SEBELUM TAHUN 2000 ketika TV masih menjadi media informasi-komunikasi terpopuler dengan konten-konten yang "terpelihara sangat baik", cendekiawan Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual sudah menyebut TV sebagai media pembawa agama baru: pesan yang "diajarkan" TV lebih efektif daripada juru dakwah, guru, dan orangtua dalam membentuk sikap-perilaku masyarakat, TV sudah dicurigai menyelipkan nilai-nilai "lain".
Kini, lebih dari 2 dekade kemudian, ternyata posisi TV tergeser oleh smartphone.
Smartphone berlipat kali lebih efektif dalam membentuk sikap-perilaku-mendakwahi agama baru: nilai-nilai "lain" yang kontroversial.
Smartphone mengambil alih peran orangtua, guru, dan dai dalam membimbing moralitas.
Dimasa depan smartphone akan lebih kompleks sekaligus tak terpisahkan bagi setiap orang: sebagai alat yang mempermudah kerja, alat komunikasi, sumber informasi, dan hiburan, disamping fungsi fundamentalnya yang terselubung : media bagi "agama baru" seperti saya tulis di atas.
Sisi gelap smartphone bukan cuma media bagi pornografi, ajaran kekerasan-kebencian, propaganda politik kotor, dan penipuan online, tapi juga perusakan pikiran (mental) secara sistematis dan masif melalui ratusan-ribuan tayangan informasi palsu atau setengah palsu yang terus berulang tiap hari, yang akan menciptakan manusia-manusia "otak kosong", manusia-manusia dengan logika yang kacau, manusia-manusia bingung, manusia-manusia kosong yang mudah dimanipulasi ... ZOMBI.
... Manusia yang menurut Alvin Toffler adalah korban-korban dari kejutan masa depan (shock future). Zombi-zombi yang dibuat marah bisa menjadi pasukan berdaya rusak tinggi dan dimanfaatkan untuk kejahatan.
Smartphone yang menawarkan hiburan tiada henti dan mewujudkan secara instan dahaga kesenangan digital, mengubah struktur kognitif generasi Zenial dan Alfa ketika berhadapan dengan momen yang tidak memberikan hiburan : rentang perhatian yang pendek dan mudah merasa bosan.
Kondisi tanpa hiburan segera melempar mental mereka ke sudut keterasingan kehidupan real.
____
Tugas mendidik Orang Tua dan Guru tidak lagi hanya menanamkan budi pekerti, sopan-santun, unggah-ungguh, etos, etika-etiket, dsb., tapi juga mendidik agar mau dan mampu menaklukan smatphone (gawai) agar selamat dari arus perusakan mental yang menghilangkan kemanusiaan manusia.
_____________________
Penulis
Hamdan A Batarawangsa

Bacaan perlu diresapi
BalasHapus