Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

22 Mei 2025

REFORMASI GAGAL, REFLEKSI MEI 1998

Mei 1998 status saya mahasiswa sebuah PTN,  mondok di sebuah asrama mahasiswa yang diisi anak-anak muda dari berbagai fakultas, berbagai suku, berbagai agama, dan dari berbagai daerah di Indonesia. Asramanya besar, tapi hanya punya satu radio inventaris. Radionya butut tapi suaranya cukup kencang.

Sejak Januari, setiap pukul 20.00 saya dan kawan-kawan mendengarkan siaran  radio BBC London tentang perkembangan aksi-aksi demo mahasiswa se-Indonesia. Dari siaran BBC London itulah kami tahu rencana-rencana aksi besok dan seterusnya.


Sejak 1994 sebetulnya demo-demo mahasiswa sudah ada di berbagai kampus, namun skala kecil hanya 5-10 orang.  Demo besar di mulai dari orasi para Guru Besar UI di Salemba, diantaranya Prof. Sri Edi Swasono, disusul orasi dari legenda LBH, Dr. Adnan Buyung Nasution. Sejak hari itu di  halaman kampus UI Salemba selalu ada orasi dari siapa saja. Salah satu orator mengajak kampus-kampus se Indonesia untuk mulai "bersuara". Beberapa waktu kemudian kampus-kampus yang "bisu" mendapat kiriman paket "pakaian dalam" wanita. Waktu itu wanita masih dikonotasikan sebagai "penakut", tentu saja keliru karena sejujurnya sangat banyak wanita pemberani.


Orasi dan demo tahun 1998 adalah respon dari hancurnya ekonomi Indonesia. Pada Agustus 1997, 1 Dollar AS masih setara Rp.2.400 tapi satu bulan kemudian anjlok berkali lipat; beras dan sembako tiba-tiba mahal kemudian menghilang; terjadi PHK massal yang tidak pernah terprediksi sebelumnya; penjarahan massal toko-toko dan mall; pembakaran kantor-kantor sepanjang jalan raya utama, dll. Di daerah Klender Jakarta Timur ada mall yang dijarah kemudian dibakar oleh massa tak dikenal beserta ratusan manusia-manusia di dalamnya...


Sebelum tanggal 20 Mei, bentrokan mahasiswa dan aparat terjadi beberapa kali, dan tidak hanya di Jakarta. Korban jiwa mahasiswa bukan hanya karena ditembak, tapi ada pula karena pukulan benda tumpul. Kawan kami, seorang mahasiswi berhijab, kru majalah kampus ditemukan tewas di pinggir jalan dengan kepala pecah saat meliput bentrokan mahasiswa dengan aparat.


Dukungan masyarakat pada demo mahasiswa 1998  jauh berbeda dengan kondisi saat ini. Pada 20 Mei 1998, konvoi mahasiswa di jalan raya ditonton ratusan-ribuan masyarakat dari pinggir jalan, mereka memberi air dan makanan, dukungan terasa full 100%. Itulah, setelah 20 Mei 1998 dan seterusnya, saya merasa bersalah, karena sejak saat itu kondisi bangsa tidak pernah sebaik sebelumnya: sopan santun anjok, kesusilaan  merosot, korupsi-kolusi-nepotisme malah menggila. Reformasi gagal total. Meski mahasiswa, yang katanya kaum intelek muda, sebetulnya kami semua awam soal politik, mengira setelah Pak Harto lengser keadaan akan membaik, ternyata salah besar. 


Soal demo mahasiswa, sempat saya diskusikan dengan ayah yang pada 1965 juga pernah jadi mahasiswa demonstran. Kesimpulannya, mahasiswa hanya kuda tunggangan politik, demonstrasi bukan cara demokrasi yang baik. Mahasiswa di era kami, 1965 - 1998 tidak mampu menyamai kualitas mahasiswa angkatan 1928, angkatan Kebangkitan Nasional yang sesungguhnya.

_____


Penulis:

Hamdan A Batarawangsa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.