Bukan pengetahuan baru bahwa di Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara yang dilabeli "kebebasan bersuara", media justru sangat dikendalikan Oligarki Global (Bagdikian, 2004, The New Media Monopoly; dan Rothkopf, 2008, Superclass: The Global Power Elite and the World They Are Making).
Disana, keberagaman opini sehari-hari bisa tiba-tiba sirna, berganti tagline yang luar biasa seragam, "media oposisi" seolah hilang sesaat.
Saat ini media massa adalah alutsista yang lebih efisien daripada operasi artileri dan kaveleri.
Tidak menutup mata bahwa negara Indonesia sudah membuat kebijakan dan ada upaya counter perception, namun terlampau lambat menyadari dan belum cukup efektif. Saat ini masih banyak narasi pembodohan dan kebencian yang lolos ke masyarakat. Dalam perang persepsi ini, posisi pertahanan Indonesia masih sangat lemah.
Perang persepsi bukan lagi sekedar "perang pemikiran" dimana terjadi dialektika yang justru bagus bagi peradaban manusia. Perang persepsi ini sangatlah liar, dunia bisa membaik atau terjerembab ke kondisi biadab bergantung pada siapa yang berhasil mendominasi.
Persepsi bisa mengubah cara berpikir : berpikir lebih baik atau justru "gagal berpikir" (logical fallacy) karena mengambil "fakta dan data palsu" sebagai asumsi berpikir (failure of judgment). Persepsi melahirkan opini. Opini melahirkan tindakan. Tindakan menentukan keadaan.
Perang persepsi ini sangat radikal karena langsung menyerang mental manusia, dan menyasar berbagai aspek: ekonomi, politik, dan budaya suatu negara.
Ekonomi negara bisa melesat terbang atau terdeprisiasi bahkan ambruk hanya karena salah persepsi : fluktuasi kurs, harga saham, dan iklim investasi sangat dipengaruhi persepsi pelaku bisnis. Indonesia dan India adalah contoh yang baik untuk tahun 2026 ini : fundamental ekonomi yang sangat baik dirongrong oleh sentimen negatif pelaku pasar sehingga nilai mata uang, indeks harga saham gabungan, dan iklim investasi mengalami tekanan kuat.
Dalam politik, perang persepsi ini bisa mengkampanyekan sosok politikus alternatif yang minim jejak prestasinya namun disisi lain juga mampu memadamkan kecemerlangan tokoh lain yang menjadi lawannya.
Perang persepsi bisa diarahkan untuk persatuan nasional dan mendukung pemerintah, namun juga bisa digunakan untuk mengikis kepercayaan publik.
Perang persepsi bisa mengubah moral dan budaya masyarakat. Kampanye LGBT yang mustahil ada di tahun 1980an di Indonesia, pada 2026 ini muncul meramaikan media massa, meski--alhamdulillah--mendapat penolakan keras dari masyarakat.
Pada prinsipnya, pemain utama perang persepsi ini adalah negara yang berusaha melindungi eksistensi dan kepentingan bangsanya melawan pemegang uang besar : oligarki global, oligarki lokal, dan koruptor yang notabene adalah oknum-oknum di "dalam" negara (yang berkhianat).
Negara Republik Indonesia harus berkolaborasi dengan kekuatan rakyat, mutlak wajib memenangkan perang ini atau akan jadi pecundang di era emas 2045.
Posisi masyarakat adalah sebagai pihak yang diadu di lapangan, entah di medan perang real atau medan perang dunia maya. KECERDASAN dan MORAL akan menjawab hasil akhirnya.
___________________________
Penulis
Hamdan A. Batarawangsa

