Di masa depan, menabung mungkin bukan kebijakan finansial yang populer karena inflasi menggerus nilai uang dari waktu ke waktu. Orang-orang tua modern mungkin akan menyimpan uangnya dalam investasi emas, sedangkan Generasi Z dst lebih memilih investasi dalam bentuk kepemilikan perusahaan (saham).
Keuntungan berinvestasi saham adalah mendapatkan deviden 1-2 kali setahun (bagi hasil keuntungan perusahaan) dan perolehan keuntungan dari naiknya harga saham dari waktu kexwaktu.
Di AS, korporasi-korporasi berbasis teknologi menjadi incaran favorit para investor saham, sedangkan di Indonesia yang menjadi buruan adalah bank.
Setelah kemunculan uang kripto (bitcoin, ethereum, binance-c, tether, dolana, dll), kemudian disusul uang digital (e-money dan digital banking money), kini bermunculan bank-bank digital seperti Bank Jago, Superbank, Sea Bank, Line Bank, serta bank-bank digital yang merupakan transformasi dari bank-bank konvensional yang sudah ada.
Semua bank konvensional akan berubah menjadi bank digital. Tidak lama lagi wujud kantor sebuah bank akan sulit ditemui; untuk berbagai keperluan bahkan urusan deposito dan kredit cukup dilakukan di rumah melalui aplikasi.
Dalam pasar saham (di Indonesia adalah Bursa Efek Indonesia atau IDX = Indonesia Exchange), saham bank-bank ternama seperti BCA, BRI, BNI, dan Mandiri disebut saham "blue chip" yang secara fundamental keuangan sangat kuat dan stabil namun harga sahamnya cukup mahal.
Saham bank-bank blue chip teruji tahan menghadapi berbagai krisis keuangan baik global maupun lokal. Ketika harga saham-saham blue chip bergeser ke bawah, investor lokal dan asing selalu melakukan aksi beli sehingga harga kembali mahal.
Saham-saham blue chip mungkin bukan emiten yang disukai investor muda yang ingin "menabung" dari penghasilannya yang masih kecil.
Berbeda dengan bank-bank "blue chip", harga saham bank digital yang baru berdiri masih relatif murah. Superbank misalnya, pada awal Desember 2025 masyarakat bisa memulai menjadi investor dengan uang Rp. 60-70 ribu saja.
Namun demikian membeli saham korporasi yang "baru" membutuhkan kecermatan dalam mengenali perusahaannya : profil perusahaan, laporan keuangannya, market capital, dsb. Di era sekarang, mengetahui hal-hal tersebut sangat mudah didapat.
Bank Digital Baru
Pada Desember 2025 ini Superbank, sebuah bank digital baru, akan melakukan go publik. Masyarakat bisa menjadi pemilik dengan membeli sahamnya. Saham yang akan dilepas ke masyarakat sebanyak 44 juta lot (1 lot = 100 lembar saham). Harga 1 lot saham sekitar Rp.50-60an ribu, pembelian minimum 1 lot.
Pemegang saham mayoritas Superbank saat ini terdiri dari perusahaan nasional dan asing (Emtek Grup, Kudo Tek, GXS Bank, Kakao Bank dll) dimana OVO dan GRAB terkait di dalamnya. Dalam susunan komisaris tertera nama Yenny Wahid sebagai Komisaris Independen.
_________
Penulis :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.