyata menular secara psikologis ke Indonesia (Contagion Effect). Rumor rupiah akan menjadi target Soros berikutnya memunculkan sentimen negatif di kalangan trader valas, para pengusaha lokal yang memiliki hutang dalam dollar AS, dan para konglomerat. Mereka semua melepas rupiah dalam jumlah besar dan menukarnya dengan dollar AS secara masif.


Banjirnya rupiah dalam jumlah besar dalam waktu singkat membuat guncangan hebat di pasar valuta asing, tiba-tiba nilai tukar rupiah melorot dari Rp.2400 menjadi Rp. 2600 per AS$,  turun 8% hanya dalam 24 jam.


Longsornya kurs rupiah secara tiba-tiba itu  memunculkan aksi "jual panik"  mata uang Indonesia lebih dalam. Pada 14 Agustus, rupiah menjadi Rp.2855 per dollar AS dan terus melemah hingga penutupan pasar, turun nyaris 20% dalam 14 hari.  


Untuk menahan nilai rupiah, Bank Indonesia (BI)  melakukan aksi "beli rupiah" menggunakan dollar AS sejak beberapa hari sebelumnya, namun gagal. Rupiah terus melorot sementara cadangan  dollar AS terkuras habis. 


Pada 14 Agustus itu, BI mengumumkan menghentikan intervensi dan membiarkan pasar bergerak bebas (free floating exchange rate system) yang ternyata menjadi awal malapetaka. Pada Juni 1998, nilai rupiah menyentuh Rp.17.000 per dollar AS, sebelum akhirnya melenting naik ke Rp.7000 menutup tahun 1998. 


Perubahan nilai rupiah terhadap US$ 2026 relatif moderat tidak sama dengan peristiwa 1997-98











Selain faktor sentimen negatif dan strategi BI yang salah, kejatuhan rupiah juga disebabkan fundamental keuangan yang buruk : cadangan devisa BI terlalu sedikit; besarnya hutang dollar jangka pendek pihak swasta sementara income mereka dalam rupiah tanpa hedging/asuransi nilai tukar untuk proyek jangka panjang; dan bank milik konglomerat terlalu banyak membiayai perusahaannya sendiri melebihi batas maksimum sehingga menyebabkan kredit macet.  


Longsornya rupiah pada 1997-1998 disebabkan  kombinasi sempurna 3 hal strategis yang menghancurkan di atas. Adapun saran IMF menutup 16 bank tanpa jaminan pada November 1997 menambah ruwet situasi dan kondisi, dimana  masyarakat  akhirnya ramai-ramai menarik dana dari semua bank di tanah air.


Hal-hal tidak realistis seperti sentimen pasar, terbukti menjadi pencetus krisis yang serius pada negara dengan fundamental dan struktur ekonomi yang keropos. 


Bahkan pada negara kuatpun, agenda nasional seperti pemberantasan korupsi, bisa sangat terganggu karena propaganda "sentimen negatif" media pada isyu-isyu ekonomi dengan penyebaran narasi ambigu atau "narasi sesat yang siap untuk dikoreksi" sambil mempermainkan emosi masyarakat (netizen) yang lugu untuk menciptakan suasana gaduh sehingga mempengaruhi psikologis pelaku pasar yang membenci pergolakan. Soros berkata bahwa persepsi massa-meski dibangun dari kekonyolan dan kebohongan-mampu mengendalikan trend pasar bebas di bursa saham dan valas.


Tahun 2026 ini nilai tukar rupiah kembali menyentuh Rp.17.000 namun dalam kondisi moneter yang berbeda.


Saat ini kita patut bersyukur atas pertumbuhan 5,6%; yang tertinggi di negara G20, dengan cadangan devisa hampir US$150 Milyar dan suku bunga moderat.


Jeffrey Sachs, ekonom papan atas dunia, yakin Indonesia cemerlang, hal ini didukung pula oleh siklus utama ekonomi Kuznets dan Kondratief, yang menjadikan Indonesia anomali dunia bersama India dan Vietnam.


Kurs Rp.17.000 per dollar AS disebut UNDERVALUE oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang berarti sedang dalam bidikan spekulan untuk dibeli, karena fundamental ekonomi Indonesia yang kuat akan membuatnya memantul naik dalam waktu dekat. Kondisi UNDERVALUE yang singkat ini semoga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menggenjot ekspor setinggi mungkin.

__________________


Hamdan A. Batarawangsa
Praktisi Pasar Modal


 



09 Mei 2026

PANDEMI BARU, LATE CAPITALISM DIAMBANG RESET


Bukan mimpi di siang bolong jika terbuka peluang  besar munculnya pandemi baru di tahun 2027 atau dalam waktu yang tidak terlalu jauh.  Belajar dari fakta, Klaus Schweb dan Malleret dalam The Great Reset (2020) menyatakan bahwa pandemi bisa berfungsi sebagai "reset" kondisi ekonomi suatu negara yang sedang di puncak keterpurukan untuk kembali ke titik start putaran baru siklus ekonomi. 


Amerika Serikat misalnya, pada 2019 berada dalam posisi "akhir musim gugur dan memasuki musim dingin" (downtrend) dalam siklus Kondratief : teknologi internet dan smartphone telah sampai di titik jenuh dan pertumbuhan ekonomi melambat. 


Sedangkan menurut siklus Kuznets AS dalam kondisi yang lebih parah, yaitu berada tepat di bagian terbawah siklus : ketimpangan ekonomi yang parah dimana separuh kekayaan bangsa berada di  1% populasi; infrastruktur yang tua dan rusak; banyak gedung, kantor, dan  apartemen yang ditinggal penyewa. Ekonomi dari sektor properti hancur lebur.


Tapi apa yang terjadi setelah pandemi covid (2020-2023)? 


Pasca pandemi covid, posisi AS berubah drastis dari "memasuki musim dingin" menjadi "musim semi awal" (uptrend) dalam siklus Kondratief: AS memimpin dalam teknologi baru kecerdasan buatan melalui NVIDIA, Microsoft, dan OpenAI yang  menyelamatkan ekonomi dari stagnasi. 


Berdasar siklus Kuznets, terjadi pula pergeseran posisi dari "musim dingin yang beku" menjadi "musim dingin yang bergolak". Pasca pandemi, upah pekerja di AS naik. Hanya saja kenaikan upah segera diikuti kenaikan harga-harga terutama properti. Pasca pandemi, kekayaan kelompok "atas" semakin meninggalkan kelas di bawahnya. 


Kini di tahun 2026, dalam siklus Kondratief, posisi  AS mulai memasuki puncak digjayanya.   Namun karena kesenjangan ekonomi yang luar biasa lebar, posisi dalam siklus Kuznets kembali ke titik terendah. Properti dan manufaktur mandek ditengah suku bunga yang tinggi sehingga terjadi inflasi yang sangat dalam, yang berefek pada munculnya gejolak sosial.


Perang AS-Iran dalam kacamata manufaktur adalah upaya pemaksaan berputarnya ekonomi melalui industri militer dan teknologi, karena putaran ekonomi UMKM - sipil dianggap terlalu lambat, membutuhkan waktu lebih lama. Terlebih saat ini para pemilik modal di AS cenderung menyimpan dananya dalam investasi emas daripada membuka usaha akibat geopolitik yang penuh ketidakpastian.


Gejolak sosial di AS jika semakin tajam sangat mungkin menjadi trigger munculnya pandemi baru. Bukan hanya persoalan dalam negeri, ambisi geopolitik turut menjadi motif  kemunculan pandemi.


Sebagaimana kita tahu, AS berupaya keras mempertahankan posisi adidaya dari Cina sejak 6-7 tahun lalu. Pasca pandemi, posisi Cina sangat kritis. Berbeda dengan AS yang berhasil mencapai puncak dalam siklus Kondratief (penguasaan teknologi AI), Cina sedang 2/3 jalan mengejar di belakang AS, dimana "tenaga" sedang dipacu sekuat-kuatnya.


Sedangkan berdasar siklus Kuznets (ekonomi berbasis properti dan manufaktur), Cina mulai mengakhiri masa puncaknya bersiap meluncur turun. Andai muncul pandemi baru, ambisi Cina menuju puncak Kondratief terancam stagnan, sementara posisi ekonomi berbasis properti dan manufaktur akan terjerembab dalam posisi downtrend yang nyata.


Dari semua negara yang dianalisa: AS, Cina, Rusia, dan Eropa, jika pandemi kembali terjadi dalam waktu dekat, Cina adalah yang paling terpukul, sementara AS menjadi negara yang paling diuntungkan, menurut pakar Geopolitik Peter Zeihan, Presiden Eurasia Group Ian Bremer, dan Roubini dalam Mega Threats (2022).


Bagaimanapun, saat ini Late Capitalism sedang mencari jalan keluar. Bagi kapitalisme yang sangat terintegrasi dan padat, terutama dalam perspektif Bill Gates, pandemi adalah konsekuensi dari over-urbanisasi, kerusakan ekosistem, dan kecepatan mobilitas modal. 


AS terjebak dalam struktur ekonomi lama: finansial dan properti, yang membutuhkan guncangan yang memecah kebuntuan. Dengan exorbitant privilege dollar, AS akan lebih tahan dibanding negara lain, meski pada akhirnya mungkin biaya sosial yang besar dari kemenangan geopolitik terasa hambar bagi rakyat AS, dan reset ekonomi tidak selalu mulus.


Indonesia bukan objek dari reset global tersebut, melainkan subjek yang pasti  merespon dengan cara yang paling cerdas dan strategis dari segala situasi geopolitik dan ekonomi, mulai dari hilirisasi seluas-luasnya, menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan, hingga kemandirian energi, tentu saja  dengan didukung  kekuatan utama kita : spirit gotong-royong, solidaritas nasional dari seluruh bangsa Indonesia. Sambil terus menggencarkan pemberantasan korupsi, karena koruptor adalah kanker bagi negara dan bangsa.


______________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

06 Mei 2026

DARI DARMASIKSA KE SIKSAKANDA









Nama Darmasiksa ada dalam buku berjudul "Amanat Galunggung" yang ditulis oleh Atja dan Saleh Danasasmita tahun 1981, awalnya berupa laporan penelitian pada objek naskah Sunda kuno yang diberi nama Kropak 632, suatu naskah berbahan daun nipah, yang awalnya berada di situs Ciburuy, Garut.


Berdasar uji paleografi, linguistik, karbon, dan  kontekstual, Kropak 632 dibuat sekitar Abad ke-15 namun isi naskah menceritakan tentang peristiwa pada abad ke-12, berkenaan dengan tokoh bernama Batari Hyang, seorang Ratu-Resi (Raja Pandita)  yang memberi wasiat pada anaknya, Rakeyan Darmasiksa yang menjadi Raja di Saunggalah (Galunggung), beserta seluruh rakyatnya. 


Prof. Ayatrohaedi dalam buku Sundakala yang mengulas Naskah Wangsakerta (naskah abad ke-17 berjudul asli Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara) menulis bahwa Darmasiksa adalah Raja Saunggalah (Galunggung) yang berumur panjang  (1150-1297) dan berkuasa selama 122 tahun (1175-1297). Pada 1275 menggantikan Prabu Darmakusumah, menjadi raja Sunda Galuh (gabungan Priangan Barat dan Priangan Timur hingga Brebes) yang beribukota di Pakwan (Pakuan Pajajaran, Bogor). Kerajaan Sunda dan Galuh (Galuh atau Kawali) adalah pecahan dari Kerajaan Tarumanegara.


Dalam  Naskah Wangsakerta  yang diulas Ayatrohaedi ditulis bahwa Darmasiksa adalah kakek dari Raden Wijaya pendiri Majapahit. Setelah ayah Raden Wijaya, Jayadarma putra Darmasiksa, wafat, Raden Wijaya dibesarkan  keluarga ibunya di Singasari. Raja Singasari, Kertanegara, adalah sepupu dari ibu Raden Wijaya, Dyah Lembu Tal anak Mahisa Campaka.


Batari Hyang, ibunda Darmasiksa, yang berarti adalah nenek buyut dari Raden Wijaya terabadikan namanya dalam prasasti Geger Hanjuang, Linggawangi, Tasikmalaya, bahwa pada tahun 1111 Masehi mengubah status kebataraan (wilayah otonom spiritual) Galunggung menjadi kerajaan. Kemudian pada penobatan Darmasiksa menjadi raja, Batari Hyang memberi wasiat.


Wasiat Batari Hyang kepada Darmasiksa dalam Kropak 632 yang kemudian disebut "Amanat Galunggung" bukan cuma pesan keluarga kepada Rakeyan Darmasiksa, namun juga merupakan konstitusi moral negara tentang kedaulatan, patriotisme, identitas, dan etika sosial :


1. Menjaga identitas dan kehormatan Kabuyutan (kedaulatan),

2. Menghormati leluhur sebagai sumber eksistensi (loyalitas),

3. Etika kepemimpinan yang berasaskan darma (integritas),

4. Melarang perebutan kekuasaan/kudeta (stabilitas), dan 

5. Kewajiban menjaga persatuan (solidaritas).


Perlu diketahui Batari Hyang bukanlah Batara Galunggung pertama dan terakhir. Para Batara Galunggung, setidaknya sejak abad ke-8, disebut-sebut sebagai tokoh yang meresmikan (nu ngabiseka) para raja yang berkuasa di kerajaan Galuh. Dalam "Carita Parahyangan" ditulis pada sekitar abad ke-8  Batara Semplak Waja Galunggung meresmikan Rahyang Mandiminyak putra Raja Wretikandayun sebagai raja Galuh yang baru.


Kebataraan Galunggung meredup secara perlahan dan berakhir kemungkinan karena beberapa sebab, diantaranya runtuhnya kerajaan Sunda-Galuh pada abad ke-16 yang selama ratusan tahun telah memposisikan Kebataraan Galunggung sebagai wilayah sakral, masuknya Islam yang secara substansi ideologi dan moral sangat klop dengan ajaran Sunda, dan  perubahan politik terutama pada era kolonial yang mengubah status daerah otonom Galunggung menjadi unit administratif biasa dibawah Kabupaten Sukapura dengan Bupati (raja) yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial.


Pada abad ke-16, bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Sunda Galuh dan meredupnya Kebataraan di Galunggung, sekelompok Resi melakukan upaya kodifikasi besar-besaran terhadap seluruh kearifan lokal Sunda. Hal ini diketahui melalui temuan naskah kuno lain, yaitu Kropak 630 berangka tahun 1518, berjudul "Siksakanda Ng Karesian" yang berarti "Kitab Ajaran Para Resi" atau secara harfiah berarti "Buku Tentang Hidup Bijaksana".


Isi Siksakanda Ng Karesian menyinggung banyak aspek kehidupan yang intinya  menuju pada keharmonisan. Pokok-pokoknya sebagai berikut :


1. Tentang segala hal, bertanyalah hanya pada ahlinya,

2. Membangun integritas pribadi dimulai dari menjaga keinginan dan ucapan, agar tidak membawa bencana bagi diri sendiri dan orang lain, 

3. Konsep pembagian kekuasaan : Ratu (politik) patuh pada Resi (ilmu, hukum, moral), dan Resi patuh kepada Rama (pemangku adat, pemelihara akar budaya), dan

4. Bekerja secara profesional, sekecil apapun pekerjaannya, akan membawa kebaikan.


Inti pesan ajaran Siksakanda Ng Karesian adalah "belajarlah dari ahlinya, kendalikan dirimu, dan hiduplah sesuai kapasitasmu untuk menjaga harmoni dunia".


"Dari Darmasiksa ke Siksakanda" menunjukan bahwa peradaban Sunda memiliki kontinuitas intelektual yang panjang, dan bangsa Sunda telah memiliki sistem literasi dan etika yang mapan sejak ratusan tahun lalu. 


Amanat Galunggung dan Siksakanda Ng Karesian  adalah dwitunggal pusaka intelektual yang menjadi jangkar etik dan kompas sosiologis bagi peradaban Sunda, yang populer disebut ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan (Sunda asli) yang masih lestari hingga sekarang.


Makam keturunan Batara Galunggung
di Kp. Urug, Cikatomas, Kawalu, Tasikmalaya 









Ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan saat ini seperti sebuah kapal yang percaya diri di tengah badai, melambung dan menghempas mengendalikan ombak, layarnya terkembang menderu mengarungi lautan kearifan yang ganas...


____________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa


Menyambut Hari Tatar Sunda 18 Mei 2026.







 


04 Mei 2026

PANCASILA DALAM PERTARUNGAN MASA DEPAN: HOMO DEUS VS KAUM TAK BERGUNA


Dalam "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan ..." Harari (dalam buku Homo Deus : A Brief History of Tomorrow, 2015) memprediksi hilangnya kelas menengah, karena bersama kelas bawah membentuk kelas baru yang diistilahkan sebagai Olamha Lo Nakhuts yang artinya rakyat jelata tak berguna, atau kelompok yang tidak dibutuhkan, the useless class. Istilah Olamha Lo Nakhuts diambil dari bahasa Ibrani, diperkenalkan oleh Harari.  Olamha Lo Nakhuts (kaum tak berguna) akan berhadapan dengan Homo Deus (Manusia Dewa, Superman, atau Ubermensch jika meminjam istilah Nietzsche).  


Prediksi Harari tentang hal ini  didukung oleh intelektual lain (paralel secara pemikiran) diantaranya Ray Kurzweil, Nick Bostrom, Max More, dan Michio Kaku. Terakhir Elon Musk pun ternyata menguatkan prediksi Homo Deus melalui visi neurolink.


Munculnya Homo Deus akan menciptakan jurang  kesenjangan yang curam di masyarakat.  Pertarungan antara Homo Deus vs Kaum Tak Berguna (KTB) diantaranya dalam akses biologis, perebutan otoritas, dan HAM. Pertarungan Homo Deus vs KTB bukan perang konvensional bersenjata, melainkan "perang asimetris" dimana pihak yang kuat menjadi "tidak peduli" sementara pihak yang lemah berupaya untuk tidak diabaikan dan diperlakukan selayaknya manusia.


Kelompok kaya dengan kekuatan finansial akan meng-upgrade dirinya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang revolusioner : membuang gen penyakit, mendapatkan jaminan suplay super food, dan meningkatkan taraf  kognitif melalui teknologi nanobot atau neurolink  yang menghubungkan otak dengan cloud. Mereka berusaha mewujudkan ambisi "hidup abadi". Sementara itu KTB dengan segala keterbatasan tidak mampu ikut menikmati berkah teknologi tersebut. 


Kelompok kaya memiliki akses yang luas pada perangkat digital dan mengendalikan algoritma. Mereka akan menjadi pihak yang memegang  otoritas "mengelola" bahkan memanipulasi keinginan orang lain. Adapun KTB menjadi objek algoritma yang menerima rekomendasi segala hal mulai dari makanan hingga politik, yang perlahan mematikan kehendak bebas.


Homo Deus dilayani oleh robot nyaris tidak membutuhkan manusia lain. Homo Deus hidup tertutup bersama se-kastanya  dan akan memandang KTB seperti bukan manusia. Memandang pihak lain seperti bukan manusia padahal sama-sama hidup di bumi adalah inti dari penjajahan: diskriminasi dan pengabaian  pada Hak Asasi Manusia. 


Disinilah pentingnya negara. Sebelum Homo Deus semakin banyak dan kuat, negara dengan segala kekuatannya harus cepat membuat regulasi yang diperlukan. Negara harus punya kedaulatan dalam mengelola infrastruktur teknologi khususnya teknologi digital. Tapi masalahnya, tidak ada yang bisa diharapkan dari negara yang korup. Butuh kepastian sekarang juga akan komitmen bangsa Indonesia dalam pemberantasan korupsi. 


Bersamaan dengan itu, sementara politik dan  ekonomi cenderung kapitalis, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi esensial dan mendesak. Negara yang kita huni lagi-lagi harus dipastikan setia dengan tujuannya mewujudkan keadilan sosial serta  memilih cara gotong-royong dan demokrasi yang efektif dalam mewujudkannya. 


Keadilan sosial dengan tidak menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama korporasi yang men-substitusi total SDM ke robot, melarang aplikasi teknologi AI mengikuti mekanisme pasar dimana orang kaya bisa mengakses dan mendapatkan semaunya atau negara menjadikan akses ke arah itu bersifat publik, tidak menjadikan data genetik (non upgrade) sebagai alasan penolakan perusahaan/ asuransi, diberlakukan pajak data atau royalti atas orang yang datanya dimanfaatkan perusahaan, juga pajak robot karena mengambil-alih kesempatan bekerja manusia,  mepertahankan pendidikan berbasis humanisme, dll. Satu hal penting, semua upaya bangsa dalam mengatasi masalah tidak boleh lepas dari semangat gotong-royong, kesetiakawanan sosial nasional, karena itulah bahan bakar utama bangsa ini.


Perjuangan bangsa Indonesia dan umat manusia ke depan bukan lagi sekedar sandang pangan, tapi mempertahankan kemanusiaan yang adil dan beradab.

___________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa