Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

13 Mei 2026

ZARATHUSTRA SANG NABI KESEPIAN

Sebelumnya ia mengatakan bahwa tuhan sedang sekarat, kemudian  berteriak bahwa tuhan telah mati. Friedrich Nietzsche berkesimpulan bahwa masyarakat pada jamannyanya bukan menyembah Tuhan, tapi menyembah berhala. Tapi tidak seperti Ibrahim yang mencari Tuhan sejati, Nietzsche yang terpenjara dalam eksistensialisme-voluntaristik hanya sampai di separuh syahadat : laailaha ... (tak ada tuhan...).

Namun ia mencintai kemanusiaannya, tidak terima bahwa eksistensinya adalah kesia-siaan, ia menolak nihilisme. Manusia harus punya moralitas original yang bukan ajaran berhala. Bagi Nietzsche manusia harus menjadi subjek, bukan objek dari takdir, meski ia mengakui tidak mampu sepenuhnya mengendalikan hidup.


Maka ia menulis buku berjudul "Sabda Zarathustra" yang melukiskan mahaguru Zarathustra sebagai matahari sore di pantai, yang harus terbenam di ufuk barat, untuk menerangi di kedalaman sisi gelap wilayah lain...


Zarathustra berkata bahwa manusia adalah kondisi dalam  perjalanan antara binatang dan Ubermensch (manusia paripurna).


Moralitas-moralifas Zarathustra:

(1) Baik dan buruk tidak ditentukan ajaran dan norma manapun selain pertimbangan subjektif pribadi; hal ini membutuhkan kreativitas, kekuatan, dan keberanian atas kedaulatan diri; membuang mental kawanan,

(2) memuliakan kehidupan fisik : kesehatan, keindahan, kekuatan,

(3) mencintai kehidupan dan suka-cita atas pengulangan momen kehidupan berkali-kali.


Ubermensch dalam Zarathustra adalah kondisi ideal yang tidak pernah dicapai, karena hidup dipandang sebagai proyek pengembangan diri yang tak pernah selesai untuk menjadi tuhan bagi diri sendiri. 


Pemikiran Nietzsche dalam Zarathustra tidak realistis dalam kehidupan sosial. Ia sukses dengan bombastis menghancurkan dogma-dogma etik yang dominan di Eropa pada jamannya, namun kurang brilyan dalam memberikan solusi yang membumi, bukan karena kegagalan intelektual namun penolakan prinsip atas segala kolektivitas yang menyeragamkan manusia. 


Zarathustra ala Nietzsche seperti nabi yang kesepian, ia menolak jadi pemimpin bagi pengikut, tapi ia ingin menjadi kompas bagi pengembara yang siap tersesat.

______________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa