Tanpa kejernihan hidup yang bagaimana, manusia bisa berdamai dengan kematian ? Tak ada kebaikan yang tak berbalas, tak ada keburukan yang tak bersanksi. My wisdom goes over the sea of wild wisdom

25 Mei 2009

Praja Muda Jamnas 91

Di depan sekali
kami melaga
tonggak-tonggak muda

Api
yang membakar besi-besi hitam
di hati kami
abadi

Lihat
lihat dengan mata
dan hati

Kuak
wajah hati kami

Dalam raga kami :
baja putih
penuh api !




Cibubur, Juni 1991

Asa

dan ...

kuingin di akhir mimpi untukMu

tapi perjuangan kini

adakah waktu lebih

terentang

diberi ?




Kampus Hijau Agustus 1996

21 Mei 2009

Kampoeng Kediman, Kampung Tua Betawi



Entah sejak kapan nama 'Kediman' menjadi sebuah kampung. Nama 'Kampoeng Kediman' saya ketahui dari sebuah surat tanah berangka tahun 1940-an atas nama Nor'ain (binti Djiong), istri dari Bermawie (bin Soehaeri).

Kini, Kampoeng Kediman berubah nama menjadi Jalan Kadiman atau Gang Kadiman. Sebagian orang menyebutnya Gang Kadiman Buntu. Dulu, Gang Kadiman tidak buntu, melainkan tembus dari Jalan Bungur Besar ke Jalan Gunung Sahari Raya. Saya sendiri tidak pernah melihat jalan tembus itu. Jalan tembus itu hilang, berubah menjadi rumah-rumah.

Gang Kadiman terletak di Jalan Bungur Besar, Kelurahan Gunung Sahari Selatan, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat. Gang Kadiman berada di antara Jalan Gunung Sahari III (dulu ada kantor majalah Trubus) dan Jalan Gunung Sahari IV (dulu bernama Gang Cornelis).

Tentang Kampoeng Kediman, dulu Konon, Kediman adalah nama seorang sesepuh yang amat disegani karena ketinggian ilmunya, beliau wafat dalam sebuah lelakon puasa dalam rangka memohon kepada Allah SWT agar kampungnya aman sentosa sepanjang masa.

Kampoeng Kediman pernah terkenal pada jaman Bung Karno berkuasa. Dulu persis di muka jalan masuk, pernah dibangun terminal pertama di DKI Jakarta, yang bernama terminal Bungur. Beberapa waktu kemudian, terminal Bungur pindah ke Lapangan Banteng, kemudian pindah lagi dan terpecah menjadi beberapa terminal lain seperti Cililitan, Kalideres, Lebak Bulus, dan lain-lain.

Tidak jauh dari Kampoeng Kediman, ada Jalan Garuda yang menghubungkan Jalan Gunung Sahari Raya (tembusan Pasar Baru) dan Bandara Kemayoran (sekarang PRJ Kemayoran). Hingga tahun 1980-an, jalan Garuda adalah pusat niaga di Jakarta sebelum pindah ke Blok M. Beberapa kantor majalah ibukota bermarkas di sana, misalnya Sarinah, Kartini, Bobo, dll.

Karakteristik Khas Anak Kediman

Orang-tua bilang Gang Kadiman adalah gudangnya jawara, gudangnya ulama, gudangnya orang pinter, sekaligus gudangnya orang-orang brengsek. Tapi sebrengsek-brengseknya begundal Kadiman, mereka punya satu sifat yang khas, yaitu sopan santun yang tetap terjaga. Orang-orang tua dulu biasa 'marahin' anak orang layaknya anak sendiri. Para orang tua tidak marah ketika putra kesayangannya dijewer tetangga. Itulah sebabnya, setiap orang muda Gang Kadiman, senantiasa menaruh hormat kepada yang lebih tua. Suasana kekeluaragaan antar warga yang hampir ideal memang ada di Gang Kadiman. Jika suasana kekeluargaan begitu hangatnya, bisa diduga bagaimana solidaritas antar individunya !

Kenangan Penulis

Saya lahir di Gang Kadiman, atas bantuan bidan Ade, tetangga belakang rumah. Namun pada usia dua hingga sepuluh tahun saya ikut orang tua melanglang buana ke berbagai tempat: Tasikmalaya (tempat nenek dari Ibu), Tanjung Priok, Kampung Baru, dan terakhir ke Cijantung, Jakarta Timur. Sejak kelas lima SD saya tinggal kembali di sana, hingga tahun 1994, ketika tanah milik nenek buyut (Nor'ain binti Djiong) terpaksa dijual untuk menghindari silang sengketa para ahli waris di kemudian hari.

Entah
sekarang, tapi dulu tinggal di Gang Kadiman lebih banyak enaknya daripada sengsaranya. Sengsaranya cuma banjir yang pasti datang 'saban' hujan. Setiap hari saya ke sekolah berjalan kaki, berjalan kaki sejak usia sebelas tahun hingga delapan belas, sejak sekolah di SDN Gunung Sahari Selatan 02, SMPN 93, hingga SMA di Budi Utomo. Waktu itu, pergi jalan kaki jauh lebih menyenangkan dari pada berkendara. Sepanjang jalan tumbuh pohon-pohon besar, udara sejuk dan teduh.
Bukan cuma ke sekolah saya biasa berjalan kaki. Ke Monas pada minggu pagi, ke Istiqlal setiap jum'at, ke Pasar Baru, Kantor Pos, Gambir, Pasar Senen, Kwitang, bahkan sampai Cikini, saya biasa berjalan kaki. Trotoar yang lebar dan bersih dan jalanan yang teduh amat menggota untuk dilalui.

Kenangan-kenangan saya di Gang Kadiman begitu menggugah untuk menggali lebih dalam dan lebih jauh sejarah Kampoeng Kediman. Bagaimanapun Kampoeng Kediman adalah kampung tua Betawi yang perlu dilindungi eksistensinya atas nama sejarah. Kepada siapa saja yang mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan Kampoeng Kediman, saya tunggu komentar dan infonya.

.................
KEDIMAN VILLAGE, THE OLD VILLAGE OF BETAWI

I do not know since when the name 'Kediman' became a village. The name 'Kampoeng Kediman' I know from a letter numbered from the ground in the 1940s on behalf Nor'ain (bint Djiong), wife of Bermawie (bin Soehaeri).

Now, Kampoeng Kediman changed its name to Street Gang Kadiman or Kadiman. Some people call it Gang Kadiman Buntu. First, Gang Kadiman no dead ends, but breakthrough of Lagerstroemia Great Road to Jalan Gunung Sahari Raya. I personally never saw the pass it. The pass is lost, turned into homes.

Kadiman Gang is located at Jalan Besar Lagerstroemia, Gunung Sahari Village South, Kemayoran District, Central Jakarta. Kadiman alley located between Jalan Gunung Sahari III (then other Trubus magazine office) and Jalan Gunung Sahari IV (formerly known as Gang Cornelis).

About Kampoeng Kediman, once said, Kediman is the name of a highly respected elders because of the height of his knowledge, he died in a lelakon fasting in order to ask God Almighty to secure tranquil village of all time.

Kediman Kampoeng ever known in the Sukarno era in power. First right in front of the driveway, never built the first terminal in Jakarta, which is called the terminal Lagerstroemia. Some time later, moved to the terminal Lagerstroemia Banteng Square, then moved again and split into several other terminals such as Cililitan, Kalideres, Lebak Bulus, and others.

Not far from Kampoeng Kediman, there is a link Garuda Jalan Jalan Gunung Sahari Raya (copy of New Market) and Kemayoran Airport (now the PRJ Kemayoran). Until the 1980s, Garuda is the central shopping street in Jakarta before moving to Block M. Some magazines office there is headquartered in the capital, for example Sarinah, Kartini, Bobo, etc..

Typical Characteristics of Children Kediman

Parents are told Gang Kadiman warehouse warlords, clerics warehouse, warehouse clever people, as well as warehouse people jerk. But Kadiman sebrengsek-awful goons, they have a distinctive character, namely politeness is maintained. Old people used to 'marahin' children of people like her own child. Parents are not upset when his beloved son dijewer neighbors. That is why, every young person Gang Kadiman, always putting respect for the older. Kekeluaragaan mood among residents that there was almost ideal in Gang Kadiman. If a family atmosphere so warm, predictable how solidarity between individuals!

Memories Writer

I was born in Gang Kadiman, Ade midwives for their help, the neighbors behind the house. But at the age of two to ten years old I had a person to travel to various places: Tasikmalaya (the grandmother of the mother), Tanjung Priok, Kampung Baru, and the last to Cijantung, East Jakarta. Since fifth grade I lived back there, until 1994, when the land owned by great-grandmother (Nor'ain bint Djiong) forced sale to avoid disputes cross the heirs in the future.

Either now, but used to live in Gang Kadiman more delicious than mistreated. Mistreated just flooding that would come 'every' rain. Every day I go to school on foot, walking from the age of eleven to eighteen years, since the schools in South SDN Gunung Sahari 02, SMP 93, up to high school in Budi Utomo. At that time, went on foot a lot more fun than driving. Along the road to grow large trees, the air is cool and shady.
Not just the school I used to walk. To Monas on Sunday morning, the Istiqlal every Friday, to New Market, Post Office, Gambir, Pasar Senen, Kwitang, even Cikini, I used to walk. The sidewalks are wide and clean and very quiet street menggota to pass.

My memories so suggestive Alley Kadiman to dig deeper and more distant history Kediman Kampoeng. However Kampoeng Betawi Kediman is an old village that need to be protected existence under the name of history. To anyone who knows anything related to Kampoeng Kediman, I wait for comments and INFO.

kemerosotan Moral

Kemerosotan moral bangsa merupakan benih-benih kehancuran suatu bangsa. Faktor pertama yang menyebabkan kemerosotan moral ini adalah skandal-skandal moral yang dilakukan oleh para elite agamawan, sehingga menyebabkan terjadinya suatu desintegrasi moral publik.

Penyalahgunaan Patriotisme

Patriotisme membantu menyederhanakan kerumitan persoalan, memulihkan perbedaan pendapat, dan kemudian meniup rasa kebenaran dan rasa kepastian bagi orang-orang yang berpikiran sederhana dan biasa.

Hukum dan Angkatan Bersenjata

Suatu pemerintahan harus dibangun di atas dasar yang kuat sehingga kekuasaannya stabil. Dasar stabilitas kekuasaan adalah hukum yang baik dan angkatan senjata yang baik pula. Namun tidak akan ada sistem hukum yang baik kalau tidak bibangun dulu angkatan bersenjata yang baik, karena angkatan bersenjata yang baik akan menjamin sistem hukum yang baik pula.
Tumpuan perjuangan politik terletak pada senjata, dan senjata merupakan sesuatu yang suci dalam perjuangan politik.
Angkatan bersenjata harus dibangun dari rakyat pribumi, bukan dari orang asing, karena pemanfaatan tentara bayaran dan tentara asing tidak efektif, bahkan membahayakan eksistensi suatu negara.

20 Mei 2009

Memilih Sekutu

Dalam situasi perang antar dua kekuatan besar, maka penguasa dalam suatu negara jangan bersikap netral, tetapi berpihak kepada negara yang lebih kuat yang diperhitungkan akan memenangkan peperangan. Pemihakan kepada calon pemenang membuka kemungkinan yang lebih menguntungkan karena pemenang akan menghargai sikap memihak itu.

Senjata dan Bunga

Seandainya kekuasaan telah stabil dan digenggam erat dalam tangan pengausa, maka langkah politik yang berikut adalah menarik simpati rakyat dengan pelbagai cara.
Filosopi senjata dan bunga.

Pertimbangan Pemimpin Machiavellian

Dalam mengambil tindakan, maka pertimbangan yang dilakukan oleh penguasa Machiavellian pertama-tama tidak bertolak dari kemauan rakyat, apakah tindakan yang akan diambil itu dinilai oleh masyarakat baik atau buruk, tetapi bertolak dari segi efisiensi secara politik.




Propaganda Aristokrat

Betapa tidak stabilnya kesadaran politik rakyat biasa, karena gampang diombang-ambingkan oleh permainan politik golongan aristokrat. Rakyat gampang dibohongi dan dimanipulasi dukungannya lewat penampilanpenampilan sang penguasa yang menarik dan persuasif. Rakyat mudah tertipu oleh ilusi-ilusi yang kuat, dan sangat mudah diyakinkan dengan apa yang mereka lihat dan saksikan secara langsung.




Jangan Tergesa-gesa

Semua yang dimulai dan tumbuh dengan cepat, tidak dapat berakar dan tumbuh dengan baik, dan akan tumbang begitu topan datang.

----------------------------------
Yaitu yang dimulai dan tumbuh dengan kecepatan yang tidak sewajarnya.

Ibrahim Bapak Para Nabi

Ibrahim hidup pada sekitar 60.000 tahu lalu, yakni pada masa kejayaan peradaban Babylonia (sekarang Irak). Silsilah Ibrahim ke atas (kakek, buyut, piut, dst) tidak diketahui.

Pada jaman Ibrahim, agama Islam belum lahir, rukun Islam belum dikenal (ajaran Islam resmi menjadi agama adalah pada saat Haji Wada Rasulullah Muhammad Saw). Agama Ibrahim adalah agama 'hanif' yang berarti 'jalan yang lurus' (cikal agama Islam sekarang).

Ibhamim memiliki dua anak. Dari istri bernama Hajar lahirlah Isma-El (Ismail). Dari istri bernama Sarah lahirlah Ishak.

Ismail lahir dan besar di Mekkah. Keturunan Ismail dikenal sebagai suku Quraish, sukunya nabi kaum muslimin, Rasulullah Muhammad Saw.

Berbeda dengan Ismail, Ishak lahir dan dibesarkan di Kanaan (sekarang Palestina). Dari nabi Ishak lahirlah Ya'kub (memiliki nama kecil Isra-El (Israel), yang berarti 'hamba Allah'). Anak cucu nabi Ya'kub disebut Israel, yang kini mayoritas beragama Yahudi. Nabi terakhir yang lahir dari klan Israel adalah Isa al Masih (bahasa Ibrani : Yesua al Masehi; bahasa latin: Yesus) yang diklaim sebagai nabi agama Kristen. Beberapa nabi keturunan Ishak sebelum Isa al Masih adalah Yusuf as, Ayyub as, Musa as, Harun as, Daud as, Sulaiman as, Zakaria as, dan Yahya as.

Dengan demikian jelaslah bahwa Ibrahim as adalah bapak para nabi. Dari anak cucu nyalah lahir tiga agama samawi dunia : Yahudi, Kristen, dan Islam.

Hamdan A Batarawangsa 

17 Mei 2009

KHIDR, MAHA GURU MORALITAS

Penulis : 
HamdanA Batarawangsa


Pada tahun 1500-an dunia dihebohkan dengan buah pikir Niccolo Machiavelli tentang penguasa, dimana moralitas mapan didobrak oleh moralitas lain yang liar dan buas, yakni moralitas yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Namun moralitas liar dan buas tersebut diklaim sebagai moralitas yang justru lebih berkualitas oleh sebagian yang lain. Di abad 21 ini, nama Machiavelli begitu dipuja, bahkan buku karangannya tentang penguasa menjadi buku wajib kajian filsafat politik. Machiavelli dianggap bapak moralitas bagi tatanan dunia baru.

Lain di barat, lain lagi di timur (oriental). Terutama bagi setiap orang yang pernah menyimak kisah Musa dan Khidr, gagasan moral Machiavelli dalam bukunya 'Sang Raja' tidaklah terlalu mempesona.

Kisah Musa dan Khidr versi Islam dapat dilihat pada Al Qur'an surat al Kahfi. Secara singkat kisah Musa dan Khidr sebagai berikut :
Di usia yang cukup sepuh, Musa berdoa kepada Allah agar dipertemukan dengan seseorang yang amat mulia di sisi Allah dan amat luas serta dalam ilmu pengetahuannya. Allah SWT meluluskan doa Musa dan menyuruhnya berjalan ke arah lautan (lautan adalah metaforadari ilmu atau alam pemikiran), namun bukan sembarang lautan. Melainkan lautan yang merupakan pertemuan dua buah arus laut, dimana satu dengan lainnya tidak bercampur. Kemudian Allah memberitahukannya pula, bahwa tanda-tanda menjelang pertemuan dengan orang yang dicari tersebut adalah bilamana terjadi hal-hal aneh diluar kewajaran nalar rasional.

Singkat cerita bertemulah Musa dengan Khidr dan menceritakan segala maksudnya. Dalam Qur'an surat Kahfi dituliskan bahwa Khidr meluluskan permintaan Musa dengan syarat. Syarat itu berupa larangan bagi Musa untuk banyak bertanya tentang apa yang akan dilakukan Khidr, sebelum Khidr sendiri yang menjelaskan maksudnya.
Tidak dijelaskan berapa lama Musa bersama Khidr. Namun pada akhir pertemuan, Musa menyatakan ketidaksanggupannya menahan diri (bersabar) dari segala apa yang telah dilakuakan Khidr.
Musa shock dan protes ketika Khidr merusak perahu orang miskin, Musa kembali protes ketika Khidr membunuh seorang anak kecil. Musa juga protes ketika Khidr tidak meminta upah atas kerja kerasnya membangun sebuah rumah, padahal masyarakat sekitar tidak bersikap baik kepadanya.



Inti Moralitas Khidr

Khidr dengan jelas dinyatakan Allah SWT sebagai seorang yang mulia, yang dalam dan luas ilmu serta kearifannya. Betapa tinggi derajat Khidr, hingga Musa pun berguru kepadanya. Khidr memiliki kapasitas yang pantas untuk menjadi maha guru moralitas.

Kisah pembunuhan anak kecil yang dilakukan Khidr adalah contoh ekstrem pendobrakan moralitas normatif. Khidr mensahkan pemerkosaan moralitas untuk mencapai derajat moralitas yang lebih tinggi, sebagaimana dijelaskan Khidr kepada Musa alasan pembunuhan tersebut bukanlah sebagai perbuatan semena-mena yang didasari oleh nafsu, melainkan atas dasar ilmu pengetahuan yang telah dikuasainya untuk mencegah kerusakan yang lebih besar di masa yang akan datang. Para ulama berpendapat dan sepakat mengatakan bahwa Khidr memiliki ilmu laduni, yakni dapat mengetahui masa depan sebelum terjadi (kemungkinan pengembaraan antar waktu secara teoritis dapat dijelaskan dengan teori relativitas Einstein dan teori jagad singularitas Stephen Hawking, Wallahu 'alam).

Kita memang tidak setala dengan Khidr. Namun kisah Musa - Khidr memberikan inspirasi betapa moralitas selalu perlu dikaji untuk mencapai moralitas yang lebih tinggi lagi... itulah inti pelajaran Khidr, prinsip moralitas Khidr, Sang Maha Guru Moralitas. 

Orang tua bijaksana selalu memberi dukungan kepada anaknya untuk dengan tidak ragu melakukan apa yang menurutnya BENAR (kebenaran subjektif), namun mesti disadari bahwa ada kebenaran umum yang harus dipatuhi dan dihormati, dan jika kebenaran subjektif menabrak kebenaran umum, yang bersangkutan harus dengan bijak menerima segala konsekuensinya dengan ikhlas. 

Ketika guru sufi dari Mansur Al Hallaj (tokoh sufi masyhur dari Baghdad), Syeikh Junaid, ditanya pendapatnya tentang muridnya yang dituding menyimpang, sang guru berkata bahwa Al Hallaj bersalah di hadapan manusia, namun berbicara tentang KEBENARAN, Allah-lah Yang Maha Tahu.
Saat Mansur Al Hallaj dihukum mati oleh masyarakat, Al Hallaj  ikhlas memaafkan atas ketidaktahuan dan kebodohan para penghukumnya. 

Harga Diri, Citra Diri, dan Sopan Santun

Istri Penulis adalah seorang guru SMA. Pada suatu kesempatan ia berseloroh menyampaikan kekagumannya pada lulusan sebuah SMP swasta di Kota Depok yang kini menjadi siswanya.

"Luar biasa, semua lulusan SMP tersebut memiliki ciri-ciri khusus yang tidak dijumpai pada lulusan SMP lainnya," demikian kira-kira ucapan istri Penulis. "Tidak salah, ini adalah keberhasilan sekolah," katanya lagi menambahkan.

Keunggulan lulusan SMP swasta yang dimaksud diantaranya adalah adanya kepercayaan diri yang besar pada setiap individunya, berani menyampaikan gagasan di depan umum, berani mencoba, setiap anak pasti memiliki prestasi tinggi di bidang tertentu, dan masih banyak lagi.

Mengapa bisa demikian ?

Jawabnya tidak lain adalah telah dilakukannya upaya membangun harga diri dan citra diri positif di sekolah tersebut !

Dalam membangun harga diri dan citra diri positif, peraturan sekolah dibuat sedemian rupa sehingga hukuman menjadi sebuah konsekuensi yang umum diketahui dan ditaati. Tidak ada hinaan, tidak ada ejekan, tidak ada hardikan, bahkan tidak ada kritikan bagi siswa ! Yang ada adalah pujian, dorongan, bimbingan, dan nasehat. Guru tidak boleh marah ... nah inilah yang terberat. Guru dituntut memiliki kesabaran di atas kebanyakan orang !

Konsep membangun citra diri (self image) dan harga diri (self esteem) lebih dikenal sebagai gagasan barat. Hal ini memang ada benarnya. Konon, konsep citra diri dan harga diri memang lahir dari sebuah kegiatan riset 'Super Camp' yang dimotori oleh Bobby de Porter pada tahun 1982 di Kirkwood Meadows, California.

Namun ada satu kekurangan dari konsep harga diri dan citra diri ala DePorter di atas. Karena konsep tersebut lahir di negara barat, tentu saja masalah sopan santun tidak terlalu disinggung. Para praktisi pendidikan di Indonesia ada kalanya lupa bahwa konsep DePorter tersebut perlu disesuaikan dengan kultur Indonesia. Keberanian berpendapat, keberanian berekspresi, kepercayaan diri yang besar, dan prestasi yang tinggi tentu tidak berarti jika tidak disertai kecakapan sosial yang namanya sopan santun.

Jika konsep harga diri dan citra diri dipadukan secara serius dengan konsep sopan-santun keindonesiaan, tak terbantahkan, betul-betul menjadi konsep yang sempurna !

04 Mei 2009

DJIONG JAGOAN BETAWI

Penulis:
Hamdan Arfani, generasi ke-4 Djiong 

Betawi punya banyak jagoan. Banyak buku-buku dan catatan-catatan tentang jagoan betawi yang telah dipublikasikan. Namun semua yang ditulis dan dipublikasikan itu, tidak satupun yang menulis tentang Djiong.

Menurut cerita turun temurun di keluarga Penulis, Djiong adalah jagoan Betawi di era maraknya konflik sosial khususnya di wilayah Kemayoran sampai Weltevreden abad ke-19. Kisah Djiong ini tidak melulu tentang ilmu bela diri, namun ada aspek sosial yang membuat namanya masyhur terutama bagi masyarakat di kampungnya.  Sebelum era Djiong, para jagoan di tanah Betawi tidak pernah jadi topik obrolan menarik selain soal "maen pukul" di kalangan masyarakat pribumi. Djiong-lah jagoan Betawi pertama yang menjadi buah bibir, semua itu karena "sikap politik" yang konsisten terhadap pemerintah kolonial Belanda. Djiong, demikianlah yang tertulis pada nisan makamnya, lebih dikenal dengan nama Wak Emong oleh warga kampungnya. Hingga tahun 1950-an, nama besar Djiong atau Wak Emong masih 'menggetarkan hati' para jagoan di kawasan Kemayoran, khususnya di daerah Kepu, Bungur dan Utan Panjang. Djiong punya beberapa murid, hanya satu murid (yang kemudian menjadi menantu) yang boleh mengajarkan silat, sisanya dilarang. Hal tersebut karena situasi di Kemayoran pada era itu marak terjadi konflik sosial, dan perkelahian antar pemuda. Djiong tidak ridho ilmu silatnya dipakai untuk tujuan anarki. 

Djiong diperkirakan hidup pada sekitar tahun 1800--1900-an (menurut cerita, Djiong memang berumur lumayan panjang). Semasa hidup, beliau tinggal di daerah yang sekarang adalah sekitaran Kepu Gang II (1 km dari kawasan Jiung sekarang) tapi masa tua hingga wafatnya konon  dihabiskan di rumah yang berada di sekitar jembatan Utan Panjang, Kemayoran, Jakarta Pusat.

Djiong memiliki lima orang anak, dua diantaranya laki-laki. Sayang, kedua anak lelaki Djiong 'raib' tak tentu rimbanya, tak diketahui dimana makamnya. Keduanya pun terkenal keberaniannya melawan kompeni.

Kong Aming, demikian keluarga kami menyebutnya, ia adalah salah seorang anak lelaki Djiong yang raib tersebut, pernah merampas kuitansi-kuitansi pajak tanah dari Kompeni dan memusnahkannya. Kemudian ia memprovokasi warga agar tidak perlu membayar pajak. Kong Aming the Robin Hood of Batavia, begitulah kira-kira menggambarkan dirinya.

Tiga orang anak Djiong yang lain semuanya perempuan, masing-masing bernama Nor'ain (tinggal di Gang Kadiman, Bungur Besar, Kemayoran), Saribenah (tinggal di Utan Panjang, Kemayoran), dan Sapinah alias Nyak Sop (tinggal di Gang Bajing, Kepu, Kemayoran).

Nor'ain menikah dengan anak jagoan dari Cikini  yang bernama Bermawie bin Haji  Soehaeri, yang masih berkerabat dengan Raden Saleh Syarif Bustaman. Haji Soehaeri juga berkawan akrab dengan Sotene (Schout Hinne) seorang Kepala Polisi yang saat itu sangat terkenal karena beberapa kali namanya ditulis di koran. Menurut cerita turun temurun, Sotene sering mengunjungi Haji Soehaeri untuk berdiskusi tentang agama Islam. Selain itu, lingkungan sekitar rumah Soehaeri di Cikini (sekarang kawasan pabrik roti Tan Ek Tjoan) sering dijadikan tempat "tongkrongan" kaum intelek dari STOVIA dan Pemuda Pandu, kawasan favorit bagi selebritas kala itu. 

Sangat menarik ketika Djiong mengajukan mas kawin mahal kepada keluarga Bermawie bin Haji Soehaeri, yaitu tanduk menjangan berlapis emas. Hal ini seolah ekspresi "menjaga harga diri" orang kampung Kemayoran ketika anak gadisnya dipinang orang gedean yang pergaulannya identik ke-Belandabelandaan atau keArabaraban. Barangkali pernikahan Norain binti Djiong dan Bermawie bin Haji Soehaeri sangat menghebohkan bagi orang sekampung, ketika Sotene, atau dikenal juga sebagai Tuan Hinne, hadir dalam acara nikah tersebut.

Dari pernikahannya, mereka dikaruniai empat orang anak laki-laki yang masing-masing bernama Abdul Wahab Bermawie (tinggal di Jawa Timur), Abdul Manaf Bermawie (tinggal di Gang Kadiman, Jakarta Pusat), Abdul Hamid Bermawie (tinggal di Kepu Timur, Jakarta Pusat), dan Mohammad Noer Bermawie (tinggal di Bandung).

Djiong wafat sekitar tahun 1900-an dan dimakamkan di daerah Mangga Besar, sebuah pemakaman umum khusus bagi orang-orang pribumi. 


(Foto di atas adalah Nor'ain binti Djiong dan Bermawie bin Haji Soehaeri).