Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

26 Juni 2026

SOPAN SANTUN : KECAKAPAN HIDUP YANG DIABAIKAN GENERASI Z

Budaya sopan santun adalah prestasi bagi sebuah bangsa. Hanya bangsa berperadaban tinggi yang mampu melahirkan budaya "unggah-ungguh" ini. 

Sopan santun adalah keterampilan mengelola ego orang lain dengan memadukan berbagai elemen khususnya estetika dalam  gestur dan bahasa, serta psikologi, agar komunikasi menjadi bermakna, berkesan, efektif, dan harmonis. 


Sopan santun adalah pelumas dalam interaksi sosial manusia. Era AI dimana sisi  humanis cenderung terdeprisiasi, sopan santun akan menjadi keterampilan yang sangat mahal. 


Sopan diterapkan kepada orang yang dihormati karena faktor usia, ilmu, kedudukan, dan sebagainya.  Sedangkan santun diterapkan kepada orang yang harus dilindungi karena masalah kelemahan : fisik, finansial, kelas sosial, dan sebagainya.  Seringkali sopan santun diterapkan bersamaan kepada orang yang sama, misalnya anak kepada orang tuanya yang telah sepuh.  


Sopan santun sebagai keterampilan bergaul-keterampilan mengelola ego,  selayaknya fleksibel:  kadar formalitasnya mengikuti situasi dan kondisi orang yang terlibat interaksi. 


Sebagai keterampilan, sopan santun atau etiket, tidak ada hubungannya dengan etika (moralitas). Orang yang buruk etiketnya, belum tentu buruk moralitasnya, atau sebaliknya. Etiket santun berarti memaklumi dan memahami sikap dan perilaku "tidak sopan" dari orang yang diyakini tidak punya itikad buruk, sebagai keterbatasannya semata bukan kejahatan atau pelanggaran moral. 


Selanjutnya saya menggunakan istilah etiket untuk pengganti sopan santun, agar lebih ringkas .


Pergeseran Etiket Generasi Z


Meski secara umum moralitas (etika) tidak banyak mengalami perubahan, misal moralitas Pancasila bangsa Indonesia yang tetap mendukung nilai-nilai religi dan keadilan sosial, anti diskriminasi, solidaritas yang tetap tinggi, dan  demokratis  dalam menyelesaikan masalah, namun etiket mengalami pergeseran bahkan penurunan kualitas jika dilihat dari perspektif generasi di atasnya. 


Sedangkan dalam perspektif netral, terjadi pergeseran standar (etiket baru) yang mengabaikan pengelolaan ego interaksi.


Fenomena di atas selaras dengan laporan Aulia dan Christin (2024) dalam Etika Komunikasi Generasi Z dan Millenial dalam Media Sosial Tiktok menulis bahwa cara komunikasi gen Z memicu tingginya gesekan sosial akibat perbedaan standar kesantunan baik antar generasi maupun dalam sesama generasi Z.


Stillman dan Stillman (2017) dalam How the Next Generation is Transforming the Workplace menulis bahwa gesekan dengan gen Z sering muncul karena gaya komunikasi yang dinilai kurang sopan dan menabrak batasan hirarki formal tradisional generasi di atasnya.


Paggi dan Clowes (2021) dalam Managing Generation Z : How to Recruit Onboard, Develop,  and Retain the Newest Generation in Workplace menulis bahwa gen Z sering mengalami Miskomunikasi dengan generasi di atasnya karena belum terlatih dalam etiket komunikasi profesional unwritten rules, gen Z membutuhkan arahan etiket kerja yang lebih jelas.


Tingginya konflik menyangkut gen Z  adalah tanda generasi tersebut kurang terampil  dalam komunikasi efektif, khususnya dalam mengelola ego interaksi. Generasi Z relatif tidak menganggap atau BELUM MENYADARI  bahwa etiket adalah keterampilan hidup yang penting dalam kehidupan sosial yang real.


Generasi Z lahir dan dibesarkan dalam alam digital sementara orang tua gagap dalam adaptasi dan menakar konsekuensi, karena terlalu cepatnya perubahan teknologi yang memicu perubahan cepat lain di segala lini kehidupan, sehingga terlambat menyadari dampak dari perubahan pola hidup kepada anaknya.


Generasi Z lebih banyak berinteraksi secara maya baik dengan manusia lain maupun dengan "manusia tiruan"  kecerdasan buatan, dengan  terlalu sering menggunakan bahasa yang langsung dan singkat, berbasis teks dan emoji. 


Selain itu karena terlalu sering komunikasi secara maya dari tempat privasi, gen Z jadi biasa dengan kondisi kasual saat berinteraksi digital dengan siapapun, batasan "malu" atau canggung memudar karena tidak bertemu secara langsung. 


Kurangnya interaksi sosial secara langsung  karena waktunya lebih banyak dihabiskan di depan gadget, mengurangi kesempatan bagi generasi Z untuk belajar tentang etiket, sopan santun, atau unggah ungguh, yang merupakan keterampilan hidup yang kini semakin tinggi nilainya.


"Kurang etiket" bukanlah kejahatan, bukan pula pelanggaran, karena etiket hanyalah keterampilan hidup semata, dimana "generasi atas"  memiliki hutang edukasi sekaligus hutang adaptasi (memahami) kepada generasi di bawahnya.  


Generasi Z hanya butuh arahan, terutama arahan etiket dalam dunia pendidikan dan dunia kerja. Sementara gen Z di pedesaan yang juga memiliki akses digital namun berbatas, mereka relatif tetap mewarisi secara utuh etiket yang diajarkan keluarga dan masyarakat. 


Secara moral (etika) mungkin generasi Z justru lebih unggul terutama dalam nilai-nilai egaliter, transparansi, dan fungsional.


_____________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.