Sekali lagi, kita ditunjukan betapa dahsyatnya pengaruh persepsi. Persepsi mampu mengalahkan logika taktis : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IDX dan kurs rupiah terhadap dollar yang anjlok ditengah kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang baik.
Bukan cuma Indonesia, India dan Korea Selatan juga mengalami hal serupa. Pertumbuhan ekonomi India, Korea Selatan, dan Indonesia adalah yang tertinggi di dunia pada 2025-2026 (5,6-7%).
Jatuhnya IHSG dan kurs adalah akibat sentimen negatif pelaku pasar, ada arus kuat yang mengendalikan persepsi komunal mereka. Sentimen ini tidak selalu rasional, seringkali justru sangat tidak rasional.
Kesadaran manusia tentang kekuatan persepsi dalam mengendalikan massa setidaknya dimulai sejak Paus Gregorius XV yang pada 1622 membentuk Conggregatio de Propaganda Fide, suatu komite khusus untuk membentuk persepsi massa dalam rangka membendung reformasi Protestan.
Maximilian Robespierre pada 1789 melalui pamflet, surat kabar, dan festival, merekayasa persepsi publik untuk menormalisasi eksekusi kepada musuh politik ( reign of terror) yang pada akhirnya melahirkan Revolusi Perancis.
Pada 2016 terjadi Skandal Cambridge Analytica, yaitu pencurian data pribadi pengguna Facebook untuk memetakan psikologis pemilih pada pemilu AS. Cambridge Analytica membuat iklan propaganda yang langsung dikirim ke lini masa secara personal untuk mempengaruhi persepsi.
Belum lama (April 2026), Menteri Keuangan RI, Purbaya, menyatakan bahwa Bank Dunia (World Bank) membuat "dosa besar" karena menyebarkan SENTIMEN NEGATIF tentang Indonesia melalui data yang ngawur.
World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia (yang seharusnya 5,6%) menjadi hanya 4,7% dalam rilis Laporan East Asia and Pacifik Economic Update 2026, tak lama setelah lembaga indeks saham swasta bonafide, Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan beberapa emiten besar saham Indonesia dari daftar mereka karena masalah free float (jatah saham yang dijual) yang dianggap terlalu sedikit.
Purbaya menyebut yang dilakukan World Bank sebagai DOSA BESAR karena beliau memahami betul bahwa "sentimen pasar" (persepsi pelaku pasar) adalah sebuah variabel independen yang mampu mengalahkan variabel fundamental dalam perhitungan ekonomi makro.
Protes Menkeu Purbaya tentang rilis yang salah data dijawab oleh World Bank dengan permintaan maaf. Namun di media sosial, laporan "ngawur" yang membakar sentimen negatif ternyata menjadi jauh lebih viral daripada permintaan maafnya (bullshit asymmetry principle = energi yang dibutuhkan untuk meluruskan/melawan kebohongan selalu lebih besar daripada energi untuk memproduksinya).
Dosa besar Wold Bank terlanjur "andil" dalam kejatuhan IHSG dan kurs rupiah saat ini (Juni 2026). Tentu saja, ada variabel lain yang ikut bekerja seperti geopolitik dan kebijakan lembaga keuangan global yang tidak menguntungkan. Semua variabel itu seolah bekerjasama, datang bersamaan sebagai badai sempurna yang menjatuhkan (trigger) dan memperparah sentimen negatif.
Persepsi publik sebagai dua mata pisau yang tajam, mutlak harus dimanfaatkan negara untuk mematahkan sentimen negatif lalu menumbuhkan sentimen positif sebesar-besarnya guna kepentingan pewujudan tujuan bangsa-negara Indonesia. Bukan pembungkaman, namun lebih pada menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi positif, sewajarnya kehidupan yang demokratis.
Pengelolaan persepsi publik sebetulnya bukan hal aneh, Bradshaw dan Howard (2020) dalam Industrialized Disinformation: 2020 Global Inventory of Organized Social Media Manipulation melaporkan bahwa ruang digital saat ini sangat disetir dan dikendalikan oleh kepentingan kelompok tertentu.
Indonesia sebagai negara Pancasila bagi bangsa yang religius, humanis, dan tepa-silira, menyeimbangkan informasi, konfirmasi, dan dominasi persepsi positif adalah sebuah tuntutan moralitas.
Upaya membentuk persepsi positif adalah perjuangan luhur yang mendesak, yang harus segera dilakukan negara terutama melalui instansi yang terkait dengan pertahanan negara, pendidikan masyarakat, komunikasi, dan digital, secara terpadu dengan mendalami psikologis massa disamping hanya menyampaikan fakta bukti struktural.
Dunia dikendalikan persepsi adalah sebuah kenyataan.
________________
Penulis:
Hamdan A. Batarawangsa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.