Gubernur Jawa Barat yang bermazhab budaya Sunda Wiwitan, Dedi Mulyadi, meletakan konsep kasta dalam epistemologis spiritual, bukan lahiriah. Ini menarik, seolah memberi detil tentang tingkatan maqom dalam "hierarki takwa" sesuai paham Islam yang beliau anut, sehingga status kasta menjadi sesuatu yang dinamis.
Selama ini kita mengenal konsep kasta ada dalam ajaran Hindu Siwaisme India, yaitu pengelompokan status sosial masyarakat berbasis genetik dari yang tertinggi ke yang terendah : Brahmana, Ksatria, Weisya, Sudra, dan Pariya, yang semakin ke bawah semakin terikat dengan aspek materi duniawi, dan semakin ke atas semakin menyentuh hal-hal transedental-intelektual.
Tingkatan "kasta batin" yang disampaikan Dedi Mulyadi selaras dengan pahatan relief di Candi Borobudur. Pada tingkatan paling rendah, relief menampilkan perilaku hewani pada manusia yang hanya berorientasi pada pemenuhan biologis dengan moralitas yang rendah. Pada tingkatan tertinggi, sifat dan perilaku manusia sudah disertai kesadaran diri, moralitas, dan intelektualitas, bahkan mengarah pada--meminjam istilah tasawuf--khawasul khawas.
Bahasan kasta oleh Dedi Mulyadi sebagai Gubernur, sehubungan dengan kritik pada sistem demokrasi di Indonesia yang mengakomodasi para "Sudra-Pariya" menjadi pemimpin masyarakat, yang menyebabkan kehancuran pada masyarakat karena orientasi pribadinya masih tak bisa lepas dari nafsu duniawi. Kepada masing-masing pribadi Dedi Mulyadi memotivasi untuk meningkatkan kasta batin. Sesungguhnya setiap orang punya "maqomnya" masing-masing.
_______
Sementara negara diberi amanah untuk mendidik-mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam konteks ini sebetulnya adalah misi menghapus kasta rendah. Kasta rendah dalam jumlah banyak sangat berbahaya. "Tidak ada yang lebih mengerikan daripada massa bodoh yang bertindak", kata Goethe.
