Ada yang berpendapat agama dan budaya adalah entitas yang terpisah meski saling mempengaruhi, ada juga yang berpendapat agama adalah bagian dari kebudayaan atau sebaliknya.
Mungkin agama adalah ibu dari kebudayaan. Dalam perspektif religi samawi : Islam-Kristen-Yahudi, jelas agama muncul lebih dulu meski dalam rupa yang purba.
Kemudian manusia pertama (Adam) berkreasi dan berinovasi menjalani kebiasaan baik yang diwariskan kepada anak cucunya yang memunculkan kebudayaan.
Agama adalah tuntunan dari Tuhan, sedangkan budaya adalah buah dari akal budi manusia.
Dalam perspektif Islam, agama adalah tuntunan Allah (berupa Firman yang kini terkodifikasi sebagai Qur'an) yang kemudian melahirkan kebudayaan berupa hadits (hadits memiliki derajat budaya yang paling luhur karena dibimbing langsung oleh Rasul), fiqh, tradisi, cabang-cabang ilmu, dsb.
Agama dan kebudayaan menjadi satu kesatuan yang selaras menjadi "agama" itu sendiri.
Allah berfirman bahwasanya merestui Islam (elaborasi tuntunan Ilahiah - budaya yang mendukungnya) sebagai agama.
Keselarasan agama dan kebudayaan mulai bergesekan ketika manusia atau masyarakat memiliki tafsir keliru atas agama, atau salah faham atas kebudayaan.
Kebudayaan seringkali dituding sebagai praktik dan produk kemusyrikan. Di sisi lain, tidak semua tradisi memenuhi kategori sebagai budaya (menurut skema : kebiasaan melahirkan karakter, karakter melahirkan tradisi, dan tradisi baik melahirkan budaya).
Di Eropa (dunia barat), kebudayaan berkembang hampir tanpa kehadiran agama meski nilai-nilai moral keagamaan masih dianut.
Sejak abad ke-16 secara perlahan masyarakat Barat meninggalkan agama, faham Anti Krist (mayoritas Eropa adalah pemeluk Kristen) terasa dalam buku "Sang Raja" karya Niccolo Machiavelli, "Senjakala Berhala" dan "Sabda Zarathustra" karya Frederick Nietzsche, "Das Capital" dan "Manifesto Komunis" karya Karl Mark.
Pada era tersebut terasa agama berkurang kepopulerannya akibat trauma Perang Salib, beberapa praktik gereja yang tidak disukai masyarakat, dan tuntutan bertahan hidup.
Novel-novel kritik pada institusi agama masih banyak bermunculan dan digemari masyarakat Barat hingga abad ke-19 diantaranya "Sayap-sayap Patah" karya Kahlil Gibran yang juga populer di Indonesia akhir tahun 1990-an.
Sejak abad ke-16 masyarakat Barat membangun kebudayaan yang melepaskan diri dari agama, yang kita kenal dengan istilah sekularisme.
Agama (khususnya Islam) dan kebudayaan sebetulnya memiliki persamaan yang fundamental, keduanya memiliki ciri dan fungsi edukasi : memuliakan harkat derajat manusia dan mengajarkan-mendidik untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Tidak semua tradisi adalah budaya, namun budaya sudah pasti lahir dari tradisi yang baik.
Maka mari kita bangun tradisi baik, yang sesuai dengan ajaran moral agama. Dari tradisi, kita melahirkan kebudayaan di komunitas kita masing-masing.
__________________
Penulis:
Hamdan A Batarawangsa

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan tulis komentar pada space yang tersedia. Komentar akan muncul setelah disetujui Admin.