Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan Hidup. Tampilkan semua postingan

17 Desember 2025

BENARKAH ACEH HARUS DARURAT BENCANA NASIONAL ?

Belum lama ini Dr. Amrizal J. Prang dalam Harian Serambi Indonesia (12/2025) mempermasalahkan tindakan negara dalam menangani bencana longsor di Aceh. Beliau menyatakan bahwa tindakan normal negara dalam kondisi darurat adalah sebuah ironi. Indikator darurat menurut Prang: (1)  jumlah korban ratusan dan yang terdampak ratusan ribu; (2) kerusakan infrastruktur yang besar; (3) akses dan distribusi lumpuh. Menurutnya, tiga indikator darurat ini layak menjadi dasar berlakunya status "bencana nasional".  Selanjutnya Prang menerangkan berbagai konsekuensi dari ironi yang dibuat pemerintah pusat.  Tiga indikator "darurat" ala Prang ini adalah asumsi dasar bahkan premis untuk sampai pada kesimpulan bahwa negara disebut "ironi" karena bertindak normal dengan tidak memberi status "bencana nasional" pada kasus Longsor Aceh 2025.


Kita kulik dulu tiga premis yang menjadi dasar berpikir Dr. Amrizal J. Prang:


Premis jumlah korban tewas ratusan dan yang terdampak ratusan ribu, anggap saja angkanya valid. Kita bandingkan dengan bencana lain yang tidak berstatus bencana nasional : Gempa Yogyakarta 2006 korban tewas lebih dari 5000 jiwa dan terdampak pada lebih dari 1,1  juta orang.   Dari data ini maka premis pertama yang dibangun Dr. Amrizal J. Prang, gugur. Jumlah korban tewas dan terdampak pada kasus Longsor Aceh tidak lebih banyak dari Bencana Gempa Jogja yang non bencana nasional.


Premis kedua, tentang kerusakan infrastruktur yang besar bisa dibandingkan dengan kejadian non bencana nasional Gempa Palu-Donggala 2018 yang menyebabkan kerusakan pelabuhan, jalan, jembatan, perkantoran, sekolah, fasilitas kesehatan, dan kerusakan fasilitas publik lainnya secara luas. Listrik, telekomunikasi, dan layanan dasar terputus berminggu-minggu. Gempa Palu-Donggala ini selain merobohkan gedung dan rumah juga mendatangkan tsunami yang besar daya rusaknya. Dengan membandingkan dengan Gempa Palu-Donggala, premis kedua juga gugur. Ini belum menyinggung bencana Gempa Lombok 2018 dan Gempa Cianjur 2022 yang semuanya non bencana nasional.


Premis ketiga tentang akses dan distribusi lumpuh kita bandingkan dengan bencana lain yang non bencana nasional : Banjir Bandang Sentani 2019 dimana jalan utama tertutup lumpur dan puing, distribusi makanan putus selama berminggu-minggu, bandara lumpuh, akses jalan alternatif sangat terbatas; banjir dan longsor di NTT 2021 skala bencana sangat luas, distribusi logistik terganggu atau putus selama berbulan-bulan, banyak daerah terisolasi total. Persoalan akses dan distribusi yang dijadikan indikator dan  premis untuk kedaruratan yang menjadikan longsor Aceh berkategori bencana nasional lalu menilai negara bertindak "ironi" juga gugur. 


Keadaan darurat tidak selalu menuntut tindakan luar biasa jika negara masih memiliki kapasitas fiskal, logistik, dan kelembagaan yang berjalan efektif. Penetapan status bencana nasional bukan satu-satunya instrumen hukum untuk menjamin keselamatan warga. Pemerintah berhak berhati-hati agar diskresi tidak berubah menjadi penyalahgunaan kewenangan. Prosedur dan akuntabilitas tetap penting agar bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah hukum di kemudian hari. Dengan demikian, kehati-hatian negara bukan ironi, melainkan upaya menjaga keseimbangan antara kecepatan, tata kelola, dan tanggung jawab hukum.


Yang dibutuhkan Aceh adalah partisipasi dari seluruh masyarakat terutama yang tak terdampak untuk AKTIF GOTONG-ROYONG (1) segera mengantar kebutuhan pokok ke lokasi terisolir dengan segala daya yang ada, (2) membersihkan jalan-jalan dari lumpur guna membuka akses selebar-lebarnya agar bantuan bisa SEGERA sampai ke sasaran.


Dalam pengamatan saya, khusus di Aceh saat ini, fenomena politik lebih menonjol daripada KERJA mengatasi bencana itu sendiri. ()

________


Penulis:

Hamdan A Batarawangsa








01 Desember 2023

BUMI SEKARAT, PELAJAR TIDAK PEDULI

Naiknya suhu bumi mengancam kehidupan manusia, dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi separuh manusia akan kelaparan dan kehausan karena kegagalan panen di berbagai negara dan hilangnya sumber-sumber mata air.  Pelajar di seluruh dunia sebagai generasi yang akan menghadapi secara langsung kondisi bumi yang sekarat perlu digerakan untuk berbuat lebih banyak dan lebih cepat  sebelum terlambat, diantaranya penanaman pohon berkambium secara massif dalam jumlah yang banyak.

Hutan sangat terkait dengan perubahan iklim, baik sebagai penyebab maupun solusi. Perubahan iklim global berdampak pada kesehatan, distribusi dan komposisi hutan. Semakin banyak bukti yang menunjukkan bahwa hutan semakin berkurang.

Penting bagi umat manusia untuk menerima kenyataan bahwa tanda-tanda bahaya dan risiko perubahan iklim global tidak dapat diabaikan. Tidak ada waktu luang, kita harus bertindak sekarang. 

Saat ini adalah kesempatan bagi kita semua untuk menghadapi tantangan ini melalui pendekatan komprehensif dalam mengatasi penyebab pemanasan global yang disebabkan oleh ulah manusia, guna menciptakan masa depan  yang layak bagi generasi mendatang. 

Para ilmuwan telah lama memahami peran hutan dalam menciptakan iklim mikro. Dengan meningkatnya kesadaran akan pemanasan global dan penyebab utamanya, yaitu emisi karbon dioksida (CO2), peran hutan dan sumber daya tanaman dalam memodifikasi dampak perubahan iklim mendapatkan perhatian baru dari para ahli iklim, ahli kehutanan, pembuat kebijakan dan media di seluruh dunia.

Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) telah menegaskan kembali bahwa peningkatan emisi Gas Rumah Kaca (GRK)  akibat aktivitas manusia telah menyebabkan peningkatan tajam konsentrasi GRK di atmosfer. 

Antara tahun 1970 dan 2004, emisi GRK global telah meningkat sebesar 70 persen; Emisi CO2 saja telah meningkat sekitar 80 persen (28% antara tahun 1990 dan 2004) dan mewakili 77 persen total emisi GRK antropogenik pada tahun 2004. Sementara pertumbuhan emisi global terbesar pada tahun 1970-2004 berasal dari sektor pasokan energi (sebuah meningkat sebesar 145%), pertumbuhan dari sektor lain juga signifikan. Emisi dari sektor transportasi, industri, dan tata guna lahan, perubahan tata guna lahan, dan kehutanan masing-masing sebesar 120, 65, dan 40 persen.

Oleh karena itu, tindakan terpadu harus diambil untuk mengelola hubungan yang kompleks ini. Persoalan perubahan iklim telah banyak dibahas dalam berbagai forum dan instansi, namun belum ada aksi nyata terpadu skala besar dari pelajar sebagai generasi  yang sepanjang hidupnya akan berhadapan langsung dengan dampak perubahan iklim yang mengerikan.  (Sumber Hans Hoogeveen/Kronik PBB Jil. XLIV, No.2, “Hijau Dunia Kita!”, 2007 disunting seperlunya oleh admin.)

 

02 November 2023

KISAH SEBATANG POHON SAWO

Adalah sebuah desa yang jauh dari keramaian, udaranya bersih bebas dari polusi kendaraan dan pabrik. Nampak satu rumah sederhana yang memiliki halaman cukup luas. Bagian belakang rumah tersebut berupa lapangan rumput hijau yang hanya ditanami sebatang pohon sawo.  Pohon sawo tersebut entah kapan ditanamnya, batangnya kuat, daunnya rimbun, dan banyak buahnya. Pada musim panas, di bawah pohon sangat teduh, sangat nyaman, hembusan angin semilir bisa membuat mata mengantuk jika ingin bersantai.



Pemilik pohon sawo itu mempunyai anak perempuan yang sangat cantik, namanya Fatimah. Fatimah adalah murid kelas 5 di SD Pelita. Hampir setiap siang Fatimah menghabiskan waktunya di bawah pohon sawo. Di bawah pohon yang rindang itu Fatimah kadang mengerjakan PR, kadang membaca buku, kadang bermain bersama teman-temannya : Alea, Rahma, Bianca, dan Dea.

Pohon sawo itu seperti mengerti, daunnya selalu tumbuh lebat agar siapapun yang bermain di bawahnya tidak kepanasan. Di siang hari yang panas, di bawah pohon sawo terasa segar karena daun-daunnya mengeluarkan oksigen yang sejuk.

“Terima kasih, pohon sawo, kamu memberikan tempat terbaik untukku, berada di bawahmu aku merasa sangat nyaman,” kata Fatimah. Fatimah merasa pohon sawo adalah sahabatnya yang bisa diajak bicara. Seolah mengerti, di musim kemarau yang kering, dimana pohon-pohon lain banyak yang kekeringan, pohon sawo sahabat Fatimah tetap berdaun rimbun, meskipun ada juga beberapa helai daunnya yang berguguran.

Waktu terus berjalan, setiap hari jika cuaca cerah, Fatimah selalu  berada di bawah pohon sawo yang telah menjadi sahabatnya. Tetapi hari itu adalah hari yang menyedihkan bagi Fatimah. Hari sudah menjelang sore tapi Fatimah enggan untuk meninggalkan sahabatnya itu. Hari itu Fatimah mengucapkan perpisahan.  Fatimah dan keluarganya akan pindah ke Depok. Rumah beserta halamannya akan dijual.

“Pohon sawo sahabatku, aku akan pergi meninggalkanmu. Jagalah dirimu baik-baik. Aku akan sangat merindukanmu. Kelak nanti ketika aku memiliki uang, aku akan datang mengunjungimu,” kata Fatimah dalam hati sambal tangannya memegang pohon sawo sahabatnya.    

Seakan mengerti apa yang diucapkan Fatimah, hari itu pohon sawo menggugurkan daunnya agak banyak, tidak seperti hari-hari biasanya, seolah-olah daun-daun yang berguguran adalah air matanya yang menetes…

Esoknya, pagi-pagi sekali, Fatimah dan keluarganya  berangkat ke Depok.  Fatimah memandangi pohon sawo yang telah lama menjadi  sahabatnya, yang semakin lama semakin terlihat menjauh. Daun pohon sawo berderai tertiup angin, seolah melambai-lambaikan tangan selamat tinggal.  Tidak terasa mata Fatimah menjadi basah, sebutir air matanya menetes … “Selamat tinggal sahabatku …”

______

 Waktu terus berjalan, tidak terasa sebelas tahun telah berlalu.  Fatimah kini baru saja menyelesaikan kuliahnya. Ia ingin sekali bertemu teman-teman lamanya. Dea kabarnya telah menjadi bos sebuah kafe, Bianca telah menjadi penulis buku yang terkenal, Rahma baru lulus kuliah S-1 lalu melanjutkan kuliah S-2 nya di luar negeri, sedangkan Alea adalah mahasiswa jenius tingkat akhir di sebuah universitas bergengsi. Dan tidak lupa juga … pohon sawo sahabat terdekatnya. “Pohon sawo sahaabatku, apa kabarmu sekarang, aku tidak sabar ingin segera mengunjungimu,” kata Fatimah di lubuk hatinya.

Hari Minggu yang cerah menjadi hari paling menyenangkan bagi Fatimah. Fatimah meluncur ke desa, tempat tinggalnya dahulu saat masih kecil. Sepanjang perjalanan Fatimah tertegun, jalan yang dahulu melewati persawahan kini telah dibangun rumah-rumah mewah.

Kendaraan Fatimah mulai memasuki desa tujuannya.  Seperti melewati jalan asing saja, Fatimah hampir tidak mengenali jalan yang dahulu sering dilewatinya. “Dimana rumahnya Dea, Rahma, Bianca, dan Alea… aku agak bingung,” Fatimah bicara dalam hati. Kendaraannya melaju terus hingga sampailah di wilayah sekitar tempat tinggalnya dulu.  Fatimah melambatkan laju mobilnya, ia memperhatikan satu persatu rumah yang dilaluinya, sambil mengingat-ingat mencari rumahnya yang dulu.

Fatimah berhenti di depan sebuah rumah besar, ia yakin dahulu di situlah rumahnya.  Rumahnya dahulu yang sederhana telah berubah menjadi rumah besar milik orang kaya. Beruntung sekali pemilik rumah besar itu sangat baik, setelah menceritakan siapa dirinya dan tujuannya datang,  Fatimah diijinkan untuk  melihat-lihat halaman belakang.  Dengan hati gembira Fatimah bergegas menuju sahabatnya pohon sawo berada. 

Namun sesampainya di lokasi, Fatimah tertegun… tidak ada lagi pohon sawo di sana. Fatimah hanya melihat sisa-sisa batang dan akar bekas ditebang. Pemilik rumah bercerita, pohon sawo itu telah ditebang oleh pemilik sebelum dirinya. Rumah mewah ini telah dijual berkali-kali.

Dengan rasa sedih, Fatimah kembali ke Depok.  Ia sangat sedih pohon sawo sahabatnya telah tiada.  Namun Fatimah berjanji, akan menanam 1000 pohon sawo baru untuk menebus kesedihannya…

_______________

Inspirasi, ide, dan dasar alur cerita berasal dari karya seorang murid SD Cakrabuana, tempat Ananda Penulis bersekolah sekitar 10 tahun lalu, merupakan artikel juara 1 pada lomba menulis anak.  Penulis lupa nama penulis aslinya, mohon maaf dan mohon ijin kami gunakan dengan beberapa suntingan, semata-mata untuk meneruskan spirit “melindungi bumi” dari bencana akibat perubahan iklim. Artikel suntingan ini adalah bahan ajar Pelajaran Bahasa Indonesia di SD Pelita Depok. Sumber gambar : Fanny Wiriaatmadja (fannywa.wordpress.com)

 

01 November 2023

BAHAYA DRAINASE TERKONEKSI DI RANGKEPANJAYA DEPOK

(Laporan Lapangan 2023)

Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Depok melakukan perbaikan dan pembuatan drainase baru.  Pekerjaan terbaru DPUPR Kota Depok adalah membuat drainase terkoneksi diantaranya di wilayah Kelurahan Rangkepanjaya. Program pemerintah ini perlu diapresiasi namun ada beberapa catatan...



Drainase merupakan sebuah konstruksi yang menjadi media untuk mengalirkan air dari satu titik ke titik lain yang dinilai sangat penting untuk membantu proses pengaliran air seperti curah hujan, agar tidak terjadi genangana atau banjir. Sistem drainase bisa dikatakan baik apabila bisa berhubungan secara sistematik (terkoneksi) antara satu dengan yang lainnya, yang bertujuan agar air mengalir atau berjalan dengan baik.

Selama ini pemahaman drainase buruk adalah hanya bila tujuan air mengalir tidak tercapai, alias tergenang.  Namun sebetulnya, air yang mengalir lancar pada saluran drainase, terutama air hujan, justru bisa berbahaya jika tidak dimuarakan ke titik yang tepat.  Jika hal ini terjadi, drainase terkoneksi tidak menyelesaikan masalah, hanya memindahkan masalah, bahkan bisa jadi malah membuat masalah besar baru di tempat yang lain.

Memperhatikan proyek drainase DPUPR Kota Depok di Rangkepanjaya, ternyata air dari depan bekas kantor kelurahan (Baldes), air dari Rawa Denok Rangkepanjaya Baru,  air dari timur jalan tol Desari (Jalan Samudera Jaya), dan air dari RT.02 RW.02 semuanya mengarah ke sungai kecil di kawasan tanah kosong  (lapangan) yang oleh warga sekitar disebut “kali PT Jarum”. 

Berdasarkan pengalaman sebelum drainase terkoneksi, sungai PT Jarum ini sering meluap jika hujan lebat, dan merendam rumah-rumah warga RT.01 RW.02 yang berada di sebelah timur lapangan Jarum. Saat tulisan ini dibuat, musim hujan belum dimulai. Penulis  khawatir drainase terkoneksi di Rangkepanjaya tersebut justru menimbulkan potensi bahaya bagi warga di dataran yang rendah. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan pekerjaan normalisasi sungai yang menjadi titik muara drainase, sangat bagus jika selain normalisasi sungai dibuatkan pula "setu buatan" di titik tersebut.

01 Oktober 2021

MENGAPA BUMI JADI BEGINI ?


Ketika semua orang merasa nyaman dan baik-baik saja, sekelompok ilmuan adalah komunitas pertama yang mengetahui dan menyadari bahwa bumi yang kita huni ini sedang memulai kehancurannya,  umat manusia akan menghadapi bencana luar biasa.

Di tahun 2021 ini cuaca ekstrim makin sering terjadi, dan akan semakin sering dari waktu ke waktu ... hal yang tidak pernah disangka-sangka 30 tahun lalu.  Cuaca ekstrim ini merupakan akibat dari pemanasan rata-rata 1,1 derajat C di atas tingkat praindustri. Laporan terbaru dari Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC), badan ilmu iklim terbesar di dunia, mengemukakan bahwa yang kita alami saat ini belum ada apa-apanya !

IPCC melaporkan bahwa dunia dapat mencapai atau melampaui pemanasan 1,5 derajat C dalam dua dekade saja. Akankah kita bisa membatasi pemanasan di tingkat ini dan mencegah dampak iklim terparah? 

Hanya dengan mengurangi emisi secara ambisius, dunia akan dapat membatasi kenaikan suhu global di tingkat 1,5 derajat C (batas yang ditetapkan para ilmuan untuk mencegah dampak iklim terburuk).  Sebagai gambaran, kenaikan suhu dunia dalam tiga juta tahun terakhir tidak mencapai 2,5 derajat C. Periode ini menunjukkan sistem iklim yang sangat berbeda.

Untuk membatasi dampak berbahaya dari perubahan iklim, dunia harus mencapai emisi CO2 nol bersih dan mengurangi gas non-CO2 seperti metana secara besar-besaran. Penghapusan karbon dapat membantu mengompensasi emisi yang sulit dikurangi, termasuk melalui pendekatan alami seperti penanaman pohon.

Namun, IPCC mencatat bahwa sistem iklim tidak akan langsung berubah dengan adanya penghapusan karbon. Beberapa dampak, seperti kenaikan permukaan laut, tidak akan dapat dipulihkan setidaknya selama beberapa abad, bahkan setelah penurunan emisi berhasil dilakukan.

Laporan tersebut juga menemukan bahwa sistem penyerap karbon kita yang sangat berharga — daratan dan lautan — sedang menghadapi ancaman besar. Saat ini, sistem-sistem ini memberikan layanan yang luar biasa — menyerap lebih dari setengah karbon dioksida yang dikeluarkan dunia, namun efektivitasnya dalam menyerap CO2 akan terus berkurang seiring dengan meningkatnya emisi. Di bawah beberapa skenario yang dipelajari oleh IPCC, tanah yang tenggelam akhirnya akan menjadi sumber yang memancarkan CO2 alih-alih menyedotnya. Hal ini dapat menyebabkan pemanasan yang tak terkendali. Fenomena ini sudah mulai terjadi di bagian tenggara hutan hujan Amazon yang sudah tidak lagi bekerja sebagai penyerap karbon karena pemanasan lokal yang diperparah oleh deforestasi.


PROYEK NIOM SAUDI, 

MEGAPOLITAN MENGHADAPI PERUBAHAN IKLIM

Neom adalah sebuah kota mandiri futuristik yang dicanangkan oleh Kerajaan Arab Saudi bekerja sama dengan perusahaan minyak Saudi Aramco dan dipublikasikan kepada khalayak pada akhir Oktober 2017. Luas kota ini direncanakan mencapai 26.500 km² dan melintasi tiga negara yakni Arab Saudi, Mesir, dan Yordania. Lokasi dari kota ini direncanakan sejajar dengan Laut Merah dan Teluk Aqaba serta dekat dengan Terusan Suez.  Untuk pengembangan proyek kota Neom ini Kerajaan Arab Saudi akan mengucurkan dana sebesar 500 milyar dolar AS dan nantinya kota ini akan dimiliki oleh dana kekayaan kedaulatan (sovereign wealth fund) Saudi Public Investment Fund.

Neom digadang-gadang sebagai kota kapitalis pertama di dunia di mana kehidupan dan sistem hukumnya akan lebih liberal daripada di wilayah Arab Saudi lainnya. Kota ini juga akan dirancang sebagai kota berkesinambungan di mana listrik untuk konsumsi kota tersebut akan dihasilkan oleh tenaga surya dan produksi makanannya berasal dari lahan tani vertikal. Selain itu pekerjaan-pekerjaan repetitif di kota ini akan diotomasi. 

Mega proyek ini dirancang untuk dapat menampung 1 juta orang yang mencakup ekspatriat dan eksekutif dari seluruh dunia yang bekerja sekaligus hidup di kota Neom. Layanan profesional yang dijanjikan berstandar internasional dan diklaim kelas wahid di seluruh sektor. Mulai dari hunian mewah, komersial eksklusif, pendidikan premium, pusat penelitian, tempat olahraga, maupun hiburan.

Proyek Neom yang sempat melambat karena Covid 19, kini kembali jadi perhatian dunia terutama setelah dihubungkan dengan laporan IPPC bulan Agustus 2021 tentang perubahan iklim yang terus berlangsung. Di kawasan Neom setidaknya akan/sedang ditanam setidaknya 500 milyar pohon untuk mengurangi emisi karbon dan lokasinya yang memanjang di tepian laut akan memanfaatkan teknologi untuk mengubah air laut menjadi air tawar yang bisa diminum sebagai antisipasi kekeringan akibat pemanasan global.


PUSTAKA

www.wri.org

www.nature.com

Kompas.com

Tribun.com

Wikipedia

27 Juli 2020

Mencangkok Tanaman

Mencangkok adalah salah satu cara membiakkan tanaman secara vegetatif (tidak melalui penyerbukan). Mencangkok tidak bisa terjadi secara alami, melainkan harus dengan campur tangan manusia (buatan).

Tanaman yang sering  dikembangbiakan dengan cangkok adalah tanaman berkayu (berkambium) seperti jambu, rambutan, nangka, mangga, jeruk, dan sebagainya. Kalian bisa mencoba mencangkok pada tanaman lain yang tidak biasa dicangkok seperti mawar. Bagaimana hasilya, penasaran bukan ?

Mencangkok adalah mengupas sekeliling kulit pada sebuah ranting, lalu membungkusnya dengan tanah agar tumbuh akar. Setelah akarnya tumbuh, ranting tersebut dipotong dan ditanam sebagai individu baru.

i

Membungkus tanah bisa dengan sabuk kelapa atau kain. Bisa juga menggunakan plastik. Jika menggunakan plastik, plastik harus dibuat lubang-lubang kecil agar jika disiram air bisa menyerap ke dalam tanah.


Setelah ranting dibungkus tanah, harus rutin disiram agar tetap lembab. Setelah tumbuh akar, ranting yang dicangkok dipotong lalu ditanam sebagai individu baru.



20 Juli 2020

Perkembangbiakan Generatif Tumbuham

Perkembangbiakan generatif (secara kawin) pada tumbuhan dimulai dari BUNGA. Bunga mengalami PENYERBUKAN DAN PEMBUAHAN, kemudian secara perlahan berubah menjadi BUAH yang mengandung BIJI. Biji inilah yang kemudian tumbuh menjadi tanaman yang baru.

Mempelajari perkembangbiakan generatif pada tumbuhan berarti kita mempelajari :
1). BUNGA,
2). PENYERBUKAN DAN PEMBUAHAN,
3). BAKAL BUAH DAN BUAH, dan
4). BIJI.

1. Bunga



2. Penyerbukan dan Pembuahan

Penyerbukan, atau polinasi adalah jatuhnya serbuk sari pada permukaan putik. Penyerbukan merupakan bagian penting dari proses reproduksi tumbuhan berbiji.
Penyerbukan yang sukses akan diikuti segera dengan tumbuhnya buluh serbuk yang memasuki saluran putik menuju bakal biji. Di bakal biji terjadi peristiwa penting berikutnya, yaitu pembuahan.

Proses Pembuahan

Pada tumbuhan biji, pembuahan terjadi di dalam ruang Bakal biji. Bagaimanakah prosesnya? Proses pembuahan pada tumbuhan biji adalah sebagia berikut:
1.      Setelah penyerbukan, kepala putik menghasilkan cairan gula untuk memberi makan serbuk sari yang melekat.
2.      Mula-mula dinding serbuk sari mengembang, kemudian dinding luar serbuk sari pecah. Sedangkan dinding sebelah dalam melengkuk ke dalam menembus kepala putik, kemudian membentuk buluh serbuk sari atau tabung serbuk sari. Tabung ini menghubungkan serbuk sari dengan bakal biji. Tabung serbuk sari menuju ke inti sel telur di dalam bakal biji melalui celah kecil yang disebut mikropil.
3.      Selama perjalanan serbuk sari di dalam tabung sari menuju bakal biji, terjadi beberapa perubahan. Inti sel serbuk sari membelah menjadi dua,yakni inti vegetatif dan inti generatif. Inti vegetatif berfungsi untuk mengatur pertumbuhan tabung serbuk sari sehingga mencapai mikrofil dan setelah itu inti vegetatif mati. Sedangkan Inti generatif membelah membelah lagi menjadi dua inti sperma. Dua inti sperma yang terbentuk ini akan masuk ke ruang bakal biji melalui mikropil.
4.      Di dalam ruang bakal biji/kandung lembaga pun terjadi proses untuk membentuk sel telur (ovum). Sel induk megaspora mengalami pembelahan meiosis menghasilkan satu sel megaspora dan tiga sel lainnya berdegenerasi. Selanjutnya sel megaspora (kandung embrio muda) mengalami pembelahan (mitosis) tiga kali yang menghasilkan 8 inti sel, yang terdiri dari: 1 inti sel telur, 2 inti sinergid, 3 antipoda dan 2 inti kandung lembaga primer (kemudian bersatu membentuk inti kandung lembaga sekunder) yang bersifat diploid (2n). Inti sel di apait oleh 2 inti sinergid dan letaknya dekat mikropil. Sedangkan 3 antipoda terletak pada kutub yang berlawanan dengan mikropil. Dan inti kandung lembaga primer terletak di tengah, di antara sel telur dan antipoda. Perhatikan gambar 15.
Gb. 15. Perkembangan pembentukan kandung lembaga.
5.      Selanjutnya inti sperma satu membuahi sel telur membentuk zigot (lembaga). Peristiwa pembuahan ini disebut pembuahan pertama. Zigot kemudian tumbuh menjadi embrio. Sedangkan inti sperma yang kedua melebur dengan inti kandungan lembaga sekunder membentuk endoperm yang bersifat triploid (3n). Peristiwa pembuahan ini disebut pembuahan kedua. Endosperm merupakan cadangan makanan bagi lembaga atau embrio. Nah! Karena terjadi dua kali pembuahan seperti ini maka proses pembuahan pada tumbuhan biji sering disebut sebagai pembuahan ganda. Perhatikan gambar 16.
Gb. 16
6.      Setelah pembuahan selesai maka sisa benang sari, mahkota, dan kelopak bunga akan layu dan gugur. Sedangkan bakal biji berkembang menjadi biji yang dilindungi oleh dinding bakal buah, dan bakal buah berkembang menjadi buah.


3. Bakal Buah

Bakal Buah adalah bagian dari putik bunga yang mengandung sel telur, yang apabila telah dibuahi oleh serbuk sari akan menjadi biji.




4. Biji



----

Pustaka
Sumberbelajar.kemdikbud.go.id
Kependidikan.com
Wikipedia





13 Juli 2020

PERKEMBANGBIAKAN VEGETATIF TUMBUHAN

Perhatikan peta konsep di bawah ini :
Perkembangbiakan tumbuhan terjadi secara generatif (kawin) dan secara vegetatif (tidak kawin).

Perkembangbiakan secara vegetatif ada banyak macamnya, diantaranya secara tunas (pisang), secara umbi (bawang), dll.
Selengkapnya perkembangbiakan secara vegetatif lihat gambar di bawah ini :


Beberapa contoh dan penjelasan perkembangbiakan secara vegetatif, baik yang alami maupun yang buatan dapat dilihat pada gambar berikut ini
















Perkembangbiakan tumbuhan secara vegetatif BUATAN ada kelebihan dan kekurangannya.


----------------
Info sekolah bermutu di Depok : SEKOLAH BINTARA (SMP-SMA) dan SEKOLAH CAKRABUANA (PG-TK-SD-SMP-SMA-SMK BROADCAST)
Hamdan WA 081295156574
Sumber gambar: slideshare.net dan slideplayer

28 April 2020

Banjir Dampak dari Tol Desari

BATARAGEMAINDONESIA.BLOGSPOT.COM. Diduga akibat sistem drainase proyek tol Desari yang keliru, kebun produktif di RT.02 RW.02 Kelurahan Rangkepanjaya, Depok, kini selalu kebanjiran saat turun hujan. Padahal, sebelum ada proyek tol Desari, dengan intensitas hujan yang sama, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Akibat banjir pada 28 April 2020 yang bertepatan dengan bulan puasa, kebun timun suri milik Pak Niang rusak parah.

Banjir merendam kebun timun suri tanggal 28 April 2020 jam 17.00

Banjir yang merusak kebun produktif ini sudah beberapa kali terjadi dalam beberapa bulan terakhir dan sudah pernah dilaporkan ke RT/RW setempat. Sebelum ada proyek tol, banjir seperti ini hanya terjadi jika intensitas hujan sangat tinggi dan sangat jarang terjadi.

Drainase proyek tol mengalirkan air dari sisi timur jalan dan perkampungan ke sisi barat melalui gorong-gorong besar, lalu di"buang" ke selokan yang berada disebelah kebun produktif seluas sekitar 20.000 meter persegi ini. Selokan yang lebarnya hanya 50 cm tidak mampu menampung volume air yang demikian besar.

Pada 1 Januari 2020 banjir tidak hanya merendam kebun, juga puluhan rumah disekitarnya. Kiranya AMDAL proyek tol Desari ini perlu tinjauan ulang. #toldesari #pemkotdepok #pupr

Kondisi kebun pasca hujan sebelum adanya proyek tol Desari.





21 Mei 2014

SURAT DARI TAHUN 2070

Aku hidup di tahun 2070.  Aku berumur 50 tahun, tetapi kelihatan seperti sudah 85 tahun. Aku mengalami banyak masalah kesehatan, terutama masalah ginjal karena aku minum sangat sedikit air putih.

Aku fikir aku tidak akan hidup lama lagi.
Sekarang, aku adalah orang yang paling tua di lingkunganku.  Aku teringat disaat aku berumur 5 tahun Semua sangat berbeda. Masih banyak pohon di hutan dan tanaman hijau di sekitar, setiap rumah punya halaman dan taman yang indah, dan aku sangat suka bermain air dan mandi sepuasnya.

Sekarang, kami harus membersihkan diri hanya dengan handuk sekali pakai yang dibasahi dengan minyak mineral.
Sebelumnya, rambut yang indah adalah kebanggaan semua perempuan.  Sekarang, kami harus mencukur habis rambut untuk membersihkan kepala tanpa menggunakan air.

Sebelumnya, ayahku mencuci mobilnya dengan menyemprotkan air langsung dari keran ledeng.
Sekarang, anak-anak tidak percaya bahwa dulunya air bisa digunakan untuk apa saja. Aku masih ingat seringkali ada pesan yang mengatakan :

”JANGAN MEMBUANG BUANG AIR”





  Inilah Surat Yang Datang Dari Masa Depan Tahun 2070

Tapi tak seorangpun memperhatikan pesan tersebut.
Orang beranggapan bahwa air tidak akan pernah habis karena persediaannya yang tidak terbatas.

Sekarang, sungai, danau, bendungan dan air bawah tanah semuanya telah tercemar atau sama sekali kering.
Pemandangan sekitar yang terlihat hanyalah gurun-gurun pasir yang tandus. Infeksi saluran pencernaan, kulit dan penyakit saluran kencing sekarang menjadi penyebab kematian nomor satu.

Industri mengalami kelumpuhan, tingkat pengangguran mencapai angka yang sangat dramatik. Pekerja hanya dibayar dengan segelas air minum per harinya.
Banyak orang menjarah air di tempat-tempat yang sepi. 80% makanan adalah makanan sintetis.

Sebelumnya, rekomendasi umum untuk menjaga kesehatan adalah minum sedikitnya 8 gelas air putih setiap hari. Sekarang, aku hanya bisa minum setengah gelas air setiap hari.
Sejak air menjadi barang langka, kami tidak mencuci baju, pakaian bekas pakai langsung dibuang, yang kemudian menambah banyaknya jumlah sampah.

Kami menggunakan septic tank untuk buang air, seperti pada masa lampau,
karena tidak ada air.


Manusia di jaman kami kelihatan menyedihkan: tubuh sangat lemah; kulit pecah-pecah akibat dehidrasi; ada banyak koreng dan luka akibat banyak terpapar sinar matahari karena lapisan ozon dan atmosfir bumi semakin habis.


Karena keringnya kulit, perempuan berusia 20 tahun kelihatan seperti telah berumur 40 tahun.
Para ilmuwan telah melakukan berbagai investigasi dan penelitian, tetapi tidak menemukan jalan keluar.  Manusia tidak bisa membuat air. Sedikitnya jumlah pepohonan dan tumbuhan hijau membuat ketersediaan oksigen sangat berkurang, yang membuat turunnya kemampuan intelegensi generasi mendatang.

Morphology (bentuk)  manusia mengalami perubahan……yang menghasilkan anak-anak dengan berbagai masalah defisiensi, mutasi, dan malformasi.


Pemerintah bahkan membuat pajak atas udara yang kami hirup :
137 m3 per orang per hari [31,102 galon]


Bagi siapa yang tidak bisa membayar pajak ini akan dikeluarkan dari “kawasan ventilasi” yang dilengkapi dengan peralatan paru-paru mekanik raksasa bertenaga surya yang menyuplai oksigen.
Udara yang tersedia di dalam “kawasan ventilasi” tidak berkulitas baik, tetapi setidaknya menyediakan oksigen untuk bernafas. Umur hidup manusia rata-rata adalah 35 tahun.

Beberapa negara yang masih memiliki pulau bervegetasi mempunyai sumber air sendiri. Kawasan ini dijaga dengan ketat oleh pasukan bersenjata.


Air menjadi barang yang sangat langka dan berharga, melebihi emas atau permata. Disini ditempatku tidak ada lagi pohon karena sangat jarang turun hujan. Kalaupun hujan, itu adalah hujan asam.


Tidak dikenal lagi adanya musim. Perubahan iklim secara global terjadi di abad 20 akibat efek rumah kaca dan polusi.


Kami sebelumnya telah diperingatkan bahwa sangat penting untuk menjaga kelestarian alam, tetapi tidak ada yang peduli.
 
Pada saat anak perempuanku bertanya bagaimana keadaannya ketika aku masih muda dulu, aku menggambarkan bagaimana indahnya hutan dan alam sekitar yang masih hijau. Aku menceritakan bagaimana indahnya hujan, bunga, asyiknya bermain air, memancing di sungai, dan bisa minum air sebanyak yang kita mau. Aku menceritakan bagaimana sehatnya manusia pada masa itu.
Dimana Air?


Dia bertanya :  "
Ayah! Mengapa tidak ada air lagi sekarang ?
"
Aku merasa seperti ada yang menyumbat tenggorokanku…


Aku tidak dapat menghilangkan perasaan bersalah, karena aku berasal dari generasi yang menghancurkan alam dan lingkungan dengan tidak mengindahkan secara serius pesan-pesan pelestarian… dan banyak orang lain juga!
   Aku berasal dari generasi yang sebenarnya bisa merubah keadaan, tetapi tidak ada seorangpun yang melakukan. Sekarang, anak dan keturunanku yang harus menerima akibatnya.

Sejujurnya, dengan situasi ini kehidupan di planet bumi tidak akan lama lagi punah, karena kehancuran alam akibat ulah manusia sudah mencapai titik akhir.
Aku berharap untuk bisa kembali ke masa lampau dan meyakinkan umat manusia untuk mengerti apa yang akan terjadi …

… Pada saat itu masih ada kemungkinan dan waktu bagi kita untuk melakukan upaya menyelamatkan planet bumi ini!


Kirim surat ini ke semua teman dan kenalan anda, walaupun hanya berupa pesan, kesadaran global dan aksi nyata akan pentingnya melestarikan air dan lingkungan harus dimulai dari setiap orang.


Persoalan ini adalah serius dan sebagian sudah menjadi hal yang nyata dan terjadi di sekitar kita. Lakukan untuk anak dan keturunanmu kelak.


Sumber You Tube

KUTUB SELATAN MENCAIR

Es Kutub Selatan Menyusut 160 Miliar Ton per Tahun

Es Kutub menyusut dan menaikkan volume air laut 0,43 milimeter

Oleh :
Bongkahan es di Kutub Selatan
Bongkahan es di Kutub Selatan (REUTERS/United States Air Force/Handout)
Data terakhir menunjukkan bahwa es di Kutub Selatan (Antartika) mulai menyusut sebanyak 160 miliar ton setiap tahunnya. Es sebanyak itu meleleh dan menaikkan volume air laut.

Perkiraan ini didapat berkat bantuan kapal luar angkasa Cryosat milik Eropa. Cryosat dilengkapi dengan perangkat radar yang secara khusus didesain untuk mengukur bentuk dan ketebalan es kutub. Ternyata, angka 160 miliar ton itu berjumlah dua kali lipat dibanding hasil temuan sebelumnya. Secara tidak langsung, es yang meleleh di Kutub itu akan menaikkan volume air laut sebanyak 0,43 milimeter per tahun.

Dilansir BBC dari jurnal Geophysical Research Letters, Selasa 20 Mei 2014, Cryosat telah melakukan pengukuran selama 3 tahun sejak 2010 lalu, melanjutkan observasi yang dilakukan oleh satelit lain sepanjang 2005 hingga 2010. Cryosat menggunakan altimeternya untuk melacak perubahan tinggi es, dimana volume es meningkat saat hujan salju dan menurun saat meleleh di musim panas.

Dalam penelitiannya, Cryosat membagi wilayah Kutub menjadi 3 bagian, Kutub Timur, Kutub Barat dan Peninsula yang memiliki wilayah terpanjang dan cakupannya hampir menjangkau Amerika Selatan. Cryosat menemukan, hampir semua es di kutub menyusut 2 sentimeter. Di wilayah Barat, es yang meleleh mencapai 134 miliar ton, sedangkan di Timur mencapai 3 miliar ton dan di wilayah Peninsula mencapai 23 miliar ton es per tahun.

Para ilmuwan telah memprediksi pencairan es Kutub ini sejak lama. Bahkan ada sebuah area yang bernama Amundsen Sea Embayment yang memiliki enam gletser terbesar. Sayangnya gletser tersebut terancam mencair akibat air laut yang menghangat dan akan menghilang seiring dengan perubahan iklim yang terjadi. Diperkirakan 90% pencairan es kutub ini terjadi karena kondisi cuaca yang cukup ekstrim.

Pencairan ini masih dibilang hanya sebagian kecil dari total level air laut yang potensial berasal dari Kutub, atau sekitar 26,5 juta kubik kilometer es yang setara dengan 58 meter kenaikan level air laut.

"Cryosat memberikan pemahaman kepada kita tentang kondisi Kutub yang sebenarnya dalam 3 tahun belakangan. Oleh karena itu kita juga akan melakukan survei terhadap keseluruhan wilayah. Kami menemukan jika es terus menyusut, khususnya di wilayah barat Antartika. Di wilayah Timur, kondisinya cenderung stabil, tak ada penyusutan atau penambahan es dalam kurun 3 tahun ini," ujar Dr. Malcolm McMillan dari NERC, pusat penelitian kondisi Kutub yang digagas Leeds University, Inggris.

Cryosat sendiri merupakan kapal luar angkasa yang diluncurkan pada 2010 dan didedikasikan untuk mengukur perubahan kondisi Kutub. Dilengkapi dengan 2 antena agar bisa mendeteksi dengan akurat, tidak hanya perubahan ketinggian es tapi juga bentuk dan ukuran. (ren)


Sumber © VIVA.co.id