Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

09 Januari 2026

GELOMBANG KONDRATIEF, AKHIR JAMAN ?


Gelombang Kondratief (Kondratief Waves) dulu hanya diperbincangkan dalam kalangan terbatas dan berbau konspirasi. Gelombang Kondratief merupakan satu siklus global yang putarannya tiap 40 hingga 60 tahun. 


Siklus ini pertama kali dipaparkan oleh ekonom Nikolai Kondratief, menjelaskan terjadinya revolusi teknologi berjangka yang secara sistemik mempengaruhi ekonomi makro secara luas, menjadi sebab munculnya revolusi industri, dan perubahan wajah peradaban manusia.


Beberapa revolusi teknologi yang telah terjadi setelah abad pertengahan  yang berpengaruh sangat besar dalam industri modern sebagai gelombang Kondratief : 

Gelombang I (1780) : teknologi mesin uap; Gelombang II (1840) teknologi kereta api; Gelombang III (1890) teknologi listrik-kimia; Gelombang IV (1840) teknologi Petrokimia; Gelombang V (1980) teknologi komputer... dan saat ini kita sudah memasuki transisi gelombang ke-6  sejak 2020, yaitu era kecerdasan buatan.


Joseph Schumpeter, ekonom dari Harvard (wafat 1950) merangkaikan siklus Kondratief (teknologi) bersama siklus utama lain : siklus Kuznets (infrastruktur), siklus Juglar (modal tetap), dan siklus Kitchin (stok barang).   Tiga siklus ini sudah saya bahas pada artikel sebelumnya. 


Satu siklus Kondratief (40-60 tahunan) terdiri dari sekitar 3 siklus Kuznets, satu siklus Kuznets terdiri dari 2-3 siklus Juglar, dan satu siklus Juglar terdiri dari sekitar 2 siklus Kitchin. Jika semua siklus ini berada pada posisi terbawah secara bersamaan, maka terjadilah depresi ekonomi dunia (kapitalis) yang sangat dalam, seperti terjadi pada 1930 yang memicu Perang Dunia. Namun jika saat bersamaan itu berada di titik puncak, kondisi dunia akan sangat gemilang. 


Joseph Schumpeter menyatakan bahwa transisi antar gelombang seringkali ditandai dengan krisis ekonomi atau gejolak yang besar, tatanan lama runtuh oleh berbagai pemicu. Mungkin keruntuhan itu dimulai dari Covid-19 lalu dan merembet ke berbagai persoalan geopolitik global saat ini. 


Saat ini adalah transisi gelombang ke-6 Kondratief: era kecerdasan buatan yang berlangsung 50- 60an tahun, atau lebih singkat karena AI membuat apapun lebih cepat. Sulit dibayangkan bagaimana wajah dunia setelah 2050. Apakah teknologi dan peradaban manusia sudah di level puncak, apakah teory of everything sebentar lagi ditemukan. Apakah kita sungguh sudah berada di penghujung jaman ?


Atau ...

apakah kembali ke jaman batu bisa menggeser penghujung itu?

Hanya dua cara menuju jaman batu : perang dunia ke-3 atau "shutdown".


_________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.