Berhentilah membayangkan sekolah dan kampus 1-2 dekade ke depan seperti sekolah dan kampus hari ini. Ketika AI sudah semakin maju, tak ada lagi dosen yang ceramah di kelas, kecuali untuk diskusi etika, simulasi kasus tingkat tinggi, praktik laboratorium yang membutuhkan intuisi, dsb, karena penyampaian semua materi dasar, simulasi lab in vitro, dsb, sudah diambil alih oleh AI. Saat ini dunia sudah memasuki gelombang ke-6 dalam Siklus Kondratief (gelombang teknologi kecerdasan buatan), maka penting mengenali AI dan memprediksi konsekuensi yang akan ditimbulkannya di masa depan.
Dalam artikel "Prediksi Dunia 50 Tahun ke Depan..." telah dikenalkan beberapa akademisi futuristik terkemuka dan visi umumnya tentang dunia masa depan. Menyambut Hari Pendidikan Nasional, kali ini Penulis berfokus pada "sekolah masa depan".
Dalam dunia pendidikan, Perguruan Tinggi (PT) adalah ekosistem yang akan mengalami guncangan paling hebat dibanding level di bawahnya: mahasiswa tidak lagi tertarik gelar akademik dan teori bertele-tele karena mereka tidak lagi "belajar untuk tahu" namun "belajar untuk menjadi" dan berpacu dengan waktu agar bisa berbuat sesuatu supaya bisa bertahan dalam kehidupan nyata sehari-hari yang penuh persaingan dan kejutan (shock future) seperti yang dikatakan Toffler. Kampus harus bertransformasi nyata menjadi bagian dari ekosistem industri yang terintegrasi dengan AI jika tidak ingin bangkrut.
Pendidikan Dasar dan Menengah akan berubah menjadi semacam pusat inkubasi sosial dimana anak belajar berempati, hidup bersama, kerjasama kelompok, pengembangan karakter baik, dan kebugaran. Kegiatan kognitif akan mengarah pada kegiatan berpikir tingkat tinggi untuk memecahkan masalah-masalah kompleks dan mengembangkan kreativitas. Kehadiran guru real sepanjang waktu seperti saat ini hanya ada di sekolah-sekolah "mahal". Namun secara umum, sangat mungkin terjadi kemunduran berpikir karena semua proses kognitif telah dikerjakan AI.
Sekolah Dasar dan Menengah jika mampu beradaptasi, justru memainkan peran strategis menjaga "kemanusiaan" manusia di era robot. Dasar-dasar kemanusiaan : logika, etika, estetika, spiritualism, dan kesehatan jasmani, ditanamkan hingga meresap di jenjang ini. Jika sekolah di jenjang ini gagal beradaptasi, gedung-gedung sekolah akan kosong karena orang tidak merasakan manfaatnya, atau mereka akan memilih sekolah yang lebih praktis seperti "home schooling" dan bimbingan privat yang menawarkan program "khusus".
...
Orang boleh menganggap saya hanya berimajinasi tentang masa depan, tapi saya bukan satu-satunya. Imajinasi adalah satu dari sedikit, yang akan membuat kita tetap menjadi manusia di era robotika.
(Menyambut Hari Pendidikan Nasional, sebagai sebuah "wake up call")
__________________
Penulis
Hamdan A. Batarawangsa

