Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

09 Mei 2026

PANDEMI BARU, LATE CAPITALISM DIAMBANG RESET


Bukan mimpi di siang bolong jika terbuka peluang  besar munculnya pandemi baru di tahun 2027 atau dalam waktu yang tidak terlalu jauh.  Belajar dari fakta, Klaus Schweb dan Malleret dalam The Great Reset (2020) menyatakan bahwa pandemi bisa berfungsi sebagai "reset" kondisi ekonomi suatu negara yang sedang di puncak keterpurukan untuk kembali ke titik start putaran baru siklus ekonomi. 


Amerika Serikat misalnya, pada 2019 berada dalam posisi "akhir musim gugur dan memasuki musim dingin" (downtrend) dalam siklus Kondratief : teknologi internet dan smartphone telah sampai di titik jenuh dan pertumbuhan ekonomi melambat. 


Sedangkan menurut siklus Kuznets AS dalam kondisi yang lebih parah, yaitu berada tepat di bagian terbawah siklus : ketimpangan ekonomi yang parah dimana separuh kekayaan bangsa berada di  1% populasi; infrastruktur yang tua dan rusak; banyak gedung, kantor, dan  apartemen yang ditinggal penyewa. Ekonomi dari sektor properti hancur lebur.


Tapi apa yang terjadi setelah pandemi covid (2020-2023)? 


Pasca pandemi covid, posisi AS berubah drastis dari "memasuki musim dingin" menjadi "musim semi awal" (uptrend) dalam siklus Kondratief: AS memimpin dalam teknologi baru kecerdasan buatan melalui NVIDIA, Microsoft, dan OpenAI yang  menyelamatkan ekonomi dari stagnasi. 


Berdasar siklus Kuznets, terjadi pula pergeseran posisi dari "musim dingin yang beku" menjadi "musim dingin yang bergolak". Pasca pandemi, upah pekerja di AS naik. Hanya saja kenaikan upah segera diikuti kenaikan harga-harga terutama properti. Pasca pandemi, kekayaan kelompok "atas" semakin meninggalkan kelas di bawahnya. 


Kini di tahun 2026, dalam siklus Kondratief, posisi  AS mulai memasuki puncak digjayanya.   Namun karena kesenjangan ekonomi yang luar biasa lebar, posisi dalam siklus Kuznets kembali ke titik terendah. Properti dan manufaktur mandek ditengah suku bunga yang tinggi sehingga terjadi inflasi yang sangat dalam, yang berefek pada munculnya gejolak sosial.


Perang AS-Iran dalam kacamata manufaktur adalah upaya pemaksaan berputarnya ekonomi melalui industri militer dan teknologi, karena putaran ekonomi UMKM - sipil dianggap terlalu lambat, membutuhkan waktu lebih lama. Terlebih saat ini para pemilik modal di AS cenderung menyimpan dananya dalam investasi emas daripada membuka usaha akibat geopolitik yang penuh ketidakpastian.


Gejolak sosial di AS jika semakin tajam sangat mungkin menjadi trigger munculnya pandemi baru. Bukan hanya persoalan dalam negeri, ambisi geopolitik turut menjadi motif  kemunculan pandemi.


Sebagaimana kita tahu, AS berupaya keras mempertahankan posisi adidaya dari Cina sejak 6-7 tahun lalu. Pasca pandemi, posisi Cina sangat kritis. Berbeda dengan AS yang berhasil mencapai puncak dalam siklus Kondratief (penguasaan teknologi AI), Cina sedang 2/3 jalan mengejar di belakang AS, dimana "tenaga" sedang dipacu sekuat-kuatnya.


Sedangkan berdasar siklus Kuznets (ekonomi berbasis properti dan manufaktur), Cina mulai mengakhiri masa puncaknya bersiap meluncur turun. Andai muncul pandemi baru, ambisi Cina menuju puncak Kondratief terancam stagnan, sementara posisi ekonomi berbasis properti dan manufaktur akan terjerembab dalam posisi downtrend yang nyata.


Dari semua negara yang dianalisa: AS, Cina, Rusia, dan Eropa, jika pandemi kembali terjadi dalam waktu dekat, Cina adalah yang paling terpukul, sementara AS menjadi negara yang paling diuntungkan, menurut pakar Geopolitik Peter Zeihan, Presiden Eurasia Group Ian Bremer, dan Roubini dalam Mega Threats (2022).


Bagaimanapun, saat ini Late Capitalism sedang mencari jalan keluar. Bagi kapitalisme yang sangat terintegrasi dan padat, terutama dalam perspektif Bill Gates, pandemi adalah konsekuensi dari over-urbanisasi, kerusakan ekosistem, dan kecepatan mobilitas modal. 


AS terjebak dalam struktur ekonomi lama: finansial dan properti, yang membutuhkan guncangan yang memecah kebuntuan. Dengan exorbitant privilege dollar, AS akan lebih tahan dibanding negara lain, meski pada akhirnya mungkin biaya sosial yang besar dari kemenangan geopolitik terasa hambar bagi rakyat AS, dan reset ekonomi tidak selalu mulus.


Indonesia bukan objek dari reset global tersebut, melainkan subjek yang pasti  merespon dengan cara yang paling cerdas dan strategis dari segala situasi geopolitik dan ekonomi, mulai dari hilirisasi seluas-luasnya, menjaga kedaulatan dan ketahanan pangan, hingga kemandirian energi, tentu saja  dengan didukung  kekuatan utama kita : spirit gotong-royong, solidaritas nasional dari seluruh bangsa Indonesia. Sambil terus menggencarkan pemberantasan korupsi, karena koruptor adalah kanker bagi negara dan bangsa.


______________



Penulis

Hamdan A. Batarawangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.