Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

30 April 2026

SEKOLAH MASA DEPAN











Berhentilah membayangkan sekolah dan kampus 1-2 dekade ke depan seperti sekolah dan kampus hari ini. Ketika AI sudah semakin maju, tak ada lagi dosen yang ceramah di kelas, kecuali untuk diskusi etika, simulasi kasus tingkat tinggi, praktik  laboratorium yang membutuhkan intuisi, dsb, karena penyampaian semua materi dasar, simulasi lab in vitro, dsb, sudah diambil alih oleh AI. Saat ini dunia sudah memasuki gelombang ke-6 dalam Siklus Kondratief (gelombang teknologi kecerdasan buatan), maka penting mengenali AI dan memprediksi konsekuensi yang akan ditimbulkannya di masa depan. 


Dalam artikel "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan..." telah dikenalkan beberapa akademisi futuristik terkemuka dan visi umumnya tentang dunia masa depan. Menyambut Hari Pendidikan Nasional, kali ini Penulis berfokus pada "sekolah masa depan".


Dalam dunia pendidikan, Perguruan Tinggi (PT) adalah ekosistem yang akan mengalami guncangan paling hebat dibanding level di bawahnya: mahasiswa tidak lagi tertarik gelar akademik dan teori bertele-tele karena mereka tidak lagi "belajar untuk tahu" namun "belajar untuk menjadi" dan berpacu dengan waktu agar bisa berbuat sesuatu supaya bisa bertahan dalam  kehidupan nyata  sehari-hari yang penuh persaingan dan kejutan (shock future) seperti yang dikatakan Toffler.


Kampus harus segera bertransformasi nyata menjadi bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi dengan AI jika tidak ingin bangkrut. Apalagi saat ini pasar tenaga kerja dunia mulai dibanjiri orang-orang India, populasi terbesar di dunia, yang selangkah lebih maju dalam aplikasi teknologi kecerdasan artificial dibanding Indonesia, sangat memaksa keharusan akselerasi adaptasi, baik dari institusi kampus maupun pemerintah melalui regulasi presisi. Kabar buruknya, akan banyak program studi yang ditutup karena sudah tidak lagi relevan.


Berbeda dengan PT yang berorientasi pada penyiapan SDM siap kerja, Pendidikan Dasar dan Menengah akan menjadi semacam pusat inkubasi sosial dimana anak belajar berempati, hidup bersama, kerjasama kelompok, pengembangan karakter baik, dan kebugaran.


Kegiatan kognitif akan mengarah pada kegiatan berpikir tingkat tinggi untuk memecahkan masalah-masalah kompleks dan mengembangkan kreativitas. Separuh kegiatan kognitif dilakukan mandiri melalui guru AI. Kehadiran guru real sepanjang waktu seperti saat ini hanya ada di sekolah-sekolah "mahal". Namun secara umum, ancaman terjadinya kemunduran berpikir dan biasnya tujuan "belajar untuk menjadi" pada level lanjut, tetap menjadi kekhawatiran besar karena hampir semua proses kognitif telah dikerjakan AI.


Sekolah Dasar dan Menengah jika mampu beradaptasi, justru memainkan peran strategis menjaga "kemanusiaan" manusia di era robot. Dasar-dasar kemanusiaan : logika, etika, estetika, spiritualism, dan kesehatan jasmani, ditanamkan hingga meresap di jenjang ini. Jika sekolah di jenjang ini gagal beradaptasi, gedung-gedung sekolah akan kosong karena orang tidak merasakan manfaatnya, atau mereka akan memilih sekolah yang lebih praktis seperti "home schooling" dan bimbingan privat yang menawarkan program "khusus".


...


Orang boleh menganggap saya hanya berimajinasi tentang masa depan,  tapi saya bukan satu-satunya. Imajinasi adalah satu dari sedikit, yang akan membuat kita tetap menjadi manusia di era robotika.



(Menyambut Hari Pendidikan Nasional, sebagai sebuah "wake up call")

__________________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

28 April 2026

LOMBA MENULIS CERITA DI DEPOK

(Tingkat Sekolah Dasar)


















Lomba menulis cerita telah diadakan di Kota Depok dalam rangkaian Festival-Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLSSSN) tingkat Kecamatan Pancoran Mas  pada 28 April 2026. Tahun ini SDN Depok Jaya 1 mendapat giliran menjadi tempat pelaksanaan lomba.


Peserta lomba diikuti oleh 26 pelajar tingkat SD negeri dan swasta, dengan mengusung tema-tema: "Menjaga Bumi", "Aku dan Pahlawan", dan "Merawat Budaya dan Tradisi". Dengan tantangan menulis 500-1700 kata, peserta harus menyelesaikan dalam waktu maksimum 150 menit. 


Daftar nama sekolah peserta :

SD Cakra Buana, SD Perjuangan Terpadu, SD Al Fauzien, SD Kwitang PSKD, SD Mardiyuana, SD Nasional Plus Tunas Global, SD St.Theresia, SD Al Hamidiyah, SD Al Muhajirin, SD Mutiara Islam, SD Al Mansuriah, SD HFO, SD Al Haraki, SDN Rangkepanjaya, SDN Rangkepanjaya Baru, SDN Depok Baru 1, SDN Depok Baru 2, SDN Pitara 1, SDN Pitara 2, SDN Rawa Denok, SDN Anyelir 1, SDN Depok 1, SDN Depok 4, SDN Mampang 1, SDN Mampang 2, dan  SDN Mampang.


Hasil lomba:

Pemenang 1 SD Cakra Buana 

Pemenang 2 SD Al Muhajirin 

Pemenang 3 SD Tunas Global

Pemenang 4 SDN Pitara 2

Pemenang 5 SDIT Al Haraki

Pemenang 6 SDN Anyelir 1


Penanggung Jawab lomba menulis tahun ini adalah Lia Rizkyah M.Pd, dan juri terdiri dari Merina, S.Pd, Lidya Dwiyanti, S.Ag, dan Hamdan Arfani, M.Pd. 


Selain lomba menulis cerita, dalam rangkaian FLSSSN 2026 di Pancoran Mas Kota Depok diselenggarakan pula lomba mendongeng, tari, pantomim, kriya, gambar bercerita, dan menyanyi solo.


___________
























24 April 2026

PREDIKSI DUNIA 50 TAHUN KE DEPAN DARI PARA FUTUROLOG


Apa yang terjadi sekarang ternyata sudah "dibacakan" oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970) dan The Third Wave (1980) , siklus utama ekonomi dunia seperti Kuznets dan Kondratief, dan Prof. Jiang yang saat ini sedang viral, jauh dimasa lampau. Merangkum lebih presisi tentang prediksi masa depan dari tiga elemen sumber tersebut (Peneliti Futuristik, Siklus Utama Ekonomi, dan Prof. Jiang yang sedang viral) mungkin akan sangat berguna.


Pada artikel ini dibahas prediksi dunia 50 tahun ke depan hanya menurut para Futurolog ternama dulu ...


Sejak puluhan tahun lalu saat orang masih menggunakan mesin tik manual yang berisik,  Toffler sudah memprediksi akan munculnya gaya hidup digital nomad, masyarakat akan mengalami kelelahan mental kolektif karena debit arus informasi yang terlalu kuat dan tercemar hoax,  adanya work from home (WFH), rapat dan kuliah virtual, munculnya ekonomi kreator (tiktoker, youtuber), masyarakat ter-fraksionalisasi dalam sub-sub kultur dan trend, bioteknologi teramat maju melampau hukum dan etika (cloning, daging sintetis, dsb), dan perubahan segala hal yang terlalu cepat (informasi, teknologi, geopolitik, trend, dll). Pada 50 tahun ke depan kekuasaan dan struktur negara-bangsa akan melemah menjadi organisasi yang lebih kecil, manusia akan menjadi produsen selain menjadi konsumen untuk produk lain, kantor-kantor akan sepi karena korporasi menerapkan WFH atau manusia sibuk berbisnis dari rumah.


Peter Turchin dalam jurnal Nature (AS, 2010) menulis bahwa akan terjadi terlalu banyak orang berpendidikan tinggi memperebutkan terlalu sedikit posisi, dan sejak 2020 akan muncul ketidakpercayaan kolektif terhadap institusi yang memicu kerusuhan sipil. Pada 50 tahun ke depan akan terbentuk tata dunia baru dimana struktur  negara bangsa runtuh atau lemah, menjadi semacam organisasi masyarakat yang lebih kecil.


Ray Kurzweil dalam Singularity is Near (2005) menyatakan akan terjadi kebangkitan kecerdasan buatan dan cloud yang pada 2020-an akan menjadi era transisi besar. Pada 50 tahun ke depan manusia akan menyatu dengan AI dengan teknologi nanobot menghubungkan otak dengan claud (memori tak terbatas) menjadikan kehidupan digital yang abadi.


Prof. Shoshana Zuboff (Harvard), pada 2019 (dalam The Age of Surveillance Capitalizm)  menyatakan bahwa akan ada era dimana komoditi utama bukan lagi data, namun prediksi perilaku manusia, AI akan digunakan untuk memodifikasi perilaku manusia untuk suatu keuntungan. Pada 50 tahun ke depan dunia menjadi penjara digital yang memangkas kehendak bebas dan kemudian manusia berupaya merebut kembali hak dan privasinya, dan data mereka dari institusi.


Parag Khanna dalam Connectography : Mapping the Future Global Civilization (2016), memprediksi akan munculnya pergeseran dari batas negara-bangsa ke jaringan infrastruktur-akses. Jalur distribusi kebutuhan akan lebih penting daripada kedaulatan politik. Pada 50 tahun ke depan, karena perubahan iklim akan terjadi migrasi besar-besaran menuju daerah yang paling luas akses untuk hidup yang layak.


Harari dalam Homo Deus (2015) menulis bahwa krisis besar akan digunakan untuk melegitimasi pengawasan di dalam tubuh (suhu, detak jantung, dsb) melalui teknologi medik modern. Pada 50 tahun ke depan tidak ada kelas menengah di masyarakat, yang ada adalah homo Deus (orang-orang kaya yang meng-upgrade diri menjadi manusia super) dan kelas rakyat jelata, dimana  kelas menengah tergabung karena peran mereka digantikan oleh robot.  


Pada 50 tahun ke depan dunia akan mengalami de-fragmentasi negara bangsa yang digantikan oleh simpul-simpul konektivitas jalur suplai, di mana stabilitas sosial terancam oleh polarisasi ekstrem antara elit teknologi yang terakselerasi secara biologis dengan massa yang kehilangan relevansi ekonomi akibat otomasi AI. Di tengah pergeseran kekuasaan dari pemerintah ke pemilik algoritma, manusia akan menghadapi krisis eksistensi yang memaksa kita memilih antara hidup dalam manipulasi perilaku total atau melakukan adaptasi radikal melalui penggabungan kognitif dengan mesin demi bertahan hidup di wilayah-wilayah baru yang layak huni akibat perubahan iklim.


________________


Hamdan A. Batarawangsa