Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

11 Mei 2026

KRONOLOGI KERUNTUHAN RUPIAH, KOMBINASI BADAI YANG SEMPURNA


Agustus 1997, iklim di Indonesia sedang panas dan kering.  Kemarau panjang menampilkan antrian rutin di sumber-sumber air sejak pagi buta hingga tengah malam. Ba'da sholat shubuh, tempat wudhu dan toilet mushola-masjid banyak yang berubah jadi MCK  dan tempat cuci umum ibu-ibu sekampung. 


Pada Mei-Agustus 1997, George Soros, seorang spekulan valas internasional berkewarganegaraan ganda Hungaria-AS, melihat Bath Thailand sebagai mata uang yang rapuh dan mudah dimainkan. 


Bulan itu juga ia berhasil meminjam uang dalam BATH  tanpa jaminan  (unsecured credit lines) yang nilainya setara AS$ 10 Milyar dari bank-bank internasional di Singapura dan AS,  dan langsung menjualnya secara masif (short selling) melalui broker Singapura (laporan IMF September 1997, Kaufman dalam Soros : The Life and Times of a Messianic Billionaire, dan Wall Street Journal-Bloomberg, September 1997).   


Soros melepas  Bath dan menukarnya dengan dollar AS. Jual "dadakan" yang dilakukan Soros membuat nilai Bath turun signifikan hingga akhirnya ia membeli kembali bath di harga murah. Selisih nilai Bath itulah profit yang didapat Soros.


Apa yang terjadi di Thailand ternyata menular secara psikologis ke Indonesia (Contagion Effect). Rumor rupiah akan menjadi target Soros berikutnya memunculkan sentimen negatif di kalangan trader valas, para pengusaha lokal yang memiliki hutang dalam dollar AS, dan para konglomerat. Mereka semua melepas rupiah dalam jumlah besar dan menukarnya dengan dollar AS secara masif.


Banjirnya rupiah dalam jumlah besar dalam waktu singkat membuat guncangan hebat di pasar valuta asing, tiba-tiba nilai tukar rupiah melorot dari Rp.2400 menjadi Rp. 2600 per AS$,  turun 8% hanya dalam 24 jam.


Longsornya kurs rupiah secara tiba-tiba itu  memunculkan aksi "jual panik"  mata uang Indonesia lebih dalam. Pada 14 Agustus, rupiah menjadi Rp.2855 per dollar AS dan terus melemah hingga penutupan pasar, turun nyaris 20% dalam 14 hari.  


Untuk menahan nilai rupiah, Bank Indonesia (BI)  melakukan aksi beli rupiah menggunakan dollar AS sejak beberapa hari sebelumnya, namun gagal. Rupiah terus melorot sementara cadangan  dollar AS terkuras habis. 


Pada 14 Agustus itu, BI mengumumkan menghentikan intervensi dan membiarkan pasar bergerak bebas (free floating exchange rate system) yang ternyata menjadi awal malapetaka. Pada Juni 1998, nilai rupiah menyentuh Rp.17.000 per dollar AS, sebelum akhirnya melenting naik ke Rp.7000 menutup tahun 1998. 


Selain faktor sentimen negatif dan strategi BI yang salah, kejatuhan rupiah juga disebabkan fundamental keuangan yang buruk : cadangan devisa BI terlalu sedikit; besarnya hutang dollar jangka pendek pihak swasta sementara income mereka dalam rupiah tanpa hedging/asuransi nilai tukar untuk proyek jangka panjang; dan bank milik konglomerat terlalu banyak membiayai perusahaannya sendiri melebihi batas maksimum sehingga menyebabkan kredit macet.  


Longsornya rupiah pada 1997-1998 disebabkan  kombinasi sempurna 3 hal strategis yang menghancurkan di atas. Adapun saran IMF menutup 16 bank tanpa jaminan pada November 1997 menambah ruwet situasi dan kondisi, dimana  masyarakat  akhirnya ramai-ramai menarik dana dari semua bank di tanah air.


Hal-hal tidak realistis seperti sentimen pasar, terbukti menjadi pencetus krisis yang serius pada negara dengan fundamental dan struktur ekonomi yang keropos. 

__________________