Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

13 Juni 2026

MERAWAT KEDAULATAN DALAM PERANG SENYAP EKONOMI












Sejak Pemerintah melontarkan kata "hilirisasi", saya tahu akan makin hebat tekanan berbagai pihak kepada Presiden RI. Hilirisasi adalah kata lain dari "merdeka". Apa namanya jika Indonesia wajib mengirim bahan mentah murah yang harganya pun mereka yang tentukan, kemudian kita wajib membeli barang jadinya dengan harga mahal, kalau namanya bukan penjajahan ?

Bedanya penjajahan dulu dan sekarang, yang sekarang jauh lebih brutal, konyol, sistematis, dan senyap, karena sebenarnya bukan negara menjajah negara, tapi negara dijajah oleh Mafia  Global (tidak semua elite global itu mafia) dengan kapital sangat besar yang bisa menggerakkan negara sebesar AS dan Inggris mengagresi negara lain untuk kepentingannya.


Di tengah konfrontasi perang "senyap" tersebut, pada 2024, Presiden RI yang baru dilantik  melontarkan kembali  frasa yang tidak kurang kerasnya: maklumat perang kepada koruptor dan mafia ekspor-import. Maka bertambah lagi musuh-musuh Pemerintah.


Mega korupsi ribuan trilyun diungkap (kasus tata kelola minyak mentah, kasus tata kelola timah,  mark up harga BBM import, dll), mulai korupsi di BUMN, hingga korupsi di institusi pemerintah sipil dan militer.  


Dalam perdagangan komoditi strategis, rantai bisnis kotor diputus: menyusul pembubaran Petral pada periode sebelumnya, kini dibuat kebijakan eksport satu pintu menyusul temuan penipuan harga (under invoicing) dan penipuan tonase (under weighing) yang dilakukan anak perusahaan yang bertindak sebagai broker di pelabuhan Singapura. 


Semua kecurangan ini menyangkut uang ribuan trilyun yang dikeruk oleh segelintir orang. Under invoicing dan under weighing hanya sedikit dari banyak modus operandi mafia ekspor-import di negara ini.


Perang Pemerintah melawan tiga musuh berduit ribuan trilyun: mafia global, mafia lokal, dan koruptor, harus dipahami bahwa musuh negara tidak pasif, bahkan dengan dana yang besar, mereka mungkin jauh lebih agresif dari pemerintah.


Kita bisa menduga apa saja yang paling mungkin mereka lakukan : menyuap aparat, mengendalikan regulasi, menciptakan kegaduhan, pengalihan isyu, penyesatan informasi dan pembentukan persepsi publik, hingga mengganti rezim penguasa. 


Serangan pada Fluktuasi Rupiah dan IHSG


Musuh-musuh negara (mafia global, mafia lokal, dan koruptor) selalu memanfaatkan situasi untuk menciptakan momentum "mengalahkan" negara. Termasuk menggarap kondisi saat kurs rupiah dan IHSG melemah.


Pada Juni 2026, terjadi penurunan kurs rupiah yang kemudian disusul IHSG.  Sementara fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi sehat.


Penurunan kurs dan indeks saham adalah murni fenomena ekonomi : terjadi substitusi besar dalam waktu singkat dari rupiah ke dollar Singapura dan dollar AS bertepatan dengan jadual / musim pembayaran berbagai bisnis.


Dalam dunia investasi, korporasi Indonesia yang tercatat go public di Bursa Saham IDX banyak diperebutkan investor asing. Itulah sebab beberapa waktu lalu masalah kuota yang dijual (free float) menjadi bahasan panas. Peminat banyak tapi jumlah yang dijual terlampau sedikit.  


MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga pemeringkat saham dunia, dan beberapa lembaga sejenis lainnya seperti FTFE Russel, ikut menyoroti masalah free float ini. 


MSCI mengeluarkan beberapa emiten besar Indonesia dan beberapa lainnya terancam terdepak dari daftar saham-saham recommended dunia yang mereka susun. Hal ini tidak aneh, karena sasaran utama rekomendasi MSCI adalah para raksasa investasi yang biasa bertransaksi dengan nominal super besar, sehingga free float menjadi salahsatu syarat masuk dalam daftar mereka. 


Rilis MSCI yang tidak lagi mencantumkan saham-saham blue chip (saham bonafide)  Indonesia direspon terlalu berlebihan sehingga memunculkan sentimen negatif yang berdampak pada penurunan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Bursa Efek Indonesia (IDX) lebih dari 18% dalam tiga pekan. 


Sentimen negatif dari MSCI bukan satu-satunya variabel yang menekan IHSG. Jargon "sell Indonesia" yang dibuat oleh Boubouras (pejabat K2 Asset Management, sebuah lembaga pengelola investasi berkantor di Australia) pada Juni 2026 dan dipublikasi Bloomberg menekan IHSG sampai ke titik minimum sampai tiba-tiba memantul karena sentimen positif kolaborasi data real ekonomi sehat Indonesia, nasionalisme trader dalam negeri dan rilis terakhir analis ekonomi dunia yang disiarkan  Bloomberg dan Reuters. Jargon "sell Indonesia" berubah jadi "sell Singapura". Mengapa muncul "sell Singapura" akan dibahas pada artikel lain.


Media sosial menggambarkan kondisi tiga pekan terakhir seolah mirip krisis ekonomi 1998. Rencana demo dari sekelompok komunitas mulai dimatangkan, meski kemudian tema-tema berubah karena kondisi kurs dan IHSG yang rebound pada detik-detik terakhir...


Terkhusus para pemuda yang akan menjadi klaster dominan dan produktif pada  populasi Indonesia 2045, wajib memahami situasi dan kondisi bangsa - negara supaya tahu siapa kawan dan lawan : bahwa korupsi ada di segala lini, bisa jadi kita pun bagian dari sistem yang korup itu.


Tolak opsi demonstrasi yang selalu menjadi pintu masuk oknum-oknum perusuh yang membiaskan bahkan menumpulkan perjuanganmu. Cari jalan lain yang lebih cerdas !


Di era secanggih sekarang, apakah demonstrasi masih menarik sebagai instrumen, mengapa tidak bergeser ke digital activism, policy advocacy, atau civic technocracy?


Atas berkat rahmat Tuhan, saat ini "kekuatan baik" sedang dalam posisi dominasi, baik kekuatan dari bagian internal pemerintah sendiri, pers, cendekia, dan pihak-pihak swasta serta masyarakat.  Kekuatan baik itu harus didukung dan diperkuat jangan malah dirongrong. 


Seperti sering diucapkan Presiden, kritik itu baik dan perlu. Maka jadilah bagian dari kekuatan baik, gotong-royong membuat menjadi lebih baik, agar muncul "autokritik" sebagaimana nilai-nilai Pancasila kita.

____________________


Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 













11 Juni 2026

DEMOKRASI ORANG-ORANG BODOH


Seperti terbentuknya keluarga, begitu pula terbentuknya negara. Kepemimpinan Kepala Keluarga berbeda di tiap keluarga, bahkan dalam  sebuah keluarga berbeda pula cara Kepala Keluarga memimpin tiap-tiap anaknya berdasar usia: balita, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. 


Kepada balita dan kanak-kanak, orangtua akan otoriter namun penuh kasih sayang dengan sedikit aturan konsekuensi dan sedikit tugas sederhana untuk yang lebih besar.  Kepada remaja, orangtua mengendurkan otoritasnya dan hanya digunakan bilamana perlu saja dan kadang diisi diskusi disamping penugasan. Kepada anaknya yang dewasa, orangtua layaknya teman yang saling mengisi, saling memberi, dan saling melindungi dalam hidup mencapai tujuan bersama.


Analogi keluarga dan negara-bangsa di atas, dalam ranah demokrasi, tentu saja selalu harus melibatkan suatu dewan atau komite yang mengawasi dan membatasi tindakan eksekutor baik secara moral maupun teknis, untuk menjamin tidak terjadinya otoritarianisme.


Demokrasi yang liberal hanya menjadi lelucon jika diterapkan untuk bangsa "level mental balita dan kanak-kanak". Bahkan Socrates, menilai demokrasi bisa menjadi bumerang untuk bangsa yang belum dewasa. Bagi Socrates, memilih (dalam pemilu) adalah keterampilan yang membutuhkan edukasi sistematis.


Bangsa yang tidak terampil memilih sama saja seperti memberi kesempatan penumpang awam untuk ikut menahkodai kapal di tengah hempasan ombak samudera.


Demokrasi di dunia Barat pertama kali muncul di  era Solon pada 594 SM meski untuk jabatan tinggi belum diijinkan bagi masyarakat kelas bawah, disusul era Socrates abad ke-5 SM namun hanya meliputi penduduk kota bagi pria dewasa, tidak menyentuh kaum perempuan dan budak. Kemudian hilang, muncul kembali dalam rupa yang liberal tercatat sejak peristiwa Glorius  Revolution 1688 di susul Revolusi Perancis 1789.


Di belahan dunia timur, meski menjadi tempat lahirnya agama-agama terbesar dunia dan lahirnya para Nabi dan peradaban tertua, namun catatan tentang demokrasi sangatlah minim.   


Demokrasi formil di timur pertama kali tercatat abad ke-6 SM di India. Raja melakukan musyawarah yang disebut Ganasangha tentang UU, anggaran, dan politik dengan perwakilan rakyat di suatu majelis bernama "santhagara".  Demokrasi di belahan timur pun penuh dinamika sempat hilang kemudian muncul kembali. 


Menariknya, model demokrasi paling awal dan masif di seluruh dunia sebetulnya adalah musyawarah mufakat yang tidak menyisakan kelompok minoritas yang tertindas, bukan  demokrasi liberal "satu individu satu suara" lalu menciptakan kelompok "kalah" yang menjadi oposan.


Apa kira-kira kurangnya demokrasi musyawarah mufakat bagi Eropa abad ke-17 yang tiba-tiba menciptakan demokrasi model baru dimana dalam politik kedudukan profesor dengan segala pengetahuannya jadi setara dengan pria yang tidak paham literasi: demokrasi yang menistakan  kebijaksanaan?


Bukankah tanpa dipimpin kebijaksanaan, demokrasi akan dipimpin kekuatan (kekuasaan dan uang). Barangkali, demokrasi liberal adalah antitesa dari praktik monarki absolute era tersebut yang gagal menyenangkan rakyat. 


Socrates tidak meracau, demokrasi liberal memang betul-betul jadi lelucon (mobocracy)  bagi bangsa yang pendidikan politik dan  kesadaran politiknya rendah. One man one vote itu hanya berlaku bagi  warga negara yang setara secara intelektual. 


Negara harus menentukan indikator sahih tentang kedewasaan politik warga negaranya, kemudian menyesuaikan model demokrasinya, agar demokrasi liberal tidak menjadi kegiatan yang konyol sementara harkat martabat kemanusiaan tetap harus dijaga. 


Bukan demokrasi liberalnya yang salah, semua model demokrasi hanyalah alat, namun penggunalah yang harus menentukan alat yang tepat sesuai situasi dan kondisinya saat itu. 


Di Indonesia, meski pada awal berdirinya pada 1945 dinyatakan tegas dalam Pancasila dan Pembukaan UUD45 bahwa demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi musyawarah mufakat melalui perwakilan, namun kenyataan hari ini mempraktikkan demokrasi liberal "one man one vote" yang mahal dan ternyata tidak efektif menjaring elite politikus terbaik bagi bangsa peringkat ke-4 populasi terbesar dunia ini. 


Jika demokrasi menjadi cara mencapai tujuan negara, maka cara yang ditempuh bangsa- negara Indonesia saat ini adalah benar-benar bermasalah. 


Saya tidak mengagungkan model demokrasi musyawarah mufakat, hanya tidak ingin hajat  sebuah bangsa dibuat lucu-lucuan, lalu waktu akan menyebut bahwa demokrasi kita adalah demokrasinya orang-orang bodoh. ()

_____________

Penulis

Hamdan A. Batarawangsa





  

05 Juni 2026

DUNIA DIKENDALIKAN PERSEPSI


Sekali lagi, kita ditunjukan betapa dahsyatnya  pengaruh persepsi. Persepsi mampu mengalahkan logika taktis : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IDX dan kurs rupiah terhadap dollar yang anjlok ditengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik. 


Bukan cuma Indonesia, India dan Korea Selatan juga mengalami hal serupa. Pertumbuhan ekonomi India, Korea Selatan, dan Indonesia adalah yang tertinggi di dunia pada 2025-2026 (5,6-7%). 


Jatuhnya IHSG dan kurs adalah akibat sentimen negatif pelaku pasar, ada arus kuat yang mengendalikan persepsi komunal mereka. Sentimen ini tidak selalu rasional, seringkali justru sangat tidak rasional. 


Kesadaran manusia tentang kekuatan persepsi dalam mengendalikan massa setidaknya dimulai sejak Paus Gregorius XV yang pada 1622 membentuk Conggregatio de Propaganda Fide, suatu komite khusus untuk membentuk persepsi massa dalam rangka membendung reformasi Protestan.


Maximilian Robespierre pada 1789 melalui pamflet, surat kabar, dan festival, merekayasa persepsi publik untuk menormalisasi eksekusi kepada musuh politik ( reign of terror) yang pada akhirnya melahirkan Revolusi Perancis. 


Pada 2016 terjadi Skandal Cambridge Analytica, yaitu pencurian data pribadi pengguna Facebook untuk memetakan psikologis pemilih pada pemilu AS. Cambridge Analytica membuat iklan propaganda yang langsung dikirim ke lini masa secara personal untuk mempengaruhi persepsi.


Belum lama (April 2026), Menteri Keuangan RI, Purbaya,  menyatakan bahwa Bank Dunia (World Bank) membuat "dosa besar" karena menyebarkan SENTIMEN NEGATIF tentang Indonesia melalui data yang ngawur. 


World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia (yang seharusnya 5,6%) menjadi hanya 4,7% dalam rilis Laporan East Asia and Pacifik Economic Update 2026, tak lama setelah lembaga indeks saham swasta bonafide, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan beberapa emiten besar saham Indonesia dari daftar mereka karena masalah free float (jatah saham yang dijual) yang dianggap terlalu sedikit. 


Purbaya menyebut yang dilakukan World Bank sebagai DOSA BESAR karena beliau memahami betul bahwa "sentimen pasar" (persepsi pelaku pasar) adalah sebuah variabel independen yang mampu mengalahkan variabel fundamental dalam perhitungan ekonomi makro.


Protes Menkeu Purbaya tentang rilis yang salah data dijawab oleh World Bank dengan permintaan maaf.  Namun di media sosial, laporan "ngawur" yang membakar sentimen negatif ternyata menjadi jauh lebih viral daripada permintaan maafnya (bullshit asymmetry principle = energi yang dibutuhkan untuk meluruskan/melawan kebohongan selalu lebih besar daripada energi untuk memproduksinya).  


Dosa besar Wold Bank  terlanjur "andil" dalam kejatuhan IHSG dan kurs rupiah saat ini (Juni 2026).  Tentu saja, ada variabel lain yang ikut bekerja seperti geopolitik dan kebijakan lembaga keuangan global yang tidak menguntungkan. Semua variabel itu seolah bekerjasama, datang bersamaan sebagai badai sempurna yang menjatuhkan (trigger) dan memperparah sentimen negatif.


Persepsi publik sebagai dua mata pisau yang tajam, mutlak harus dimanfaatkan negara untuk mematahkan sentimen negatif lalu  menumbuhkan sentimen positif sebesar-besarnya guna kepentingan pewujudan  tujuan bangsa-negara Indonesia. Bukan pembungkaman, namun lebih pada menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi positif, sewajarnya kehidupan yang demokratis.


Pengelolaan persepsi publik sebetulnya bukan hal aneh, Bradshaw dan Howard (2020) dalam Industrialized Disinformation: 2020 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation melaporkan bahwa ruang digital saat ini sangat disetir dan dikendalikan oleh kepentingan kelompok tertentu.


Indonesia sebagai negara Pancasila bagi bangsa yang religius, humanis, dan tepa-silira,  menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi persepsi positif adalah sebuah tuntutan moralitas.


Upaya membentuk persepsi positif adalah perjuangan luhur yang mendesak, yang harus segera dilakukan negara terutama melalui  instansi yang terkait dengan pertahanan negara, pendidikan masyarakat, komunikasi, dan digital, secara terpadu dengan mendalami psikologis massa disamping hanya menyampaikan fakta bukti struktural.   


Dunia dikendalikan persepsi adalah sebuah kenyataan.


________________


Penulis:

Hamdan A. Batarawangsa




03 Juni 2026

KEMUNDURAN PERADABAN: BERTUMBUH-KEMBANGNYA KEKERASAN


Kekerasan adalah warisan purba saat manusia memaksakan keinginannya. Idealnya kekerasan adalah upaya terakhir pembelaan diri (defensif)   bukan opsi untuk aksi (ofensif) apapun.


Kekerasan adalah output dari gagal atau matinya dialektika. Kebodohan mempersempit ruang dialektika dan memperlebar jalan kekerasan. Celakanya, banyak peneliti melaporkan  penurunan kecerdasan di berbagai negara maju.


Penurunan kecerdasan / kebodohan disebabkan oleh banyak hal, diantaranya : 


Michel Desmurget (2020) dalam Screen Damage : The Digital Cretin Factory melaporkan  bahwa baru kali ini dalam sejarah ditemukan populasi (di Perancis) dimana IQ anak lebih rendah dari orangtuanya.


Menurut Desmurget, rendahnya IQ anak  ini akibat dari intensitas menggunakan gadget yang berlebihan hingga  syaraf otak tidak berkembang optimum. Menggunakan gadget yang berlebihan merusak kualitas tidur dan mengurangi komunikasi verbal yang membentuk pondasi logika.


Alex Richardson dkk (2020) dalam They Are What You Feed Them menyatakan bahwa makanan pabrik masa kini menyebabkan neuroinflamasi (peradangan syaraf otak) yang mengganggu perkembangan kognitif pada masa pertumbuhan emas.


Selain makanan, penurunan kecerdasan juga bisa terjadi karena polusi neurotoksik seperti timbal, mikroplastik, dan merkuri (Grendjean dan Landrigan dalam Developmental Neurotoxicity of Industrial Chemicals, 2006. 


Secara sosiologis, kebodohan juga disebabkan oleh hoax. Hoax menghancurkan struktur berpikir logis, hoax juga melahirkan kebodohan berbasis keyakinan. 


Nicholas Carr (2020) dalam The Shallows : What the Internet is Doing to Our Brains menulis bahwa hoax memogram ulang otak manusia dan sifat skimming pada media sosial menurunkan kecerdasan emosional dan kognitif manusia. 


Sander Van der Linden (2023) dalam Foolproof: Why Misinformation Infects Our Minds and How to Build Immunity menyatakan bahwa hoax dirancang menggunakan algoritma media sosial untuk mengeksploitasi bias kognitif, menurunkan akurasi nalar analitis sehingga kesulitan membedakan fakta-fiksi, dan secara umum mendegradasi intelektual.


Kekerasan brutal terjadi pada Perang Dunia I dan II, dan yang paling brutal genosida di Gaza sejak 2025. Semua kekerasan besar tersebut pada hakekatnya disebabkan "kebodohan" elite dan pemimpin dunia (menyebabkan kerusakan fisik dan mental bukan hanya bagi pihak lawan namun juga pihak sendiri) serta  lemahnya diplomasi (dialektika). Kekerasan dijadikan opsi ofensif memaksakan kehendak.


Masifnya laporan penurunan kecerdasan masyarakat saat ini adalah signal semakin meningkatnya kekerasan di masa depan. 


Di masa sekarang, kekerasan tidak hanya berupa fisik namun juga verbal dan --setuju dengan teori Structural Violence-nya Johan Galtung-- tindakan mengisolasi manusia lain dari akses kehidupan dasar.


Pada era gelombang ke-6 Siklus Kondratief, yaitu era teknologi kecerdasan buatan, manusia harus berjuang bukan hanya untuk pemenuhan kebutuhan hidup dasar, namun juga agar tetap menjadi "manusia". Ini lebih serius dari sekedar kehilangan arah peradaban.


Arah peradaban secara berkala diluruskan oleh para "nabi" yang sekaligus melarang kekerasan ofensif : Adam, Noah, Abraham, Loth, Moses,  Muhammad, bahkan oleh Budha dan Kong Fu Tsu.  Sebagai subjek, manusia dituntun untuk terus mengeksplorasi potensinya yang luar biasa namun dalam koridor etik dan spiritual yang membedakannya dengan binatang, menjadi manusia dengan kemanusiaannya. Namun hukum entropi seolah berlaku juga untuk peradaban: selalu menarik kembali ke arah kekacauan.


Ketika segala hal berjalan menuju kehancuran, manusia sesungguhnya ditantang untuk mengembalikan, mempertahankan, dan meningkatkan kualitas ketertiban yang beradab, yang dalam siklus kehidupan berarti mengarahkan dan berusaha bertahan di area  puncak. 


Hal strategis apa  yang harus dilakukan untuk menekan kekerasan selain mendorong kehidupan dialektik di masyarakat? Pendidikan macam apa yang mendesak saat ini saat peran  masyarakat sebagai "sekolah informal" telah melemah ? Apa yang harus dilakukan setiap warga dunia yang sadar?  Apakah langkah pertama adalah mengajak warga dunia untuk mendesak penghapusan senjata pemusnah massal ? 

 

Para cendekiawan dunia sebagai pemegang estafet para "nabi" sudah tahu jawaban dan solusi untuk masalah global, yang mereka butuhkan hanya "bersatu" untuk mencetuskan sebuah hasil mufakat. Mereka adalah orang-orang paling cerdas di bumi dalam segala bidang ilmu, selayaknya menjadi "raja" dalam komunitas bumi tidak di bawah penguasa dan pemilik modal. Untuk itu sebetulnya mereka juga tahu caranya.


Upaya menekan kekerasan adalah kerja esensial karena tingkat kekerasan ofensif adalah indikator tinggi-rendahnya standar kemanusiaan dari tiap era peradaban.

________________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa





14 Mei 2026

ATEIS ESKAPIS


Ketika ada kitab suci berkali-kali menyuruh pembacanya berpikir, dan banyak firman Tuhan yang terkonfirmasi secara sains, maka  intelektualitas bukan lagi jadi alasan logis manusia untuk ateis.


Hal-hal emosional : kemarahan atau ketidaksukaan atas  perilaku sebagian penganut agama yang menampilkan radikalisme dan kemunafikan, hasrat kebebasan dari batasan moral agama, serta kekecewaan pada kehidupan dimana Tuhan seolah tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, mungkin lebih relevan menjadi alasan logis kecenderungan menjadi ateis (alasan lainnya, namun tidak berguna dibahas, adalah karena ketidakpedulian).

















Bukan Tuhan tak hadir atas nasib buruk dan penindasan terhadap sesama, namun memang Tuhan menjadikan penderitaan sebagai cara untuk memuliakan manusia. Tedeschi dan Calhoun dalam Posttraumatic Growth: Conceptual Foundations and Empirical Evidence (Jurnal: Psychological Inquiry, 2004) menyatakan bahwa penderitaan akan meningkatkan kekuatan personal dan apresiasi hidup yang lebih tinggi.  Hal serupa didukung  oleh Dabrowski dalam Positive Disintegration (1964), Southwick dan Charney dalam The Science of Mastering Life's Greatest Challenges, dan Frankl dalam Man's Search for Meaning (1946).


Penderitaan adalah stresor evolusioner yang membuat sistem psikologi manusia menjadi dinamis. Penderitaan menghancurkan struktur mental yang kaku dan memaksa untuk beradaptasi, menciptakan individu yang lebih kompleks secara kognitif, lebih tangguh secara emosional, bahkan bisa jadi semakin kuat secara badani.


Bahkan Friedrich Nietzsche, filsuf ateis yang baru mencapai "separuh syahadat" ,  dalam "Sabda Zarathustra" menolak nihilisme, baginya hidup adalah adaptasi tanpa henti untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. Moralitasnya adalah menjalani hidup dengan suka-cita, "penderitaan" adalah latihan untuk memperkuat diri. 


Jangan jadikan penderitaan sebagai alasan untuk menolak Tuhan. Menjadi ateis karena kemarahan atas nasib buruk  hanyalah sebuah bentuk pelarian (eskapisme) dan kerapuhan eksistensial.


Kehadiran Tuhan tidak ditemukan dalam ketiadaan penderitaan, melainkan dalam ketangguhan jiwa yang mampu bangkit dari reruntuhan ego untuk menjadi pribadi yang lebih utuh dan mulia.


_____________



Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 












13 Mei 2026

ZARATHUSTRA SANG NABI KESEPIAN

Sebelumnya ia mengatakan bahwa tuhan sedang sekarat, kemudian  berteriak bahwa tuhan telah mati. Friedrich Nietzsche berkesimpulan bahwa masyarakat pada jamannyanya bukan menyembah Tuhan, tapi menyembah berhala. Tapi tidak seperti Ibrahim yang mencari Tuhan sejati, Nietzsche yang terpenjara dalam eksistensialisme-voluntaristik hanya sampai di separuh syahadat : laailaha ... (tak ada tuhan...).

Namun ia mencintai kemanusiaannya, tidak terima bahwa eksistensinya adalah kesia-siaan, ia menolak nihilisme. Manusia harus punya moralitas original yang bukan ajaran berhala. Bagi Nietzsche manusia harus menjadi subjek, bukan objek dari takdir, meski ia mengakui tidak mampu sepenuhnya mengendalikan hidup.


Maka ia menulis buku berjudul "Sabda Zarathustra" yang melukiskan mahaguru Zarathustra sebagai matahari sore di pantai, yang harus terbenam di ufuk barat, untuk menerangi di kedalaman sisi gelap wilayah lain...


Zarathustra berkata bahwa manusia adalah kondisi dalam  perjalanan antara binatang dan Ubermensch (manusia paripurna).


Moralitas-moralifas Zarathustra:

(1) Baik dan buruk tidak ditentukan ajaran dan norma manapun selain pertimbangan subjektif pribadi; hal ini membutuhkan kreativitas, kekuatan, dan keberanian atas kedaulatan diri; membuang mental kawanan,

(2) memuliakan kehidupan fisik : kesehatan, keindahan, kekuatan,

(3) mencintai kehidupan dan suka-cita atas pengulangan momen kehidupan berkali-kali.


Ubermensch dalam Zarathustra adalah kondisi ideal yang tidak pernah dicapai, karena hidup dipandang sebagai proyek pengembangan diri yang tak pernah selesai untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. 


Pemikiran Nietzsche dalam Zarathustra tidak realistis dalam kehidupan sosial. Ia sukses dengan bombastis menghancurkan dogma-dogma etik yang dominan di Eropa pada jamannya, namun kurang brilyan dalam memberikan solusi yang membumi, bukan karena kegagalan intelektual namun penolakan prinsip atas segala kolektivitas yang menyeragamkan manusia. 


Zarathustra ala Nietzsche seperti nabi yang kesepian, ia menolak jadi pemimpin bagi pengikut, tapi ia ingin menjadi kompas bagi pengembara yang siap tersesat.

______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

11 Mei 2026

KRONOLOGI KERUNTUHAN RUPIAH, KOMBINASI BADAI YANG SEMPURNA

Agustus 1997, iklim di Indonesia sedang panas dan kering.  Kemarau panjang menampilkan antrian rutin di sumber-sumber air sejak pagi buta hingga tengah malam. Ba'da sholat shubuh, tempat wudhu dan toilet mushola-masjid banyak yang berubah jadi MCK  dan tempat cuci umum ibu-ibu sekampung. 


Pada Mei-Agustus 1997, George Soros, seorang spekulan valas internasional berkewarganegaraan ganda Hungaria-AS, melihat Bath Thailand sebagai mata uang yang rapuh dan mudah dimainkan. 


Bulan itu juga ia berhasil meminjam uang dalam BATH  tanpa jaminan  (unsecured credit lines) yang nilainya setara AS$ 10 Milyar dari bank-bank internasional di Singapura dan AS,  dan langsung menjualnya secara masif (short selling) melalui broker Singapura (laporan IMF September 1997, Kaufman dalam Soros : The Life and Times of a Messianic Billionaire, dan Wall Street Journal-Bloomberg, September 1997).   


Soros melepas  Bath dan menukarnya dengan dollar AS. Jual "dadakan" yang dilakukan Soros membuat nilai Bath turun signifikan hingga akhirnya ia membeli kembali bath di harga murah. Selisih nilai Bath itulah profit yang didapat Soros.


Apa yang terjadi di Thailand ternyata menular secara psikologis ke Indonesia (Contagion Effect). Rumor rupiah akan menjadi target Soros berikutnya memunculkan sentimen negatif di kalangan trader valas, para pengusaha lokal yang memiliki hutang dalam dollar AS, dan para konglomerat. Mereka semua melepas rupiah dalam jumlah besar dan menukarnya dengan dollar AS secara masif.


Banjirnya rupiah dalam jumlah besar dalam waktu singkat membuat guncangan hebat di pasar valuta asing, tiba-tiba nilai tukar rupiah melorot dari Rp.2400 menjadi Rp. 2600 per AS$,  turun 8% hanya dalam 24 jam.


Longsornya kurs rupiah secara tiba-tiba itu  memunculkan aksi "jual panik"  mata uang Indonesia lebih dalam. Pada 14 Agustus, rupiah menjadi Rp.2855 per dollar AS dan terus melemah hingga penutupan pasar, turun nyaris 20% dalam 14 hari.  


Untuk menahan nilai rupiah, Bank Indonesia (BI)  melakukan aksi "beli rupiah" menggunakan dollar AS sejak beberapa hari sebelumnya, namun gagal. Rupiah terus melorot sementara cadangan  dollar AS terkuras habis. 


Pada 14 Agustus itu, BI mengumumkan menghentikan intervensi dan membiarkan pasar bergerak bebas (free floating exchange rate system) yang ternyata menjadi awal malapetaka. Pada Juni 1998, nilai rupiah menyentuh Rp.17.000 per dollar AS, sebelum akhirnya melenting naik ke Rp.7000 menutup tahun 1998. 


Perubahan nilai rupiah terhadap US$ 2026 relatif moderat tidak sama dengan peristiwa 1997-98











Selain faktor sentimen negatif dan strategi BI yang salah, kejatuhan rupiah juga disebabkan fundamental keuangan yang buruk : cadangan devisa BI terlalu sedikit; besarnya hutang dollar jangka pendek pihak swasta sementara income mereka dalam rupiah tanpa hedging/asuransi nilai tukar untuk proyek jangka panjang; dan bank milik konglomerat terlalu banyak membiayai perusahaannya sendiri melebihi batas maksimum sehingga menyebabkan kredit macet.  


Longsornya rupiah pada 1997-1998 disebabkan  kombinasi sempurna 3 hal strategis yang menghancurkan di atas. Adapun saran IMF menutup 16 bank tanpa jaminan pada November 1997 menambah ruwet situasi dan kondisi, dimana  masyarakat  akhirnya ramai-ramai menarik dana dari semua bank di tanah air.


Hal-hal tidak realistis seperti sentimen pasar, terbukti menjadi pencetus krisis yang serius pada negara dengan fundamental dan struktur ekonomi yang keropos. 


Bahkan pada negara kuatpun, agenda nasional seperti pemberantasan korupsi, bisa sangat terganggu karena propaganda "sentimen negatif" media pada isyu-isyu ekonomi dengan penyebaran narasi ambigu atau "narasi sesat yang siap untuk dikoreksi" sambil mempermainkan emosi masyarakat (netizen) yang lugu untuk menciptakan suasana gaduh sehingga mempengaruhi psikologis pelaku pasar yang membenci pergolakan. Soros berkata bahwa persepsi massa-meski dibangun dari kekonyolan dan kebohongan-mampu mengendalikan trend pasar bebas di bursa saham dan valas.


Tahun 2026 ini nilai tukar rupiah kembali menyentuh Rp.17.000 namun dalam kondisi moneter yang berbeda.


Saat ini kita patut bersyukur atas pertumbuhan 5,6%; yang tertinggi di negara G20, dengan cadangan devisa hampir US$150 Milyar dan suku bunga moderat.


Jeffrey Sachs, ekonom papan atas dunia, yakin Indonesia cemerlang, hal ini didukung pula oleh siklus utama ekonomi Kuznets dan Kondratief, yang menjadikan Indonesia anomali dunia bersama India dan Vietnam.


Kurs Rp.17.000 per dollar AS disebut UNDERVALUE oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang berarti sedang dalam bidikan spekulan untuk dibeli, karena fundamental ekonomi Indonesia yang kuat akan membuatnya memantul naik dalam waktu dekat. Kondisi UNDERVALUE yang singkat ini semoga bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menggenjot ekspor setinggi mungkin.

__________________


Hamdan A. Batarawangsa
Praktisi Pasar Modal