Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

14 Mei 2026

ATEIS ESKAPISTIS


Ketika ada kitab suci berkali-kali menyuruh pembacanya berpikir, dan banyak firman Tuhan yang terkonfirmasi secara sains, maka  intelektualitas bukan lagi jadi alasan logis manusia untuk ateis.


Hal-hal emosional : kemarahan atau ketidaksukaan atas  perilaku sebagian penganut agama yang menampilkan radikalisme dan kemunafikan, hasrat kebebasan dari batasan moral agama, serta kekecewaan pada kehidupan dimana Tuhan seolah tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, mungkin lebih relevan menjadi alasan logis kecenderungan menjadi ateis.


Bukan Tuhan tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, namun memang Tuhan menjadikan penderitaan sebagai cara untuk memuliakan manusia. Tedeschi dan Calhoun dalam Posttraumatic Growth: Conceptual Foundations and Empirical Evidence (Jurnal: Psychological Inquiry, 2004) menyatakan bahwa penderitaan akan meningkatkan kekuatan personal dan apresiasi hidup yang lebih tinggi.  Hal serupa didukung  oleh Dabrowski dalam Positive Disintegration (1964), Southwick dan Charney dalam The Science of Mastering Life's Greatest Challenges, dan Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946).


Penderitaan adalah stresor evolusioner yang membuat sistem psikologi manusia menjadi dinamis. Penderitaan menghancurkan struktur mental yang kaku dan memaksa untuk beradaptasi, menciptakan individu yang lebih kompleks secara kognitif, lebih tangguh secara emosional, bahkan bisa jadi semakin kuat secara badani.


Bahkan Friedrich Nietzsche, filsuf ateis yang baru mencapai "separuh syahadat" ,  dalam "Sabda Zarathustra" menolak nihilisme, baginya hidup adalah adaptasi tanpa henti untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. Moralitasnya adalah menjalani hidup dengan suka-cita, "penderitaan" adalah latihan untuk memperkuat diri. 


Jangan jadikan penderitaan adalah alasan untuk menolak Tuhan. Menjadi ateis karena kemarahan atas nasib buruk  hanyalah sebuah bentuk pelarian (eskapisme) dan kerapuhan eksistensial.


Kehadiran Tuhan tidak ditemukan dalam ketiadaan penderitaan, melainkan dalam ketangguhan jiwa yang mampu bangkit dari reruntuhan ego untuk menjadi pribadi yang lebih utuh dan mulia, lebih bertakwa.


_____________


Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 












Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.