Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Edukasi. Tampilkan semua postingan

13 Juli 2026

SEKOLAH BERBASIS BAKAT DAN STRUKTUR KOGNITIF GEN A-Z

SEKOLAH BERBASIS BAKAT selaras dengan konsep Multiple Intelligences yang digagas Gardner. 

Di sekolah anak saya, yang pernah diasuh Munif Chatib, muridnya Bobbi DePorter, ada tagline "semua anak cerdas, semua anak istimewa." 

Gardner, Bobbi DePorter, dan Munif Chatib adalah tokoh-tokoh besar dunia pendidikan modern yang sama-sama mengusung konsep sekolah berbasis bakat.

Sekolah berbasis bakat secara presisi mendorong lahirnya lebih banyak talenta-talenta ahli di masa depan, bukan kumpulan manusia dengan kemampuan biasa saja. 


Sekolah berbasis bakat ini amat sejalan dengan visi saya--yang pernah merasakan menjadi guru lebih dari 20 tahun--tentang sekolah masa depan.


Persepsi saya tentang sekolah secara umum, hingga saat ini terjebak dalam orientasi kognitif, memposisikan program ekstrakurikuler hanya sebagai formalitas kurikulum, dan menyelenggarakan rutinitas bernuansa religi namun "lepas" dari spiritualitasnya. 


Pelatihan guru dengan berbagai tema sudah amat banyak. Kata-kata indah tentang mendidik anak terpambang di dinding sekolah-sekolah menjadikannya kosmetik, namun "proses bersekolah"  seolah tidak ada hasilnya  jika mengacu pada laporan berkala PISA yang merefleksikan rendahnya kecakapan hidup paling dasar : literasi, numerasi, dan sains, yang menjadi  acuan utama sekolah konvensional.


Dalam praktiknya, sejak dulu proses pembelajaran dilakukan secara "pukul rata" dengan orientasi konvensional. Rendahnya kecakapan dasar yang dilaporkan PISA mungkin bukan sekedar masalah orientasinya yang konvensional, tapi lebih fundamental dari itu : kegagalan sekolah menyelenggarakan pembelajaran efektif karena mengabaikan karakteristik peserta didik yang makin tersegmentasi-teralienasi oleh pengaruh gadget yang diakrabinya. 


Ada kesenjangan akut antara desain "sekolah industri" yang menciptakan standarisasi dengan realitas mental generasi Alfa-Zenial yang teradiksi gawai yang menawarkan personalisasi ekstrem. Bukan gurunya tidak bekerja, melainkan arsitektur kognitif  peserta didik jaman sekarang yang telah berubah.


Kini anak terbiasa mendapatkan apa yang mereka suka secara instan, sehingga ketika kembali masuk dalam pola konvensional akan mengalami "kejutan perilaku" yang menyebabkan mereka bosan dan terasing.


Upaya Kementerian Pendidikan menciptakan pendidikan yang mengakomodasi bakat anak melalui  program Merdeka Belajar relatif belum dipahami sebagian besar penyelenggara dan praktisi pendidikan. 


Menarik kembali peserta didik dari keterasingan mental membutuhkan identifikasi pada minat dan bakatnya, melalui pendidikan berbasis bakat. Bakat diasah namun tanpa mengabaikan kecakapan dasar literasi-numerasi sesuai kesanggupan kognitif tiap anak.


Secara umum gambaran kerja sekolah berbasis bakat sebagai berikut : 


(1) identifikasi bakat setiap anak, kemudian 

(2) mengelompokkan anak berdasar rumpun bakat yang mirip, pengelompokan ini semata untuk memunculkan kegairahan belajar, efektivitas bekajar, disamping dukungan pada bakat mereka. Selanjutnya adalah 

(3) perencanaan dan pelaksanaan diferensiasi proses atau produk berdasar bakat anak dalam pembelajaran, 

(4) restrukturisasi dan optimalisasi kegiatan ekstrakurikuler menjadi talent club (wadah inkubasi bakat yang serius), 

(5) menyusun rencana pengembangan personal untuk anak yang sudah menunjukan bakat yang menonjol baik jangka pendek maupun jangka panjang (kompetisi bersifat kelompok yang tepat untuk melatih elaborasi, portofolio yang akan dibangun, mentor yang mendampingi, dsb), dan 

(6) penyediaan panggung aktualisasi dan portofolio (turnamen, pameran karya, festival, dsb).


Meski sekolah berfokus pada mengasah bakat anak, namun ruang eksplorasi tetap harus  dibuka untuk menemukan potensi lain yang belum tergali.  


Tantangan terbesar sekolah berbasis bakat  biasanya dalam penyelenggaraan pembelajaran terdiferensiasi, guru membutuhkan waktu untuk mengubah gaya konvensional yang klasik menuju gaya yang Nadiem sebut "Merdeka dalam Belajar", dan menciptakan "mood" baru yang positif  bagi mental-mental yang telah teralienasi dengan trik belajar di alam bebas seperti Pramuka. Tentu saja, kolaborasi dengan orangtua untuk menekan dominasi gawai tetap harus dilakukan.


Kabar buruknya...

Satu orang guru di sekolah berbasis bakat hampir mustahil menangani satu kelas besar karena persoalan administrasi. Satu kelas konvensional di Indonesia saat ini (lebih dari 25 siswa per kelas) mungkin membutuhkan tim guru 2 hingga 3 orang. 


Jika ada terobosan dalam administrasi pembelajaran--dan ini sangat mungkin di era AI-- seluruh sekolah di Indonesia menjadi sekolah berbasis bakat, bukan hal yang mustahil.


____________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa, M.Pd.








10 Juli 2026

IDENTIFIKASI KECERDASAN MAJEMUK ANAK

















Pendidikan yang presisi harus berbasis pada bakat anak: kecerdasan macam apa yang dimiliki anak untuk selanjutnya ditumbuhkembangkan oleh orangtua dan guru. 


Menurut Gardner, ada 7 macam kecerdasan, setiap anak mungkin memiliki beberapa diantaranya. 7 kecerdasan itu adalah ...


​1. Kecerdasan Linguistik (Cerdas Kata)


Anak dengan kecerdasan ini sangat peka terhadap bahasa lisan maupun tulisan. Dalam konteks anak Indonesia, cirinya meliputi:


Suka Dongeng atau Bercerita: Sangat ekspresif saat menceritakan kembali dongeng (seperti Kancil, Malin Kundang) atau menceritakan kejadian di sekolahnya dengan detail yang dramatis.


Pintar Meniru Ucapan/Dialek: Mudah meniru logat daerah lain, jargon viral di media sosial, atau gaya bicara seseorang di lingkungannya, atau tokoh/komedian di televisi dengan tepat.


Suka Permainan Kata Tradisional: Menikmati permainan seperti tebak-tebakan garing/reco, bermain pantun sederhana, atau permainan "pancasila ada lima" (menyebutkan kata/nama berawalan huruf tertentu).


Suka Membaca/Mendengar Cerita: Betah berlama-lama membaca komik, buku cerita rakyat, atau sering minta dibacakan cerita sebelum tidur.


​2. Kecerdasan Logika-Matematika (Cerdas Angka & Pola)


Anak yang unggul dalam berpikir kritis, keteraturan, dan pemecahan masalah.


Si "Tukang Tanya" yang Kritis: Sering mengajukan pertanyaan sebab-akibat yang bikin orang tua bingung, seperti "Kenapa kalau hujan di sini terang, tapi di sana mendung?" atau "Kenapa makan harus pakai tangan kanan?", dsb.


Suka Menyusun dan Mengelompokkan Mainan: Suka mengurutkan mainan (seperti mobil-mobilan atau robot) berdasarkan warna, ukuran, atau merek secara rapi, bukan sekadar memainkannya secara acak.


Jago Menghitung Uang Kembalian: Sangat cepat tanggap saat disuruh ke warung; bisa menghitung uang jajan dan kembalian dengan akurat di luar kepala.


Menyukai Strategi Permainan: Tertarik pada permainan yang membutuhkan taktik seperti catur, ludo, halma, atau permainan kartu (seperti kartu UNO atau kartu kuartet) dengan menghitung peluang menang.


​3. Kecerdasan Visual-Spasial (Cerdas Gambar & Ruang)


Anak yang mengandalkan imajinasi visual dan pemahaman ruang yang kuat.


Coret-Coret di Mana Saja: Suka menggambar di buku tulis sekolah, tembok kamar, atau menggunakan aplikasi menggambar di ponsel. Gambarannya sering kali memiliki detail yang kaya (misal: menggambar karakter anime atau pemandangan dengan perspektif yang baik).


Ingatan Rute yang Kuat: Sering menjadi "penunjuk jalan" bagi orang tuanya. "Bu, nanti setelah lampu merah depan minimarket itu kita belok kiri, kan?" meskipun baru beberapa kali lewat jalan tersebut.


Ahli Bongkar Pasang & Lego: Sangat betah menyusun balok-balok mainan, Lego, atau membuat prakarya dari kardus bekas menjadi bentuk rumah, robot, atau istana tanpa melihat buku petunjuk.


Suka Memperhatikan Detail Visual: Sangat peka terhadap perubahan penampilan seseorang (misal: "Mama potong rambut ya?") atau kombinasi warna pakaian.


​4. Kecerdasan Kinestetik-Jasmani (Cerdas Tubuh)


Anak yang mengandalkan koordinasi fisik, motorik kasar, maupun motorik halus.


Tidak Bisa Diam (Petakilan yang Positif): Sering dianggap tidak bisa diam saat belajar, suka menggoyang-goyangkan kaki, atau lebih suka belajar sambil berdiri/berjalan.


Jago Permainan Fisik Tradisional: Sangat lincah saat bermain petak umpet, lompat karet, engklek, sepak bola di lapangan/gang rumah, atau bermain kelereng dengan akurasi bidikan yang tinggi.


Refleks dan Keseimbangan Tubuh Bagus: Mudah meniru gerakan tari tradisional  (tari Saman atau tari Bali) atau koreografi modern dance, atau mudah dalam meniru gerakan lain seperti barus-berbaris, hanya dengan beberapa kali melihat contohnya 


Tangan yang Terampil: Terlihat sangat cekatan saat menggunting, melipat kertas (origami), menganyam sederhana, atau memperbaiki mainannya yang rusak menggunakan alat-alat kecil.


​5. Kecerdasan Musikal (Cerdas Nada & Irama)


Anak yang memiliki kepekaan tinggi terhadap suara, ritme, dan melodi.


Mudah Menghafal Lagu baik lagu Kebangsaan/Daerah maupun lagu-lagu populer : Sangat cepat menghafal lagu yang baru didengarnya, mulai dari lagu nasional, lagu daerah, hingga jingle iklan TV/radio.


Suka Mengetuk-ngetuk Meja (Bikin Ritme): Suka menciptakan ketukan atau ritme sendiri menggunakan pulpen di meja kelas, memukul-mukul panci di dapur, atau bersiul membentuk sebuah melodi.


Peka terhadap Sumbang/Ketukan Salah: Bisa langsung menyadari jika ada orang yang bernyanyi dengan nada sumbang (fals) atau jika ketukan musik pengiring tidak pas.


Belajar Lebih Mudah dengan Musik: Sering menghafal pelajaran (seperti nama-nama nabi, pahlawan, atau perkalian) jika materi tersebut diubah menjadi sebuah lagu atau yel-yel.


​6. Kecerdasan Interpersonal (Cerdas Sosial)


Anak yang sangat pandai membaca situasi sosial dan berinteraksi dengan orang lain.


Mudah Akrab (Supel): Saat diajak ke lingkungan baru (seperti arisan keluarga atau taman kota), anak ini bisa langsung mendapatkan teman baru dalam hitungan menit dan memimpin permainan.


Menjadi Penengah atau "Ketua Geng": Sering ditunjuk atau mengajukan diri menjadi ketua kelas, kapten tim sepak bola, atau menjadi penengah jika ada temannya yang sedang bertengkar di lingkungan rumah.


Empati Tinggi: Sangat peka jika melihat temannya sedih atau menangis; dia akan langsung mendekati, menghibur, atau membagikan makanannya (sharing jajan).


Pintar Negosiasi: Pandai membujuk orang tua atau temannya untuk menuruti idenya dengan cara bicara yang persuasif dan sopan (tidak sekadar merengek).


​7. Kecerdasan Intrapersonal (Cerdas Diri)


Anak yang memiliki pemahaman mendalam tentang emosi, kelebihan, dan kekurangan dirinya sendiri.


Mandiri dan Memiliki Prinsip: Tidak mudah ikut-ikutan (fomo) tren teman-temannya. Jika dia tidak suka suatu permainan, dia dengan tegas menolak dan memilih melakukan aktivitas lain secara mandiri.


Suka Menulis Buku Harian/Diary: Suka menuangkan perasaan, cita-cita, atau kekesalannya dalam bentuk tulisan rahasia atau jurnal pribadi.


Tahu Batas Kemampuan Diri: Saat menghadapi kegagalan (misal: nilai ujiannya turun), dia tidak menyalahkan orang lain, melainkan mengevaluasi diri: "Kemarin aku kurang belajar di bab ini, makanya nilainya jelek."


Butuh Waktu Menyendiri (Me Time): Kadang-kadang sengaja mencari ruang tenang di rumah untuk merenung, membaca, atau sekadar memikirkan ide-idenya tanpa ingin diganggu oleh anggota keluarga lain.


​8. Kecerdasan Naturalis (Cerdas Alam)


Anak yang memiliki keterikatan kuat dengan makhluk hidup dan fenomena alam sekitar.


Si Penyayang Hewan dan Tanaman: Suka memberi makan kucing liar di depan rumah, gemar membantu nenek menyiram tanaman, atau betah memelihara cupang, kelinci, atau burung.


Suka Main Kotor-Kotoran yang Produktif: Senang bermain tanah, mencari cacing, mengumpulkan batu-batu unik, atau memetik dedaunan untuk dijadikan "masak-masakan" atau eksperimen alam.


Peka terhadap Perubahan Cuaca: Sangat antusias memperhatikan fenomena alam, seperti mengamati bentuk awan, pelangi, petir, atau menyadari tanda-tanda alam (seperti "Bu, semutnya pada naik ke dinding tinggi, mau hujan lebat sepertinya").


Betah Berkegiatan Luar Ruangan (Outdoor): Lebih memilih diajak liburan ke tempat alam terbuka seperti daerah pegunungan, pantai, kebun binatang, atau berkemah, dibandingkan pergi ke mal atau pusat perbelanjaan.


...

Untuk membantu memvalidasi upaya identifikasi orangtua/guru atas kecerdasan majemuk anak, perhatikan pula beberapa aspek yang sesuai dengan bakatnya berikut ini :


1) minatnya konsisten, ia tetap menyenangi dan betah berlama-lama dengan yang disukainya itu, 

(2) cepat sekali menguasai, merasa mudah melakukan sesuatu yang sesuai dengan bakatnya, dan 

(3) keahliannya meningkat sangat pesat, mampu menyelesaikan sesuatu lebih cepat dari teman sebayanya, atau lebih tinggi kualitasnya.


​Jarang sekali ada anak yang hanya memiliki satu jenis kecerdasan. Karakteristik anak Indonesia umumnya menunjukkan gabungan 2 sampai 3 kecerdasan yang dominan.  


Cermati anak-anak kita.  Setelah mengidentifikasi macam kecerdasannya, buat rencana bagaimana cara mengembangkannya. 


Semoga artikel ini bermanfaat.

________________


Hamdan A. Batarawangsa

26 Juni 2026

SOPAN SANTUN : KECAKAPAN HIDUP YANG DIABAIKAN GENERASI Z

Budaya sopan santun adalah prestasi bagi sebuah bangsa. Hanya bangsa berperadaban tinggi yang mampu melahirkan budaya "unggah-ungguh" ini. 

Sopan santun adalah keterampilan atau kecakapan mengelola ego orang lain dengan memadukan berbagai elemen khususnya estetika dalam  gestur dan bahasa, serta psikologi, agar komunikasi menjadi bermakna, berkesan, efektif, dan harmonis. 


Sopan santun adalah pelumas dalam interaksi sosial manusia. Era AI dimana sisi  humanis cenderung terdeprisiasi, sopan santun akan menjadi keterampilan yang sangat mahal. 


Sopan diterapkan kepada orang yang dihormati karena faktor usia, ilmu, kedudukan, dan sebagainya.  Sedangkan santun diterapkan kepada orang yang harus dilindungi karena masalah kelemahan : fisik, finansial, kelas sosial, dan sebagainya.  Seringkali sopan santun diterapkan bersamaan kepada orang yang sama, misalnya anak kepada orang tuanya yang telah sepuh.  


Sopan santun sebagai kecakapan bergaul-kecakapan mengelola ego,  selayaknya fleksibel:  kadar formalitasnya mengikuti situasi dan kondisi orang yang terlibat interaksi. 


Sebagai kecakapan hidup, sopan santun atau etiket, tidak ada hubungannya dengan etika (moralitas). Orang yang buruk etiketnya, belum tentu buruk moralitasnya, atau sebaliknya. Etiket santun berarti memaklumi dan memahami sikap dan perilaku "tidak sopan" dari orang yang diyakini tidak punya itikad buruk, sebagai keterbatasannya semata bukan kejahatan atau pelanggaran moral. 


Selanjutnya saya menggunakan istilah etiket untuk pengganti sopan santun, agar lebih ringkas .


Pergeseran Etiket Generasi Z


Meski secara umum moralitas (etika) tidak banyak mengalami perubahan, misal moralitas Pancasila bangsa Indonesia yang tetap mendukung nilai-nilai religi dan keadilan sosial, anti diskriminasi, solidaritas yang tetap tinggi, dan  demokratis  dalam menyelesaikan masalah, namun etiket mengalami pergeseran bahkan penurunan kualitas jika dilihat dari perspektif generasi di atasnya. 


Sedangkan dalam perspektif netral, terjadi pergeseran standar (etiket baru) yang mengabaikan pengelolaan ego interaksi.


Fenomena di atas selaras dengan laporan Aulia dan Christin (2024) dalam Etika Komunikasi Generasi Z dan Millenial dalam Media Sosial Tiktok menulis bahwa cara komunikasi gen Z memicu tingginya gesekan sosial akibat perbedaan standar kesantunan baik antar generasi maupun dalam sesama generasi Z.


Stillman dan Stillman (2017) dalam How the Next Generation is Transforming the Workplace menulis bahwa gesekan dengan gen Z sering muncul karena gaya komunikasi yang dinilai kurang sopan dan menabrak batasan hirarki formal tradisional generasi di atasnya.


Paggi dan Clowes (2021) dalam Managing Generation Z : How to Recruit Onboard, Develop,  and Retain the Newest Generation in Workplace menulis bahwa gen Z sering mengalami Miskomunikasi dengan generasi di atasnya karena belum terlatih dalam etiket komunikasi profesional unwritten rules, gen Z membutuhkan arahan etiket kerja yang lebih jelas.


Tingginya konflik menyangkut gen Z  adalah tanda generasi tersebut kurang terampil  dalam komunikasi efektif, khususnya dalam mengelola ego interaksi. Generasi Z relatif tidak menganggap atau BELUM MENYADARI  bahwa etiket adalah kecakapan hidup yang penting dalam kehidupan sosial yang real.


Generasi Z lahir dan dibesarkan dalam alam digital sementara orang tua gagap dalam adaptasi dan menakar konsekuensi, karena terlalu cepatnya perubahan teknologi yang memicu perubahan cepat lain di segala lini kehidupan, sehingga terlambat menyadari dampak dari perubahan pola hidup kepada anaknya.


Generasi Z lebih banyak berinteraksi secara maya baik dengan manusia lain maupun dengan "manusia tiruan"  kecerdasan buatan, dengan  terlalu sering menggunakan bahasa yang langsung dan singkat, berbasis teks dan emoji. 


Selain itu karena terlalu sering komunikasi secara maya dari tempat privasi, gen Z jadi biasa dengan kondisi kasual saat berinteraksi digital dengan siapapun, batasan "malu" atau canggung memudar karena tidak bertemu secara langsung. 


Kurangnya interaksi sosial secara langsung  karena waktunya lebih banyak dihabiskan di depan gadget, mengurangi kesempatan bagi generasi Z untuk belajar tentang etiket, sopan santun, atau unggah ungguh, yang merupakan kecakapan hidup yang kini semakin tinggi nilainya.


"Kurang etiket" bukanlah kejahatan, bukan pula pelanggaran, karena etiket hanyalah kecakapan hidup semata, dimana "generasi atas"  memiliki hutang edukasi sekaligus hutang adaptasi (memahami) kepada generasi di bawahnya.  


Generasi Z hanya butuh arahan, terutama arahan etiket dalam dunia pendidikan dan dunia kerja. Sementara gen Z di pedesaan yang juga memiliki akses digital namun berbatas, mereka relatif tetap mewarisi secara utuh etiket yang diajarkan keluarga dan masyarakat. 


Secara moral (etika) mungkin generasi Z justru lebih unggul terutama dalam nilai-nilai egaliter, transparansi, dan fungsional.


_____________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa






06 Mei 2026

DARI DARMASIKSA KE SIKSAKANDA









Nama Darmasiksa ada dalam buku berjudul "Amanat Galunggung" yang ditulis oleh Atja dan Saleh Danasasmita tahun 1981, awalnya berupa laporan penelitian pada objek naskah Sunda kuno yang diberi nama Kropak 632, suatu naskah berbahan daun nipah, yang awalnya berada di situs Ciburuy, Garut.


Berdasar uji paleografi, linguistik, karbon, dan  kontekstual, Kropak 632 dibuat sekitar Abad ke-15 namun isi naskah menceritakan tentang peristiwa pada abad ke-12, berkenaan dengan tokoh bernama Batari Hyang, seorang Ratu-Resi (Raja Pandita)  yang memberi wasiat pada anaknya, Rakeyan Darmasiksa yang menjadi Raja di Saunggalah (Galunggung), beserta seluruh rakyatnya. 


Prof. Ayatrohaedi dalam buku Sundakala yang mengulas Naskah Wangsakerta (naskah abad ke-17 berjudul asli Pustaka Rajya-rajya i Bhumi Nusantara) menulis bahwa Darmasiksa adalah Raja Saunggalah (Galunggung) yang berumur panjang  (1150-1297) dan berkuasa selama 122 tahun (1175-1297). Pada 1275 menggantikan Prabu Darmakusumah, menjadi raja Sunda Galuh (gabungan Priangan Barat dan Priangan Timur hingga Brebes) yang beribukota di Pakwan (Pakuan Pajajaran, Bogor). Kerajaan Sunda dan Galuh (Galuh atau Kawali) adalah pecahan dari Kerajaan Tarumanegara.


Dalam  Naskah Wangsakerta  yang diulas Ayatrohaedi ditulis bahwa Darmasiksa adalah kakek dari Raden Wijaya pendiri Majapahit. Setelah ayah Raden Wijaya, Jayadarma putra Darmasiksa, wafat, Raden Wijaya dibesarkan  keluarga ibunya di Singasari. Raja Singasari, Kertanegara, adalah sepupu dari ibu Raden Wijaya, Dyah Lembu Tal anak Mahisa Campaka.


Batari Hyang, ibunda Darmasiksa, yang berarti adalah nenek buyut dari Raden Wijaya terabadikan namanya dalam prasasti Geger Hanjuang, Linggawangi, Tasikmalaya, bahwa pada tahun 1111 Masehi mengubah status kebataraan (wilayah otonom spiritual) Galunggung menjadi kerajaan. Kemudian pada penobatan Darmasiksa menjadi raja, Batari Hyang memberi wasiat.


Wasiat Batari Hyang kepada Darmasiksa dalam Kropak 632 yang kemudian disebut "Amanat Galunggung" bukan cuma pesan keluarga kepada Rakeyan Darmasiksa, namun juga merupakan konstitusi moral negara tentang kedaulatan, patriotisme, identitas, dan etika sosial :


1. Menjaga identitas dan kehormatan Kabuyutan (kedaulatan),

2. Menghormati leluhur sebagai sumber eksistensi (loyalitas),

3. Etika kepemimpinan yang berasaskan darma (integritas),

4. Melarang perebutan kekuasaan/kudeta (stabilitas), dan 

5. Kewajiban menjaga persatuan (solidaritas).


Perlu diketahui Batari Hyang bukanlah Batara Galunggung pertama dan terakhir. Para Batara Galunggung, setidaknya sejak abad ke-8, disebut-sebut sebagai tokoh yang meresmikan (nu ngabiseka) para raja yang berkuasa di kerajaan Galuh. Dalam "Carita Parahyangan" ditulis pada sekitar abad ke-8  Batara Semplak Waja Galunggung meresmikan Rahyang Mandiminyak putra Raja Wretikandayun sebagai raja Galuh yang baru.


Kebataraan Galunggung meredup secara perlahan dan berakhir kemungkinan karena beberapa sebab, diantaranya runtuhnya kerajaan Sunda-Galuh pada abad ke-16 yang selama ratusan tahun telah memposisikan Kebataraan Galunggung sebagai wilayah sakral, masuknya Islam yang secara substansi ideologi dan moral sangat klop dengan ajaran Sunda, dan  perubahan politik terutama pada era kolonial yang mengubah status daerah otonom Galunggung menjadi unit administratif biasa dibawah Kabupaten Sukapura dengan Bupati (raja) yang ditunjuk oleh pemerintah kolonial.


Pada abad ke-16, bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Sunda Galuh dan meredupnya Kebataraan di Galunggung, sekelompok Resi melakukan upaya kodifikasi besar-besaran terhadap seluruh kearifan lokal Sunda. Hal ini diketahui melalui temuan naskah kuno lain, yaitu Kropak 630 berangka tahun 1518, berjudul "Siksakanda Ng Karesian" yang berarti "Kitab Ajaran Para Resi" atau secara harfiah berarti "Buku Tentang Hidup Bijaksana".


Isi Siksakanda Ng Karesian menyinggung banyak aspek kehidupan yang intinya  menuju pada keharmonisan. Pokok-pokoknya sebagai berikut :


1. Tentang segala hal, bertanyalah hanya pada ahlinya,

2. Membangun integritas pribadi dimulai dari menjaga keinginan dan ucapan, agar tidak membawa bencana bagi diri sendiri dan orang lain, 

3. Konsep pembagian kekuasaan : Ratu (politik) patuh pada Resi (ilmu, hukum, moral), dan Resi patuh kepada Rama (pemangku adat, pemelihara akar budaya), dan

4. Bekerja secara profesional, sekecil apapun pekerjaannya, akan membawa kebaikan.


Inti pesan ajaran Siksakanda Ng Karesian adalah "belajarlah dari ahlinya, kendalikan dirimu, dan hiduplah sesuai kapasitasmu untuk menjaga harmoni dunia".


"Dari Darmasiksa ke Siksakanda" menunjukan bahwa peradaban Sunda memiliki kontinuitas intelektual yang panjang, dan bangsa Sunda telah memiliki sistem literasi dan etika yang mapan sejak ratusan tahun lalu. 


Amanat Galunggung dan Siksakanda Ng Karesian  adalah dwitunggal pusaka intelektual yang menjadi jangkar etik dan kompas sosiologis bagi peradaban Sunda, yang populer disebut ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan (Sunda asli) yang masih lestari hingga sekarang.


Makam keturunan Batara Galunggung
di Kp. Urug, Cikatomas, Kawalu, Tasikmalaya 









Ajaran Jati Sunda atau Sunda Wiwitan saat ini seperti sebuah kapal yang percaya diri di tengah badai, melambung dan menghempas mengendalikan ombak, layarnya terkembang menderu mengarungi lautan kearifan yang ganas...


____________


Penulis :

Hamdan A. Batarawangsa


Menyambut Hari Tatar Sunda 18 Mei 2026.