Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

13 Juli 2026

SEKOLAH BERBASIS BAKAT DAN STRUKTUR KOGNITIF GEN A-Z

SEKOLAH BERBASIS BAKAT selaras dengan konsep Multiple Intelligences yang digagas Gardner. 

Di sekolah anak saya, yang pernah diasuh Munif Chatib, muridnya Bobbi DePorter, ada tagline "semua anak cerdas, semua anak istimewa." 

Gardner, Bobbi DePorter, dan Munif Chatib adalah tokoh-tokoh besar dunia pendidikan modern yang sama-sama mengusung konsep sekolah berbasis bakat.

Sekolah berbasis bakat secara presisi mendorong lahirnya lebih banyak talenta-talenta ahli di masa depan, bukan kumpulan manusia dengan kemampuan biasa saja. 


Sekolah berbasis bakat ini amat sejalan dengan visi saya--yang pernah merasakan menjadi guru lebih dari 20 tahun--tentang sekolah masa depan.


Persepsi saya tentang sekolah secara umum, hingga saat ini terjebak dalam orientasi kognitif, memposisikan program ekstrakurikuler hanya sebagai formalitas kurikulum, dan menyelenggarakan rutinitas bernuansa religi namun "lepas" dari spiritualitasnya. 


Pelatihan guru dengan berbagai tema sudah amat banyak. Kata-kata indah tentang mendidik anak terpambang di dinding sekolah-sekolah menjadikannya kosmetik, namun "proses bersekolah"  seolah tidak ada hasilnya  jika mengacu pada laporan berkala PISA yang merefleksikan rendahnya kecakapan hidup paling dasar : literasi, numerasi, dan sains, yang menjadi  acuan utama sekolah konvensional.


Dalam praktiknya, sejak dulu proses pembelajaran dilakukan secara "pukul rata" dengan orientasi konvensional. Rendahnya kecakapan dasar yang dilaporkan PISA mungkin bukan sekedar masalah orientasinya yang konvensional, tapi lebih fundamental dari itu : kegagalan sekolah menyelenggarakan pembelajaran efektif karena mengabaikan karakteristik peserta didik yang makin tersegmentasi-teralienasi oleh pengaruh gadget yang diakrabinya. 


Ada kesenjangan akut antara desain "sekolah industri" yang menciptakan standarisasi dengan realitas mental generasi Alfa-Zenial yang teradiksi gawai yang menawarkan personalisasi ekstrem. Bukan gurunya tidak bekerja, melainkan arsitektur kognitif  peserta didik jaman sekarang yang telah berubah.


Kini anak terbiasa mendapatkan apa yang mereka suka secara instan, sehingga ketika kembali masuk dalam pola konvensional akan mengalami "kejutan perilaku" yang menyebabkan mereka bosan dan terasing.


Upaya Kementerian Pendidikan menciptakan pendidikan yang mengakomodasi bakat anak melalui  program Merdeka Belajar relatif belum dipahami sebagian besar penyelenggara dan praktisi pendidikan. 


Menarik kembali peserta didik dari keterasingan mental membutuhkan identifikasi pada minat dan bakatnya, melalui pendidikan berbasis bakat. Bakat diasah namun tanpa mengabaikan kecakapan dasar literasi-numerasi sesuai kesanggupan kognitif tiap anak.


Secara umum gambaran kerja sekolah berbasis bakat sebagai berikut : 


(1) identifikasi bakat setiap anak, kemudian 

(2) mengelompokkan anak berdasar rumpun bakat yang mirip, pengelompokan ini semata untuk memunculkan kegairahan belajar, efektivitas bekajar, disamping dukungan pada bakat mereka. Selanjutnya adalah 

(3) perencanaan dan pelaksanaan diferensiasi proses atau produk berdasar bakat anak dalam pembelajaran, 

(4) restrukturisasi dan optimalisasi kegiatan ekstrakurikuler menjadi talent club (wadah inkubasi bakat yang serius), 

(5) menyusun rencana pengembangan personal untuk anak yang sudah menunjukan bakat yang menonjol baik jangka pendek maupun jangka panjang (kompetisi bersifat kelompok yang tepat untuk melatih elaborasi, portofolio yang akan dibangun, mentor yang mendampingi, dsb), dan 

(6) penyediaan panggung aktualisasi dan portofolio (turnamen, pameran karya, festival, dsb).


Meski sekolah berfokus pada mengasah bakat anak, namun ruang eksplorasi tetap harus  dibuka untuk menemukan potensi lain yang belum tergali.  


Tantangan terbesar sekolah berbasis bakat  biasanya dalam penyelenggaraan pembelajaran terdiferensiasi, guru membutuhkan waktu untuk mengubah gaya konvensional yang klasik menuju gaya yang Nadiem sebut "Merdeka dalam Belajar", dan menciptakan "mood" baru yang positif  bagi mental-mental yang telah teralienasi dengan trik belajar di alam bebas seperti Pramuka. Tentu saja, kolaborasi dengan orangtua untuk menekan dominasi gawai tetap harus dilakukan.


Kabar buruknya...

Satu orang guru di sekolah berbasis bakat hampir mustahil menangani satu kelas besar karena persoalan administrasi. Satu kelas konvensional di Indonesia saat ini (lebih dari 25 siswa per kelas) mungkin membutuhkan tim guru 2 hingga 3 orang. 


Jika ada terobosan dalam administrasi pembelajaran--dan ini sangat mungkin di era AI-- seluruh sekolah di Indonesia menjadi sekolah berbasis bakat, bukan hal yang mustahil.


____________


Penulis

Hamdan A. Batarawangsa, M.Pd.








1 komentar:

  1. “Mohon maaf Bapak/Ibu Guru 🙏
    Saya sudah buka tautannya, isinya baru penjelasan saja. Belum ada lembar pertanyaan yang harus saya isi.
    Boleh dimohon petunjuk di mana letak daftar isiannya ya Pak/Bu?
    Terima kasih banyak atas bantuannya.”

    BalasHapus

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.