Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

24 April 2026

PREDIKSI DUNIA 50 TAHUN KE DEPAN DARI PARA FUTUROLOG


Apa yang terjadi sekarang ternyata sudah "dibacakan" oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970) dan The Third Wave (1980) , siklus utama ekonomi dunia seperti Kuznets dan Kondratief, dan Prof. Jiang yang saat ini sedang viral, jauh dimasa lampau. Merangkum lebih presisi tentang prediksi masa depan dari tiga elemen sumber tersebut (Peneliti Futuristik, Siklus Utama Ekonomi, dan Prof. Jiang yang sedang viral) mungkin akan sangat berguna.


Pada artikel ini dibahas prediksi dunia 50 tahun ke depan hanya menurut para Futurolog ternama dulu ...


Sejak puluhan tahun lalu saat orang masih menggunakan mesin tik manual yang berisik,  Toffler sudah memprediksi akan munculnya gaya hidup digital nomad, masyarakat akan mengalami kelelahan mental kolektif karena debit arus informasi yang terlalu kuat dan tercemar hoax,  adanya work from home (WFH), rapat dan kuliah virtual, munculnya ekonomi kreator (tiktoker, youtuber), masyarakat ter-fraksionalisasi dalam sub-sub kultur dan trend, bioteknologi teramat maju melampau hukum dan etika (cloning, daging sintetis, dsb), dan perubahan segala hal yang terlalu cepat (informasi, teknologi, geopolitik, trend, dll). Pada 50 tahun ke depan kekuasaan dan struktur negara-bangsa akan melemah menjadi organisasi yang lebih kecil, manusia akan menjadi produsen selain menjadi konsumen untuk produk lain, kantor-kantor akan sepi karena korporasi menerapkan WFH atau manusia sibuk berbisnis dari rumah.


Peter Turchin dalam jurnal Nature (AS, 2010) menulis bahwa akan terjadi terlalu banyak orang berpendidikan tinggi memperebutkan terlalu sedikit posisi, dan sejak 2020 akan muncul ketidakpercayaan kolektif terhadap institusi yang memicu kerusuhan sipil. Pada 50 tahun ke depan akan terbentuk tata dunia baru dimana struktur  negara bangsa runtuh atau lemah, menjadi semacam organisasi masyarakat yang lebih kecil.


Ray Kurzweil dalam Singularity is Near (2005) menyatakan akan terjadi kebangkitan kecerdasan buatan dan cloud yang pada 2020-an akan menjadi era transisi besar. Pada 50 tahun ke depan manusia akan menyatu dengan AI dengan teknologi nanobot menghubungkan otak dengan claud (memori tak terbatas) menjadikan kehidupan digital yang abadi.


Prof. Shoshana Zuboff (Harvard), pada 2019 (dalam The Age of Surveillance Capitalizm)  menyatakan bahwa akan ada era dimana komoditi utama bukan lagi data, namun prediksi perilaku manusia, AI akan digunakan untuk memodifikasi perilaku manusia untuk suatu keuntungan. Pada 50 tahun ke depan dunia menjadi penjara digital yang memangkas kehendak bebas dan kemudian manusia berupaya merebut kembali hak dan privasinya, dan data mereka dari institusi.


Parag Khanna dalam Connectography : Mapping the Future Global Civilization (2016), memprediksi akan munculnya pergeseran dari batas negara-bangsa ke jaringan infrastruktur-akses. Jalur distribusi kebutuhan akan lebih penting daripada kedaulatan politik. Pada 50 tahun ke depan, karena perubahan iklim akan terjadi migrasi besar-besaran menuju daerah yang paling luas akses untuk hidup yang layak.


Harari dalam Homo Deus (2015) menulis bahwa krisis besar akan digunakan untuk melegitimasi pengawasan di dalam tubuh (suhu, detak jantung, dsb) melalui teknologi medik modern. Pada 50 tahun ke depan tidak ada kelas menengah di masyarakat, yang ada adalah homo Deus (orang-orang kaya yang meng-upgrade diri menjadi manusia super) dan kelas rakyat jelata, dimana  kelas menengah tergabung karena peran mereka digantikan oleh robot.  


Pada 50 tahun ke depan dunia akan mengalami de-fragmentasi negara bangsa yang digantikan oleh simpul-simpul konektivitas jalur suplai, di mana stabilitas sosial terancam oleh polarisasi ekstrem antara elit teknologi yang terakselerasi secara biologis dengan massa yang kehilangan relevansi ekonomi akibat otomasi AI. Di tengah pergeseran kekuasaan dari pemerintah ke pemilik algoritma, manusia akan menghadapi krisis eksistensi yang memaksa kita memilih antara hidup dalam manipulasi perilaku total atau melakukan adaptasi radikal melalui penggabungan kognitif dengan mesin demi bertahan hidup di wilayah-wilayah baru yang layak huni akibat perubahan iklim.


________________


Hamdan A. Batarawangsa





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.