Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

09 Juni 2009

Potongan Puisi Tanjung Banua

Pada suatu sore belasan tahun lalu, saat melepas lelah sepulang kuliah, sambil duduk menghadap jendela, saya membolak balik selembar koran. Tiba-tiba mata saya tertuju pada sebaris puisi karya Raudal Tanjung Banua yang entah mengapa sangat berkesan di hati. Puisi itu puisi religius. Hanya sekali baca, saya hafal beberapa baris diantaranya. Mudah-mudahan kelak, saya akan temui lagi baris tambahannya. Beberapa baris puisi beraura religi yang masih terekam itu saya tulis di bawah ini :


Menjadi sungai
Nasibku sangsai

Di curam bukit
Jadilah berderai

Karena dengan laut
Aku tak mungkin melerai rindu

Batu-batu yang terdiam dingin
Biarkan cemburu

Aku toh tak pernah ragu
Mencapai pantai yang Kau janjikan ...




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.