Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

02 Januari 2026

MOTIF TERSELUBUNG BANTUAN ASING

NEGARA adalah entitas politik. Ketika suatu negara dimintai tolong oleh negara lain, pertimbangan utama untuk menerima/menolak sekurang-kurangnya adalah keuntungan politik. 

Ketika Kerajaan Iran (sebelum 1979) meminta keterlibatan AS-UK dalam modernisasi "revolusi putih", Iran berhasil maju pesat dalam pembangunan fisik dan geopolitik di wilayah Teluk. Namun bukan tanpa ongkos: Kerajaan Iran di bawah Shah Reza Pahlevi diposisikan sebagai  lumbung minyak dan pangsa pasar bagi industri Barat; fashion dan gaya hidup masyarakat Iran diubah untuk mengakomodasi industri dari luar; bahkan ideologi yang menghambat "modernisasi" dilemahkan melalui pengambilan paksa aset-aset institusi pendidikan tradisional (agama Islam) dengan dalih untuk pembangunan. 


Pada tahun 1979 Iran berhasil melakukan evaluasi dan saat ini menjadi negara "besar" setelah "menolak bantuan" AS dan sekutunya. Negara tetangganya, Irak, bernasib apes: setelah  Saddam Hussein digulingkan, Irak meminta bantuan AS cs untuk mewujudkan utopia tapi alih-alih maju justru semakin kurus karena sumber daya alamnya dikuras secara brutal. Sejak kejatuhan Saddam hingga saat ini kehidupan sosiopolitik dan ekonomi Irak tidak lagi semapan dulu.


Ada pula kisah Yaman: setelah Presiden Mansour Hadi meminta suaka dan bantuan militer kepada Arab Saudi, momentum tersebut segera disambut AS melalui pionnya, Arab Saudi, untuk membombardir kelompok Houti di Sana"a Yaman yang dituding disponsori Iran.  Sejak tahun 2023, ketegangan langsung antara Arab Saudi dan Houthi sebenarnya sudah mulai mereda berkat proses rekonsiliasi yang dimediasi oleh Tiongkok dan Oman. Namun, situasi kembali kompleks.


Berbeda dengan "kelompok barat" Jepang punya cara yang jauh lebih lunak. Jepang adalah negara industri yang minim sumber daya alam, namun menjadi negara paling "gercep" dalam setiap bencana di negara-negara kaya SDA, misalnya bencana Tsunami Aceh (2004), bencana Topan Yolanda di Filipina (2013), bencana Topan Yagi di Vietnam (2025),  bencana kekeringan di Ghana dan Afrika secara umum (2015), dst. 


Jepang tidak hanya memberi bantuan materi tapi juga para ahli infrastruktur, ahli transportasi, ahli mesin, ahli geologi, dsb untuk lebih memetakan SDA dan "menciptakan" ketergantungan teknologi secara berkelanjutan, disamping motif ekonomi sebagai upaya menjaga stabilitas pasar global. Inilah yang disebut "resource diplomacy".  


Terutama untuk bencana di Asia Jepang juga mengirimkan militer untuk mengikis kisah kelam imperialisme  dan membangun citra baru yang humanis. Keterlibatan militerJepang pada berbagai  bencana memperkuat kapabilitas logistik bencana militer Jepang sebagai yang terbaik di dunia yang sangat berguna jika suatu saat terjadi bencana di negerinya sendiri. Pada beberapa bencana ada tuntutan situasi-kondisi yang membutuhkan standar profesionalisme militer. 


Presiden Prabowo sebagai mantan Menteri Pertahanan memahami betul bahwa setiap bencana adalah celah bagi berbagai misi terselubung negara lain.  Jika negara membuka bantuan asing, butuh SOP yang kuat dan aparatur yang sangat disiplin.

___________


Penulis

Hamdan A Batarawangsa






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.