Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

06 Mei 2026

DARI DARMASIKSA KE SIKSAKANDA


Nama Darmasiksa ada dalam buku berjudul Amanat Galunggung yang ditulis oleh Atja dan Saleh Danasasmita tahun 1981, awalnya berupa laporan penelitian pada objek naskah Sunda kuno yang diberi nama Kropak 632, suatu naskah berbahan daun nipah, yang awalnya berada di situs Ciburuy, Garut.


Berdasar uji paleografi, linguistik, karbon, dan  kontekstual, Kropak 632 dibuat sekitar Abad ke-15 namun isi naskah menceritakan tentang peristiwa pada abad ke-12, berkenaan dengan tokoh bernama Batari Hyang, seorang Ratu-Resi (Raja Pandita)  yang memberi wasiat pada anaknya, Rakeyan Darmasiksa yang menjadi Raja di Saunggalah (Galunggung), beserta seluruh rakyatnya. 


Prof. Ayatrohaedi dalam buku Sundakala yang mengulas Naskah Wangsakerta (naskah abad ke-17 berjudul asli Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara) menulis bahwa Darmasiksa adalah Raja Saunggalah (Galunggung) yang berumur panjang  (1150-1297) dan berkuasa selama 122 tahun (1175-1297). Pada 1275 menggantikan mertuanya, Prabu Darmakusumah, menjadi raja Sunda Galuh (gabungan Priangan Barat dan Priangan Timur hingga Brebes) yang beribukota di Pakwan (Pakuan Pajajaran, Bogor). 


Dalam  Naskah Wangsakerta  yang diulas Ayatrohaedi ditulis bahwa Darmasiksa adalah kakek dari Raden Wijaya pendiri Majapahit. Setelah ayah Raden Wijaya, Jayadarma anak dari Darmasiksa, wafat, Raden Wijaya dibesarkan  keluarga ibunya di Singasari. Raja Singasari, Kertanegara, adalah sepupu dari ibu Raden Wijaya, Dyah Lembu Tal anak Mahisa Campaka.


Batari Hyang, ibunda Darmasiksa, yang berarti adalah nenek buyut dari Raden Wijaya terabadikan namanya dalam prasasti Geger Hanjuang, Linggawangi, Tasikmalaya, bahwa pada tahun 1111 Masehi mengubah status kebataraan (wilayah otonom spiritual) Galunggung menjadi kerajaan. Kemudian pada penobatan Darmasiksa menjadi raja, Batari Hyang memberi wasiat.


Wasiat Batari Hyang kepada Darmasiksa dalam Kropak 632 yang kemudian disebut "Amanat Galunggung" bukan cuma pesan keluarga kepada Rakeyan Darmasiksa, namun juga merupakan konstitusi moral negara tentang kedaulatan, patriotisme, identitas, dan etika sosial :


1. Menjaga identitas dan kehormatan Kabuyutan (kedaulatan),

2. Menghormati leluhur sebagai sumber eksistensi (loyalitas),

3. Etika kepemimpinan yang berasaskan darma (integritas),

4. Melarang perebutan kekuasaan/kudeta (stabilitas), dan 

5. Kewajiban menjaga persatuan (solidaritas).


Perlu diketahui Batari Hyang bukanlah Batara Galunggung pertama dan terakhir. Para Batara Galunggung, setidaknya sejak abad ke-8, disebut-sebut adalah tokoh yang meresmikan (nu ngabiseka) para raja yang berkuasa di kerajaan Galuh. Dalam "Carita Parahyangan" ditulis pada sekitar abad ke-8  Batara Semplak Waja Galunggung meresmikan Rahyang Mandiminyak putra Raja Wretikandayun sebagai raja Galuh yang baru. 


Kebataraan Galunggung meredup secara perlahan dan berakhir kemungkinan karena beberapa sebab, diantaranya runtuhnya kerajaan Sunda-Galuh pada abad ke-16 yang selama ratusan tahun telah memposisikan Kebataraan Galunggung sebagai wilayah sakral, masuknya Islam yang secara substansi ideologi dan moral sangat klop dengan ajaran Sunda, dan  perubahan politik terutama pada era kolonial yang mengubah status daerah otonom Galunggung menjadi unit administratif biasa. 


Pada abad ke-16, bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Sunda Galuh dan meredupnya Kebataraan di Galunggung, sekelompok Resi melakukan upaya kodifikasi besar-besaran terhadap seluruh kearifan lokal Sunda. Hal ini diketahui melalui temuan naskah kuno lain, yaitu Kropak 630 berangka tahun 1518, berjudul "Siksakanda Ng Karesian" yang berarti "Kitab Ajaran Para Resi" atau secara harfiah berarti "Buku Tentang Hidup Bijaksana".


Isi Siksakanda Ng Karesian menyinggung banyak aspek kehidupan yang intinya  menuju pada keharmonisan. Pokok-pokoknya sebagai berikut :

1. Tentang segala hal, bertanyalah hanya pada ahlinya,

2. Membangun integritas pribadi dimulai dari menjaga keinginan dan ucapan, agar tidak membawa bencana bagi diri sendiri dan orang lain, 

3. Konsep pembagian kekuasaan : Ratu (politik) patuh pada Resi (ilmu, hukum, moral), dan Resi patuh kepada Rama (pemangku adat, pemelihara akar budaya), dan

4. Bekerja secara profesional, sekecil apapun pekerjaannya, akan membawa kebaikan.


Inti pesan ajaran Siksakanda Ng Karesian adalah "belajarlah dari ahlinya, kendalikan dirimu, dan hiduplah sesuai kapasitasmu untuk menjaga harmoni dunia".



"Dari Darmasiksa ke Siksakanda" menunjukan bahwa peradaban Sunda memiliki kontinuitas intelektual yang panjang, dan bangsa Sunda telah memiliki sistem literasi dan etika yang mapan sejak ratusan tahun lalu. 


Amanat Galunggung dan Siksakanda Ng Karesian  adalah dwitunggal pusaka intelektual yang menjadi jangkar etik dan kompas sosiologis bagi peradaban Sunda, yang populer disebut ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan (Sunda asli). 


____________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa


Menyambut Hari Tatar Sunda 18 Mei 2026.







 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.