Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

28 Maret 2026

MOTIF EKONOMI DALAM PERANG AS

Perang tidak melulu tentang ideologi dan keamanan. Terutama bagi AS, sulit untuk menafikan motif ekonomi. 

Berdasar siklus  Kuznets (20 tahunan), ekonomi AS dalam posisi downtrend menuju depresi  ditandai lesunya bisnis properti dan suku bunga tinggi, yang berdampak besar pada putaran ekonomi makro dalam negeri. 


Dalam posisi ekonomi yang buruk, AS sering menggunakan opsi militer (military keynesianism) untuk mempersingkat durasi tersebut.  Saat ekonomi mengalami  "depresi besar" tahun 1930, AS segera mempersiapkan diri terjun dalam Perang Dunia II.  Saat ekonomi mengalami kejenuhan investasi tahun 1960, AS menginvasi Vietnam.  Saat terjadi krisis properti tahun 1990-2000, AS menginvasi Irak.  Semua opsi militer ini dalam rangka merealisasikan "belanja besar" yang bisa menstimulus sektor-sektor lain dalam ekonomi AS. Opsi militer AS ini lebih jauh selalu menargetkan pula penguasaan minyak yang masih menjadi energi utama dalam industri. Dalam jangka pendek, perang akan sangat menekan fiskal namun nampaknya AS mengabaikan hal itu.


Opsi militer yang dilakukan AS dalam setiap krisis  ternyata mendapat dukungan dari kelompok investor raksasa dunia, karena perang akan membuat krisis menjadi semakin dalam yang menyebabkan harga-harga saham perusahaan besar dan strategis suatu negara menjadi turun.  Para investor raksasa ini bisa leluasa membeli korporasi besar dengan harga sangat murah. Krisis ekonomi menyusahkan masyarakat umum namun menjadi kabar gembira bagi investor raksasa. Bukan hanya membeli murah, sebagian malah bisa dikatakan "merampok".


Masyarakat akan mengira pasar modal kawasan Arab yang paling terguncang akibat perang AS-Israel vs Iran. Sangat menarik, ternyata pasar modal yang paling terdampak adalah Asia Timur (Nikkei, Shenzhen, Hangseng, dll), terutama untuk sektor manufaktur, logistik, dan teknologi. Taiwan dan Korea Selatan adalah produsen semi konduktor terbesar dunia, yaitu chip yang paling esensial dalam industri teknologi kecerdasan buatan (AI), mengalahkan Nvidia dan Intel (AS).


Pasca invasi Irak, Nort-South Oil Company (milik Irak) dikuasai Halliburton dan Exxon Mobile. Trade Bank of Irak (TBI, Irak) diambil alih JP Morgan Chase.


Pasca invasi Libya, National Oil Corporation (BUMN minyak Libya) dikuasai Conoco Philips, Hess, dan Ocidental. LAFB (bank terbesar Libya) diambil alih oleh Bank Sentral AS. LIA (semacam Danantara milik Libya) diambil alih oleh JPMorgan Chase.


Celakanya, bukan hanya AS yang dalam posisi downtrend dalam siklus ekonomi Kuznets. Sebagian besar Eropa juga dalam posisi sama. Bahkan Cina pun hampir memasuki fase tersebut. Jika semua negara memilih opsi militer untuk mengatasi masalah ekonomi makro, dunia benar-benar dalam ambang Perang Dunia III.


Indonesia bersama Vietnam dan India adalah anomali. Ketiga negara ini bertahan dalam fase ekspansi (uptrend) dalam siklus ekonomi 20 tahunan. 


Ada kecemasan namun ada pula harapan, semoga arah nasib umat manusia ke depan akan lebih baik.

____________

Hamdan A. Batarawangsa




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.