Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom
Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosial-Budaya. Tampilkan semua postingan

06 Juli 2026

LGBT: AKHIR YANG TRAGIS DAN ANCAMAN EKSISTENSI BANGSA

Sumber tertera pada gambar




















Dalam 10-15 tahun terakhir, hampir mustahil menemukan jurnal-jurnal penelitian yang menyatakan LGBT sebagai gangguan jiwa dan semacamnya, terutama sejak WHO pada 1990 dan Komite HAM PBB pada 1994 menegaskan toleransi pada LGBT tersebut. 


Tapi menariknya, AS yang dikenal liberal bersikap ambigu : sempat memfasilitasi di era Bidden, namun pada 2017 dan 2025 membatalkan dukungannya pada eksistensi LGBT yang diikuti lebih dari 25 negara bagian, melalui larangan masuk militer, pencabutan perawatan medis khusus, pelarangan kampanye di sekolah, tidak mengakui jenis gender selain pria dan wanita, dan melarang transgender menggunakan toilet yang bukan gender lahirnya. Mengapa ?


AS memiliki 2 kawasan yang menjadi "laboratorium" komunitas LGBT : Provincetown (Massachusetts) dan Wilton Manors (Florida), dua kota yang teratur dimana masyarakatnya, meski tidak ideal karena faktor homogenitas berbagai aspek, kita andaikan sebagai miniatur sebuah bangsa yang baru terbentuk.


Mengambil hanya 2 kota ini sebagai sample masa depan bangsa-bangsa mungkin terasa prematur, namun tetap saja harus dijadikan referensi dengan memaklumi segala celahnya.


Pada 2 tempat tersebut, data pemerintah tidak menyebutkan secara tegas populasinya : media lokal, pemandu wisata, dan organisasi bisnis setempat menyebut jumlah LGBT mencapai 80% populasi dan Census Snapshot-Census Bureau menyebut kurang dari separuh karena hanya mendata pasangan sejenis yang hidup bersama, tidak memasukan jumlah yang lajang.  


Kaum LGBT di 2 kawasan itu mendominasi mulai dari sektor ekonomi, berbagai layanan umum, hingga pegawai pemerintahan. Pada musim liburan, kaum LGBT datang dari berbagai daerah yang jumlahnya mencapai 60.000 orang di Provincetown dan 40.000 orang di Wilton Manors.


Provincetown dan Wilton Manors 2026


Sektor kesehatan adalah wilayah di mana dampak dominasi perilaku seksual dan gaya hidup LGBT terlihat paling nyata. 


Berdasarkan data epidemiologi nasional AS (data CDC), distrik-distrik dengan kepadatan populasi LSL (Laki-laki Seks Laki-laki) yang tinggi seperti Provincetown dan Wilton Manors secara konsisten mencatat angka penularan Infeksi Menular Seksual (IMS) dan HIV/AIDS yang jauh di atas rata-rata nasional AS.


Selain masalah kesehatan fisik, aspek psikologi komunitas mencatat munculnya fenomena tekanan psikologis intra-komunitas.


​Ketika seseorang berada di dalam komunitas yang homogen, terdapat ekspektasi sosial yang kaku untuk menyesuaikan diri dengan gaya hidup sub-kultur tersebut.


Di Provincetown dan Wilton Manors, penekanan pada estetika fisik, status ekonomi, dan partisipasi dalam sirkuit pesta malam sangat tinggi. 


Individu yang tidak memenuhi standar "gaya hidup ideal" ini rentan mengalami kesepian kronis, krisis eksistensial, dan depresi akibat penolakan dari dalam kelompok mereka sendiri (intra-group rejection). 


Kemudian, hanya dalam kurun 5 dekade sejak dominasi kaum LGBT, Provincetown dan Wilton Manors pada 2026 berada dalam krisis berkelanjutan demografi, kondisi sekarat menuju kepunahan populasi !


Dominasi pasangan sesama jenis di Provincetown dan Wilton Manors memicu disrupsi sosiologis yang sangat spesifik: Krisis Penuaan Populasi Kronis (Aging Gay Population) tanpa ada generasi penerus.


Banyak lansia LGBT di kota-kota ini yang menghadapi sisa hidup dalam kesendirian karena tidak memiliki struktur keluarga biologis tradisional (anak dan cucu) untuk merawat mereka.


Provincetown dan Wilton Manors awalnya adalah bukti nyata bagaimana sebuah kelompok minoritas mampu menjadi dominan dan merestrukturisasi ruang geografis menjadi episentrum kekuatan budaya dan politik mereka sendiri. 


Namun, eksperimen ruang ini sekaligus menyingkap batas-batas alamiah dari sosiologi manusia.


​Kawasan yang didominasi oleh kultur LGBT pada akhirnya harus berhadapan dengan hukum-hukum struktural: tanpa adanya sistem reproduksi biologis yang berkelanjutan, kota-kota ini terjebak dalam krisis penuaan yang sunyi, beban kesehatan yang mahal, dan ketergantungan mutlak pada migrasi luar untuk mempertahankan eksistensinya, yang  "membuang" penduduk lama beserta nilai-nilai awalnya : keamanan-kenyamanan pribadi, kebebasan ekspresi, dan solidaritas komunal, ke kondisi akhir yang tragis.


Pada akhirnya, tempat-tempat ini menyajikan studi kasus penting bahwa hilangnya keragaman struktur sosial—bahkan di dalam ruang yang dianggap paling progresif sekalipun—tetap menyisakan konsekuensi sistemik yang mendalam bagi peradaban.


Dari sini kita menjadi paham, mengapa 25 negara bagian di AS, Rusia,  Indonesia, dan banyak negara lain melawan LGBT.


Khusus bagi Indonesia, LGBT adalah ancaman negara non militer. Perlawanan negara pada LGBT karena menggerus moral religi; bertentangan dengan nilai-nilai luhur tradisional, hukum positif, konsep HAM negara Indonesia, ideologi Pancasila; dan tentu saja ancaman eksistensi bangsa dalam jangka panjang.

__________



Hamdan A. Batarawangsa







04 Juli 2026

PERANG PERSEPSI: PERANG ASIMETRI PALING RADIKAL















Bukan pengetahuan baru bahwa di Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara yang dilabeli "kebebasan bersuara", media justru sangat dikendalikan Oligarki Global (Bagdikian, 2004, The New Media Monopoly; dan  Rothkopf, 2008, Superclass: The Global Power Elite and the World They Are Making).  


Disana, keberagaman opini sehari-hari bisa tiba-tiba sirna, berganti tagline  yang luar biasa seragam, "media oposisi" seolah hilang sesaat.


Saat ini media massa adalah alutsista yang lebih efisien daripada operasi artileri dan kaveleri.


Tidak menutup mata bahwa negara Indonesia sudah membuat kebijakan dan ada upaya counter perception, namun terlampau lambat menyadari dan belum cukup efektif.  Saat ini masih banyak narasi pembodohan dan kebencian yang lolos ke masyarakat. Dalam perang persepsi ini, posisi pertahanan Indonesia masih sangat lemah.


Perang persepsi  bukan lagi sekedar "perang pemikiran" dimana terjadi dialektika yang justru bagus bagi peradaban manusia. Perang persepsi ini sangatlah liar, dunia bisa membaik atau  terjerembab ke kondisi biadab bergantung pada siapa yang berhasil mendominasi. 


Persepsi bisa mengubah cara berpikir : berpikir lebih baik atau justru "gagal berpikir" (logical fallacy) karena mengambil "fakta dan data palsu"  sebagai asumsi berpikir (failure of judgment). Persepsi melahirkan opini. Opini melahirkan tindakan. Tindakan menentukan keadaan. 


Perang persepsi ini sangat radikal karena langsung menyerang mental manusia, dan  menyasar berbagai aspek:  ekonomi, politik, dan budaya suatu negara. 


Ekonomi negara bisa melesat terbang atau terdeprisiasi bahkan ambruk hanya karena salah persepsi : fluktuasi kurs, harga saham, dan iklim investasi sangat dipengaruhi persepsi pelaku bisnis. Indonesia dan India adalah contoh yang baik untuk tahun 2026 ini : fundamental ekonomi yang sangat baik dirongrong oleh sentimen negatif pelaku pasar sehingga nilai mata uang, indeks harga saham gabungan, dan iklim investasi mengalami tekanan kuat.


Dalam politik, perang persepsi ini bisa mengkampanyekan sosok politikus alternatif yang minim jejak prestasinya namun disisi lain juga mampu memadamkan kecemerlangan tokoh lain yang menjadi lawannya.  


Perang persepsi bisa diarahkan untuk persatuan nasional dan mendukung pemerintah, namun juga bisa digunakan untuk mengikis kepercayaan publik. 


Perang persepsi bisa mengubah moral dan budaya masyarakat. Kampanye LGBT yang mustahil ada di tahun 1980an di Indonesia, pada 2026 ini muncul meramaikan media massa, meski--alhamdulillah--mendapat penolakan keras dari masyarakat.


Pada prinsipnya, pemain utama perang persepsi ini adalah negara yang berusaha melindungi eksistensi dan kepentingan bangsanya melawan  pemegang uang besar : oligarki global, oligarki lokal, dan koruptor yang notabene adalah oknum-oknum di "dalam" negara (yang berkhianat). 


Negara Republik Indonesia harus berkolaborasi dengan kekuatan rakyat,  mutlak wajib memenangkan perang ini atau akan jadi pecundang di era emas 2045.


Posisi masyarakat adalah sebagai pihak yang diadu di lapangan, entah di medan perang real atau medan perang dunia maya. KECERDASAN dan MORAL akan menjawab hasil akhirnya. 

___________________________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

26 Juni 2026

SOPAN SANTUN : KECAKAPAN HIDUP YANG DIABAIKAN GENERASI Z

Budaya sopan santun adalah prestasi bagi sebuah bangsa. Hanya bangsa berperadaban tinggi yang mampu melahirkan budaya "unggah-ungguh" ini. 

Sopan santun adalah keterampilan atau kecakapan mengelola ego orang lain dengan memadukan berbagai elemen khususnya estetika dalam  gestur dan bahasa, serta psikologi, agar komunikasi menjadi bermakna, berkesan, efektif, dan harmonis. 


Sopan santun adalah pelumas dalam interaksi sosial manusia. Era AI dimana sisi  humanis cenderung terdeprisiasi, sopan santun akan menjadi keterampilan yang sangat mahal. 


Sopan diterapkan kepada orang yang dihormati karena faktor usia, ilmu, kedudukan, dan sebagainya.  Sedangkan santun diterapkan kepada orang yang harus dilindungi karena masalah kelemahan : fisik, finansial, kelas sosial, dan sebagainya.  Seringkali sopan santun diterapkan bersamaan kepada orang yang sama, misalnya anak kepada orang tuanya yang telah sepuh.  


Sopan santun sebagai kecakapan bergaul-kecakapan mengelola ego,  selayaknya fleksibel:  kadar formalitasnya mengikuti situasi dan kondisi orang yang terlibat interaksi. 


Sebagai kecakapan hidup, sopan santun atau etiket, tidak ada hubungannya dengan etika (moralitas). Orang yang buruk etiketnya, belum tentu buruk moralitasnya, atau sebaliknya. Etiket santun berarti memaklumi dan memahami sikap dan perilaku "tidak sopan" dari orang yang diyakini tidak punya itikad buruk, sebagai keterbatasannya semata bukan kejahatan atau pelanggaran moral. 


Selanjutnya saya menggunakan istilah etiket untuk pengganti sopan santun, agar lebih ringkas .


Pergeseran Etiket Generasi Z


Meski secara umum moralitas (etika) tidak banyak mengalami perubahan, misal moralitas Pancasila bangsa Indonesia yang tetap mendukung nilai-nilai religi dan keadilan sosial, anti diskriminasi, solidaritas yang tetap tinggi, dan  demokratis  dalam menyelesaikan masalah, namun etiket mengalami pergeseran bahkan penurunan kualitas jika dilihat dari perspektif generasi di atasnya. 


Sedangkan dalam perspektif netral, terjadi pergeseran standar (etiket baru) yang mengabaikan pengelolaan ego interaksi.


Fenomena di atas selaras dengan laporan Aulia dan Christin (2024) dalam Etika Komunikasi Generasi Z dan Millenial dalam Media Sosial Tiktok menulis bahwa cara komunikasi gen Z memicu tingginya gesekan sosial akibat perbedaan standar kesantunan baik antar generasi maupun dalam sesama generasi Z.


Stillman dan Stillman (2017) dalam How the Next Generation is Transforming the Workplace menulis bahwa gesekan dengan gen Z sering muncul karena gaya komunikasi yang dinilai kurang sopan dan menabrak batasan hirarki formal tradisional generasi di atasnya.


Paggi dan Clowes (2021) dalam Managing Generation Z : How to Recruit Onboard, Develop,  and Retain the Newest Generation in Workplace menulis bahwa gen Z sering mengalami Miskomunikasi dengan generasi di atasnya karena belum terlatih dalam etiket komunikasi profesional unwritten rules, gen Z membutuhkan arahan etiket kerja yang lebih jelas.


Tingginya konflik menyangkut gen Z  adalah tanda generasi tersebut kurang terampil  dalam komunikasi efektif, khususnya dalam mengelola ego interaksi. Generasi Z relatif tidak menganggap atau BELUM MENYADARI  bahwa etiket adalah kecakapan hidup yang penting dalam kehidupan sosial yang real.


Generasi Z lahir dan dibesarkan dalam alam digital sementara orang tua gagap dalam adaptasi dan menakar konsekuensi, karena terlalu cepatnya perubahan teknologi yang memicu perubahan cepat lain di segala lini kehidupan, sehingga terlambat menyadari dampak dari perubahan pola hidup kepada anaknya.


Generasi Z lebih banyak berinteraksi secara maya baik dengan manusia lain maupun dengan "manusia tiruan"  kecerdasan buatan, dengan  terlalu sering menggunakan bahasa yang langsung dan singkat, berbasis teks dan emoji. 


Selain itu karena terlalu sering komunikasi secara maya dari tempat privasi, gen Z jadi biasa dengan kondisi kasual saat berinteraksi digital dengan siapapun, batasan "malu" atau canggung memudar karena tidak bertemu secara langsung. 


Kurangnya interaksi sosial secara langsung  karena waktunya lebih banyak dihabiskan di depan gadget, mengurangi kesempatan bagi generasi Z untuk belajar tentang etiket, sopan santun, atau unggah ungguh, yang merupakan kecakapan hidup yang kini semakin tinggi nilainya.


"Kurang etiket" bukanlah kejahatan, bukan pula pelanggaran, karena etiket hanyalah kecakapan hidup semata, dimana "generasi atas"  memiliki hutang edukasi sekaligus hutang adaptasi (memahami) kepada generasi di bawahnya.  


Generasi Z hanya butuh arahan, terutama arahan etiket dalam dunia pendidikan dan dunia kerja. Sementara gen Z di pedesaan yang juga memiliki akses digital namun berbatas, mereka relatif tetap mewarisi secara utuh etiket yang diajarkan keluarga dan masyarakat. 


Secara moral (etika) mungkin generasi Z justru lebih unggul terutama dalam nilai-nilai egaliter, transparansi, dan fungsional.


_____________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa






05 Juni 2026

DUNIA DIKENDALIKAN PERSEPSI


Sekali lagi, kita ditunjukan betapa dahsyatnya  pengaruh persepsi. Persepsi mampu mengalahkan logika taktis : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IDX dan kurs rupiah terhadap dollar yang anjlok ditengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik. 


Bukan cuma Indonesia, India dan Korea Selatan juga mengalami hal serupa. Pertumbuhan ekonomi India, Korea Selatan, dan Indonesia adalah yang tertinggi di dunia pada 2025-2026 (5,6-7%). 


Jatuhnya IHSG dan kurs adalah akibat sentimen negatif pelaku pasar, ada arus kuat yang mengendalikan persepsi komunal mereka. Sentimen ini tidak selalu rasional, seringkali justru sangat tidak rasional. 


Kesadaran manusia tentang kekuatan persepsi dalam mengendalikan massa setidaknya dimulai sejak Paus Gregorius XV yang pada 1622 membentuk Conggregatio de Propaganda Fide, suatu komite khusus untuk membentuk persepsi massa dalam rangka membendung reformasi Protestan.


Maximilian Robespierre pada 1789 melalui pamflet, surat kabar, dan festival, merekayasa persepsi publik untuk menormalisasi eksekusi kepada musuh politik ( reign of terror) yang pada akhirnya melahirkan Revolusi Perancis. 


Pada 2016 terjadi Skandal Cambridge Analytica, yaitu pencurian data pribadi pengguna Facebook untuk memetakan psikologis pemilih pada pemilu AS. Cambridge Analytica membuat iklan propaganda yang langsung dikirim ke lini masa secara personal untuk mempengaruhi persepsi.


Belum lama (April 2026), Menteri Keuangan RI, Purbaya,  menyatakan bahwa Bank Dunia (World Bank) membuat "dosa besar" karena menyebarkan SENTIMEN NEGATIF tentang Indonesia melalui data yang ngawur. 


World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia (yang seharusnya 5,6%) menjadi hanya 4,7% dalam rilis Laporan East Asia and Pacifik Economic Update 2026, tak lama setelah lembaga indeks saham swasta bonafide, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan beberapa emiten besar saham Indonesia dari daftar mereka karena masalah free float (jatah saham yang dijual) yang dianggap terlalu sedikit. 


Purbaya menyebut yang dilakukan World Bank sebagai DOSA BESAR karena beliau memahami betul bahwa "sentimen pasar" (persepsi pelaku pasar) adalah sebuah variabel independen yang mampu mengalahkan variabel fundamental dalam perhitungan ekonomi makro.


Protes Menkeu Purbaya tentang rilis yang salah data dijawab oleh World Bank dengan permintaan maaf.  Namun di media sosial, laporan "ngawur" yang membakar sentimen negatif ternyata menjadi jauh lebih viral daripada permintaan maafnya (bullshit asymmetry principle = energi yang dibutuhkan untuk meluruskan/melawan kebohongan selalu lebih besar daripada energi untuk memproduksinya).  


Dosa besar Wold Bank  terlanjur "andil" dalam kejatuhan IHSG dan kurs rupiah saat ini (Juni 2026).  Tentu saja, ada variabel lain yang ikut bekerja seperti geopolitik dan kebijakan lembaga keuangan global yang tidak menguntungkan. Semua variabel itu seolah bekerjasama, datang bersamaan sebagai badai sempurna yang menjatuhkan (trigger) dan memperparah sentimen negatif.


Persepsi publik sebagai dua mata pisau yang tajam, mutlak harus dimanfaatkan negara untuk mematahkan sentimen negatif lalu  menumbuhkan sentimen positif sebesar-besarnya guna kepentingan pewujudan  tujuan bangsa-negara Indonesia. Bukan pembungkaman, namun lebih pada menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi positif, sewajarnya kehidupan yang demokratis.


Pengelolaan persepsi publik sebetulnya bukan hal aneh, Bradshaw dan Howard (2020) dalam Industrialized Disinformation: 2020 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation melaporkan bahwa ruang digital saat ini sangat disetir dan dikendalikan oleh kepentingan kelompok tertentu.


Indonesia sebagai negara Pancasila bagi bangsa yang religius, humanis, dan tepa-silira,  menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi persepsi positif adalah sebuah tuntutan moralitas.


Upaya membentuk persepsi positif adalah perjuangan luhur yang mendesak, yang harus segera dilakukan negara terutama melalui  instansi yang terkait dengan pertahanan negara, pendidikan masyarakat, komunikasi, dan digital, secara terpadu dengan mendalami psikologis massa disamping hanya menyampaikan fakta bukti struktural.   


Dunia dikendalikan persepsi adalah sebuah kenyataan.


________________


Penulis:

Hamdan A. Batarawangsa




03 Juni 2026

KEMUNDURAN PERADABAN: BERTUMBUH-KEMBANGNYA KEKERASAN


Kekerasan adalah warisan purba saat manusia memaksakan keinginannya. Idealnya kekerasan adalah upaya terakhir pembelaan diri (defensif)   bukan opsi untuk aksi (ofensif) apapun.


Kekerasan adalah output dari gagal atau matinya dialektika. Kebodohan mempersempit ruang dialektika dan memperlebar jalan kekerasan. Celakanya, banyak peneliti melaporkan  penurunan kecerdasan di berbagai negara maju.


Penurunan kecerdasan / kebodohan disebabkan oleh banyak hal, diantaranya : 


Michel Desmurget (2020) dalam Screen Damage : The Digital Cretin Factory melaporkan  bahwa baru kali ini dalam sejarah ditemukan populasi (di Perancis) dimana IQ anak lebih rendah dari orangtuanya.


Menurut Desmurget, rendahnya IQ anak  ini akibat dari intensitas menggunakan gadget yang berlebihan hingga  syaraf otak tidak berkembang optimum. Menggunakan gadget yang berlebihan merusak kualitas tidur dan mengurangi komunikasi verbal yang membentuk pondasi logika.


Alex Richardson dkk (2020) dalam They Are What You Feed Them menyatakan bahwa makanan pabrik masa kini menyebabkan neuroinflamasi (peradangan syaraf otak) yang mengganggu perkembangan kognitif pada masa pertumbuhan emas.


Selain makanan, penurunan kecerdasan juga bisa terjadi karena polusi neurotoksik seperti timbal, mikroplastik, dan merkuri (Grendjean dan Landrigan dalam Developmental Neurotoxicity of Industrial Chemicals, 2006. 


Secara sosiologis, kebodohan juga disebabkan oleh hoax. Hoax menghancurkan struktur berpikir logis, hoax juga melahirkan kebodohan berbasis keyakinan. 


Nicholas Carr (2020) dalam The Shallows : What the Internet is Doing to Our Brains menulis bahwa hoax memogram ulang otak manusia dan sifat skimming pada media sosial menurunkan kecerdasan emosional dan kognitif manusia. 


Sander Van der Linden (2023) dalam Foolproof: Why Misinformation Infects Our Minds and How to Build Immunity menyatakan bahwa hoax dirancang menggunakan algoritma media sosial untuk mengeksploitasi bias kognitif, menurunkan akurasi nalar analitis sehingga kesulitan membedakan fakta-fiksi, dan secara umum mendegradasi intelektual.


Kekerasan brutal terjadi pada Perang Dunia I dan II, dan yang paling brutal genosida di Gaza sejak 2025. Semua kekerasan besar tersebut pada hakekatnya disebabkan "kebodohan" elite dan pemimpin dunia (menyebabkan kerusakan fisik dan mental bukan hanya bagi pihak lawan namun juga pihak sendiri) serta  lemahnya diplomasi (dialektika). Kekerasan dijadikan opsi ofensif memaksakan kehendak.


Masifnya laporan penurunan kecerdasan masyarakat saat ini adalah signal semakin meningkatnya kekerasan di masa depan. 


Di masa sekarang, kekerasan tidak hanya berupa fisik namun juga verbal dan --setuju dengan teori Structural Violence-nya Johan Galtung-- tindakan mengisolasi manusia lain dari akses kehidupan dasar.


Pada era gelombang ke-6 Siklus Kondratief, yaitu era teknologi kecerdasan buatan, manusia harus berjuang bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup dasar, namun juga agar tetap menjadi "manusia". Ini lebih serius dari sekedar kehilangan arah peradaban.


Arah peradaban secara berkala diluruskan oleh para "nabi" yang sekaligus melarang kekerasan ofensif : Adam, Noah, Abraham, Loth, Moses,  Muhammad, bahkan oleh Budha dan Kong Fu Tsu.  Sebagai subjek, manusia dituntun untuk terus mengeksplorasi potensinya yang luar biasa namun dalam koridor etik dan spiritual yang membedakannya dengan binatang, menjadi manusia dengan kemanusiaannya. Namun hukum entropi seolah berlaku juga untuk peradaban: selalu menarik kembali ke arah kekacauan.


Ketika segala hal berjalan menuju kehancuran, manusia sesungguhnya ditantang untuk mengembalikan, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas ketertiban yang beradab, yang dalam siklus kehidupan berarti mengarahkan dan berusaha bertahan di area  puncak. 


Hal strategis apa  yang harus dilakukan untuk menekan kekerasan selain mendorong kehidupan dialektik di masyarakat? Pendidikan macam apa yang mendesak saat ini saat peran  masyarakat sebagai "sekolah informal" telah melemah ? Apa yang harus dilakukan setiap warga dunia yang sadar?  Apakah langkah pertama adalah mengajak warga dunia untuk mendesak penghapusan senjata pemusnah massal ? 

 

Para cendekiawan dunia sebagai pemegang estafet para "nabi" sudah tahu jawaban dan solusi untuk masalah global, yang mereka butuhkan hanya "bersatu" untuk mencetuskan sebuah hasil mufakat. Mereka adalah orang-orang paling cerdas di bumi dalam segala bidang ilmu, selayaknya menjadi "raja" dalam komunitas bumi tidak di bawah penguasa dan pemilik modal. Untuk itu sebetulnya mereka juga tahu caranya.


Upaya menekan kekerasan adalah kerja esensial karena tingkat kekerasan ofensif adalah indikator tinggi-rendahnya standar kemanusiaan dari tiap era peradaban.

________________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa





13 Mei 2026

ZARATHUSTRA SANG NABI KESEPIAN

Sebelumnya ia mengatakan bahwa tuhan sedang sekarat, kemudian  berteriak bahwa tuhan telah mati. Friedrich Nietzsche berkesimpulan bahwa masyarakat pada jamannyanya bukan menyembah Tuhan, melainkan menyembah berhala.

Tapi tidak seperti Ibrahim yang mencari Tuhan sejati, Nietzsche yang terpenjara dalam eksistensialisme-voluntaristik hanya sampai di separuh syahadat : laailaha ... (tak ada tuhan...).

Namun ia mencintai kemanusiaannya: tidak terima bahwa eksistensinya adalah kesia-siaan, ia menolak nihilisme.


Manusia harus punya moralitas original yang bukan ajaran berhala. Bagi Nietzsche manusia harus menjadi subjek, bukan objek dari takdir, meski ia mengakui tidak mampu sepenuhnya mengendalikan hidup.


Maka ia menulis buku berjudul "Sabda Zarathustra" yang melukiskan mahaguru Zarathustra sebagai matahari sore di pantai, yang harus terbenam di ufuk barat, untuk menerangi di kedalaman sisi gelap wilayah lain...


Zarathustra berkata bahwa manusia adalah kondisi dalam  perjalanan antara binatang dan Ubermensch (manusia paripurna).


Moralitas-moralifas Zarathustra:

(1) Baik dan buruk tidak ditentukan ajaran dan norma manapun selain pertimbangan subjektif pribadi; hal ini membutuhkan kreativitas, kekuatan, dan keberanian atas kedaulatan diri; membuang mental kawanan,

(2) memuliakan kehidupan fisik : kesehatan, keindahan, kekuatan,

(3) mencintai kehidupan dan suka-cita atas pengulangan momen kehidupan berkali-kali.


Ubermensch dalam Zarathustra adalah kondisi ideal yang tidak pernah dicapai, karena hidup dipandang sebagai proyek pengembangan diri yang tak pernah selesai untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. 


Pemikiran Nietzsche dalam Zarathustra tidak realistis dalam kehidupan sosial. Ia sukses dengan bombastis menghancurkan dogma-dogma etik yang dominan di Eropa pada jamannya, namun kurang brilyan dalam memberikan solusi yang membumi, bukan karena kegagalan intelektual namun penolakan prinsip atas segala kolektivitas yang menyeragamkan manusia. 


Zarathustra ala Nietzsche seperti nabi yang kesepian, ia menolak jadi pemimpin bagi pengikut, tapi ia ingin menjadi kompas bagi pengembara yang siap tersesat.

______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa