Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

12 Desember 2025

DUA PENYAKIT DEMOKRASI

DEMOKRASI menjadi rusak, sejak individu "ngasal" dalam memilih wakilnya. Ketika masuk usia sekolah, demokrasi pertama mungkin dialami di ruang kelas saat pemilihan Ketua Kelas, pemilihan Ketua OSIS, dan seterusnya hingga pemilihan Ketua Kelompok, Ketua Panitia, Ketua Angkatan, Ketua Senat, Ketua BEM, Ketua DLM, Ketua Proyek, Ketua RT, Ketua RW, DPR/DPRD, Bupati, Wali Kota, Gubernur, Presiden, Ketua MPR, dst. Dalam pemilu 5 tahun sekali masyarakat "mencoblos" orang-orang yang mungkin tidak dikenalnya. 


Demokrasi yang sekarang dianut masyarakat kita adalah demokrasi ala barat, terutama yang digagas John Locke, Montesquieu, John Stuart Mill, Marquis de Lafayette, dan Jean Jacques Rousseau. Dari 5 tokoh besar ini, Rousseau-lah satu-satunya yang paling keras men-sponsori demokrasi "pemilihan langsung", ia wafat pada 1778 sebelas tahun sebelum Revolusi Perancis pecah. 


Rousseau hidup disaat Perancis penuh intrik politik antara bangsawan - raja - kaum Borjuis / Bourgeoisie (Necker, Perier, Orleans, Rotschild, dll) dimana keuangan kerajaan sangat kacau, kendali atas pangan masyarakat lemah, sedangkan jumlah penduduk di setiap kota masih sangat sedikit antara 40 ribu - 160 ribu jiwa saja.


Kaum Borjuis sangat kaya namun tidak memiliki hak politik sehingga tidak "leluasa" dalam berbisnis.  Sementara Rousseau berpendapat bahwa rakyat adalah sumber kedaulatan dan kedaulatan rakyat tidak boleh diwakilkan. Pendapat Rousseau tentu didukung penuh kaum Borjuis. 


Demokrasi pemilihan langsung di Indonesia dimulai sejak 2004, setelah melakukan amandemen UUD 1945. Sebelumnya, Indonesia menganut demokrasi musyawarah perwakilan sesuai sila ke-4 Pancasila sebagai model demokrasi yang paling ideal untuk bangsa dengan populasi yang sangat besar, dimana tingkat pendidikan dan kepahaman politiknya masih rendah. Tidak bisa semua orang bersuara, demokrasi harus menyaring hanya suara yang paling bermutu untuk dipertimbangkan.


Demokrasi Pancasila mendorong masyarakat Indonesia yang majemuk mewakilkan hak politiknya pada orang yang paling kompeten agar terjadi musyawarah mufakat yang menjadikan "hikmah kebijaksanaan" sebagai panglima, sehingga menghasilkan solusi terbaik dalam mengatasi setiap permasalahan bangsa. 


Saat ini Indonesia terperangkap dalam 2 masalah utama demokrasi :  (1) kurang serius dalam memilih wakilnya, dan (2) sistem demokrasi yang salah.


Jangan remehkan demokrasi, karena demokrasi adalah CARA mencapai tujuan negara. Jadi betulkan dulu caranya, sembuhkan 2 penyakit di atas !


___________


Penulis :

Hamdan Arfani Batarawangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.