Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

04 Juli 2026

PERANG PERSEPSI: PERANG ASIMETRI PALING RADIKAL















Bukan pengetahuan baru bahwa di Eropa dan Amerika Serikat, negara-negara yang dilabeli "kebebasan bersuara", media justru sangat dikendalikan Oligarki Global (Bagdikian, 2004, The New Media Monopoly; dan  Rothkopf, 2008, Superclass: The Global Power Elite and the World They Are Making).  


Disana, keberagaman opini sehari-hari bisa tiba-tiba sirna, berganti tagline  yang luar biasa seragam, "media oposisi" seolah hilang sesaat.


Saat ini media massa adalah alutsista yang lebih efisien daripada operasi artileri dan kaveleri.


Tidak menutup mata bahwa negara Indonesia sudah membuat kebijakan dan ada upaya counter perception, namun terlampau lambat menyadari dan belum cukup efektif.  Saat ini masih banyak narasi pembodohan dan kebencian yang lolos ke masyarakat. Dalam perang persepsi ini, posisi pertahanan Indonesia masih sangat lemah.


Perang persepsi  bukan lagi sekedar "perang pemikiran" dimana terjadi dialektika yang justru bagus bagi peradaban manusia. Perang persepsi ini sangatlah liar, dunia bisa membaik atau  terjerembab ke kondisi biadab bergantung pada siapa yang berhasil mendominasi. 


Persepsi bisa mengubah cara berpikir : berpikir lebih baik atau justru "gagal berpikir" (logical fallacy) karena mengambil "fakta dan data palsu"  sebagai asumsi berpikir (failure of judgment). Persepsi melahirkan opini. Opini melahirkan tindakan. Tindakan menentukan keadaan. 


Perang persepsi ini sangat radikal karena langsung menyerang mental manusia, dan  menyasar berbagai aspek:  ekonomi, politik, dan budaya suatu negara. 


Ekonomi negara bisa melesat terbang atau terdeprisiasi bahkan ambruk hanya karena salah persepsi : fluktuasi kurs, harga saham, dan iklim investasi sangat dipengaruhi persepsi pelaku bisnis. Indonesia dan India adalah contoh yang baik untuk tahun 2026 ini : fundamental ekonomi yang sangat baik dirongrong oleh sentimen negatif pelaku pasar sehingga nilai mata uang, indeks harga saham gabungan, dan iklim investasi mengalami tekanan kuat.


Dalam politik, perang persepsi ini bisa mengkampanyekan sosok politikus alternatif yang minim jejak prestasinya namun disisi lain juga mampu memadamkan kecemerlangan tokoh lain yang menjadi lawannya.  


Perang persepsi bisa diarahkan untuk persatuan nasional dan mendukung pemerintah, namun juga bisa digunakan untuk mengikis kepercayaan publik. 


Perang persepsi bisa mengubah moral dan budaya masyarakat. Kampanye LGBT yang mustahil ada di tahun 1980an di Indonesia, pada 2026 ini muncul meramaikan media massa, meski--alhamdulillah--mendapat penolakan keras dari masyarakat.


Pada prinsipnya, pemain utama perang persepsi ini adalah negara yang berusaha melindungi eksistensi dan kepentingan bangsanya melawan  pemegang uang besar : oligarki global, oligarki lokal, dan koruptor yang notabene adalah oknum-oknum di "dalam" negara (yang berkhianat). 


Negara Republik Indonesia harus berkolaborasi dengan kekuatan rakyat,  mutlak wajib memenangkan perang ini atau akan jadi pecundang di era emas 2045.


Posisi masyarakat adalah sebagai pihak yang diadu di lapangan, entah di medan perang real atau medan perang dunia maya. KECERDASAN dan MORAL akan menjawab hasil akhirnya. 

___________________________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

24 Juni 2026

KHAWARIZME: ANTI DIALEKTIKA PERTAMA DALAM PERADABAN ISLAM


Sumber gambar : Wikipedia









Istilah "dialektika" lebih akrab di alam sosialis.  Di alam kapitalis, mereka menggunakan istilah "berpikir kritis" meski maknanya sama : keterbukaan untuk dialog dan kompromi, meski tidak melulu melahirkan kompromi berupa sintesis. Dalam tulisan ini selanjutnya saya menggunakan istilah "dialektika".


Tan Malaka (Madilog) dan John Dewey (How We Think) setuju bahwa dialektika sangat penting bagi sebuah bangsa. Tan Malaka menyatakan bahwa dialektika adalah cara melahirkan bangsa yang maju sekaligus mewujudkan tujuan negara.  Bagi Dewey, dialektika adalah cara hidup yang demokratis. 


Freire (1968) dalam Pendidikan Kaum Tertindas menyatakan bahwa dialektika adalah kebutuhan eksistensial masyarakat.


Sandel (2020) dalam The Tyranny of Merit : What's Become of the Common Good menyatakan bahwa dialektika adalah cara mendiskusikan masalah-masalah besar moral dan kebaikan bersama. Dialektika menghindarkan kita dari polarisasi pemikiran dan melatih kerendahan hati intelektual.


Anti dialektika adalah racun bagi lembaga pendidikan dan penyebab perpecahan di masyarakat (Sandel). Anti dialektika mematikan kreativitas dan daya kritis, sebagai tindakan nekrofilik yang melawan kehidupan (Freire).  Anti dialektika menyebabkan masyarakat mudah dimanipulasi oleh propaganda. Anti dialektika adalah musuh utama dari pertumbuhan intelektual manusia, sekaligus ibu dari otoritarianisme (Dewey).


Dalam peradaban Islam (sejak era berdirinya Kota Madinah abad ke-6 hingga runtuhnya Kekhalifahan Turki Utsmani abad ke-20), fenomena anti dialektika pertama dilakukan oleh kaum Khawarij, sebuah komunitas yang kini lebih populer sebagai aliran pemikiran-sikap-perilaku yang anti dialektika, khawarizme. 


Khawarij artinya membelot. Pada awalnya Khawarij disematkan pada sekelompok (ribuan orang) yang membelot dari barisan pendukung Khalifah Ali bin Abi Thalib.


Hal yang membuat Khawarij ini berbahaya bukan soal pembelotannya, tapi struktur sikap dan perilakunya yang anti dialektika, meski secara moral dan intelektual mereka berada di kondisi  memprihatinkan yang butuh pencerahan.  Khawarij mengedepankan cara-cara kekerasan.


Pembunuhan Khalifah Utsman dan Khalifah Ali : Ikhwal Munculnya Khawarizme


Sejarah tentang era Utsman dan Ali berdasar pada sumber primer dari perawi Abu Mikhnaf, Sayf bin Umar, dan Al Waqidi pada abad ke-8, kemudian ditulis oleh Ibnu Shihab Al Zuhri (w. 124 H) dalam Al Maghazi atau Kitab Al Tarikh, dan penulis-penulis lain setelahnya. 

  

Pada jaman pemerintahan Khalifah Ali, kaum muslimin amat sering dihadapkan dengan intrik-intrik perebutan kekuasaan.  Ketika Khalifah Utsman bin Affan dibunuh dan segera digantikan Ali bin Abi Thalib, kesyahidan Utsman dijadikan alasan untuk menekan bahkan merongrong pemerintahan Ali, hingga muncul pemberontakan  dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan (masih kerabat Utsman).


Ibnu Saba tercatat sebagai orang pertama yang melakukan memprovokasi massa di awal sejarah peradaban Islam, yang mendapat sambutan tokoh Ghafiqi Al Harb dari Mesir dan Malik bin Al Harits dari Kufah,  hingga terjadi demonstrasi anarkis berujung pengepungan rumah Utsman beberapa kali hingga Utsman terbunuh.


Meski para sahabat terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib dan keluarganya, Abdullah bin Zubair, Abdullah bin Umar, dan lain-lain berupaya meredam, namun Sudah bin Humran dan beberapa lainnya berhasil menyelinap dan membunuh Utsman. Situasi chaos berlangsung hingga beberapa hari setelah Utsman wafat.


Situasi chaos kemudian berganti tokoh, dari Ibnu Saba dkk menjadi Muawiyah bin Abu Sufyan (Gubernur dari Syam/Suriah). Situasi bukan lagi demo anarkis anti Utsman, namun telah berubah menjadi pemberontakan dengan dalih menuntut pertanggungjawaban khalifah baru, Ali bin Abi Thalib, atas kematian Utsman. 


Pemberontakan Muawiyah menimbulkan perang Siffin (Siffin berada di tepi sungai Eufrat, Suriah sekarang) yang hampir dimenangkan pihak Khalifah. Muawiyah tiba-tiba mengajukan tahkim (perundingan damai) yang kemudian diterima Ali.  


Inilah titik paling krusial kemunculan Khawarizme: tawaran tahkim yang diterima Ali dianggap oleh kaum Khawarij sebagai pelanggaran hukum agama. Khawarij berpendapat bahwa hukum bagi pemberontak hanyalah hukuman mati, tidak ada opsi lain. Ali kemudian dikafirkan, dianggap murtad, dan dibunuh di Kufah, Irak.


Beberapa bulan setelah Ali wafat, Hasan putra Ali yang telah di-baiat oleh penduduk Kufah menjadi  pengganti sah kekhalifahan Ali  berinisiatif menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyah dalam sebuah musyawarah untuk mengakhiri perpecahan umat.  


Dalam musyawarah politik, Hasan bin Ali  menyerahkan estafet kepemimpinan kepada Muawiyah dengan syarat memimpin sesuai moralitas Qur'an dan Sunah serta menjamin keamanan para pengikut Ali.


Penutup


Khawarij adalah kaum yang terkenal paling taat beribadah. Namun ketaatan mereka ternyata tidak membuahkan hikmah dan kearifan, malah memunculkan sifat merasa paling mulia, paling benar, paling pandai, dan satu-satunya yang lurus keislamannya. Mereka tak segan mengkafirkan sesama muslim. 


Khawarizme sebagai pola pikir dan pola tata laku masih hidup hingga saat ini. Khawarizme anti dialektika. Bahasa mereka bukan bahasa verbal,  bukan pula bahasa intelektual. Bahasa mereka adalah KEKERASAN.

_______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

13 Juni 2026

MERAWAT KEDAULATAN DALAM PERANG SENYAP EKONOMI












Sejak Pemerintah melontarkan kata "hilirisasi", saya tahu akan makin hebat tekanan berbagai pihak kepada Presiden RI. Hilirisasi adalah kata lain dari "merdeka". Apa namanya jika Indonesia wajib mengirim bahan mentah murah yang harganya pun mereka yang tentukan, kemudian kita wajib membeli barang jadinya dengan harga mahal, kalau namanya bukan penjajahan ?

Bedanya penjajahan dulu dan sekarang, yang sekarang jauh lebih brutal, konyol, sistematis, dan senyap, karena sebenarnya bukan negara menjajah negara, tapi negara dijajah oleh Mafia  Global (tidak semua elite global itu mafia) dengan kapital sangat besar yang bisa menggerakkan negara sebesar AS dan Inggris mengagresi negara lain untuk kepentingannya.


Di tengah konfrontasi perang "senyap" tersebut, pada 2024, Presiden RI yang baru dilantik  melontarkan kembali  frasa yang tidak kurang kerasnya: maklumat perang kepada koruptor dan mafia ekspor-import. Maka bertambah lagi musuh-musuh Pemerintah.


Mega korupsi ribuan trilyun diungkap (kasus tata kelola minyak mentah, kasus tata kelola timah,  mark up harga BBM import, dll), mulai korupsi di BUMN, hingga korupsi di institusi pemerintah sipil dan militer.  


Dalam perdagangan komoditi strategis, rantai bisnis kotor diputus: menyusul pembubaran Petral pada periode sebelumnya, kini dibuat kebijakan eksport satu pintu menyusul temuan penipuan harga (under invoicing) dan penipuan tonase (under weighing) yang dilakukan anak perusahaan yang bertindak sebagai broker di pelabuhan Singapura. 


Semua kecurangan ini menyangkut uang ribuan trilyun yang dikeruk oleh segelintir orang. Under invoicing dan under weighing hanya sedikit dari banyak modus operandi mafia ekspor-import di negara ini.


Perang Pemerintah melawan tiga musuh berduit ribuan trilyun: mafia global, mafia lokal, dan koruptor, harus dipahami bahwa musuh negara tidak pasif, bahkan dengan dana yang besar, mereka mungkin jauh lebih agresif dari pemerintah.


Kita bisa menduga apa saja yang paling mungkin mereka lakukan : menyuap aparat, mengendalikan regulasi, menciptakan kegaduhan, pengalihan isyu, penyesatan informasi dan pembentukan persepsi publik, hingga mengganti rezim penguasa. 


Serangan pada Fluktuasi Rupiah dan IHSG


Musuh-musuh negara (mafia global, mafia lokal, dan koruptor) selalu memanfaatkan situasi untuk menciptakan momentum "mengalahkan" negara. Termasuk menggarap kondisi saat kurs rupiah dan IHSG melemah.


Pada Juni 2026, terjadi penurunan kurs rupiah yang kemudian disusul IHSG.  Sementara fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi sehat.


Penurunan kurs dan indeks saham adalah murni fenomena ekonomi : terjadi substitusi besar dalam waktu singkat dari rupiah ke dollar Singapura dan dollar AS bertepatan dengan jadual / musim pembayaran berbagai bisnis.


Dalam dunia investasi, korporasi Indonesia yang tercatat go public di Bursa Saham IDX banyak diperebutkan investor asing. Itulah sebab beberapa waktu lalu masalah kuota yang dijual (free float) menjadi bahasan panas. Peminat banyak tapi jumlah yang dijual terlampau sedikit.  


MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga pemeringkat saham dunia, dan beberapa lembaga sejenis lainnya seperti FTFE Russel, ikut menyoroti masalah free float ini. 


MSCI mengeluarkan beberapa emiten besar Indonesia dan beberapa lainnya terancam terdepak dari daftar saham-saham recommended dunia yang mereka susun. Hal ini tidak aneh, karena sasaran utama rekomendasi MSCI adalah para raksasa investasi yang biasa bertransaksi dengan nominal super besar, sehingga free float menjadi salahsatu syarat masuk dalam daftar mereka. 


Rilis MSCI yang tidak lagi mencantumkan saham-saham blue chip (saham bonafide)  Indonesia direspon terlalu berlebihan sehingga memunculkan sentimen negatif yang berdampak pada penurunan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Bursa Efek Indonesia (IDX) lebih dari 18% dalam tiga pekan. 


Sentimen negatif dari MSCI bukan satu-satunya variabel yang menekan IHSG. Jargon "sell Indonesia" yang dibuat oleh Boubouras (pejabat K2 Asset Management, sebuah lembaga pengelola investasi berkantor di Australia) pada Juni 2026 dan dipublikasi Bloomberg menekan IHSG sampai ke titik minimum sampai tiba-tiba memantul karena sentimen positif kolaborasi data real ekonomi sehat Indonesia, nasionalisme trader dalam negeri dan rilis terakhir analis ekonomi dunia yang disiarkan  Bloomberg dan Reuters. Jargon "sell Indonesia" berubah jadi "sell Singapura". Mengapa muncul "sell Singapura" akan dibahas pada artikel lain.


Media sosial menggambarkan kondisi tiga pekan terakhir seolah mirip krisis ekonomi 1998. Rencana demo dari sekelompok komunitas mulai dimatangkan, meski kemudian tema-tema berubah karena kondisi kurs dan IHSG yang rebound pada detik-detik terakhir...


Terkhusus para pemuda yang akan menjadi klaster dominan dan produktif pada  populasi Indonesia 2045, wajib memahami situasi dan kondisi bangsa - negara supaya tahu siapa kawan dan lawan : bahwa korupsi ada di segala lini, termasuk di dalam pemerintahan sendiri sehingga menghambat bahkan merusak program yang pemerintah sedang lakukan. Bisa jadi kita pun bagian dari sistem yang korup itu.


Tolak opsi demonstrasi yang selalu menjadi pintu masuk oknum-oknum perusuh yang membiaskan bahkan menumpulkan perjuanganmu. Cari jalan lain yang lebih cerdas !


Di era secanggih sekarang, apakah demonstrasi masih menarik sebagai instrumen, mengapa tidak bergeser ke digital activism, policy advocacy, atau civic technocracy?


Atas berkat rahmat Tuhan, saat ini "kekuatan baik" sedang dalam posisi dominasi, baik kekuatan dari bagian internal pemerintah sendiri, pers, cendekia, dan pihak-pihak swasta serta masyarakat.  Kekuatan baik itu harus didukung dan diperkuat jangan malah dirongrong. 


Seperti sering diucapkan Presiden, kritik itu baik dan perlu. Maka jadilah bagian dari kekuatan baik, gotong-royong membuat menjadi lebih baik, agar muncul "autokritik" sebagaimana nilai-nilai Pancasila kita.

____________________


Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 













11 Juni 2026

DEMOKRASI ORANG-ORANG BODOH


Seperti terbentuknya keluarga, begitu pula terbentuknya negara. Kepemimpinan Kepala Keluarga berbeda di tiap keluarga, bahkan dalam  sebuah keluarga berbeda pula cara Kepala Keluarga memimpin tiap-tiap anaknya berdasar usia: balita, kanak-kanak, remaja, dan dewasa. 


Kepada balita dan kanak-kanak, orangtua akan otoriter namun penuh kasih sayang dengan sedikit aturan konsekuensi dan sedikit tugas sederhana untuk yang lebih besar.  Kepada remaja, orangtua mengendurkan otoritasnya dan hanya digunakan bilamana perlu saja dan kadang diisi diskusi disamping penugasan. Kepada anaknya yang dewasa, orangtua layaknya teman yang saling mengisi, saling memberi, dan saling melindungi dalam hidup mencapai tujuan bersama.


Analogi keluarga dan negara-bangsa di atas, dalam ranah demokrasi, tentu saja selalu harus melibatkan suatu dewan atau komite yang mengawasi dan membatasi tindakan eksekutor baik secara moral maupun teknis, untuk menjamin tidak terjadinya otoritarianisme.


Demokrasi yang liberal hanya menjadi lelucon jika diterapkan untuk bangsa "level mental balita dan kanak-kanak". Bahkan Socrates, menilai demokrasi bisa menjadi bumerang untuk bangsa yang belum dewasa. Bagi Socrates, memilih (dalam pemilu) adalah keterampilan yang membutuhkan edukasi sistematis.


Bangsa yang tidak terampil memilih sama saja seperti memberi kesempatan penumpang awam untuk ikut menahkodai kapal di tengah hempasan ombak samudera.


Demokrasi di dunia Barat pertama kali muncul di  era Solon pada 594 SM meski untuk jabatan tinggi belum diijinkan bagi masyarakat kelas bawah, disusul era Socrates abad ke-5 SM namun hanya meliputi penduduk kota bagi pria dewasa, tidak menyentuh kaum perempuan dan budak. Kemudian hilang, muncul kembali dalam rupa yang liberal tercatat sejak peristiwa Glorius  Revolution 1688 di susul Revolusi Perancis 1789.


Di belahan dunia timur, meski menjadi tempat lahirnya agama-agama terbesar dunia dan lahirnya para Nabi dan peradaban tertua, namun catatan tentang demokrasi sangatlah minim.   


Demokrasi formil di timur pertama kali tercatat abad ke-6 SM di India. Raja melakukan musyawarah yang disebut Ganasangha tentang UU, anggaran, dan politik dengan perwakilan rakyat di suatu majelis bernama "santhagara".  Demokrasi di belahan timur pun penuh dinamika sempat hilang kemudian muncul kembali. 


Menariknya, model demokrasi paling awal dan masif di seluruh dunia sebetulnya adalah musyawarah mufakat yang tidak menyisakan kelompok minoritas yang tertindas, bukan  demokrasi liberal "satu individu satu suara" lalu menciptakan kelompok "kalah" yang menjadi oposan.


Apa kira-kira kurangnya demokrasi musyawarah mufakat bagi Eropa abad ke-17 yang tiba-tiba menciptakan demokrasi model baru dimana dalam politik kedudukan profesor dengan segala pengetahuannya jadi setara dengan pria yang tidak paham literasi: demokrasi yang menistakan  kebijaksanaan?


Bukankah tanpa dipimpin kebijaksanaan, demokrasi akan dipimpin kekuatan (kekuasaan dan uang). Barangkali, demokrasi liberal adalah antitesa dari praktik monarki absolute era tersebut yang gagal menyenangkan rakyat. 


Socrates tidak meracau, demokrasi liberal memang betul-betul jadi lelucon (mobocracy)  bagi bangsa yang pendidikan politik dan  kesadaran politiknya rendah. One man one vote itu hanya berlaku bagi  warga negara yang setara secara intelektual. 


Negara harus menentukan indikator sahih tentang kedewasaan politik warga negaranya, kemudian menyesuaikan model demokrasinya, agar demokrasi liberal tidak menjadi kegiatan yang konyol sementara harkat martabat kemanusiaan tetap harus dijaga. 


Bukan demokrasi liberalnya yang salah, semua model demokrasi hanyalah alat, namun penggunalah yang harus menentukan alat yang tepat sesuai situasi dan kondisinya saat itu. 


Di Indonesia, meski pada awal berdirinya pada 1945 dinyatakan tegas dalam Pancasila dan Pembukaan UUD45 bahwa demokrasi yang diterapkan adalah demokrasi musyawarah mufakat melalui perwakilan, namun kenyataan hari ini mempraktikkan demokrasi liberal "one man one vote" yang mahal dan ternyata tidak efektif menjaring elite politikus terbaik bagi bangsa peringkat ke-4 populasi terbesar dunia ini. 


Jika demokrasi menjadi cara mencapai tujuan negara, maka cara yang ditempuh bangsa- negara Indonesia saat ini adalah benar-benar bermasalah. 


Saya tidak mengagungkan model demokrasi musyawarah mufakat, hanya tidak ingin hajat  sebuah bangsa dibuat lucu-lucuan, lalu waktu akan menyebut bahwa demokrasi kita adalah demokrasinya orang-orang bodoh. ()

_____________

Penulis

Hamdan A. Batarawangsa





  

09 Mei 2026

PANDEMI BARU, LATE CAPITALISM DIAMBANG RESET


Bukan mimpi di siang bolong jika terbuka peluang  besar munculnya pandemi baru di tahun 2027 atau dalam waktu yang tidak terlalu jauh.  Belajar dari fakta, Klaus Schweb dan Malleret dalam The Great Reset (2020) menyatakan bahwa pandemi bisa berfungsi sebagai "reset" kondisi ekonomi suatu negara yang sedang di puncak keterpurukan untuk kembali ke titik start putaran baru siklus ekonomi. 


Amerika Serikat misalnya, pada 2019 berada dalam posisi "akhir musim gugur dan memasuki musim dingin" (downtrend) dalam siklus Kondratief : teknologi internet dan smartphone telah sampai di titik jenuh dan pertumbuhan ekonomi melambat. 


Sedangkan menurut siklus Kuznets AS dalam kondisi yang lebih parah, yaitu berada tepat di bagian terbawah siklus : ketimpangan ekonomi yang parah dimana separuh kekayaan bangsa berada di  1% populasi; infrastruktur yang tua dan rusak; banyak gedung, kantor, dan  apartemen yang ditinggal penyewa. Ekonomi dari sektor properti hancur lebur.


Tapi apa yang terjadi setelah pandemi covid (2020-2023)? 


Pasca pandemi covid, posisi AS berubah drastis dari "memasuki musim dingin" menjadi "musim semi awal" (uptrend) dalam siklus Kondratief: AS memimpin dalam teknologi baru kecerdasan buatan melalui NVIDIA, Microsoft, dan OpenAI yang  menyelamatkan ekonomi dari stagnasi. 


Berdasar siklus Kuznets, terjadi pula pergeseran posisi dari "musim dingin yang beku" menjadi "musim dingin yang bergolak". Pasca pandemi, upah pekerja di AS naik. Hanya saja kenaikan upah segera diikuti kenaikan harga-harga terutama properti. Pasca pandemi, kekayaan kelompok "atas" semakin meninggalkan kelas di bawahnya. 


Kini di tahun 2026, dalam siklus Kondratief, posisi  AS mulai memasuki puncak digjayanya.   Namun karena kesenjangan ekonomi yang luar biasa lebar, posisi dalam siklus Kuznets kembali ke titik terendah. Properti dan manufaktur mandek ditengah suku bunga yang tinggi sehingga terjadi inflasi yang sangat dalam, yang berefek pada munculnya gejolak sosial.


Perang AS-Iran dalam kacamata manufaktur adalah upaya pemaksaan berputarnya ekonomi melalui industri militer dan teknologi, karena putaran ekonomi UMKM - sipil dianggap terlalu lambat, membutuhkan waktu lebih lama. Terlebih saat ini para pemilik modal di AS cenderung menyimpan dananya dalam investasi emas daripada membuka usaha akibat geopolitik yang penuh ketidakpastian.


Gejolak sosial di AS jika semakin tajam sangat mungkin menjadi trigger munculnya pandemi baru. Bukan hanya persoalan dalam negeri, ambisi geopolitik turut menjadi motif  kemunculan pandemi.


Sebagaimana kita tahu, AS berupaya keras mempertahankan posisi adidaya dari Cina sejak 6-7 tahun lalu. Pasca pandemi, posisi Cina sangat kritis. Berbeda dengan AS yang berhasil mencapai puncak dalam siklus Kondratief (penguasaan teknologi AI), Cina sedang 2/3 jalan mengejar di belakang AS, dimana "tenaga" sedang dipacu sekuat-kuatnya.


Sedangkan berdasar siklus Kuznets (ekonomi berbasis properti dan manufaktur), Cina mulai mengakhiri masa puncaknya bersiap meluncur turun. Andai muncul pandemi baru, ambisi Cina menuju puncak Kondratief terancam stagnan, sementara posisi ekonomi berbasis properti dan manufaktur akan terjerembab dalam posisi downtrend yang nyata.


Dari semua negara yang dianalisa: AS, Cina, Rusia, dan Eropa, jika pandemi kembali terjadi dalam waktu dekat, Cina adalah yang paling terpukul, sementara AS menjadi negara yang paling diuntungkan, menurut pakar Geopolitik Peter Zeihan, Presiden Eurasia Group Ian Bremer, dan Roubini dalam Mega Threats (2022).


Bagaimanapun, saat ini Late Capitalism sedang mencari jalan keluar. Bagi kapitalisme yang sangat terintegrasi dan padat, terutama dalam perspektif Bill Gates, pandemi adalah konsekuensi dari over-urbanisasi, kerusakan ekosistem, dan kecepatan mobilitas modal. 


AS terjebak dalam struktur ekonomi lama: finansial dan properti, yang membutuhkan guncangan yang memecah kebuntuan. Dengan exorbitant privilege dollar, AS akan lebih tahan dibanding negara lain, meski pada akhirnya mungkin biaya sosial yang besar dari kemenangan geopolitik terasa hambar bagi rakyat AS, dan reset ekonomi tidak selalu mulus.


Indonesia bukan objek dari reset global tersebut, melainkan subjek yang pasti  merespon dengan cara yang paling cerdas dan strategis dari segala situasi geopolitik dan ekonomi, mulai dari hilirisasi seluas-luasnya, menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan, hingga kemandirian energi, tentu saja  dengan didukung  kekuatan utama kita : spirit gotong-royong, solidaritas nasional dari seluruh bangsa Indonesia. Sambil terus menggencarkan pemberantasan korupsi, karena koruptor adalah kanker bagi negara dan bangsa.


______________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

04 Mei 2026

PANCASILA DALAM PERTARUNGAN MASA DEPAN: HOMO DEUS VS KAUM TAK BERGUNA


Dalam "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan ..." Harari (dalam buku Homo Deus : A Brief History of Tomorrow, 2015) memprediksi hilangnya kelas menengah, karena bersama kelas bawah membentuk kelas baru yang diistilahkan sebagai Olamha Lo Nakhuts yang artinya rakyat jelata tak berguna, atau kelompok yang tidak dibutuhkan, the useless class. Istilah Olamha Lo Nakhuts diambil dari bahasa Ibrani, diperkenalkan oleh Harari.  Olamha Lo Nakhuts (kaum tak berguna) akan berhadapan dengan Homo Deus (Manusia Dewa, Superman, atau Ubermensch jika meminjam istilah Nietzsche).  


Prediksi Harari tentang hal ini  didukung oleh intelektual lain (paralel secara pemikiran) diantaranya Ray Kurzweil, Nick Bostrom, Max More, dan Michio Kaku. Terakhir Elon Musk pun ternyata menguatkan prediksi Homo Deus melalui visi neurolink.


Munculnya Homo Deus akan menciptakan jurang  kesenjangan yang curam di masyarakat.  Pertarungan antara Homo Deus vs Kaum Tak Berguna (KTB) diantaranya dalam akses biologis, perebutan otoritas, dan HAM. Pertarungan Homo Deus vs KTB bukan perang konvensional bersenjata, melainkan "perang asimetris" dimana pihak yang kuat menjadi "tidak peduli" sementara pihak yang lemah berupaya untuk tidak diabaikan dan diperlakukan selayaknya manusia.


Kelompok kaya dengan kekuatan finansial akan meng-upgrade dirinya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi yang revolusioner : membuang gen penyakit, mendapatkan jaminan suplay super food, dan meningkatkan taraf  kognitif melalui teknologi nanobot atau neurolink  yang menghubungkan otak dengan cloud. Mereka berusaha mewujudkan ambisi "hidup abadi". Sementara itu KTB dengan segala keterbatasan tidak mampu ikut menikmati berkah teknologi tersebut. 


Kelompok kaya memiliki akses yang luas pada perangkat digital dan mengendalikan algoritma. Mereka akan menjadi pihak yang memegang  otoritas "mengelola" bahkan memanipulasi keinginan orang lain. Adapun KTB menjadi objek algoritma yang menerima rekomendasi segala hal mulai dari makanan hingga politik, yang perlahan mematikan kehendak bebas.


Homo Deus dilayani oleh robot nyaris tidak membutuhkan manusia lain. Homo Deus hidup tertutup bersama se-kastanya  dan akan memandang KTB seperti bukan manusia. Memandang pihak lain seperti bukan manusia padahal sama-sama hidup di bumi adalah inti dari penjajahan: diskriminasi dan pengabaian  pada Hak Asasi Manusia. 


Disinilah pentingnya negara. Sebelum Homo Deus semakin banyak dan kuat, negara dengan segala kekuatannya harus cepat membuat regulasi yang diperlukan. Negara harus punya kedaulatan dalam mengelola infrastruktur teknologi khususnya teknologi digital. Tapi masalahnya, tidak ada yang bisa diharapkan dari negara yang korup. Butuh kepastian sekarang juga akan komitmen bangsa Indonesia dalam pemberantasan korupsi. 


Bersamaan dengan itu, sementara politik dan  ekonomi cenderung kapitalis, penguatan nilai-nilai Pancasila menjadi esensial dan mendesak. Negara yang kita huni lagi-lagi harus dipastikan setia dengan tujuannya mewujudkan keadilan sosial serta  memilih cara gotong-royong dan demokrasi yang efektif dalam mewujudkannya. 


Keadilan sosial dengan tidak menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan utama korporasi yang men-substitusi total SDM ke robot, melarang aplikasi teknologi AI mengikuti mekanisme pasar dimana orang kaya bisa mengakses dan mendapatkan semaunya atau negara menjadikan akses ke arah itu bersifat publik, tidak menjadikan data genetik (non upgrade) sebagai alasan penolakan perusahaan/ asuransi, diberlakukan pajak data atau royalti atas orang yang datanya dimanfaatkan perusahaan, juga pajak robot karena mengambil-alih kesempatan bekerja manusia,  mepertahankan pendidikan berbasis humanisme, dll. Satu hal penting, semua upaya bangsa dalam mengatasi masalah tidak boleh lepas dari semangat gotong-royong, kesetiakawanan sosial nasional, karena itulah bahan bakar utama bangsa ini.


Perjuangan bangsa Indonesia dan umat manusia ke depan bukan lagi sekedar sandang pangan, tapi mempertahankan kemanusiaan yang adil dan beradab.

___________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa