Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Filsafat. Tampilkan semua postingan

14 Mei 2026

ATEIS ESKAPIS


Ketika ada kitab suci berkali-kali menyuruh pembacanya berpikir, dan banyak firman Tuhan yang terkonfirmasi secara sains, maka  intelektualitas bukan lagi jadi alasan logis manusia untuk ateis.


Hal-hal emosional : kemarahan atau ketidaksukaan atas  perilaku sebagian penganut agama yang menampilkan radikalisme dan kemunafikan, hasrat kebebasan dari batasan moral agama, serta kekecewaan pada kehidupan dimana Tuhan seolah tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, mungkin lebih relevan menjadi alasan logis kecenderungan menjadi ateis (alasan lainnya, namun tidak berguna dibahas, adalah karena ketidakpedulian).

















Bukan Tuhan tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, namun memang Tuhan menjadikan penderitaan sebagai cara untuk memuliakan manusia. Tedeschi dan Calhoun dalam Posttraumatic Growth: Conceptual Foundations and Empirical Evidence (Jurnal: Psychological Inquiry, 2004) menyatakan bahwa penderitaan akan meningkatkan kekuatan personal dan apresiasi hidup yang lebih tinggi.  Hal serupa didukung  oleh Dabrowski dalam Positive Disintegration (1964), Southwick dan Charney dalam The Science of Mastering Life's Greatest Challenges, dan Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946).


Penderitaan adalah stresor evolusioner yang membuat sistem psikologi manusia menjadi dinamis. Penderitaan menghancurkan struktur mental yang kaku dan memaksa untuk beradaptasi, menciptakan individu yang lebih kompleks secara kognitif, lebih tangguh secara emosional, bahkan bisa jadi semakin kuat secara badani.


Bahkan Friedrich Nietzsche, filsuf ateis yang baru mencapai "separuh syahadat" ,  dalam "Sabda Zarathustra" menolak nihilisme, baginya hidup adalah adaptasi tanpa henti untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. Moralitasnya adalah menjalani hidup dengan suka-cita, "penderitaan" adalah latihan untuk memperkuat diri. 


Jangan jadikan penderitaan sebagai alasan untuk menolak Tuhan. Menjadi ateis karena kemarahan atas nasib buruk  hanyalah sebuah bentuk pelarian (eskapisme) dan kerapuhan eksistensial.


Kehadiran Tuhan tidak ditemukan dalam ketiadaan penderitaan, melainkan dalam ketangguhan jiwa yang mampu bangkit dari reruntuhan ego untuk menjadi pribadi yang lebih utuh dan mulia.


_____________



Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 












13 Mei 2026

ZARATHUSTRA SANG NABI KESEPIAN

Sebelumnya ia mengatakan bahwa tuhan sedang sekarat, kemudian  berteriak bahwa tuhan telah mati. Friedrich Nietzsche berkesimpulan bahwa masyarakat pada jamannyanya bukan menyembah Tuhan, melainkan menyembah berhala.

Tapi tidak seperti Ibrahim yang mencari Tuhan sejati, Nietzsche yang terpenjara dalam eksistensialisme-voluntaristik hanya sampai di separuh syahadat : laailaha ... (tak ada tuhan...).

Namun ia mencintai kemanusiaannya: tidak terima bahwa eksistensinya adalah kesia-siaan, ia menolak nihilisme.


Manusia harus punya moralitas original yang bukan ajaran berhala. Bagi Nietzsche manusia harus menjadi subjek, bukan objek dari takdir, meski ia mengakui tidak mampu sepenuhnya mengendalikan hidup.


Maka ia menulis buku berjudul "Sabda Zarathustra" yang melukiskan mahaguru Zarathustra sebagai matahari sore di pantai, yang harus terbenam di ufuk barat, untuk menerangi di kedalaman sisi gelap wilayah lain...


Zarathustra berkata bahwa manusia adalah kondisi dalam  perjalanan antara binatang dan Ubermensch (manusia paripurna).


Moralitas-moralifas Zarathustra:

(1) Baik dan buruk tidak ditentukan ajaran dan norma manapun selain pertimbangan subjektif pribadi; hal ini membutuhkan kreativitas, kekuatan, dan keberanian atas kedaulatan diri; membuang mental kawanan,

(2) memuliakan kehidupan fisik : kesehatan, keindahan, kekuatan,

(3) mencintai kehidupan dan suka-cita atas pengulangan momen kehidupan berkali-kali.


Ubermensch dalam Zarathustra adalah kondisi ideal yang tidak pernah dicapai, karena hidup dipandang sebagai proyek pengembangan diri yang tak pernah selesai untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. 


Pemikiran Nietzsche dalam Zarathustra tidak realistis dalam kehidupan sosial. Ia sukses dengan bombastis menghancurkan dogma-dogma etik yang dominan di Eropa pada jamannya, namun kurang brilyan dalam memberikan solusi yang membumi, bukan karena kegagalan intelektual namun penolakan prinsip atas segala kolektivitas yang menyeragamkan manusia. 


Zarathustra ala Nietzsche seperti nabi yang kesepian, ia menolak jadi pemimpin bagi pengikut, tapi ia ingin menjadi kompas bagi pengembara yang siap tersesat.

______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

22 Oktober 2025

KOMUNIS, ATEIS, AGNOSTIK, SOSIALIS

Anak muda jaman sekarang lebih banyak menulis dibanding generasi di atasnya, bukan hanya di paper namun juga di media lain terutama di media sosial. Tema-tema yang dibahas sangat beragam, termasuk persoalan komunisme, dan perbedaannya dengan ateis, sosialis, dan agnostik.












Ateis berarti  orang yang yang "tidak percaya keberadaan Tuhan", kata ini berasal dari bahasa Yunani, atheos (a=tidak, theos=Tuhan). Umumnya, orang ateis memiliki dasar berpikir materialisme, meski materialisme sendiri mendapat kritik dari mazhab filsafat eksistensialisme. Ateis berbeda dengan agnostik, agnostik masih mengakui keberadaan supranatural, metafisika, dan hal-hal imateri lain,  namun tidak punya-- dan berkeyakinan tidak mampu memiliki--pengetahuan yang berhubungan dengan hal tersebut, termasuk tentang Tuhan. Orang agnostik berada di daerah samar, meski merasakan keberadaanNya namun belum mampu menegaskan keberadaan Tuhan. 


Adapun komunis adalah orang yang menganut ideologi komunisme, yakni suatu ideologi sosiopolitik-ekonomi dimana tidak mengakui kepemilikan pribadi terutama atas properti yang berhubungan dengan kebutuhan orang banyak, melainkan dianggap sebagai milik bersama yang dikelola oleh negara, dan menghilangkan kelas-kelas sosial. Menghilangkan hak kepemilikan pribadi menyebabkan komunisme dituding melanggar Hak Asasi Manusia, terutama dari kaum penganut kapitalisme. 


Khusus komunisme yang berasal dari Karl Mark (marxis),  komunisme ini berangkat dari paham materialisme yang bukan cuma mendapat kritik dari mazhab  eksistensialisme tapi juga mendapat perlawanan dari kaum agamis, khususnya Islam. Doktrin komunisme marxis menyatakan agama sebagai candu masyarakat, dogma dan mistis dalam agama dianggap penyakit yang merusak pikiran masyarakat. 


Komunisme yang tidak berangkat dari marxisme (materialisme) lebih akrab disebut sosialisme. Sosialisme bisa saja memiliki dasar religi. Di Indonesia, organisasi sosialisme Syariat Islam dipimpin HOS Tjokroaminoto, pada tahun 1912, organisasi sosialis ini jelas berdasarkan religi keislaman, meski tersusupi beberapa  oknum  berpaham komunisme marxis.


Perbedaan mencolok komunisme dan sosialisme diantaranya dalam cara perjuangannya: Komunisme percaya pada revolusi ekstrim, pengerahan massa, pemaksaan tanpa memperhatikan HAM, sedangkan sosialisme memilih jalur reformasi, kompromi, menghindari perpecahan, dan tetap melindungi HAM.


Bagi komunisme, negara hanyalah alat yang akan lenyap ketika tujuan komunisme tercapai. Bagi sosialisme, negara tetap harus ada untuk menjamin harmoni masyarakat.


Dalam komunisme tidak ada kepemilikan pribadi, semua adalah milik negara. Sedangkan dalam sosialisme umumnya aset-properti dikuasai negara dan organisasi, beberapa secara terbatas masih ada yang menjadi milik pribadi. Tujuan utama sosialisme adalah mewujudkan keadilan sosial secara damai tanpa melanggar HAM. Beberapa negara sosialis saat ini diantaranya Swedia, Norwegia, dan Finlandia.


Indonesia, menganut ideologi Pancasila yang sebetulnya adalah model sosialisme yang berdasar pada religi-spiritualisme dan demokrasi musyawarah mufakat. Tan Malaka pernah juga membuat konsep negara republik sosialis bagi Indonesia dimana tidak menganut trias politika.

___________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa


23 Mei 2025

SHALAT DAN NALAR

Quran adalah kitab suci yang banyak menyuruh manusia untuk berpikir-menalar dengan mengamati hal-hal empirik, dan sholat, ritual utama muslim ternyata berhubungan dengan berpikir-menalar tersebut. Saya yakin, muslim yang khusyuk (serius) dalam shalatnya pastilah mampu menalar dengan benar.

Pada artikel berjudul "Pesan Moral Wudhu dan Shalat" dan "Inti Salat: Berprasangka Baik Kepada Allah" (Hamdan Arfani, Bataragema.Com) dikatakan bahwa kalimat "tasbih" yang diucapkan berulang-ulang saat sujud shalat adalah pelajaran tentang prasangka baik kepada Allah yang derivatnya adalah berprasangka baik pula kepada manusia. Jika sujud adalah posisi paling "privat" antara hamba dengan Tuhannya, maka intisari dari sholat, tak lain adalah pelajaran tentang prasangka baik (husnuldzon). 


Hubungan prasangka baik dan nalar terdapat dalam artikel "Nalar Masyarakat Kita" dan "Materialisme, Dialektika, Logika" (Hamdan Arfani, Bataragema.Com) dimana dasar dari kegiatan menalar adalah fakta dan informasi yang sahih. Tanpa fakta dan informasi sahih, manusia akan terjebak dalam kesalahan berpikir (logical fallacy).


Fenomena kesalahan berpikir atau penalaran yang keliru sering kita jumpai sehari-hari terutama di media sosial, dimana banyak orang membuat kesimpulan yang berangkat dari khayalan dan informasi palsu. Bagaimana orang bisa mudah mempercayai informasi palsu, ini berhubungan dengan emosi (kemarahan) dan pikiran negatif, buruk sangka, padahal sebagian besar prasangka buruk adalah salah, meleset. 


Di era digital, informasi palsu (hoax) merupakan bagian esensi dari propaganda jahat, informasi palsu bahkan fitnah sengaja disebar bersamaan dengan ujaran kebencian untuk mengkondisikan emosi korban dalam keadaan marah, labil. Kemarahan akan melumpuhkan pikiran. Pikiran yang lumpuh adalah gerbang masuk bagi hoax, hoax se-absurd apapun.


Sholat melatih agar seorang muslim berprasangka baik, dan mau tabayun atau melakukan konfirmasi atas informasi penting yang diterimanya. Muslim yang khusyuk dalam shalatnya hanya menerima kebenaran (fakta dan informasi sahih) dalam khasanah pikirannya. Dengan memelihara shalatnya, seorang muslim memelihara nalarnya.


Penulis: Hamdan A Batarawangsa

09 Mei 2025

NALAR MASYARAKAT KITA

Frasa "perang pemikiran" sudah sering saya dengar sejak masih SMA.  Dulu, saya mengira perang pemikiran hanyalah adu argumentasi, dialektika. Nyatanya, perang pemikiran adalah aksi masif terorganisir merusak nalar masyarakat. Setiap hari saya membaca komentar-komentar  yang tidak logis di media sosial bahkan membahas persoalan yang tidak jelas, absurd. Hal ini bukan hanya disebabkan rendahnya daya literasi bangsa kita, namun juga tingginya intensitas  narasi-narasi pembodohan dan informasi palsu yang sengaja  disuguhkan kepada netizen. 


Dengan narasi ambigu, awalnya netizen digiring untuk menafsirkan secara sinis sesuai keinginan propagandis. Salah menafsirkan adalah kondisi awal dari kesalahan berpikir (logical fallacy). Pada tahap selanjutnya rasa keadilan diusik supaya netizen emosi bahkan benci. Pada tahap terakhir inilah netizen yang sudah dibakar benci dicekoki hoax bahkan fitnah secara bertubi-tubi. Dalam kondisi emosi, nalar dirusak, kebenaran fakta diputarbalikkan. Fakta adalah dasar untuk menyusun argumentasi yang logis, fakta adalah pijakan untuk melakukan penalaran. Hoax merusak nalar masyarakat.


Pesatnya kemajuan teknologi informasi bukan hanya mempercepat distribusi informasi yang benar, namun juga informasi yang salah.  Penyebaran informasi palsu bisa saja sengaja dilakukan untuk kepentingan tertentu, baik berdasar alasan etis kedaruratan maupun kejahatan. 


Kita bisa melihat Irak yang hancur karena hoax atas Saddam Hussein, Libya yang hancur karena Hoax atas Khaddafi, juga Suriah yang babak belur karena hoax negatif atas Assad dan hoax positif atas ISIS. AS melihat hoax mampu menggantikan serangan artileri saat perang melawan Irak. Perang AS-Irak (1990-2011) awalnya tidak menghasilkan kemenangan bagi AS, hujan rudal tidak membuat Irak takluk. Kemudian AS mencoba memecah belah masyarakat Irak melalui berita bohong dan ternyata sangat sukses, Irak hancur oleh bangsanya sendiri. Ke depan, penyebaran berita palsu (hoax) akan selalu menjadi strategi utama dalam perang apapun, karena sudah terbukti jauh lebih murah namun sangat efektif.


Saat ini bangsa Indonesia terlalu banyak disuguhi hoax, dirusak pikirannya, dilemahkan negaranya. Banyak yang terlanjur merasakan nikmatnya negara Indonesia yang lemah, baik bangsa asing maupun bangsa sendiri, dan ketika negara melawan, negara harus berhadapan dengan zombi, yaitu masyarakat yang sudah rusak nalarnya seperti di Irak, Libya, dan Suriah.


Rhenald Kasali pernah berkata, saat ini hoax tidak hanya dikonsumsi masyarakat kurang terdidik, tapi juga masyarakat berpendidikan tinggi. Pada masyarakat berpendidikan tinggi hoax masuk melalui relung emosi. Emosi dapat menyebabkan penafsiran yang tidak objektif bahkan salah, emosi bisa "mematikan" logika. Emosi bahkan disebut-sebut sebagai musuh para filosof.

...

Saya sering mencermati komentar seorang tokoh yang oleh banyak netizen disebut ahli logika. Saya terkejut ketika menyadari beliau sering sekali berangkat dari premis yang "ngawur" untuk sampai pada sebuah kesimpulan, sampai-sampai saya bertanya dalam hati apakah ia punya dendam pada negara, karena menurut saya, ia sedang merusak pikiran banyak orang. Jadi, kuatkanlah diri kita masing-masing dengan fakta, dengan informasi yang benar. Lakukan cek n ricek untuk informasi penting, atau lupakan 100%, itulah dasar kita untuk bisa bernalar dengan benar, menjadi pemenang dalam gempuran "perang pemikiran." Di jaman digital, menjaga nalar adalah jihad intelektual, kata Buya Syafi'i Ma'arif.


___


Penulis
Hamdan A Batarawangsa

25 Maret 2025

LAA ILAHA, TIADA TUHAN, TIADA EGO

Laa ilaha adalah potongan kalimat tauhid, yang artinya tiada tuhan.  Menegasikan tuhan adalah syarat untuk menemukan makna dari kalimat selanjutnya.  

Dalam artikel Piramida Tuhan, tuhan-tuhan dan Tuhan,  Batarawangsa menulis bahwa ada banyak tuhan, dan sejatinya semua manusia memiliki tuhan, tidak terkecuali yang mengaku ateis dan agnostik. 

Dalam Agama dalam Perpektif, Batarawangsa menyatakan bahwa secara alamiah manusia mengetahui adanya kekuatan di luar dirinya.  Kekuatan eksternal itu menjadi abdi  jika mampu dikalahkan namun menjadi tuhan jika malah mengendalikan. 

Manusia cenderung mempertuhankan sesuatu yang dicintai atau ditakutinya. Api pernah menjadi tuhan di Persia, matahari pernah menjadi tuhan di Mesir. Ada tuhan-tuhan lain misalnya pusaka, hewan kebanggaan, seseorang yang dicintai, harta, Bos di kantor, dan banyak lagi.

Salah satu tuhan yang paling luput disebut namun paling banyak disembah adalah ego.  Ego ada dalam diri setiap manusia, ego dari Firaun (atau dalam cerita Hindi disebut Raja Khansa) adalah yang paling absurd. 

Ego mendorong manusia untuk eksis dan merasa superior, memunculkan "keakuan" bahkan kesombongan dalam gestur, bicara, dan ritual; menganggap dirinya tuhan pada level dan situasi tertentu, hingga melampaui batas nalar dan fungsinya sebagai navigasi realitas jika tidak terkendali. 

Laa ilaha, tiada tuhan, tiada ego,  adalah perjuangan terlama dan terberat seorang sufi (orang yang menjalani pendidikan batin melalui tarekat atau tasawuf).  

Seorang sufi akan menganggap aib jika ia teridentifikasi bahkan oleh sufi lain, ia malu dan akan sedih sejadi-jadinya. Seorang sufi berharap tersamar sebagai orang biasa, menyembunyikan ego sedalam-dalamnya hingga akhir hayat.

Laa ilaha, tiada tuhan, tiada ego, bahkan tiada apapun… 

... ilallah, hanya ada Tuhan sejati, Tuhannya Ibrahim, Musa, dan Muhammad Saw.  Tiada tuhan selain Tuhan, kata Nurcholish Madjid, tiada apapun, tiada eksistensi kecuali Allah SWT.

 _________________


Hamdan A. Batarawangsa 

 








07 November 2024

PIRAMIDA TUHAN, tuhan-tuhan dan Tuhan

Tidak ada yang benar-benar ateis, tidak ada yang benar-benar agnostic, minimal mereka menuhankan dirinya sendiri.  Ada yang bertuhankan uang, bos, tokoh, dan agama (bukan Tuhan itu sendiri). 

Kaum ateis dan agnostik puas dengan tuhannya yang real atau tuhan tak real yaitu pikirannya sendiri.  

Tuhan mereka sangat berbeda dengan kaum teis, terutama muslim. 

Namun bagi yang mengaku ber-Tuhan pun tidak mudah untuk selalu ingat bahwa tidak ada tuhan (dengan t kecil) selain Tuhan (dengan T besar), kadang terjebak juga menyembah tuhan-tuhan yang bukan Tuhan.

Ibrahim (Islam), Abraham (Kristen), Afram (Yahudi), dan Brahm (Hindi) mungkin adalah individu historis yang sama, sebagai manusia pertama yang betul-betul mencari Tuhan. 

Tidak seperti kaum agnostic yang menyerah dan tak peduli dengan yang abstrak, Ibrahim justru tidak puas dengan tuhan yang kasat mata. 

Ibrahim sudah melalui tahapan ateis dan agnostic, sebelum menyadari fakta berlakunya hukum rimba dimana yang kuat akan dipertuhankan oleh yang lemah dan merasa amat penting mengetahui siapa yang berada di puncak “piramida ketuhanan” itu.  

Ketika mengetahui bahwa tuhan di puncak piramida empiris masih pula tunduk oleh suatu yang lain, Ibrahim akhirnya sampai pada logika bahwa Tuhan mestilah melampaui semua yang empirik. 

Mungkin Ibrahim melakukan metode berpikir yang dalam filsafat disebut 

(1) "metode transedental" yaitu menjawab kondisi apa yang mutlak harus ada untuk memungkinkan fenomena saat ini terjadi; 

(2) "metode aduksi" yaitu mencari hipotesa yang paling masuk akal dan penjelasan terbaik untuk menjelaskan fenomena yang ada.

Dalam sains modern, metode diatas digunakan dalam penelitian antariksa : lubang hitam, bentuk jagat raga, dsb.

Ibrahim pada tahap ini telah sampai pada puncak eksistensi dalam pencarian kebenaran rasional, tidak bisa mendaki lebih tinggi lagi, selebihnya adalah wilayah yang tak terjangkau nalar.















Puncak eksistensi pencarian kebenaran rasio ternyata adalah awal perjalanan baru spiritual. Berkat perjalanan spiritualnya yang gigih, Ibrahim dengan bekal  logika “Tuhan Yang Melampaui Empirisme” sampailah pada puncak makrifatullah-nya, yaitu pengalaman dan pengetahuannya tentang Tuhan Yang Maha Tinggi, Rabbi al a’la.

Kisah dan ajaran Ibrahim yang lahir dan besar di Babilonia (Bab El = Gerbang Tuhan), wilayah yang disebut sebagai negerinya bangsa Arian (bangsa terunggul) atau sekarang menjadi negara Irak-Iran, yang merupakan pusat peradaban dunia kala itu, disebut-sebut menyebar ke berbagai belahan dunia sebagai moyang dari semua agama-agama besar sekarang ini. 

Tidak heran ada saja  benang merah berbagai agama-agama besar itu, misalnya pengakuan Yati Narsinghanand, seorang resi terkemuka di kuil Dasna Ghaziabad India, bahwa Ka’bah tak lain adalah Kuil Mahadeva dan Zam-zam sebagai Gangga Mahadeva yang sebenarnya.

Piramida Tuhan adalah konsep kuno yang sudah ada sejak dulu dan masih relevan  hingga sekarang, sebagai logika umum bahwa yang lemah akan tunduk-takluk kepada yang kuat, ada raja dan maharaja, dan seterusnya. 

Kegigihan Ibrahim dalam mengerahkan daya rasio dan spiritualnya adalah inspirasi dalam upaya manusia menggapai keingintahuannya. 

Kini di abad ke-21 manusia dimanjakan dengan teknologi informasi, cara konfirmasi antara literatur agama dan sains bisa menjadi cara lain disamping konsep Piramida Tuhan-nya Ibrahim yang hidup ribuan tahun lalu. 

Jangan berhenti dan mati dalam ateis dan agnostik, teruslah bergerak seperti Ibrahim.

____________

Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa

.

06 November 2024

KAMU TERCIPTA DARI PERSEPSIKU

 Ketika rasio mencapai puncak eksistensi dalam pencarian kebenaran, maka puncak eksistensi itu hanyalah awal dari perjalanan baru spiritual.

Seorang pemuda 19-20 tahunan tiba-tiba punya banyak waktu luang untuk membaca buku apa saja yang disukai, diskusi tentang banyak hal, dan merenungi dirinya sendiri setiap hari, suatu kemewahan hidup yang sudah lama diimpikan. Ternyata masa kuliah tidak lebih sibuk  daripada masa-masanya di SMA. 

Hingga disatu pagi yang cerah jiwanya terbangun dan merasa perlu membenahi mentalnya  yang palsu, yang sejak bayi tak berdaya menerima dan ditempeli berbagai imaji dari lingkungan.  

Sudah tiba masanya ia hidup dengan imaji orisinil diri sendiri… sesuatu yang bahkan tidak terpikirkan kebanyakan orang, namun ia merasa harus melaluinya. Pagi itu ia merasa benar-benar “ada” karena baru saja mulai berpikir.

Usia 19-20 tahun mempertanyakan banyak hal yang sebelumnya sudah mapan, tiba-tiba dibongkar kembali:  aku ini apa, apakah makna dan hal  terpenting dari keberadaan, apakah kehidupan itu, apakah Tuhan itu benar ada, apa pentingnya etika, dst.  

Pertanyaan yang sulit dicarikan lawan diskusinya. Ini adalah revolusi mental yang akan berlangsung lama ...

Keberadaannya tidak terbantahkan, namun wujud eksistensi, semua hanyalah persepsi:

 “Tidak ada kamu, tidak ada apapun, yang ada hanya aku seorang. Kamu ada, segala ada, hanyalah karena aku berpersepsi demikian. Tapi aku terpenjara bahkan terjebak oleh imaji lama berikut sistem logikanya. Aku seperti orang yang sedang bermimpi, dan dalam mimpi itu aku sadar bahwa aku sedang bermimpi.”

Setelah selesai dengan dirinya sendiri, pemuda 19-20an tahun itu merancang kembali keyakinannya tentang Tuhan. 

Pikiran agnostiknya sadar bahwa esensi Tuhan tak terjangkau pikiran rasio, maka rasio menekuni jejak-jejak dan isyarat keberadaanNya hanya yang dalam jangkauannya saja melalui konfirmasi antara agama dan sains.

“Seiring waktu akhirnya aku menyadari bahwa aku tidak benar-benar sendirian. Ada Dia yang pengetahuan, pengalaman, dan kuasaNya amat sangat mengendalikan.  Sangat jelas bahwa aku adalah pihak  yang benar-benar tak berdaya.”

“Aku ingin mengenalNya, Ia pun nampaknya ingin dikenal. Bagaimana mungkin orang kesepian sepertiku tak menoleh dan mendekat ketika tahu ada Satu-satunya Keberadaan Yang Lain…”       

______

Hamdan A. Batarawangsa 

11 September 2024

MATERIALISME, DIALEKTIKA, LOGIKA


Materialisme, Dialektika, dan Logika (Madilog) adalah sebuah judul buku yang ditulis Tan Malaka, seorang tokoh senior penyumbang pemikiran untuk Indonesia merdeka. 

Tan Malaka meyakini bahwa tujuan negara Republik Indonesia akan tercapai hanya jika melalui materialisme, dialektika, dan logika.  

Apa yang diyakini Tan Malaka memancing orang untuk mencari tahu apa itu materialisme, dialektika, dan logika; apakah setelah memahaminya kita sepakat dengan pendapat Tan Malaka ?

Materialisme

Konsep materialisme Tan Malaka adalah materialisme dialektis, yakni berpikir rasional berdasarkan apa yang dapat dialami oleh panca indera dan menggunakan hukum dialektika untuk memahami perkembangan suatu materi. 

Memahami perkembangan suatu materi adalah proses intelektual yang menurut Karl Mark didahului oleh kondisi (kebutuhan) material kehidupan manusia. Kebutuhan material mendahului kesadaran.  

Sampai disini materialisme tidak bertentangan dengan agama.  Materialisme menjadi kontra agama ketika materialisme meyakini bahwa materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak, menolak keberadaan apapun selain materi yang dapat dialami panca indera. 

Materialisme  menyatakan bahwa pada dasarnya segala hal terdiri atas materi, dan semua fenomena adalah hasil interaksi material, materi adalah satu-satunya substansi. 

Materialisme mendapat kritik dari eksistensialisme, bahwa manusia tidak bisa dipandang sebagai objek materi semata, karena manusia memiliki kompleksitas yang tak dapat diukur, misalnya saja ketika berhadapan dengan momen-momen eksistensial seperti pengambilan keputusan, kecemasan, takut, dan sebagainya.

Menurut Penulis, sebagian materialisme baik dalam kehidupan, tapi materialisme tidak dapat menjawab segala persoalan. Materialisme hanya mampu menjawab topik-topik empirik-rasional, padahal kehidupan tidak pernah serasional yang manusia pikirkan.

Dialektika

Dialektika berasal dari kata dialog, yang berarti komunikasi dua arah.  Dialektika adalah memperoleh pengetahuan yang lebih baik tentang suatu topik melalui pertukaran pandangan-pandangan dan argument-argumen yang rasional. 

Dalam kehidupan umum sehari-hari,  ngobrol pun menjadi sebuah momen dialektika ketika bertukar pandangan dengan argumen yang rasional dan sesuai fakta.  

Dialektika adalah proses belajar, mencerdaskan pikiran, selama rasional dan sesuai fakta, bukan hoax. Lebih jauh, dialektika adalah cara menalar dan menganalisis yang melibatkan rekonsiliasi ide atau perspektif yang berbeda bahkan berlawanan.   

Hegel berpendapat bahwa dalam dialektika ada tesis, antitesis, dan sintesis. Menurut Tan Malaka, dialektika mengandung 4 hal, yakni waktu, pertentangan, timbal-balik, dan pertalian. 

Dalam budaya barat, dialektika terwujud sebagai debat dimana pikiran sebagai satu-satunya  panglima, menyampingkan faktor perasaan dan sopan-santun tata  bicara.   

Dalam budaya timur, dialektika bisa muncul dalam wujud yang sangat lunak (ngobrol atau sharing) tanpa kehilangan ketajamannya. 

Dialektika sejatinya adalah proses belajar alamiah tanpa henti sepanjang hayat.  Bangsa Indonesia adalah bangsa yang gemar bercakap-cakap, gemar berkumpul bersilaturahmi, maka mewujudkan dialektika dan menjadikannya budaya hanya tinggal satu langkah lagi menjadi bangsa yang paling cerdas, yaitu membiasakan berkata sesuai fakta (premis yang benar).

Logika

Logika adalah perangkat kecakapan untuk berpikir lurus, tepat, dan teratur.     Dasar-dasar dari logika adalah penalaran deduktif dan penalaran induktif. Baik deduktif maupun induktif, penalaran harus berangkat dari premis yang benar (pernyataan atau asumsi yang benar). 

Fakta adalah contoh premis yang benar. Premis yang ambigu dapat menjebak, berakhir pada kesimpulan yang salah. Premis yang ambigu sering muncul dari asumsi. Ketajaman logika dengan demikian sangat dipengaruhi validitas dan reliabilitas informasi.

Tan Malaka dalam buku Madilog, menulis bahwa bangsa Indonesia selain memiliki logika yang berlaku umum, memiliki pula logika mistis dan dogmatis, yang bagi Tan Malaka menghambat perkembangan berpikir bangsa. 

Logika mistika dan dogmatika bagi Tan Malaka yang materialis tentu dianggap berasal dari premis yang ambigu bahkan salah, wallahu’alam.


Kesimpulan

Tan Malaka dalam buku Madilog mengajarkan materialisme, dialektika, dan logika sebagai dasar membangun pikiran bangsa.

Materialisme sangat kontroversial karena tidak selaras dengan alam pikiran bangsa Indonesia yang spiritualis, bahkan mendapat kritik pula dari kelompok eksistensialis.

Dialektika Tan Malaka sejatinya adalah proses belajar alamaiah manusia. Bangsa Indonesia sebagai bangsa gotong-royong yang sarat momen-momen berkumpul hanya tinggal selangkah untuk proses dialektika, dihambat hanya oleh satu hal saja yaitu hoax dan sejenisnya. Bangsa yang berdialektika akan menjadi bangsa yang cerdas. 

Tan Malaka menulis, ada 2 logika bangsa Indonesia yang menghambat kemajuan berpikir, yaitu logika magis dan logika dogma.  

Sebagai seorang muslim, penulis meyakini bahwa satu-satunya magis dan dogma yang pasti memberikan premis benar hanyalah magis dan dogma Islam, yang dalam sains modern telah banyak terkonfirmasi kebenarannya (al Quran). Sebagai bangsa yang mayoritas muslim, kaum muslimin Indonesia harus memilah mana mistis dan dogma yang kuat dasar pijakannya, dan mana yang tidak. 


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa 


11 Oktober 2023

MENCARI JEJAK EKSISTENSI

(Bagian 1: Eksistensialisme)


Tidak perlu bertanya Tuhan itu ada atau tiada.

Jika memang ada, keberadaanNya tidak mungkin ditiadakan.

Lagi pula mengapa harus bertanya keberadaanNya,

apa pentingnya berTuhan,

apakah sekedar ingin menghamba,

ingin masuk surga,

takut neraka ?

 

Yang Ada tidak mungkin ditiadakan.

Jika Ia tidak terjangkau mata rabunmu,

tidak terjangkau pikiran sederhanamu,

bukan berarti Yang Tak Terjangkau itu tiada.

Kadang hidup mengharuskan manusia menjadi Pramuka

meski hanya sebentar saja,

mencari jejakNya, mengenali tanda-tandaNya 

semampu jangkauan mata rabun yang disebut empirisme

dan semampu jangkauan pikiran sederhana yang disebut ilmiah-rasionalisme.

Jika Tuhan itu ada, jejak dan tanda-tandaNya pastilah luar biasa

bukan jejak biasa bukan tanda-tanda biasa.

 

Bodohnya si Bodoh selama ini,

ingin melihat langsung dan menalar Yang Maha Besar

melalui instrumen-instrumen yang maha kecil,

berpikir tapi salah berpikir,

berfilsafat untuk esensi yang jauh diluar ranah filsafat.


Tapi ego manusia yang ingin dipuji kehebatannya,

kerja keras dan kontribusinya, 

menyebabkan segalanya berhenti pada euforia, 

pesta, penghargaan, pengakuan

dari temuan jejak-jejak yang luar biasa,

tidak lagi peduli jejak-jejak itu mengarah kemana,

apalagi sekedar bertanya milik siapa...


Bataragema, 2023


3