Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

13 Juni 2026

MERAWAT KEDAULATAN DALAM PERANG SENYAP EKONOMI












Sejak Pemerintah melontarkan kata "hilirisasi", saya tahu akan makin hebat tekanan berbagai pihak kepada Presiden RI. Hilirisasi adalah kata lain dari "merdeka". Apa namanya jika Indonesia wajib mengirim bahan mentah murah yang harganya pun mereka yang tentukan, kemudian kita wajib membeli barang jadinya dengan harga mahal, kalau namanya bukan penjajahan ?

Bedanya penjajahan dulu dan sekarang, yang sekarang jauh lebih brutal, konyol, sistematis, dan senyap, karena sebenarnya bukan negara menjajah negara, tapi negara dijajah oleh Mafia  Global (tidak semua elite global itu mafia) dengan kapital sangat besar yang bisa menggerakkan negara sebesar AS dan Inggris mengagresi negara lain untuk kepentingannya.


Di tengah konfrontasi perang "senyap" tersebut, pada 2024, Presiden RI yang baru dilantik  melontarkan kembali  frasa yang tidak kurang kerasnya: maklumat perang kepada koruptor dan mafia ekspor-import. Maka bertambah lagi musuh-musuh Pemerintah.


Mega korupsi ribuan trilyun diungkap (kasus tata kelola minyak mentah, kasus tata kelola timah,  mark up harga BBM import, dll), mulai korupsi di BUMN, hingga korupsi di institusi pemerintah sipil dan militer.  


Dalam perdagangan komoditi strategis, rantai bisnis kotor diputus: menyusul pembubaran Petral pada periode sebelumnya, kini dibuat kebijakan eksport satu pintu menyusul temuan penipuan harga (under invoicing) dan penipuan tonase (under weighing) yang dilakukan anak perusahaan yang bertindak sebagai broker di pelabuhan Singapura. 


Semua kecurangan ini menyangkut uang ribuan trilyun yang dikeruk oleh segelintir orang. Under invoicing dan under weighing hanya sedikit dari banyak modus operandi mafia ekspor-import di negara ini.


Perang Pemerintah melawan tiga musuh berduit ribuan trilyun: mafia global, mafia lokal, dan koruptor, harus dipahami bahwa musuh negara tidak pasif, bahkan dengan dana yang besar, mereka mungkin jauh lebih agresif dari pemerintah.


Kita bisa menduga apa saja yang paling mungkin mereka lakukan : menyuap aparat, mengendalikan regulasi, menciptakan kegaduhan, pengalihan isyu, penyesatan informasi dan pembentukan persepsi publik, hingga mengganti rezim penguasa. 


Serangan pada Fluktuasi Rupiah dan IHSG


Musuh-musuh negara (mafia global, mafia lokal, dan koruptor) selalu memanfaatkan situasi untuk menciptakan momentum "mengalahkan" negara. Termasuk menggarap kondisi saat kurs rupiah dan IHSG melemah.


Pada Juni 2026, terjadi penurunan kurs rupiah yang kemudian disusul IHSG.  Sementara fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi sehat.


Penurunan kurs dan indeks saham adalah murni fenomena ekonomi : terjadi substitusi besar dalam waktu singkat dari rupiah ke dollar Singapura dan dollar AS bertepatan dengan jadual / musim pembayaran berbagai bisnis.


Dalam dunia investasi, korporasi Indonesia yang tercatat go public di Bursa Saham IDX banyak diperebutkan investor asing. Itulah sebab beberapa waktu lalu masalah kuota yang dijual (free float) menjadi bahasan panas. Peminat banyak tapi jumlah yang dijual terlampau sedikit.  


MSCI (Morgan Stanley Capital International), lembaga pemeringkat saham dunia, dan beberapa lembaga sejenis lainnya seperti FTFE Russel, ikut menyoroti masalah free float ini. 


MSCI mengeluarkan beberapa emiten besar Indonesia dan beberapa lainnya terancam terdepak dari daftar saham-saham recommended dunia yang mereka susun. Hal ini tidak aneh, karena sasaran utama rekomendasi MSCI adalah para raksasa investasi yang biasa bertransaksi dengan nominal super besar, sehingga free float menjadi salahsatu syarat masuk dalam daftar mereka. 


Rilis MSCI yang tidak lagi mencantumkan saham-saham blue chip (saham bonafide)  Indonesia direspon terlalu berlebihan sehingga memunculkan sentimen negatif yang berdampak pada penurunan IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) Bursa Efek Indonesia (IDX) lebih dari 18% dalam tiga pekan. 


Sentimen negatif dari MSCI bukan satu-satunya variabel yang menekan IHSG. Jargon "sell Indonesia" yang dibuat oleh Boubouras (pejabat K2 Asset Management, sebuah lembaga pengelola investasi berkantor di Australia) pada Juni 2026 dan dipublikasi Bloomberg menekan IHSG sampai ke titik minimum sampai tiba-tiba memantul karena sentimen positif kolaborasi data real ekonomi sehat Indonesia, nasionalisme trader dalam negeri dan rilis terakhir analis ekonomi dunia yang disiarkan  Bloomberg dan Reuters. Jargon "sell Indonesia" berubah jadi "sell Singapura". Mengapa muncul "sell Singapura" akan dibahas pada artikel lain.


Media sosial menggambarkan kondisi tiga pekan terakhir seolah mirip krisis ekonomi 1998. Rencana demo dari sekelompok komunitas mulai dimatangkan, meski kemudian tema-tema berubah karena kondisi kurs dan IHSG yang rebound pada detik-detik terakhir...


Terkhusus para pemuda yang akan menjadi klaster dominan dan produktif pada  populasi Indonesia 2045, wajib memahami situasi dan kondisi bangsa - negara supaya tahu siapa kawan dan lawan : bahwa korupsi ada di segala lini, bisa jadi kita pun bagian dari sistem yang korup itu.


Tolak opsi demonstrasi yang selalu menjadi pintu masuk oknum-oknum perusuh yang membiaskan bahkan menumpulkan perjuanganmu. Cari jalan lain yang lebih cerdas !


Atas berkat rahmat Tuhan, saat ini "kekuatan baik" sedang dalam posisi dominasi, baik kekuatan dari bagian internal pemerintah sendiri, pers, cendekia, dan pihak-pihak swasta serta masyarakat.  Kekuatan baik itu harus didukung dan diperkuat jangan malah dirongrong. 


Seperti sering diucapkan Presiden, kritik itu baik dan perlu. Maka jadilah bagian dari kekuatan baik, gotong-royong membuat menjadi lebih baik, agar muncul "autokritik" sebagaimana nilai-nilai Pancasila kita.

____________________


Penulis 
Hamdan A. Batarawangsa 













Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.