Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

06 Mei 2026

DARI DARMASIKSA KE SIKSAKANDA









Nama Darmasiksa ada dalam buku berjudul "Amanat Galunggung" yang ditulis oleh Atja dan Saleh Danasasmita tahun 1981, awalnya berupa laporan penelitian pada objek naskah Sunda kuno yang diberi nama Kropak 632, suatu naskah berbahan daun nipah, yang awalnya berada di situs Ciburuy, Garut.


Berdasar uji paleografi, linguistik, karbon, dan  kontekstual, Kropak 632 dibuat sekitar Abad ke-15 namun isi naskah menceritakan tentang peristiwa pada abad ke-12, berkenaan dengan tokoh bernama Batari Hyang, seorang Ratu-Resi (Raja Pandita)  yang memberi wasiat pada anaknya, Rakeyan Darmasiksa yang menjadi Raja di Saunggalah (Galunggung), beserta seluruh rakyatnya. 


Prof. Ayatrohaedi dalam buku Sundakala yang mengulas Naskah Wangsakerta (naskah abad ke-17 berjudul asli Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara) menulis bahwa Darmasiksa adalah Raja Saunggalah (Galunggung) yang berumur panjang  (1150-1297) dan berkuasa selama 122 tahun (1175-1297). Pada 1275 menggantikan Prabu Darmakusumah, menjadi raja Sunda Galuh (gabungan Priangan Barat dan Priangan Timur hingga Brebes) yang beribukota di Pakwan (Pakuan Pajajaran, Bogor). Kerajaan Sunda dan Galuh (Galuh atau Kawali) adalah pecahan dari Kerajaan Tarumanegara.


Dalam  Naskah Wangsakerta  yang diulas Ayatrohaedi ditulis bahwa Darmasiksa adalah kakek dari Raden Wijaya pendiri Majapahit. Setelah ayah Raden Wijaya, Jayadarma putra Darmasiksa, wafat, Raden Wijaya dibesarkan  keluarga ibunya di Singasari. Raja Singasari, Kertanegara, adalah sepupu dari ibu Raden Wijaya, Dyah Lembu Tal anak Mahisa Campaka.


Batari Hyang, ibunda Darmasiksa, yang berarti adalah nenek buyut dari Raden Wijaya terabadikan namanya dalam prasasti Geger Hanjuang, Linggawangi, Tasikmalaya, bahwa pada tahun 1111 Masehi mengubah status kebataraan (wilayah otonom spiritual) Galunggung menjadi kerajaan. Kemudian pada penobatan Darmasiksa menjadi raja, Batari Hyang memberi wasiat.


Wasiat Batari Hyang kepada Darmasiksa dalam Kropak 632 yang kemudian disebut "Amanat Galunggung" bukan cuma pesan keluarga kepada Rakeyan Darmasiksa, namun juga merupakan konstitusi moral negara tentang kedaulatan, patriotisme, identitas, dan etika sosial :


1. Menjaga identitas dan kehormatan Kabuyutan (kedaulatan),

2. Menghormati leluhur sebagai sumber eksistensi (loyalitas),

3. Etika kepemimpinan yang berasaskan darma (integritas),

4. Melarang perebutan kekuasaan/kudeta (stabilitas), dan 

5. Kewajiban menjaga persatuan (solidaritas).


Perlu diketahui Batari Hyang bukanlah Batara Galunggung pertama dan terakhir. Para Batara Galunggung, setidaknya sejak abad ke-8, disebut-sebut sebagai tokoh yang meresmikan (nu ngabiseka) para raja yang berkuasa di kerajaan Galuh. Dalam "Carita Parahyangan" ditulis pada sekitar abad ke-8  Batara Semplak Waja Galunggung meresmikan Rahyang Mandiminyak putra Raja Wretikandayun sebagai raja Galuh yang baru.


Kebataraan Galunggung meredup secara perlahan dan berakhir kemungkinan karena beberapa sebab, diantaranya runtuhnya kerajaan Sunda-Galuh pada abad ke-16 yang selama ratusan tahun telah memposisikan Kebataraan Galunggung sebagai wilayah sakral, masuknya Islam yang secara substansi ideologi dan moral sangat klop dengan ajaran Sunda, dan  perubahan politik terutama pada era kolonial yang mengubah status daerah otonom Galunggung menjadi unit administratif biasa dibawah Kabupaten Sukapura dengan Bupati (raja) yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial.


Pada abad ke-16, bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Sunda Galuh dan meredupnya Kebataraan di Galunggung, sekelompok Resi melakukan upaya kodifikasi besar-besaran terhadap seluruh kearifan lokal Sunda. Hal ini diketahui melalui temuan naskah kuno lain, yaitu Kropak 630 berangka tahun 1518, berjudul "Siksakanda Ng Karesian" yang berarti "Kitab Ajaran Para Resi" atau secara harfiah berarti "Buku Tentang Hidup Bijaksana".


Isi Siksakanda Ng Karesian menyinggung banyak aspek kehidupan yang intinya  menuju pada keharmonisan. Pokok-pokoknya sebagai berikut :


1. Tentang segala hal, bertanyalah hanya pada ahlinya,

2. Membangun integritas pribadi dimulai dari menjaga keinginan dan ucapan, agar tidak membawa bencana bagi diri sendiri dan orang lain, 

3. Konsep pembagian kekuasaan : Ratu (politik) patuh pada Resi (ilmu, hukum, moral), dan Resi patuh kepada Rama (pemangku adat, pemelihara akar budaya), dan

4. Bekerja secara profesional, sekecil apapun pekerjaannya, akan membawa kebaikan.


Inti pesan ajaran Siksakanda Ng Karesian adalah "belajarlah dari ahlinya, kendalikan dirimu, dan hiduplah sesuai kapasitasmu untuk menjaga harmoni dunia".


"Dari Darmasiksa ke Siksakanda" menunjukan bahwa peradaban Sunda memiliki kontinuitas intelektual yang panjang, dan bangsa Sunda telah memiliki sistem literasi dan etika yang mapan sejak ratusan tahun lalu. 


Amanat Galunggung dan Siksakanda Ng Karesian  adalah dwitunggal pusaka intelektual yang menjadi jangkar etik dan kompas sosiologis bagi peradaban Sunda, yang populer disebut ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan (Sunda asli) yang masih lestari hingga sekarang.


Makam keturunan Batara Galunggung
di Kp. Urug, Cikatomas, Kawalu, Tasikmalaya 









Ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan saat ini seperti sebuah kapal yang percaya diri di tengah badai, melambung dan menghempas mengendalikan ombak, layarnya terkembang menderu mengarungi lautan kearifan yang ganas...


____________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa


Menyambut Hari Tatar Sunda 18 Mei 2026.







 


04 Mei 2026

PANCASILA DALAM PERTARUNGAN MASA DEPAN: HOMO DEUS VS KAUM TAK BERGUNA


Dalam "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan ..." Harari (dalam buku Homo Deus : A Brief History of Tomorrow, 2015) memprediksi hilangnya kelas menengah, karena bersama kelas bawah membentuk kelas baru yang diistilahkan sebagai Olamha Lo Nakhuts yang artinya rakyat jelata tak berguna, atau kelompok yang tidak dibutuhkan, the useless class. Istilah Olamha Lo Nakhuts diambil dari bahasa Ibrani, diperkenalkan oleh Harari.  Olamha Lo Nakhuts (kaum tak berguna) akan berhadapan dengan Homo Deus (Manusia Dewa, Superman, atau Ubermensch jika meminjam istilah Nietzsche).  


Prediksi Harari tentang hal ini  didukung oleh intelektual lain (paralel secara pemikiran) diantaranya Ray Kurzweil, Nick Bostrom, Max More, dan Michio Kaku. Terakhir Elon Musk pun ternyata menguatkan prediksi Homo Deus melalui visi neurolink.


Munculnya Homo Deus akan menciptakan jurang  kesenjangan yang curam di masyarakat.  Pertarungan antara Homo Deus vs Kaum Tak Berguna (KTB) diantaranya dalam akses biologis, perebutan otoritas, dan HAM. Pertarungan Homo Deus vs KTB bukan perang konvensional bersenjata, melainkan "perang asimetris" dimana pihak yang kuat menjadi "tidak peduli" sementara pihak yang lemah berupaya untuk tidak diabaikan dan diperlakukan selayaknya manusia.


Kelompok kaya dengan kekuatan finansial akan meng-upgrade dirinya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang revolusioner : membuang gen penyakit, mendapatkan jaminan suplay super food, dan meningkatkan taraf  kognitif melalui teknologi nanobot atau neurolink  yang menghubungkan otak dengan cloud. Mereka berusaha mewujudkan ambisi "hidup abadi". Sementara itu KTB dengan segala keterbatasan tidak mampu ikut menikmati berkah teknologi tersebut. 


Kelompok kaya memiliki akses yang luas pada perangkat digital dan mengendalikan algoritma. Mereka akan menjadi pihak yang memegang  otoritas "mengelola" bahkan memanipulasi keinginan orang lain. Adapun KTB menjadi objek algoritma yang menerima rekomendasi segala hal mulai dari makanan hingga politik, yang perlahan mematikan kehendak bebas.


Homo Deus dilayani oleh robot nyaris tidak membutuhkan manusia lain. Homo Deus hidup tertutup bersama se-kastanya  dan akan memandang KTB seperti bukan manusia. Memandang pihak lain seperti bukan manusia padahal sama-sama hidup di bumi adalah inti dari penjajahan: diskriminasi dan pengabaian  pada Hak Asasi Manusia. 


Disinilah pentingnya negara. Sebelum Homo Deus semakin banyak dan kuat, negara dengan segala kekuatannya harus cepat membuat regulasi yang diperlukan. Negara harus punya kedaulatan dalam mengelola infrastruktur teknologi khususnya teknologi digital. Tapi masalahnya, tidak ada yang bisa diharapkan dari negara yang korup. Butuh kepastian sekarang juga akan komitmen bangsa Indonesia dalam pemberantasan korupsi. 


Bersamaan dengan itu, sementara politik dan  ekonomi cenderung kapitalis, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi esensial dan mendesak. Negara yang kita huni lagi-lagi harus dipastikan setia dengan tujuannya mewujudkan keadilan sosial serta  memilih cara gotong-royong dan demokrasi yang efektif dalam mewujudkannya. 


Keadilan sosial dengan tidak menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama korporasi yang men-substitusi total SDM ke robot, melarang aplikasi teknologi AI mengikuti mekanisme pasar dimana orang kaya bisa mengakses dan mendapatkan semaunya atau negara menjadikan akses ke arah itu bersifat publik, tidak menjadikan data genetik (non upgrade) sebagai alasan penolakan perusahaan/ asuransi, diberlakukan pajak data atau royalti atas orang yang datanya dimanfaatkan perusahaan, juga pajak robot karena mengambil-alih kesempatan bekerja manusia,  mepertahankan pendidikan berbasis humanisme, dll. Satu hal penting, semua upaya bangsa dalam mengatasi masalah tidak boleh lepas dari semangat gotong-royong, kesetiakawanan sosial nasional, karena itulah bahan bakar utama bangsa ini.


Perjuangan bangsa Indonesia dan umat manusia ke depan bukan lagi sekedar sandang pangan, tapi mempertahankan kemanusiaan yang adil dan beradab.

___________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa


30 April 2026

SEKOLAH MASA DEPAN











Berhentilah membayangkan sekolah dan kampus 1-2 dekade ke depan seperti sekolah dan kampus hari ini. Ketika AI sudah semakin maju, tak ada lagi dosen yang ceramah di kelas, kecuali untuk diskusi etika, simulasi kasus tingkat tinggi, praktik  laboratorium yang membutuhkan intuisi, dsb, karena penyampaian semua materi dasar, simulasi lab in vitro, dsb, sudah diambil alih oleh AI. Saat ini dunia sudah memasuki gelombang ke-6 dalam Siklus Kondratief (gelombang teknologi kecerdasan buatan), maka penting mengenali AI dan memprediksi konsekuensi yang akan ditimbulkannya di masa depan. 


Dalam artikel "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan..." telah dikenalkan beberapa akademisi futuristik terkemuka dan visi umumnya tentang dunia masa depan. Menyambut Hari Pendidikan Nasional, kali ini Penulis berfokus pada "sekolah masa depan".


Dalam dunia pendidikan, Perguruan Tinggi (PT) adalah ekosistem yang akan mengalami guncangan paling hebat dibanding level di bawahnya: mahasiswa tidak lagi tertarik gelar akademik dan teori bertele-tele karena mereka tidak lagi "belajar untuk tahu" namun "belajar untuk menjadi" dan berpacu dengan waktu agar bisa berbuat sesuatu supaya bisa bertahan dalam  kehidupan nyata  sehari-hari yang penuh persaingan dan kejutan (shock future) seperti yang dikatakan Toffler.


Kampus harus segera bertransformasi nyata menjadi bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi dengan AI jika tidak ingin bangkrut. Apalagi saat ini pasar tenaga kerja dunia mulai dibanjiri orang-orang India, populasi terbesar di dunia, yang selangkah lebih maju dalam aplikasi teknologi kecerdasan artificial dibanding Indonesia, sangat memaksa keharusan akselerasi adaptasi, baik dari institusi kampus maupun pemerintah melalui regulasi presisi. Kabar buruknya, akan banyak program studi yang ditutup karena sudah tidak lagi relevan.


Berbeda dengan PT yang berorientasi pada penyiapan SDM siap kerja, Pendidikan Dasar dan Menengah akan menjadi semacam pusat inkubasi sosial dimana anak belajar berempati, hidup bersama, kerjasama kelompok, pengembangan karakter baik, dan kebugaran.


Kegiatan kognitif akan mengarah pada kegiatan berpikir tingkat tinggi untuk memecahkan masalah-masalah kompleks dan mengembangkan kreativitas. Separuh kegiatan kognitif dilakukan mandiri melalui guru AI. Kehadiran guru real sepanjang waktu seperti saat ini hanya ada di sekolah-sekolah "mahal". Namun secara umum, ancaman terjadinya kemunduran berpikir dan biasnya tujuan "belajar untuk menjadi" pada level lanjut, tetap menjadi kekhawatiran besar karena hampir semua proses kognitif telah dikerjakan AI.


Sekolah Dasar dan Menengah jika mampu beradaptasi, justru memainkan peran strategis menjaga "kemanusiaan" manusia di era robot. Dasar-dasar kemanusiaan : logika, etika, estetika, spiritualism, dan kesehatan jasmani, ditanamkan hingga meresap di jenjang ini. Jika sekolah di jenjang ini gagal beradaptasi, gedung-gedung sekolah akan kosong karena orang tidak merasakan manfaatnya, atau mereka akan memilih sekolah yang lebih praktis seperti "home schooling" dan bimbingan privat yang menawarkan program "khusus".


...


Orang boleh menganggap saya hanya berimajinasi tentang masa depan,  tapi saya bukan satu-satunya. Imajinasi adalah satu dari sedikit, yang akan membuat kita tetap menjadi manusia di era robotika.



(Menyambut Hari Pendidikan Nasional, sebagai sebuah "wake up call")

__________________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

28 April 2026

LOMBA MENULIS CERITA DI DEPOK

(Tingkat Sekolah Dasar)


















Lomba menulis cerita telah diadakan di Kota Depok dalam rangkaian Festival-Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLSSSN) tingkat Kecamatan Pancoran Mas  pada 28 April 2026. Tahun ini SDN Depok Jaya 1 mendapat giliran menjadi tempat pelaksanaan lomba.


Peserta lomba diikuti oleh 26 pelajar tingkat SD negeri dan swasta, dengan mengusung tema-tema: "Menjaga Bumi", "Aku dan Pahlawan", dan "Merawat Budaya dan Tradisi". Dengan tantangan menulis 500-1700 kata, peserta harus menyelesaikan dalam waktu maksimum 150 menit. 


Daftar nama sekolah peserta :

SD Cakra Buana, SD Perjuangan Terpadu, SD Al Fauzien, SD Kwitang PSKD, SD Mardiyuana, SD Nasional Plus Tunas Global, SD St.Theresia, SD Al Hamidiyah, SD Al Muhajirin, SD Mutiara Islam, SD Al Mansuriah, SD HFO, SD Al Haraki, SDN Rangkepanjaya, SDN Rangkepanjaya Baru, SDN Depok Baru 1, SDN Depok Baru 2, SDN Pitara 1, SDN Pitara 2, SDN Rawa Denok, SDN Anyelir 1, SDN Depok 1, SDN Depok 4, SDN Mampang 1, SDN Mampang 2, dan  SDN Mampang.


Hasil lomba:

Pemenang 1 SD Cakra Buana 

Pemenang 2 SD Al Muhajirin 

Pemenang 3 SD Tunas Global

Pemenang 4 SDN Pitara 2

Pemenang 5 SDIT Al Haraki

Pemenang 6 SDN Anyelir 1


Penanggung Jawab lomba menulis tahun ini adalah Lia Rizkyah M.Pd, dan juri terdiri dari Merina, S.Pd, Lidya Dwiyanti, S.Ag, dan Hamdan Arfani, M.Pd. 


Selain lomba menulis cerita, dalam rangkaian FLSSSN 2026 di Pancoran Mas Kota Depok diselenggarakan pula lomba mendongeng, tari, pantomim, kriya, gambar bercerita, dan menyanyi solo.


___________
























24 April 2026

PREDIKSI DUNIA 50 TAHUN KE DEPAN DARI PARA FUTUROLOG


Apa yang terjadi sekarang ternyata sudah "dibacakan" oleh Alvin Toffler dalam Future Shock (1970) dan The Third Wave (1980) , siklus utama ekonomi dunia seperti Kuznets dan Kondratief, dan Prof. Jiang yang saat ini sedang viral, jauh dimasa lampau. Merangkum lebih presisi tentang prediksi masa depan dari tiga elemen sumber tersebut (Peneliti Futuristik, Siklus Utama Ekonomi, dan Prof. Jiang yang sedang viral) mungkin akan sangat berguna.


Pada artikel ini dibahas prediksi dunia 50 tahun ke depan hanya menurut para Futurolog ternama dulu ...


Sejak puluhan tahun lalu saat orang masih menggunakan mesin tik manual yang berisik,  Toffler sudah memprediksi akan munculnya gaya hidup digital nomad, masyarakat akan mengalami kelelahan mental kolektif karena debit arus informasi yang terlalu kuat dan tercemar hoax,  adanya work from home (WFH), rapat dan kuliah virtual, munculnya ekonomi kreator (tiktoker, youtuber), masyarakat ter-fraksionalisasi dalam sub-sub kultur dan trend, bioteknologi teramat maju melampau hukum dan etika (cloning, daging sintetis, dsb), dan perubahan segala hal yang terlalu cepat (informasi, teknologi, geopolitik, trend, dll). Pada 50 tahun ke depan kekuasaan dan struktur negara-bangsa akan melemah menjadi organisasi yang lebih kecil, manusia akan menjadi produsen selain menjadi konsumen untuk produk lain, kantor-kantor akan sepi karena korporasi menerapkan WFH atau manusia sibuk berbisnis dari rumah.


Peter Turchin dalam jurnal Nature (AS, 2010) menulis bahwa akan terjadi terlalu banyak orang berpendidikan tinggi memperebutkan terlalu sedikit posisi, dan sejak 2020 akan muncul ketidakpercayaan kolektif terhadap institusi yang memicu kerusuhan sipil. Pada 50 tahun ke depan akan terbentuk tata dunia baru dimana struktur  negara bangsa runtuh atau lemah, menjadi semacam organisasi masyarakat yang lebih kecil.


Ray Kurzweil dalam Singularity is Near (2005) menyatakan akan terjadi kebangkitan kecerdasan buatan dan cloud yang pada 2020-an akan menjadi era transisi besar. Pada 50 tahun ke depan manusia akan menyatu dengan AI dengan teknologi nanobot menghubungkan otak dengan claud (memori tak terbatas) menjadikan kehidupan digital yang abadi.


Prof. Shoshana Zuboff (Harvard), pada 2019 (dalam The Age of Surveillance Capitalizm)  menyatakan bahwa akan ada era dimana komoditi utama bukan lagi data, namun prediksi perilaku manusia, AI akan digunakan untuk memodifikasi perilaku manusia untuk suatu keuntungan. Pada 50 tahun ke depan dunia menjadi penjara digital yang memangkas kehendak bebas dan kemudian manusia berupaya merebut kembali hak dan privasinya, dan data mereka dari institusi.


Parag Khanna dalam Connectography : Mapping the Future Global Civilization (2016), memprediksi akan munculnya pergeseran dari batas negara-bangsa ke jaringan infrastruktur-akses. Jalur distribusi kebutuhan akan lebih penting daripada kedaulatan politik. Pada 50 tahun ke depan, karena perubahan iklim akan terjadi migrasi besar-besaran menuju daerah yang paling luas akses untuk hidup yang layak.


Harari dalam Homo Deus (2015) menulis bahwa krisis besar akan digunakan untuk melegitimasi pengawasan di dalam tubuh (suhu, detak jantung, dsb) melalui teknologi medik modern. Pada 50 tahun ke depan tidak ada kelas menengah di masyarakat, yang ada adalah homo Deus (orang-orang kaya yang meng-upgrade diri menjadi manusia super) dan kelas rakyat jelata, dimana  kelas menengah tergabung karena peran mereka digantikan oleh robot.  


Pada 50 tahun ke depan dunia akan mengalami de-fragmentasi negara bangsa yang digantikan oleh simpul-simpul konektivitas jalur suplai, di mana stabilitas sosial terancam oleh polarisasi ekstrem antara elit teknologi yang terakselerasi secara biologis dengan massa yang kehilangan relevansi ekonomi akibat otomasi AI. Di tengah pergeseran kekuasaan dari pemerintah ke pemilik algoritma, manusia akan menghadapi krisis eksistensi yang memaksa kita memilih antara hidup dalam manipulasi perilaku total atau melakukan adaptasi radikal melalui penggabungan kognitif dengan mesin demi bertahan hidup di wilayah-wilayah baru yang layak huni akibat perubahan iklim.


________________


Hamdan A. Batarawangsa





28 Maret 2026

MOTIF EKONOMI DALAM PERANG AS

Perang tidak melulu tentang ideologi dan keamanan. Terutama bagi AS, sulit untuk menafikan motif ekonomi. 

Berdasar siklus  Kuznets (20 tahunan), ekonomi AS dalam posisi downtrend menuju depresi  ditandai lesunya bisnis properti dan suku bunga tinggi, yang berdampak besar pada putaran ekonomi makro dalam negeri. 


Dalam posisi ekonomi yang buruk, AS sering menggunakan opsi militer (military keynesianism) untuk mempersingkat durasi tersebut.  Saat ekonomi mengalami  "depresi besar" tahun 1930, AS segera mempersiapkan diri terjun dalam Perang Dunia II.  Saat ekonomi mengalami kejenuhan investasi tahun 1960, AS menginvasi Vietnam.  Saat terjadi krisis properti tahun 1990-2000, AS menginvasi Irak.  Semua opsi militer ini dalam rangka merealisasikan "belanja besar" yang bisa menstimulus sektor-sektor lain dalam ekonomi AS. Opsi militer AS ini lebih jauh selalu menargetkan pula penguasaan minyak yang masih menjadi energi utama dalam industri. Dalam jangka pendek, perang akan sangat menekan fiskal namun nampaknya AS mengabaikan hal itu.


Opsi militer yang dilakukan AS dalam setiap krisis  ternyata mendapat dukungan dari kelompok investor raksasa dunia, karena perang akan membuat krisis menjadi semakin dalam yang menyebabkan harga-harga saham perusahaan besar dan strategis suatu negara menjadi turun.  Para investor raksasa ini bisa leluasa membeli korporasi besar dengan harga sangat murah. Krisis ekonomi menyusahkan masyarakat umum namun menjadi kabar gembira bagi investor raksasa. Bukan hanya membeli murah, sebagian malah bisa dikatakan "merampok".


Masyarakat akan mengira pasar modal kawasan Arab yang paling terguncang akibat perang AS-Israel vs Iran. Sangat menarik, ternyata pasar modal yang paling terdampak adalah Asia Timur (Nikkei, Shenzhen, Hangseng, dll), terutama untuk sektor manufaktur, logistik, dan teknologi. Taiwan dan Korea Selatan adalah produsen semi konduktor terbesar dunia, yaitu chip yang paling esensial dalam industri teknologi kecerdasan buatan (AI), mengalahkan Nvidia dan Intel (AS).


Pasca invasi Irak, Nort-South Oil Company (milik Irak) dikuasai Halliburton dan Exxon Mobile. Trade Bank of Irak (TBI, Irak) diambil alih JP Morgan Chase.


Pasca invasi Libya, National Oil Corporation (BUMN minyak Libya) dikuasai Conoco Philips, Hess, dan Ocidental. LAFB (bank terbesar Libya) diambil alih oleh Bank Sentral AS. LIA (semacam Danantara milik Libya) diambil alih oleh JPMorgan Chase.


Celakanya, bukan hanya AS yang dalam posisi downtrend dalam siklus ekonomi Kuznets. Sebagian besar Eropa juga dalam posisi sama. Bahkan Cina pun hampir memasuki fase tersebut. Jika semua negara memilih opsi militer untuk mengatasi masalah ekonomi makro, dunia benar-benar dalam ambang Perang Dunia III.


Indonesia bersama Vietnam dan India adalah anomali. Ketiga negara ini bertahan dalam fase ekspansi (uptrend) dalam siklus ekonomi 20 tahunan. 


Ada kecemasan namun ada pula harapan, semoga arah nasib umat manusia ke depan akan lebih baik.

____________

Hamdan A. Batarawangsa




28 Februari 2026

DISFUNGSI EPISTEMOLOGIS NEGARA

NEGARA INDONESIA sekarang bukanlah Indonesia yang ada dalam Pembukaan UUD 1945.  Sejak era reformasi UUD diamandemen berkali-kali tapi bukannya makin kuat justru semakin jauh dari spirit yang wariskan para pendiri bangsa. Prinsip demokrasi Pancasila resmi digantikan oleh prinsip demokrasi liberal sejak tahun 2001, sila ke-4 Pancasila resmi "dibuang" sejak tahun tersebut. Padahal, demokrasi adalah cara berbangsa-bernegara sekaligus cara mencapai tujuan negara, dan satu-satunya model demokrasi yang cocok di Indonesia hanyalah demokrasi Pancasila. Meski didukung instrumen yang tepat, pelaksanaan demokrasi pada era Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba) memang belum sesuai harapan, tapi sekarang pelaksanaan dan instrumennya malah lebih tidak jelas.

Secara prinsip, demokrasi liberal berfokus pada kuantitas (suara) dengan asumsi kualitas individu warga negara  dianggap baik dan homogen, sementara demokrasi Pancasila berfokus pada kualitas (akomodasi nilai-nilai kearifan melalui perwakilan dalam  permusyawaratan) dengan mempertimbangkan kemajemukan masyarakat dan realitas kesenjangan yang ada.


Demokrasi liberal yang kini diterapkan bukan hanya tidak efisien (mahal) namun juga tidak efektif. Demokrasi liberal justru melemahkan persatuan Indonesia : mencabik-cabik "bhineka tunggal Ika" dan meningkatkan gesekan baik horizontal di masyarakat maupun vertikal terhadap pemerintah. Tanpa demokrasi yang benar Indonesia seolah buta-bergerak tanpa arah, dan tanpa persatuan yang kokoh Indonesia seolah lumpuh-tidak bisa berbuat banyak. Sebagai epistemologi, dua sila Pancasila (ke-3 dan ke-4) ini sudah tidak difungsikan sehingga tujuan bangsa-negara terancam gagal tercapai.





Demokrasi kita saat ini memberi panggung seluas-luasnya pada orang-orang tidak kompeten bahkan bandit "yang dimodali" untuk menentukan nasib dan hajat hidup orang banyak; kecerdasan, kearifan,  kepakaran, ketulusan, dan integritas etik tidak lagi terlalu dihargai.


Entah bagaimana cara mengembalikan demokrasi Pancasila tegak lagi di bumi Indonesia,  sementara sudah terlanjur banyak yang menikmati sistem yang liberal "barbar" ini. Untuk sampai pada konsensus amandemen UUD kembali (mengembalikan sistem demokrasi Pancasila) bukanlah perkara mudah, butuh edukasi masif dan berkelanjutan di berbagai lapisan masyarakat.


Semoga suatu masa kelak terjadi reformasi sungguhan.  You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one.


_____________

Penulis 

Hamdan A Batarawangsa