Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

28 Februari 2026

DISFUNGSI EPISTEMOLOGIS NEGARA

NEGARA INDONESIA sekarang bukanlah Indonesia yang ada dalam Pembukaan UUD 1945.  Sejak era reformasi UUD diamandemen berkali-kali tapi bukannya makin kuat justru semakin jauh dari spirit yang wariskan para pendiri bangsa. Prinsip demokrasi Pancasila resmi digantikan oleh prinsip demokrasi liberal sejak tahun 2001, sila ke-4 Pancasila resmi "dibuang" sejak tahun tersebut. Padahal, demokrasi adalah cara berbangsa-bernegara sekaligus cara mencapai tujuan negara, dan satu-satunya model demokrasi yang cocok di Indonesia hanyalah demokrasi Pancasila. Meski didukung instrumen yang tepat, pelaksanaan demokrasi pada era Orde Lama (Orla) dan Orde Baru (Orba) memang belum sesuai harapan, tapi sekarang pelaksanaan dan instrumennya malah lebih tidak jelas.

Secara prinsip, demokrasi liberal berfokus pada kuantitas (suara) dengan asumsi kualitas individu warga negara  dianggap baik dan homogen, sementara demokrasi Pancasila berfokus pada kualitas (akomodasi nilai-nilai kearifan melalui perwakilan dalam  permusyawaratan) dengan mempertimbangkan kemajemukan masyarakat dan realitas kesenjangan yang ada.


Demokrasi liberal yang kini diterapkan bukan hanya tidak efisien (mahal) namun juga tidak efektif. Demokrasi liberal justru melemahkan persatuan Indonesia : mencabik-cabik "bhineka tunggal Ika" dan meningkatkan gesekan baik horizontal di masyarakat maupun vertikal terhadap pemerintah. Tanpa demokrasi yang benar Indonesia seolah buta-bergerak tanpa arah, dan tanpa persatuan yang kokoh Indonesia seolah lumpuh-tidak bisa berbuat banyak. Sebagai epistemologi, dua sila Pancasila (ke-3 dan ke-4) ini sudah tidak difungsikan sehingga tujuan bangsa-negara terancam gagal tercapai.





Demokrasi kita saat ini memberi panggung seluas-luasnya pada orang-orang tidak kompeten bahkan bandit "yang dimodali" untuk menentukan nasib dan hajat hidup orang banyak; kecerdasan, kearifan,  kepakaran, ketulusan, dan integritas etik tidak lagi terlalu dihargai.


Entah bagaimana cara mengembalikan demokrasi Pancasila tegak lagi di bumi Indonesia,  sementara sudah terlanjur banyak yang menikmati sistem yang liberal "barbar" ini. Untuk sampai pada konsensus amandemen UUD kembali (mengembalikan sistem demokrasi Pancasila) bukanlah perkara mudah, butuh edukasi masif dan berkelanjutan di berbagai lapisan masyarakat.


Semoga suatu masa kelak terjadi reformasi sungguhan.  You may say I'm a dreamer, but I'm not the only one.


_____________

Penulis 

Hamdan A Batarawangsa




22 Februari 2026

KASTA BATIN

Gubernur Jawa Barat yang bermazhab budaya Sunda Wiwitan, Dedi Mulyadi, meletakan konsep kasta dalam epistemologis spiritual, bukan lahiriah. Ini menarik, seolah memberi detil tentang tingkatan maqom dalam "hierarki takwa" sesuai paham Islam yang beliau anut, sehingga status kasta menjadi sesuatu yang dinamis.

Selama ini kita mengenal konsep kasta ada dalam ajaran Hindu Siwaisme India, yaitu pengelompokan status sosial masyarakat berbasis genetik dari yang tertinggi ke yang terendah : Brahmana, Ksatria, Weisya, Sudra, dan Pariya, yang semakin ke bawah semakin terikat dengan aspek materi duniawi, dan semakin ke atas semakin menyentuh hal-hal intelektual - transedental.


Tingkatan "kasta batin" yang disampaikan Dedi Mulyadi selaras dengan pahatan relief di Candi Borobudur. Pada tingkatan paling rendah, relief menampilkan perilaku hewani pada manusia yang hanya berorientasi pada pemuasan hasrat biologis dengan moralitas yang rendah. Pada tingkatan tertinggi, sifat dan perilaku manusia sudah disertai kesadaran diri, moralitas, dan intelektualitas, bahkan mengarah pada--meminjam istilah tasawuf--khawasul khawas.


Bahasan kasta oleh Dedi Mulyadi sebagai Gubernur, sehubungan dengan kritik pada sistem demokrasi  di Indonesia yang mengakomodasi para "Sudra-Pariya" menjadi pemimpin masyarakat, yang menyebabkan kehancuran pada masyarakat karena orientasi pribadinya masih tak bisa lepas dari nafsu duniawi. Kepada masing-masing pribadi Dedi Mulyadi memotivasi untuk meningkatkan kasta batin. Sesungguhnya setiap orang punya "maqomnya" masing-masing, kata beliau menutup bahasannya.


_______

Sementara itu, negara diberi amanah untuk mendidik-mencerdaskan kehidupan bangsa, dalam konteks ini sebetulnya adalah misi menghapus kasta rendah. Kasta rendah dalam jumlah banyak sangat berbahaya. "Tidak ada yang lebih mengerikan daripada kumpulan massa bodoh yang bertindak", kata Goethe.




Penulis 
Hamdan A Batarawangsa 

 

14 Februari 2026

Leading Economic Index Indonesia 2026

Sebelumnya sudah saya singgung siklus-siklus utama ekonomi dunia seperti Kondratief, Kuznets, Juglar, dan Kitchin (topik Ekonomi pada BATARAGEMA.COM https://bataragema indonesia.blogspot com), yang menempatkan Indonesia saat ini pada posisi menguntungkan, menjadi anomali terhadap posisi negara-negara besar dunia yang sedang downtrend. Siklus-siklus ini cukup menjelaskan apa yang saat ini terjadi dan memprediksi masa depan kehidupan umat manusia hingga 50-60 tahun ke depan. 

Analisa siklus-siklus utama di atas yang berhubungan dengan Indonesia  dikuatkan oleh analisa LEI (Leading Economic Index) yang disampaikan dalam forum "Indonesia Economic Outlook 2026" baru-baru ini : 


1. Status index Indonesia berada dalam fase ekspansi (uptrend);

2. Realisasi investasi khususnya sektor hilirisasi mineral dan ekonomi hijau menunjukan "pipeline" proyek yang kuat;

3. Ekspansi manufaktur tumbuh 5,7% secara tahunan meski mendapat pelemahan permintaan;

4. Perdagangan dalam posisi surplus berkat ekspor produk hilirisasi;

5. Resiko resesi sangat rendah;

6. Keyakinan konsumen tinggi;

7. Inflasi terkendali 2,5--3,5%;


Secara umum dapat disimpulkan bahwa analisa LEI menunjukan mesin ekonomi Indonesia cukup kuat terhadap guncangan global.   


Dalam aspek investasi, pada pertengahan Februari 2026 kekuatan fundamental ekonomi  Indonesia dibuktikan dengan terjadinya rebound (bangkit kembali) IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) BEI setelah dua pekan sebelumnya diuji oleh rilis  MSCI (Morgan Stanley Capital International) sebuah badan penyedia indeks saham dan alat analisis investasi global yang sangat berpengaruh di dunia. 


Setelah MSCI merilis "indeks yang rendah" pada beberapa saham-saham utama BEI/IDX, pada 28-29 Januari hingga pekan pertama Februari 2026 terjadi penurunan IHSG hingga 11%. Namun memasuki pekan kedua, IHSG kembali terapresiasi terutama dengan dukungan Danantara yang melakukan "buy back" pada saham-saham strategis BUMN.


_______



Penulis

Hamdan A Batarawangsa


23 Januari 2026

MBG STRATEGIS, TAPI AMBURADUL


Tiba-tiba masyarakat dikejutkan berita : BGN menjadikan karyawan program MBG (SPPT) sebagai  ASN/PPPK. Berita ini mengusik rasa keadilan masyarakat, sama-sama menggunakan anggaran sektor pendidikan dimana 21% guru tersertifikasi masih berstatus non ASN dan jutaan lainnya masih berpendapatan di bawah standar minimum. Hal ini adalah signal masalah serius baru yang akan semakin kompleks ke depannya.


Bukan hanya rasa keadilan, akal sehat pun diusik: usaha swasta tapi karyawannya digaji negara dengan status ASN. Apa urgensinya sementara banyak skema tata kelola lain yang lebih presisi dan efisien.


Manuver BGN (Badan Gizi Nasional) ini berpotensi tinggi menurunkan kepercayaan rakyat terhadap pemerintahan Prabowo secara signifikan. Pengangkatan ASN ini dituding hanya modus bisnis semata, yaitu pihak swasta pengelola MBG ingin menekan biaya operasional.


Sejak awal, program MBG ini memang tidak cocok untuk dibisniskan. Keputusan pemerintah mematok Rp.10 ribu per porsi makan tentu saja diluar ekspektasi margin profit yang besar. Oleh karena itu program MBG butuh skema tata kelola yang lebih realistis.


Daftar beberapa dapur MBG Kota Depok dari total 100 dapur
Beberapa dapur MBG Kota Depok dari total 100 dapur






















Program MBG (Makan Bergizi Gratis) sebetulnya sangat strategis, namun amburadul dalam tata kelolanya, pemerintah mementingkan ambisi akselerasi daripada presisi dan efisiensi. Skema yang saat ini digunakan harus ditinjau ulang. Sebagai bangsa dengan populasi terbesar ke-4 dunia, program MBG yang tidak efisien akan membuka peluang besar terjadinya korupsi baru, padahal korupsi adalah musuh utama bagi bangsa-negara. Pada akhirnya program MBG ini tak hanya tidak efisien, tapi juga tidak efektif. 


Anggaran program MBG tahun berjalan 2026 adalah Rp.335 Trilyun, sasaran program ini sebanyak 83 juta orang yang terdiri dari 54 juta anak di sekolah formal, sisanya sebanyak 29 juta terdiri dari anak yang sekolah di lembaga non formal, balita, ibu hamil, dan lansia. 


Sejauh ini sasaran 54 juta anak pun belum tercapai seluruhnya, artinya masih banyak sekolah yang belum/tidak menerima MBG. Secara hitung-hitungan real kasar jika 54 juta anak (100% sekolah formal) semuanya mendapat MBG seharga Rp.10 ribu/porsi, maka dalam sehari menghabiskan biaya Rp.540 Milyar. Uang ratusan milyar PER HARI ini sudah pasti banyak MUBAZIR  jika tata kelola MBG seperti saat ini karena masalah teknis: hari efektif tiap sekolah tidak sama.  Jika  ada 1 anak tidak hadir, berarti Rp. 10 ribu tidak efektif pada hari itu. 


Bisa dibayangkan berapa besar potensi mubazir untuk menjangkau 83 juta orang yang terdiri dari balita, ibu hamil, manula, dan anak di lembaga non formil jika untuk 54 juta anak di sekolah formil saja sudah TIDAK EFISIEN, TIDAK EFEKTIF.


Mengapa tidak meniru tata kelola MBG di Jepang yang sudah berlangsung lama, teruji efisien dan efektif, sesuai dengan norma kekeluargaan Indonesia, dan lebih realistis dibanding skema yang dijalankan sekarang ?


Setiap sekolah di Jepang punya dapur sendiri. Setiap hari dapur sekolah di Jepang menyiapkan makan siang, koki dan penyajinya terdiri dari wali murid dan warga sekitar secara bergiliran berjadual. Mereka tahu pasti dan sangat presisi berapa porsi yang harus disajikan hari itu.


Dari dapur sekolah, teknis dan distribusi jauh lebih sederhana bukan hanya menjangkau siswa tapi juga balita, ibu hamil, dan manula di sekitar sekolah.

____

Penulis

Hamdan A Batarawangsa

21 Januari 2026

SOLUSI HOLISTIK DIABETES TIPE 2


Solusi holistik adalah solusi yang meninjau akar masalahnya.



Diabetes Tipe 2 kini menjadi penyakit paling umum yang diderita orang Indonesia. Diabetes Tipe 2 disebabkan oleh kacaunya sistem tubuh dalam merespon gula di dalam darah. Pada kondisi normal, darah mengantarkan gula ke tiap sel tubuh didampingi oleh insulin yang berfungsi sebagai "juru kunci pembuka pintu" sel-sel tersebut.  Pada penderita Diabetes Tipe 2, pintu sel gagal terbuka meski insulin sudah mencoba melakukan pekerjaannya. Sel yang tidak menerima gula mengirim signal "lapar" ke pankreas, pankreas kemudian bekerja lebih keras hingga akhirnya kelelahan.  Tingginya gula darah dalam waktu lama menimbulkan peradangan kronis di pembuluh darah, neuropati, dan lain-lain.


Gagalnya fungsi insulin disebabkan oleh KEGEMUKAN atau kelebihan lemak khususnya di area perut. Kelebihan lemak menyebabkan asam lemak masuk ke sel (salah tempat). Asam lemak menghasilkan "asilgliserol" yang menghalangi kerja insulin. Tidak sampai disitu,  lemak di sekitar organ dalam (viseral) mengeluarkan Sitokin penyebab peradangan di sel. Peradangan ini menyebabkan sel kurang atau tidak merespon insulin. Kelebihan insulin dalam waktu lama  menyebabkan respon sel terhadap insulin menurun. 


Pada fase pra diabetik, gula darah masih normal tapi insulin dalam darah terlalu banyak. Ketika pankreas mulai lelah, insulin sedikit diproduksi sehingga gula darah melonjak. Saat pankreas lelah inilah disebut positif diabetes tipe 2.


Solusi holistik dan fundamental untuk Diabetes Tipe 2 sebagai berikut : 

1. Puasa dan konsumsi rendah karbo, bertujuan menurunkan kadar gula agar sel kembali sensitif terhadap insulin.

2. Latihan beban untuk mengolah otot. Otot membakar gula-lemak non stop selama 24 jam, bahkan disaat tidak beraktifitas. Latihan beban punya dua tujuan, yaitu (a) membakar gula-lemak di otot agar segera menyerap gula  darah, (b)  agar massa otot bertambah, semakin banyak sel otot akan semakin banyak gula darah  yang diserap.

3. Aktivitas fisik harian seperti jalan kaki, menyapu, mengepel, dll. Semakin aktif akan semakin baik.

4. Cukup tidur. Kurang tidur akan menambah masalah kerja insulin, memicu stress,  dan mempengaruhi kerja tubuh secara keseluruhan. 

5. Konsumsi probiotik rendah gula (misal tempe mentah) dan anti radang  (misal kunyit) untuk meminimalisasi peradangan yang berpengaruh pada kepekaan sel dalam merespon insulin.

6. Konsumsi suplemen yang banyak vitamin D dan magnesium.


Selain kegemukan, diabetes tipe 2 juga bisa saja disebabkan faktor epigenetik, paparan polutan, dan disregulasi ritme sirkadian. Solusi holistik di atas harus disesuaikan dengan kondisi tubuh, adanya bimbingan dari ahli sangat dianjurkan.

_________

Penulis

Hamdan A. Batarawangsa


09 Januari 2026

GELOMBANG KONDRATIEF, AKHIR JAMAN ?


Gelombang Kondratief (Kondratief Waves) dulu hanya diperbincangkan dalam kalangan terbatas dan berbau konspirasi. Gelombang Kondratief merupakan satu siklus global yang putarannya tiap 40 hingga 60 tahun. 


Siklus ini pertama kali dipaparkan oleh ekonom Nikolai Kondratief, menjelaskan terjadinya revolusi teknologi berjangka yang secara sistemik mempengaruhi ekonomi makro secara luas, menjadi sebab munculnya revolusi industri, dan perubahan wajah peradaban manusia.


Beberapa revolusi teknologi yang telah terjadi setelah abad pertengahan  yang berpengaruh sangat besar dalam industri modern sebagai gelombang Kondratief : 

Gelombang I (1780) : teknologi mesin uap; Gelombang II (1840) teknologi kereta api; Gelombang III (1890) teknologi listrik-kimia; Gelombang IV (1840) teknologi Petrokimia; Gelombang V (1980) teknologi komputer... dan saat ini kita sudah memasuki transisi gelombang ke-6  sejak 2020, yaitu era kecerdasan buatan.


Joseph Schumpeter, ekonom dari Harvard (wafat 1950) merangkaikan siklus Kondratief (teknologi) bersama siklus utama lain : siklus Kuznets (infrastruktur), siklus Juglar (modal tetap), dan siklus Kitchin (stok barang).   Tiga siklus ini sudah saya bahas pada artikel sebelumnya. 


Satu siklus Kondratief (40-60 tahunan) terdiri dari sekitar 3 siklus Kuznets, satu siklus Kuznets terdiri dari 2-3 siklus Juglar, dan satu siklus Juglar terdiri dari sekitar 2 siklus Kitchin. Jika semua siklus ini berada pada posisi terbawah secara bersamaan, maka terjadilah depresi ekonomi dunia (kapitalis) yang sangat dalam, seperti terjadi pada 1930 yang memicu Perang Dunia. Namun jika saat bersamaan itu berada di titik puncak, kondisi dunia akan sangat gemilang. 


Joseph Schumpeter menyatakan bahwa transisi antar gelombang seringkali ditandai dengan krisis ekonomi atau gejolak yang besar, tatanan lama runtuh oleh berbagai pemicu. Mungkin keruntuhan itu dimulai dari Covid-19 lalu dan merembet ke berbagai persoalan geopolitik global saat ini. 


Saat ini adalah transisi gelombang ke-6 Kondratief: era kecerdasan buatan yang berlangsung 50- 60an tahun, atau lebih singkat karena AI membuat apapun lebih cepat. Sulit dibayangkan bagaimana wajah dunia setelah 2050. Apakah teknologi dan peradaban manusia sudah di level puncak, apakah teory of everything sebentar lagi ditemukan. Apakah kita sungguh sudah berada di penghujung jaman ?


Atau ...

apakah kembali ke jaman batu bisa menggeser penghujung itu?

Hanya dua cara menuju jaman batu : perang dunia ke-3 atau "shutdown".


_________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa

08 Januari 2026

INDONESIA 2026 GEMILANG BERDASAR SIKLUS KUZNETS

Siklus utama ekonomi global, selain siklus barang (Kitchin) dan siklus modal (Juglar), juga ada siklus infrastruktur atau disebut juga Siklus Kuznets (pertama kali dipresentasikan oleh Simon Kuznets).


Siklus Kuznets berhubungan dengan pembangunan dan demografi yang durasinya rata-rata 18-20 tahun : perubahan populasi dan migrasi yang berefek pada suplay-demand properti privat dan publik, dan infrastruktur transportasi-komunikasi.


Fase-fase kondisi dalam siklus Kuznets :

(1) Fase ekspansi (2) Fase puncak (3) Fase kontraksi dan (4) Fase palung.


Kondisi pada fase ekspansi berlawanan dengan fase kontraksi. Kondisi pada fase ekspansi diantaranya pertambahan populasi cepat (biasanya karena migrasi), kebutuhan perumahan dan sarana meningkat, investasi pada infrastruktur juga meningkat.


Siklus Kuznets sangat populer karena secara spesifik mengaitkan kesehatan ekonomi dengan properti/perumahan yang melibatkan putaran uang yang sangat besar dan utang jangka panjang, yang kemudian terkait dengan sektor-sektor industri lain seperti perbankan, semen, besi, baja, pvc, elektronik-kelistrikan, furniture, dan lingkungan hidup. Fase krisis pada siklus Kuznets menjadi indikasi awal  krisis-krisis lainnya.


Bagi pelaku bisnis properti seperti real estate, kondominium, dll,  siklus Kuznets membantu memprediksi waktu datangnya momentum jual dan beli.


Berdasarkan Siklus Kuznets (15–25 tahun), tahun 2026 diprediksi menjadi tahun yang sangat krusial karena merupakan titik transisi yang dimulai setelah krisis finansial global 2008.


Dunia pada tahun 2026 secara umum diprediksi berada pada fase awal kontraksi menuju palung (downswing), atau setidaknya berada di fase stagnasi di puncak sebelum penurunan.


Analisis posisi Indonesia di tahun 2026 dalam kerangka Siklus Kuznets sangat menarik karena Indonesia saat ini menunjukkan pola yang cenderung "melawan arus" (anomali) terhadap kontraksi global.


Secara spesifik, jika dunia sedang bersiap menuju fase kontraksi (palung), Indonesia justru sedang berupaya mempertahankan fase ekspansi akhir atau bahkan mencoba membangun siklus baru melalui intervensi negara.


Di saat sektor properti di Tiongkok atau AS melambat karena suku bunga, Indonesia justru sedang melakukan "pembangunan paksa" melalui anggaran negara dan investasi infrastruktur. Hal ini menjaga Siklus Kuznets domestik tetap berada di zona ekspansi, meskipun ada tekanan dari luar negeri.


Indonesia di tahun 2026 adalah salah satu dari sedikit "titik terang" konstruksi di dunia. Saat negara lain sedang meruntuhkan gelembung properti mereka, Indonesia justru sedang giat membangun fondasi fisik barunya.


MasyaAllah...

_______


Penulis 
Hamdan A Batarawangsa 





 

SIKLUS JUGLAR


(Mengulik Bagaimana Dunia Bekerja Bag.2)


Pada Bagian 1 telah dibahas Siklus Stok Barang (Siklus Kitchin) yang berdurasi sekitar 3 tahunan, dimana pada 2026 ini berada pada kondisi transisi dari fase ekspansi ke fase resesi. Pada fase resesi teknologi terbaru hanya dinikmati kalangan sangat terbatas, dan teknologi "usang" dijual dengan harga obral. 


Ada siklus lainnya, yaitu Siklus Investasi Modal Tetap atau disebut juga Siklus Juglar (pertama kali dipresentasikan oleh Clement Juglar pada 1862). Siklus Juglar berdurasi 7--11 tahun, terdiri dari 4 kondisi :

(1) Kondisi Makmur: banyak investasi modal tetap (diera sekarang, modal tetap tidak hanya berupa bangunan dan peralatannya namun juga software dan SDM dengan skill upgrading), tenaga kerja terserap banyak, konsumsi tinggi, PDB negara meningkat, suku bunga bank rendah.

(2) Kondisi Krisis : inflasi meningkat, suku bunga bank naik, investasi "modal tetap" tidak lagi menguntungkan dan mulai "menganggur", harga aset dan saham turun, banyak kasus kredit macet.

(3) Kondisi Resesi: konsumsi turun, produksi turun, ekonomi lemah.


Setelah kondisi Resesi terjadi kondisi perbaikan. Perusahaan yang mampu bertahan akan meremajakan asetnya, suku bunga bank kembali rendah dan kembali ke Kondisi Makmur. 


Tahun 2026 menurut Siklus Juglar berada dalam fase transisi dari Kondisi Makmur ke Kondisi Krisis. Khusus Indonesia dan beberapa negara Asia, transisi menuju krisis diprediksi lebih lambat dari laju global karena dukungan dana besar Danantara, peningkatan nilai tambah mineral penting melalui hilirisasi, populasi yang besar dengan UMKM yang kuat, dan faktor budaya khususnya gotong-royong. Menurut ekonom Jeffrey Sachs, pada 2026 dan seterusnya, perekonomian dunia hampir segalanya tentang Asia. Wallahu'alam.


Kini kita tahu, siklus ekonomi dunia setidaknya dipengaruhi 2 hal :

(1) Stok barang

(2) Investasi Modal Tetap ()


_________________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa

07 Januari 2026

SIKLUS KITCHIN

(Mengulik Bagaimana Dunia Bekerja Bag.1)

Ketika Purbaya Yudhi Sadewa (saat itu Ketua LPS, belum Menkeu) mengatakan bahwa ekonomi dunia memiliki siklus, saya tertarik mengulik lebih jauh. Bukan hanya karena aktifitas saya di dunia investasi, tapi ini sangat filosofis, berhubungan dengan misteri ritual kuno "tawaf" di Mekkah dan  "pradaksina" di India, yang keduanya memberi pesan esensial yang kuat bahwa kehidupan adalah seperti roda yang berputar (siklus). Dunia bekerja secara siklik !


Kitchin adalah nama orang: Joseph Kitchin (wafat 1932), adalah seorang ahli statistika dan pengusaha.  Kitchin berteori tentang siklus barang, yang hingga kini menjadi salahsatu dalil  dalam ekonomi modern. Dari soal stok barang inilah, efeknya merambah ke banyak sendi-sendi kehidupan manusia.


Dahulu, barang yang dimaksud dalam siklus ini adalah barang-barang esensi seperti barang kebutuhan hidup pokok. Namun di era sekarang, barang kebutuhan esensi bergeser ke teknologi mulai dari smartphone hingga mobil karena berhubungan dengan pekerjaan. Durasi siklus ini adalah 3-5 tahun, dan akan semakin pendek seiring kemajuan teknologi. 


Siklus Kitchin atau disebut juga Siklus Stok Barang terdiri dari 3 kondisi : 

(1) Kondisi Ekspansi, saat permintaan barang dan produksi meningkat, lowongan kerja terbuka lebar, ekonomi tumbuh; 

(2) Kondisi Resesi, konsumsi mulai menurun, stok barang menumpuk, ekonomi statis; 

(3) Kondisi Depresi, banyak PHK, ekonomi menurun. Kondisi Depresi berakhir setelah stok barang "tak laku" habis. 


Siklus Kitchin akan semakin pendek durasinya seiring kemajuan teknologi khususnya teknologi AI, namun bisa melentur sewaktu-waktu karena faktor psikologi pasar dan peristiwa besar seperti perang, bencana alam, dsb. 


Tahun 2026 ini, siklus Kitchin berada di masa transisi dari Kondisi Ekspansi menuju Resesi. Di tahun ini beberapa barang teknologi, misalnya  Smartphone, mulai diobral... ()


____________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa


02 Januari 2026

MOTIF TERSELUBUNG BANTUAN ASING

NEGARA adalah entitas politik. Ketika suatu negara dimintai tolong oleh negara lain, pertimbangan utama untuk menerima/menolak sekurang-kurangnya adalah keuntungan politik. 

Ketika Kerajaan Iran (sebelum 1979) meminta keterlibatan AS-UK dalam modernisasi "revolusi putih", Iran berhasil maju pesat dalam pembangunan fisik dan geopolitik di wilayah Teluk. Namun bukan tanpa ongkos: Kerajaan Iran di bawah Shah Reza Pahlevi diposisikan sebagai  lumbung minyak dan pangsa pasar bagi industri Barat; fashion dan gaya hidup masyarakat Iran diubah untuk mengakomodasi industri dari luar; bahkan ideologi yang menghambat "modernisasi" dilemahkan melalui pengambilan paksa aset-aset institusi pendidikan tradisional (agama Islam) dengan dalih untuk pembangunan. 


Pada tahun 1979 Iran berhasil melakukan evaluasi dan saat ini menjadi negara "besar" setelah "menolak bantuan" AS dan sekutunya. Negara tetangganya, Irak, bernasib apes: setelah  Saddam Hussein digulingkan, Irak meminta bantuan AS cs untuk mewujudkan utopia tapi alih-alih maju justru semakin kurus karena sumber daya alamnya dikuras secara brutal. Sejak kejatuhan Saddam hingga saat ini kehidupan sosiopolitik dan ekonomi Irak tidak lagi semapan dulu.


Ada pula kisah Yaman: setelah Presiden Mansour Hadi meminta suaka dan bantuan militer kepada Arab Saudi, momentum tersebut segera disambut AS melalui pionnya, Arab Saudi, untuk membombardir kelompok Houti di Sana"a Yaman yang dituding disponsori Iran.  Sejak tahun 2023, ketegangan langsung antara Arab Saudi dan Houthi sebenarnya sudah mulai mereda berkat proses rekonsiliasi yang dimediasi oleh Tiongkok dan Oman. Namun, situasi kembali kompleks.


Berbeda dengan "kelompok barat" Jepang punya cara yang jauh lebih lunak. Jepang adalah negara industri yang minim sumber daya alam, namun menjadi negara paling "gercep" dalam setiap bencana di negara-negara kaya SDA, misalnya bencana Tsunami Aceh (2004), bencana Topan Yolanda di Filipina (2013), bencana Topan Yagi di Vietnam (2025),  bencana kekeringan di Ghana dan Afrika secara umum (2015), dst. 


Jepang tidak hanya memberi bantuan materi tapi juga para ahli infrastruktur, ahli transportasi, ahli mesin, ahli geologi, dsb untuk lebih memetakan SDA dan "menciptakan" ketergantungan teknologi secara berkelanjutan, disamping motif ekonomi sebagai upaya menjaga stabilitas pasar global. Inilah yang disebut "resource diplomacy".  


Terutama untuk bencana di Asia Jepang juga mengirimkan militer untuk mengikis kisah kelam imperialisme  dan membangun citra baru yang humanis. Keterlibatan militerJepang pada berbagai  bencana memperkuat kapabilitas logistik bencana militer Jepang sebagai yang terbaik di dunia yang sangat berguna jika suatu saat terjadi bencana di negerinya sendiri. Pada beberapa bencana ada tuntutan situasi-kondisi yang membutuhkan standar profesionalisme militer. 


Presiden Prabowo sebagai mantan Menteri Pertahanan memahami betul bahwa setiap bencana adalah celah bagi berbagai misi terselubung negara lain.  Jika negara membuka bantuan asing, butuh SOP yang kuat dan aparatur yang sangat disiplin.

___________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa






01 Januari 2026

KEJUTAN MASA DEPAN

Saya tahu "Future Shock" (Kejutan Masa Depan) karya Alvin Toffler di akhir tahun 1990an meski sebenarnya sudah ada sejak 1970. Future Shock berbicara tentang hari ini dan masa depan yang tak jauh lagi, membacanya kala itu--saat Windows 95 masih yang paling modern--seperti membaca fiksi ilmiah. Future Shock bercerita tentang situasi dan kondisi masa depan dan adaptabilitas manusia terhadap perubahan yang sangat cepat.


Future Shock lebih dramatis daripada kultur shock, manusia seolah tiba-tiba berada di negeri asing masa depan, dan tidak berhenti disitu, keterbaruannya terus berlanjut dengan cepat.


Manusia yang dibicarakan Toffler, yaitu kita sekarang dan anak cucu :

(1) akan didera kelelahan mental akibat kebingungan dan kewalahan dalam memproses informasi baru dan adaptasi dari konsekuensinya, manusia mengalami "information overload" hingga kesulitan membuat keputusan yang rasional karena harus memilah-pilah  informasi, bahkan sebagian orang akan gagal berpikir karena terlalu banyak dipenuhi informasi sampah (hoax, info tidak penting, dsb); 

(2) segala sesuatu akan tidak permanen (transience) baik barang, cara bekerja, domisili, bahkan keintiman pertemanan; 

(3) saat ini orang masih beranggapan semakin banyak pilihan adalah semakin bagus, namun Toffler memperingatkan akan datang satu jaman dimana semakin banyak pilihan (overchoice) akan semakin berbahaya, manusia dituntut memilih satu diantara ribuan opsi yang hampir sama; 

(4) terkait pendidikan Toffler menulis : "Orang yang buta huruf di abad ke-21 bukanlah mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, tetapi mereka yang tidak bisa belajar (learn), melupakan apa yang sudah dipelajari (unlearn), dan belajar kembali (relearn)." Pengetahuan akan cepat usang.  Toffler menekankan bahwa karena pengetahuan menjadi cepat usang, kemampuan paling penting yang harus dimiliki manusia adalah fleksibilitas mental.


Warisan Pemikiran Toffler

Toffler secara akurat meramalkan munculnya internet, komputer pribadi, kerja dari rumah (telecommuting/WFH), hingga menurunnya struktur keluarga inti tradisional. Inti pesannya tetap relevan: Perubahan tidak bisa dihindari, namun kita harus mengelola kecepatannya agar tidak menghancurkan kemanusiaan kita.


Di jaman Kecerdasan Buatan (AI) sekarang ini dan masa depan, dimana robot ingin menjadi manusia dan manusia ingin "secanggih" robot, manusia yang akan selamat dan sukses meraih kebahagiaan, adalah manusia yang berhasil tetap menjadi manusia seutuhnya.


____________



Penulis :

Hamdan A Batarawangsa